splash
SITUS RESMI DEWAN PASTORAL PAROKI SALIB SUCI
Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
Tugas Perutusan itu memang berat, tapi...sekaligus Kita diberi Rahmat
 

Mereka juga berhak atas……

Posted By Komsos on February 2nd, 2012

Pengantar
Seluruh persiapan Perayaan Natal, seolah ditutup dan diakhiri dengan suara berdentangnya lonceng gereja, menjelang Misa Malam Natal.
Dengan berbagai persiapan pula setiap umat datang dan masuk ke gedung gereja. Kebanyakan dengan wajah yang ceriah dan segar, dengan pakaian yang tampak indah, walaupun ada beberapa umat, yang entah karena alasan apa, tampak begitu sederhana, seperti biasanya, tidak berbeda dengan ketika datang ke Misa-misa yang lain.
Dan, sesuai jadwal, Misa-pun dimulai. Tidak dapat dipungkiri, Misa Malam Natal memang lebih agung dan lebih meriah dari pada Misa-misa yang lain (kecuali Misa malam Paskah). Semua orang tahu, Misa itu adalah untuk memperingati dan menyambut kelahiran bayi YESUS.
Dari sisi sejarah, dapat dimaknai, kita memperingati kelahiran seorang Tokoh Besar, yang sangat berpengaruh pada kehidupan umat manusia. Dari sisi spiritual dapat dikatakan kita menyambut Sang Sabda yang menjadi daging, mengambil rupa manusia, sebagai puncak dari Karya Penyelamatan Allah. Dari sisi pandang Bangsa Israel, Dia-lah Sang Mesias, Sang Pembebas yang telah dinubuatkan oleh para nabi, yang akan membebaskan Bangsa Israel dari penderitaan, kesusahan, kemiskinan, penjajahan, dll. Dan dari sisi iman Kristiani, peristiwa itu dimaknai sebagai: kita menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, Sang Penebus,  Dia yang disebut: Terang, Terang yang besar; Dia menyebut diri-Nya: Jalan dan kebenaran dan hidup. Kepada Dia-lah seluruh iman Kristiani digantungkan dan dipusatkan. Dan Dia-lah sumber pengharapan bagi umat manusia

DIA-kah sumber pengharapan dan kasih…?
Sedemikian banyak atribut dan gelar yang dilekatkan kepada sosok Yesus. Kesemuanya itu setidak-tidaknya terfokus pada dua hal, yaitu: Ke-ilahian-Nya, dan Dia-lah sumber pengharapan. Seluruh iman Kristiani ditarik kepada dua hal tersebut, dengan meyakini, bahwa Dia-lah Jalan, Terang dan Hidup. Karena Dia-lah kita akan sampai dan kembali kepada Bapa, asal dari segala ciptaan. Karena Dia-lah kita mendapatkan pencerahan dalam hidup ini. Dan karena Dia pula-lah kita yakin, bahwa kita berhak atas kehidupan yang kekal. Semua itu bagi kita dirangkai dalam 3 tonggak: IMAN, HARAPAN dan KASIH, yang secara sederhana, dapat dikalimatkan: karena berIMAN akan Dia kita mempunyai HARAPAN, dan kita bisa hidup dari dan untuk KASIH.
Seluruh hidup seorang Kristiani tidak bisa lepas dari ke-tiga tonggak itu. Dengan kata lain, dalam diri dan hidup seorang Kristiani yang sejati wajib, harus, mewujudkan ke-tiga hal tersebut.
Dalam kehidupan bermasyarakat, identitas seorang Kristiani ditentukan oleh: sejauh mana orang itu dapat menampilkan IMAN, HARAPAN dan KASIH itu, bukan hanya terhadap saudara seiman, namun juga terhadap semua orang. Dengan “berbagi” harapan dan kasih itulah, orang dapat menilai dan mengukur iman kita.
Menjadi pengikut Kristus dan hidup di dalam-Nya, kita dituntut untuk menyalurkan “harapan” dan “kasih” yang telah kita dapatkan dari Dia kepada sesama kita.
Dan ibarat memberikan seteguk air kepada orang yang kehausan di padang pasir, maka sungguh amat berarti bila kita membagikan harapan itu bagi mereka yang sudah tidak lagi berpengharapan, dan membagikan kasih kepada mereka yang tercampakkan.
Tindakan membagikan “harapan” dan “kasih” itu menjadi KEWAJIBAN KITA, dan sebaliknya, dari sisi mereka yang terpingggirkan serta, tercampakkan, “harapan” dan “kasih” itu adalah HAK MEREKA yang bisa mereka tuntut dari kita.

Realita di sekeliling kita
Ingatanku melayang, kembali ke saat setelah mengikuti Misa Malam Natal. Di tengah meresapi siraman rohani tentang lahirnya Yesus, sosok yang menawarkan Harapan dan Kasih, sayup-sayup terdengar olehku suara Ebiet G. Ade:
Istriku, marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti
Lihat anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin pinggiran jalan
Wajahnya kurus pucat, matanya dalam
Tercekat pikiranku seketika, larut dalam bayangan keluarga pengemis yang digambarkan dalam lagu itu. Dalam kelaparan, mereka dihadapkan pada “nasib yang semakin tak pasti”.
Istriku, marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan
Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti Ia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakal
Dan sungguh mengenaskan…., mereka berdoa. Ya, mereka berdoa…… untuk melupakan rasa lapar…
Namun, di sisi lain aku terhentak, karena bagaimanapun, mereka tetap mempunyai iman, mereka meyakini, bahwa Tuhan adalah milik siapa saja, milik mereka juga. Dan mereka yakin, Tuhan pasti akan mendengarkan doa mereka.
Aku merenung, masih sebesar itukah imanku, ketika aku didera penderitaan? Apakah dalam penderitaan yang mendera, aku tidak akan menghojat Allah, menyalahkan Allah?
Larut dalam interospeksi, tidak terasa beberapa saat aku seolah tidak mendengarkan lanjutan dari lagu itu, sampai kemudian aku tersadar kembali ketika mendengar bait selanjutnya:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan
Oh, hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Serasa tertampar jiwaku mendengar dan meresapi kata-kata itu. Coba dengar dan hayatilah doa mereka:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki

Dalam introspeksi, pikiranku menggugat imanku: Sanggupkah aku berdoa seperti itu…?
Dan sampailah aku sampai pada puncak kepedihan jiwa, ketika terdengar kalimat terakhir dari lagu itu:

Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu
Tidak ada lagi kata-kata yang bisa terangkai di pikiranku….., selain mengulang, mengulang, dan mengulang kata-kata: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu…………

Ya, Tuhan, jadikan imanku seteguh iman mereka, sehingga setiap saat jiwa dan pikiranku bisa memohon kepada-Mu: Bimbinglah di jalanMu
Gema meriah Perayaan Natal seketika terganti rasa sesal diri. Aku merasa telah begitu pongah, karena merasa bahwa aku adalah seorang Kristiani, yang berbekal Iman, Harapan dan Kasih.
Adakah imanku dapat dibandingkan dengan iman si pengemis itu?
Terlebih lagi, seolah di hadapankulah si pengemis itu bernyanyi, seolah menggugat aku, bahwa dia, dia dan anak istrinya, berhak atas HARAPAN, dan mereka mendambakan KASIH.

Oh, Yesus, ampunilah aku, karena aku ternyata telah begitu egois, begitu mementingkan diri sendiri. Karena pada saat aku berani mengaku, bahwa aku begitu mencintai Engkau, akupun ternyata telah melupakan kata-kata-MU: “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Refleksi
Hari Natal, hampir selalu identik dengan Perayaan, Pesta, Sukacita. Itu bukanlah sesuatu yang salah. Memang, dalam merayakan peringatan lahirnya Sang Sabda menjadi manusia dalam karya penyelamatan Allah, wajarlah kita bersukacita, berpesta, dan merayakannya dengan meriah. Namun, Perayaan, Pesta dan Sukacita itu, seyogyanya bukanlah hanya sekedar tampilan fisik belaka. Lebih dari itu, seharusnya semua itu meresapi dan menghidupi jiwa kita. Dia telah datang, dan kedatangan-Nya adalah bagi semua orang.
Manakala kita mengaku bahwa kita adalah seorang Kristiani, artinya pada saat yang sama kita juga mengakui kita memiliki Iman, Harapan, dan Kasih. Dan pada saat kita mengatakan bahwa kita mencintai Yesus, seyogyanya kita ingat pula bahwa Dia berada di antara saudara-saudara kita yang paling menderita. Apa yang telah kita lakukan bagi Dia…? Adakah kita telah berbagi Harapan dan

Kasih yang telah kita terima dari Allah sendiri…?
Bial kita memiliki kepedulian, kita bisa dengan mudah melihat dan menemukan, bahwa di sekitar kita, ada begitu banyak orang yang mendambakan Kasih. Dan di sekeliling kita, masih ada begitu banyak orang yang terjebak dalam kondisi yang tidak lagi berpengharapan. Orang-orang cacat, orang-orang yang terbuang, anak-anak yang tidak mampu membayar biaya sekolah……. Mereka berhak atas Harapan dan Kasih.
Bila kita mengakui sebagai pengikut Yesus, seyogyanya pula kita berjalan mengikut jalan-Nya, bukan jalan yang kita buat atas dasar kemauan dan egoisme kita.

Bila kita memang mencintai Dia, tentu kita senantiasa mau mengingat kata-kata-Nya dan rela melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita.
Dan bila kita mengimani, bahwa Dia adalah Jalan, kebenaran dan hidup, tentu kitapun dengan senang hati senantiasa memohon: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu.
Dengan berjalan di jalan-Nya-lah kita bisa  meneladan Dia, dalam berbagi KASIH dan HARAPAN bagi mereka yang “kurang beruntung”.
MEREKA yang juga punya HAK untuk menikmati KASIH dan HARAPAN itu, Dan kita, seberapapun besarnya, berkewajiban untuk membagikan KASIH dan HARAPAN itu kepada mereka.

Apa yang menjadi hak mereka yang ada pada kita…?
Kadang kita besilang pendapat tentang apa yang bisa berikan kepada mereka yang miskin pap, terpinggirkan dan menderita?. Apakah dalam bentuk Materi? Atau perhatian? Atau doa?
Bantuan materi, tidak dapat dipungkiri, akan sangat berarti bagi mereka yang miskin-papa dan terpinggirkan. Perhatian, bisa dalam bentuk senyum, tutur sapa yang manis, sikap yang tidak sok-kuasa dan sok-kaya, bisa menjadikan hati dan perasaan mereka bahagia, dan mengembalikan harkat manusiawi mereka. Dan bagaimana dengan DOA?
Mari kita ikuti ilustrasi berikut ini:

Alkisah ada seorang yang kaya-raya yang tekun berdoa, namun sangat kikir. Suatu ketika dia melihat bahwa di sekitarnya masih banyak orang yang miskin.
Melihat hal itu, malam harinya, dalam doanya dia bertanya kepada Tuhan, begini:
“Tuhan, di sekelilingku masih banyak orang miskin. Bukankah Engkau tahu, bahwa aku selalu berdoa bagi mereka, agar Engkau membebaskan mereka dari kemiskinan? Apakah Engkau tidak berkenan dengan doaku sehingga Engkau tidak mengabulkannya?”.
Dan dalam cerita itu, Tuhan menjawab:
“Anak-Ku, Aku tahu Engkau telah berdoa bagi mereka, dan Aku berkenan dengan doa-doamu itu. Karenanya Aku telah berbuat sesuatu untuk mengabulkan doamu itu.”
Dengan penasaran orang itu bertanya lagi:
“Tapi Tuhan, kenyataannya mereka tetap miskin. Mengapa Engkau berkata telah mengabulkan doaku?”
Dan Tuhan menjawab:
“Aku telah memberikan kepadamu harta yang sangat berlimpah. Aku mau memakai engkau untuk menolong mereka, agar mereka terbebas dari penderitaan. Namun engkau terlalu sibuk dengan permohonan-permohonan, sehingga tidak pernah mendengar perintah-KU untuk menolong mereka dengan harta yang telah Ku-berikan kepadamu. Ketahuilah anak-Ku, ada HAK MEREKA pada harta yang Ku-berikan kepadamu itu.
Aku telah mendengarkan doa dan permohonanmu. Mengapa engkau tidak mendengarkan dan melaksanakan perintah-Ku…?”

Pentup
Dia, Cahaya yang Terang, Terang yang besar itu telah hadir di tengah-tengah kita.
Dia hadir bagi semua manusia.
Dan, orang-orang yang miskin papa, yang terpinggirkan, yang menderita, juga punya hak untuk melihat dan menikmati Terang itu, mereka juga punya hak atas KASIH dan HARAPAN.
Apa yang telah kita lakukan bagi mereka….?
Apakah kita sudah memenuhi kewajiban kita yang menjadi hak mereka…?

Deo omnia gratias,
B.F. Setyawan Sandhy

Tags: , , , , , , ,

Similar Posts

Leave a Reply