Perangkat Pastoral
TAHUN HABITUS BARU 2010
Menarik untuk disimak artikel berjudul ‘Gereja bagai Mafia’ (Ajeng Erwita, Thanks to Victor Helmi S., MAWASS Edisi 5 April 2010, hal.22-23). Salut atas kreativitas Anda! Sebagaimana telah dituturkan pula pada artikel ‘Kebangkitan yang Membangkitkan’ (F.X. Moniyanto, MAWASS Edisi 5 April 2010, hal 16-17), yang mengingatkan kita semua bahwa sebagai-mana Yesus telah bangkit untuk menebus dosa manusia, maka segenap umat juga ikut dibangkitkan dan dihidupkan untuk aktif dalam kehidupan menggereja sesuai dengan perkembangan zaman cyber yang serba cepat. Kalau terlambat mengikuti akan jatuh ‘melarat’, lalu ‘sekarat’ (tambahan penulis). Terimakasih atas peneguhan dan inspirasinya! Tepat sekali, bahkan makin marak akhir-akhir ini, terlebih setelah balai Paroki Salib Suci direnovasi dan dimodifikasi menjadi dua lantai.
Kegiatan Gereja dan umat yang aktif makin banyak. Gedung gereja, halaman gereja dan balai paroki (lantai 1 dan 2) juga terus dipenuhi dengan umat yang berbondong-bondong untuk mengikuti ibadat/perayaan ekaristi, terlebih pada hari raya Natal dan Paskah.
Jumlah dan Mutu KegiatanPendek kata ruang fisik gereja habis dipadati umat dengan kegiatan ibadat/misa dan kegiatan ‘panca tugas Gereja’. Suasana gereja yang hidup dan semangat umat paroki Salib Suci yang tinggi ini tentu menggembirakan dan membanggakan, minimal dari segi jumlah.Namun kita semua patut senantiasa menjaga, mem-pertahankan serta meningkatkan jumlah maupun mutu perangkat/agen pastoral dalam kehidupan menggereja. Lalu, itu tanggung-jawab siapa? Jawabannya mudah dan pasti, ‘kita semua’! Siapakah kita? Kita semua adalah umat (=Gereja) Paroki Salib Suci, bagian dari Keuskupan Surabaya yang bersekutu sebagai murid-murid Kristus. Menjadi Katolik bukanlah paksaan, melainkan suatu kerelaan diri untuk diselamatkan dan mengikuti jejak salib’ Kristus. Berarti, semestinya kita semua bertanggung-jawab terhadap diri sendiri, tanpa menunggu untuk ‘dilayani’ namun sedia setiap saat untuk ‘melayani’. Dengan melayani berarti kita siapuntuk menyerahkan diri untuk ‘diselamatkan’ bersama umat yang lain. Patut disayangkan bila kita tidak memanfaatkan anugerah keselamatan dengan meningkatkan kadar keiman-katolikan kita melalui kegiatan ‘panca tugas Gereja’, sebagaimana sering kita dengar sindiran ‘Katolik KTP’ atau ‘katolik NAPAS (NAtal – PASkah)’. Namun juga tidak serta-merta umat yang taat beribadat dan aktif menggereja sudah dapat dikata-kan katolik sejati.
Ukurannya bukan sekedar jumlah namun mutu. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengajak kita semua untuk merenungi kembali peran kita dalam kehidupan menggereja.
Umat sebagai Perangkat Pastoral Kita semua (=umat) adalah perangkat pastoral. Istilah yang lebih keren lagi yaitu ‘agen’ pastoral. Sepintas mungkin kita terhentak dan berpikir bahwa urusan Gereja bukanlah urusan umat, namun urusan ‘pamong’ (pengurus) umat, seperti Romo, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Ketua Wilayah/ Lingkungan, Ketua Seksi dan seterusnya. Atau, kadang kita berdalih bahwa kita tidak mampu dan tidak pantas menjadi pengurus Gereja, atau tidak ada waktu, serta berbagai dalih yang lain. Nah, kalau kita semua beranggapan demikian, bukankah ini berarti awal keruntuhan Gereja . . . ?!
Panggilan imamat bukan hanya monopoli Imam/ Pastor/Romo saja. Dengan dibaptis, setiap umat memperoleh anugerah panggilan ‘imamat umum’. Dengan kata lain, setiap umat dipanggil untuk meng-imami diri sendiri dan sesama umat.
Tuhan telah memberikan perumpamaan tentang Gereja ibarat ‘tubuh’. Setiap umat dipanggil sesuai dengan talenta masing-masing. Tidak perlu berkecil hati dan merasa tidak pantas atau tidak mampu menjadi agen/perangkat pastoral. Sekecil apapun sumbangan dan andil kita dalam hidup menggereja dengan disertai kerelaan yang tulus dan mau berkurban dengan penuh kasih, sudah sangat berarti dan sungguh berkenan sebagai persembahan sejati bagi Allah. Misal, setelah misa usai, membantu mengumpulkan lembaran misa/buku nyanyian, merangkai bunga altar, menjaga kebersihan gereja, membantu merapikan kursi di balai paroki, dll.Peran ‘agen’ pastoral berarti ‘pelaku’ yang terlibat aktif dalam penggembalaan umat. Sebut saja data sensus (2009) umat Paroki Salib Suci adalah 5.209 jiwa.
Sementara itu jumlah pengurus pleno DPP SS berjumlah 77 orang. Dengan demikian rasio/ bandingan antara pamong/pengurus Gereja dan jumlah umat 1: 67/68. Padahal rasio ideal penggem-balaan umat seyogyanya berkisar antara 1: 5-10. Bisa dibayangkan jika semua beban penggembala-an (pastoral) umat ditanggung hanya oleh tiga romo.
Sikap Rendah HatiSehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya seorang Romo, beliau tetap ‘manusia’ seperti kita semua, yang punya keterbatasan. Dengan menjalani kaul ketaatan, selibat dan kemiskinan, seorang Romo sebagai gembala Gereja memang diharapkan dapat melakukan pelayanan secara total sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus. Apakah umat sekalian khususnya para pengurus/pamong Gereja bersedia meneladan sikap pelayanan Romo secara total sekaligus membantu tugas pastoral yang merupakan tanggung-jawab kita semua?
Pada sisi lain seringkali kita dengar pula sindiran ‘orangnya (pengurus/aktivis) kok itu-itu saja?! Apa tidak ada yang lain?’ Belum lagi ejekan, ‘pengurus-nya tidak becus!’; dan seterusnya. Memang jadi pengurus itu penuh pengurbanan, mulai dari tenaga, waktu, uang, pikiran, perasaan, pekerjaan hingga keluarga. Pendek kata ada anggapan sumbang ‘jadi pengurus itu makan hati!’ – ‘sudah sosial (maaf, alias gratisan!), masih dicaci maki lagi?!’ Sebaliknya, tidak jarang pula para aktivis dan pengurus Gereja menggerutu dan menimpakan kesalahan kepada umatnya yang ‘tidak peduli, merepotkan, menjengkelkan, dan seterusnya’. Atau, menyesali diri ‘kok mau-maunya jadi pengurus, sudah soro masih disio-sio dan nelongso (sudah sengsara/menderita, hati terus dilukai dan merana)’, yang kemudian diikuti dengan sikap ‘kecewa, putus asa, kapok (jera), mutung (ngambeg/marah, mogok, mengundurkan diri)’. Pengalaman seperti ini sedikit- banyak akan menyurutkan niat dan mengecilkan hati untuk jadi pengurus. Namun sebaliknya cukup banyak pula aktivis/pengurus yang ‘tahan banting’ (tegar menghadapi cibiran dan kesulitan serta tantangan) dan menemukan hikmah kematangan jiwa dan rohani serta kedewasaan iman katolik.
Mengikuti Yesus itu memang tidak mudah dan penuh tantangan. Jalan yang harus kita lalui adalah ‘salib’ seperti telah diteladankan oleh Yesus Al-masih. Melalui jalan salib kita semua akan ‘disucikan’. Melalui jalan penderitaan kita menanggung beban hidup masing-masing sekaligus beban yang ditimpakan oleh sesama umat kepada kita. Mari kita sabar dan tekun dalam penderitaan, serta selalu percaya bahwa jalan salib suci akan menghantarkan kita kepada kebangkitan dan hidup sejati nan abadi.
Sebagaimana kisah pertobatan Saulus (=Paulus), Tuhan mengutus Ananias untuk menyembuhkan kebutaan Saulus dan membaptisnya. Lalu, Tuhan bersabda kepada Ananias: “….Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak pen-deritaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kis.9:15-16). Biarlah Tuhan memakai kita sebagai alat pilihan-Nya (=perangkat pastoral) untuk mewartakan nama-Nya (=kemuliaan-Nya) dengan melayani sesama umat serta siap menanggung beban (=berkurban).
Agen Pastoral Agen pastoral bak agen mafia. Kalau ranting terlepas dari Yesus sebagai pokok pohon, maka ranting itu lambat laun akan kering dan mati terkulai. Kalau sudah membaptiskan diri sebagai murid Kristus (baca: umat Katolik), sudah selayaknya untuk selalu berbakti dan mengabdikan diri guna melayani diri sendiri dan sesama umat dengan penuh kasih.
Hanya ada dua pilihan, yaitu hidup atau mati. Kalau mau mengikuti Kristus, harus mau berkurban dengan sepenuh hati dan kasih. Seperti film James Bond 007 yang bertajuk ‘Live and Let Die’, yang mengisahkan tentang agen rahasia dalam mengemban misi ‘mulia’ (penyelamatan) demi kepentingan tertentu dengan segala resiko selamat sekaligus berkurban dengan penuh kerendahan hati dan kasih (=agape). Demikian pula agen pastoral seyogyanya bersikap ‘total’ penuh penyerahan diri akan rencana penyelamatan Ilahi.
Bersikap total dalam pelayanan gereja memang tidak bisa instant (cepat dan siap saji seperti indomie), namun merupakan proses (waktu dan pengalaman), serta permenungan, hingga akhirnya Roh Kudus sendiri yang berkarya dalam dan melalui diri kita. Diberkatilah dan berbahagialah kita yang ‘sadar’ sebagai umat pilihan Allah yang diundang dan diperkenankan bekerja di ladang Tuhan. Amin.
Sidoarjo, 12 April 2010A.J. Tjahjoanggoro
Tags: Dewan Paroki, Gereja Katolik Surabaya, Katedral, Keuskupan Surabaya, Salib Suci, Sidoarjo, Tropodo, Waru
March 25th, 2011 at 9:05 am
y0bMgh luvgtucgnfnu, [url=http://hqsmnkszrttu.com/]hqsmnkszrttu[/url], [link=http://unvlcneyuial.com/]unvlcneyuial[/link], http://gezssguyhvzw.com/
May 16th, 2011 at 2:42 am
Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.