Rangkuman pemahaman “SPE SALVI facti sumus” “kita diselamatkan dalam pengharapan (Rom 8:24).” Ensiklik kedua BENEDICTUS PP. XVI
“SPE SALVI facti sumus”–”kita diselamatkan dalam pengharapan, demikian pengajaran Sto Paulus kepada jemaat di Roma, DAN BEGITU JUGA KEPADA KITA (Rom 8:24).
Menurut iman Kristen, “penebusan”–”keselamatan”–”bukanlah sesuatu yang [otomatis] diberikan.
Penebusan ditawarkan kepada kita dalam artian bahwa kita telah diberi harapan, sebuah harapan yang bisa-dipercayai, yang oleh karena kebajikan [dari harapan tersebut] kita bisa menghadapi saat kini kita:
saat kini, meskipun itu melelahkan, bisa dihidupi dan diterima kalau [saat kini tersebut] mengarah kepada suatu tujuan, kalau kita bisa yakin akan tujuan ini, dan kalau tujuan ini cukup besar untuk menjustifikasi [atau "membenarkan"] upaya untuk suatu perjalanan [dalam mencapai tujuan itu].
Sekarang, pertanyaan dengan segera muncul: harapan macam apa yang dapat menjustifikasi [dan atau "membenarkan"] pernyataan bahwa, —atas dasar harapan itu dan hanya karena [harapan] itu ada—, kita telah ditebus?
Dan kepastian seperti apakah yang terlibat disini?
Iman adalah Harapan
“WHY BAD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE?”
Yah, “mengapa hal-hal yang buruk terjadi kepada orang-orang yang baik.”
—
Tapi rasanya perlu SEDIKIT MODIFIKASI:
“WHY GOD DIDN’T SEEMS TO CARE WHEN BAD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE?”
Ini lebih tepat, “mengapa Allah tampaknya tidak peduli ketika hal-hal yang buruk terjadi kepada orang-orang baik.”
—
“Anak yang aku sayangi sakit dan aku butuh bantuan. Tapi bantuan tidak ada. Kemudian anakku mati. Oh Tuhan, mengapa engkau tidak menolong? Apa dosaku? Apa dosa anakku?”
Kemudian, katakanlah Allah kemudian membantu. Anak itu kemudian disembuhkan. Air mata terseka. Kegembiraan datang.
Lalu pertanyaannya, berapa lama bertahan umur kegembiraan itu?
Akan ada lagi kesesakan-kesesakan yang lain. Dan si anak pun, sebagaimana semua manusia, pada akhirnya akan “tak tersembuhkan” dalam arti bahwa pada suatu saat dia akan mati. Begitu juga tiap manusia yang terjangkiti penyakit yang dinamakan “ke-fana-an” pada akhirnya akan tak tersembuhkan.
Manusia butuh penyelesaian yang tidak temporer.
Penyelesaian yang final dan definitif atas semua keburukan (kejahatan, ketidakadilan, penyakit dll) yang terjadi dalam dunia ini. Penyelesaian ini ada dalam kisah “Kabar Gembira” di mana sang Penyelamat datang justru untuk menyelamatkan manusia dari semua yang buruk itu.
Suatu karya keselamatan yang final dan definitif.
Yang menghapuskan kesesakan-kesesakan once and for all, sekali DAN untuk selamanya.
Di mana tidak akan ada lagi isak tangis (Yes 25:8; Why 7:17).
Allah telah mengirimkan Putra tunggal-Nya sehingga orang yang percaya kepada Dia akan selamat (Yoh 3:16).
Selamat dari apa? Keselamatan macam apa?
Keselamatan dari kutuk dosa yang mengakibatkan dunia ini, yang sebelumnya diciptakan dalam kebaikan (Kej 1:31) dulu, menjadi cacat dan penuh keburukan.
Keselamatan dari segala kekhawatiran yang ada karena cacat dunia yang diakibatkan oleh dosa. Kondisi di mana tidak perlu lagi setiap kita mengkhawatirkan tidak punya uang untuk kelangsungan hidup orang yang kita cintai, tidak perlu lagi khawatir karena penyakit yang tidak bisa diobati, tidak perlu lagi khawatir akan kematian dan lain-lain.
Keselamatan yang definitif ini BARU AKAN DIDAPATKAN setelah kita meninggalkan dunia yang cacat ini menuju ke dunia yabg baru yang sempurna (Yes 43:18-19; Why 21:5).
Perihal inilah yang PALING PENTING dan SERING DIACUHKAN (bukannya tidak dipahami atau tidak diketahui, tapi diacuhkan) oleh umat Kristen [yang sejati, Katolik].
Kebahagiaan definitif kita YANG SEJATI terletak di dunia lain. Setelah kita mati dalam dunia yang cacat [yang nantinya juga mati], maka kita akan dibangkitkan kembali untuk masuk ke dalam dunia yang baru itu. Di sinilah sama sekali tidak ada yang buruk.
Inilah penyelesaian definitif Tuhan.
Jadi, janganlah takut kalau orang yang kita sayangi sekarat. Kalau dia beriman dan hidup mengikuti ajaran Kristus, maka sekalipun dia mati, sebagaimana Kristus dahulu juga mati, toh, seperti sebagaimana Kristus juga, dia akan bangkit dan masuk ke dalam kekebahagian definitif di dunia yang baru itu.
Jadi fratres, janganlah takut kalau kita kehilangan pekerjaan dan hidup dalam kemelaratan dengan segala kesusahannya, bahkan sampai kita mati karena dera kemiskinan tersebut.
Karena, begitu kita mati dalam dunia ini, apa yang menanti kita adalah kebahagian abadi nan kekal bersama Bapa di sorga.
“Kematian” yang datang ke dunia yang cacat ini yang tadinya karena dosa, bagaikan suatu anugerah. Suatu pelepasan dari kesesakan hidup di dunia ini.
Beruntunglah kita karena usia kita di dunia ini terbatas (paling cuma +/- 100 tahun). Beruntunglah kita karena Allah mendesain sedemikian rupa sehingga semakin sengsara orang, semakin cepat dia mati.
Bayangkan seandainya orang yang sengsara dan sakit justru jauh lebih susah matinya daripada orang yang bahagia dan sehat. Bukankah sungguh lama penderitaan bagi mereka yang sengsara itu?
Tentu saja tidak dimaksudkan di sini agar kita semua cari mati. No. Tidak.
Ketika kita cari mati maka itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Kristus. Dan orang yang berlaku tidak sesuai dengan ajaran Kristus tidak akan masuk ke dalam kebahagiaan abadi nan kekal.
Dan yang terpenting, janganlah mengira bahwa orang2 YANG MEMAHAMI SEMUA ITU lalu TIDAK PERNAH TAKUT terhadap kesesakan dunia sama sekali.
Saya sendiri, sebagai contoh, akan kalang kabut dan berdoa mati-matian ketika mengalami sekedar kesulitan keuangan. Apalagi kalau pada saat ada orang yang disayang dan dicintai sepenuh hati akan meninggal.
Saya tau dan memahami semua yang ditulis di atas itu, tapi itu toh tidak membuat aku ongkang-ongkang kaki dan santai-santai saja dihadapan semua kesulitan. Air mataku pasti mengalir jebol, tekanan darah pasti naik ke atas puncak gunung, asam lambung pasti mengiris-ngiris.
TAPI, apa yang membedakan aku [dan umat Kristen sejati (Katolik) lain], yang diberikan Allah karunia HARAPAN karena IMAN, adalah bahwa saya dan kita tidak akan jatuh ke dalam ke-putus-asa-an.
Bagaikan orang yang punya simpanan banyak di bank, suatu kerusuhan yang merusak seluruh kota tidak akan mempengaruhi aku separah kerusuhan itu mempengaruhi tetanggaku yang lainnya yang tidak punya simpanan di bank.
Simpananku tidak akan pernah dapat dicuri atau lapuk dimakan ngengat (Mat 6:20).
Mari kita tutup dengan perkataan rasul Sto Paulus dalam Kitab Suci:
Roma 8:18-25
18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,
21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala mahkluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kit sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapai pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
—
Spe salvi facti sumus, kita diselamatkan dalam pengharapan. Pengharapan akan tempat surgawi yang lebih baik (Ibr 11:16)
Harapan utama setiap kita umat beriman Kristen [yang sejati; Katolik] tetap saja adalah Why 21:1-7,22-27.
In Domino,
[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, Imitatio Christi II, 2, 2]
*Credit to DeusVult, Evangelos
Tags: Bapa Paus, Gregorian, Paus Benedictus, Roma, Vatican
- Aku pergi - Tetapi kamu harus tetap gembira dalam iman
- DVD lengkap tentang Konsili Vatikan II
- Renungan Puasa