Pelayanan Orang Muda Katolik (OMK) Terhadap Gereja
KAMI JUGA MENCINTAI EKARISTI
Banyak bentuk pelayanan umat terhadap Gereja. Misalnya dengan menjadi Dewan Pastoral Paroki, Pengurus Wilayah, Asisten Imam, Lektor, Pemazmur, Anggota Koor, Petugas Liturgi, dan menjadi Penjaga Parkir. Semua memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Pelayanan bukan merupakan kewajiban, tetapi membutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian. Penulis ingin berfokus pada peranan OMK yang sering ketiban peran menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor, terutama saat Misa Agung.
Menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor ternyata sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Beberapa generasi muda Gereja yang sekarang sudah menjadi anggota DPP pun merasakan pelayanan dalam bentuk itu.
OMK menyadari, bahwa menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan terhadap Gereja selain menjadi Pengurus OMK Paroki maupun Wilayah dan Petugas Ekaristi. Keinginan Gereja agar OMK terlibat dalam setiap kegiatan Gerejawi memang sudah sangat jelas dapat mendorong dan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki. Tapi secara samar, dengan rutin dan seringnya OMK menjadi petugas parkir akan berimbas pada gambaran diri OMK. Tidak sedikit umat yang beranggapan bahwa OMK lebih senang menjadi petugas parkir karena BOSAN dan mulai MALAS dengan yang namanya MISA. Ada juga yang berpendapat bahwa, toh OMK juga mendapatkan uang parkir meskipun dengan nominal seikhlasnya,-. Namun, tidak sedikit pula yang menyadari bahwa OMK adalah bagian dari Gereja yang mendapat salah satu peranan dari sekian peran yang harus dijalani. Dalam suatu kesempatan, Rm. Heribertus Ballhorn, SVD pernah mengatakan bahwa menjadi petugas parkir pun adalah bentuk pelayanan terhadap Gereja, jadi sebisa mungkin harus dilakukan dengan baik.
Lalu, yang menjadi pertanyaan dan kegundahan OMK adalah ketika OMK rindu dengan perayaan Ekaristi khususnya pada misa-misa Agung yang hanya bisa diikuti dari tempat parkir,dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyambut kehadiranNya, bagaimana?
Fakta yang ada memperlihatkan bahwa beberapa OMK sering menjadi “bonek” dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun sebelum menyambut Kristus dalam wujud “sabdaNya”, OMK yang menjadi petugas penjaga parkir sempat hening dan menyiapkan hati seadanya. Pun ada yang sadar diri, merasa tidak pantas untuk menyambut Komuni Kudus maka tetap diam di tempat. Nurani mereka seolah menggugat: “Bukankah tidak pantas menerima Hosti Kudus bila tidak dengan persiapan hati yang layak?”. Kebutuhan OMK akan Ekaristi seolah terbentengi dengan kewajiban yang dilapisi nama “pelayanan”.
Apakah itu artinya, OMK hanya bisa berdiri di belakang tanpa pantas menyambut Tubuh dan DarahNya? Seberapa pentingkah pelayanan non liturgis sehingga dapat menomor-duakan Ekaristi? Apakah itu artinya, OMK harus mengorbankan Ekaristi?
Memang, pelayan Gereja adalah pelayan Tuhan juga. Tetapi Dia tentu akan bersedih, jika putra-putri yang dicintaiNya tidak dalam kondisi yang pantas atau siap hati untuk menerima kehadiranNya. Dia, mungkin, akan lebih terluka apabila putra-putriNya tidak menerima kehadiranNya.
Mengutip perkataan Bapak Victor H.S. selaku penasihat OMK: “Yang jelas, semuanya harus seimbang, jasmani dan rohani harus tetap beriringan. Tidak ada alasan untuk menjadi bosan. Misa tetap Misa. Liturgi juga tetap liturgi yang mempunyai hierarki dan tata perayaan. Masalah yang dihadapi sekarang, bagaimana kita, OMK, bisa mencintai Liturgi dan Ekaristi, kemudian membumikannya dalam kehidupan sosial di dalam dan di luar Gereja. Sebutan OMK bukan hanya mudah diingat dan dikatakan, tetapi sudah menjadi stempel mati buat kita. Yang harus diwujudkan dalam mencintai Ekaristi dan katolisitas dalam masyarakat majemuk. Menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan. Tetapi, Ekaristi tetap adalah yang utama. Tinggal bagaimana kita semua sadar bahwa semua itu masih menjadi bagian hidup dari orang muda yang merasa Katolik, terlebih lagi menjadi bagian dari Gereja Katolik”.
Intinya, Misa tetap Misa. Pelayanan juga tetap pelayanan. Semua tergantung dari cara menempatkan diri pada situasi yang sedang dialami. Jalan keluar yang mungkin bisa diambil adalah dengan mengikuti Misa Agung di paroki lain, karena Misa Agung di Paroki Salib Suci hanya diadakan satu kali.
Tapi, kemudian muncul pertanyaan, apakah dengan mengikuti misa di luar paroki domisili adalah pilihan terbaik?
Sekali lagi, mengulang pernyataan di awal, dibutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian dalam sebuah pelayanan. Terkadang dibutuhkan juga pengorbanan untuk menjalani pelayanan itu. Tidak mudah untuk menjadi ‘Yang Diharapkan’.
OMK memiliki loyalitas khas kaum muda, memiliki kompetensi, memiliki semangat, dan OMK juga memiliki komitmen.
Tapi lebih dari itu, OMK merindukan keutuhan Misa Agung dan Ekaristi.
OMK merindukan menjadi bagian dalam kegiatan liturgis dan upacara sakral. OMK tidak ingin hanya bisa berdiri di belakang.
OMK juga mencintai Ekaristi.
OMK juga ingin menghidupi Ekaristi.
(monica ajeng erwita)