splash
SITUS RESMI DEWAN PASTORAL PAROKI SALIB SUCI
Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
 

Archive for March, 2011

Bakti Sosial Wilayah Petrus Rasul

Posted By Komsos on March 29th, 2011

Lihat & Download Foto yang lain secara lengkap Klik di sini

Bakti Sosial oleh Ibu-Ibu Lingkungan Belimbing ke Wilayah Yosep Paroki Salib Suci Tropodo, yang dilaksanan pada hari Jumat, tanggal 25 Februari 2011 yang lalu

SMS berantai,…Pilih Berkat atau Kutuk !!!

Posted By Komsos on March 25th, 2011

Tinjauan kritis atas sms pembawa berkat atau yang akan mendatangkan kutuk

 

Pengantar

Walau merupakan persoalan yang sudah cukup lama, namun sampai hari ini masih banyak di antara kita yang menerima sms berantai yang intinya berisi tawaran berkat bagi yang mengindahkan dan ancaman kutuk bagi yang mengabaikan. Oleh karena itu, MAWASS pada edisi ini menyajikan bahasan soal sms berantai atau surat berantai ini yang diambil dari buku :

Beriman Katolik dari Altar Sampai Pasar; Pustaka Nusatama, 2006; F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr; hlm. 178-183.

Selebaran Gelap

Sampai hari ini banyak di antara kita yang masih menerima atau menjumpai “selebaran rohani” berisi iming-iming janji berkat bagi yang mengindahkan isinya dan ancaman kutukan bagi yang mengabaikan. Biasanya kita diminta memfotokopi dan menyebarluaskannya. Atau, bila pesan dalam email, kita diminta untuk memforwardnya.

Entah lantaran tergiur iming-iming berkatnya atau takut akan ancaman kutukannya, banyak orang menurutinya. Begitu juga dengan teks novena, misal novena kepada Yudas Tadeus, ditambahkan syarat pengabulannya: “Novena ini didoakan 6 kali sehari selama 9 hari berturut-turut dan tinggalkan 9 lembar salinan doa ini di gereja tiap hari. Buatkan 81 salinan dan tinggalkan 9 lembar salinannya di gereja selama 9 hari berturut-turut, Anda akan menerima intensi doa sebelum hari ke-9 berlalu.” Pernah juga dulu ada selebaran tentang penglihatan Tuhan Yesus kepada paus yang berisi tentang bencana dan hari kiamat. Anehnya, mereka yang mau menyebarluaskan selebaran itu akan selamat dari malapetaka.

Semua “selebaran rohani” itu sebenarnya adalah sebebaran gelap. Sebab pengirimnya tidak jelas, kalaupun nama dan alamat pengirimnya dicantumkan, biasanya fiktif belaka. Berkaitan dengan doa-doa yang akan disebarluaskan dalam Gereja Katolik selalu dibutuhkan imprimatur (izin terbit) dari Uskup/wakilnya dan nihil obstat yang menyatakan bahwa isinya tidak bertentangan dengan susila dan iman Katolik. Jadi, tak perlu kita terkecoh dan terhasut oleh provokasi dari selebaran gelap itu.

Bisa jadi, selebaran gelap tersebut dibuat untuk membingungkan dan menggoyahkan keyakinan iman kita sebagai pengikut Kristus. Mari kita melihat “iming-iming berkat” dan “ancaman kutuk” tersebut dalam perspektif iman Katolik.

 

Hal Pengabulan Doa

Yang menarik untuk disimak dari selebaran tersebut adalah adanya kesan kuat bahwa penggandaan dan penyebarluasan selebaran dan teks doa itu menjadi syarat terkabulnya doa. Asalkan kugandakan dan kusebarluaskan, niscaya doa permohonanku terkabul. Di sinilah terjadinya bahaya takhayul. Seakan-akan Tuhan wajib mengabulkan doa kita, sebab kita telah “membayar” dengan menggandakan dan menyebarluaskan teks tersebut. Padahal untuk pengabulan doa, Tuhan tidak butuh suapan. Bahkan korban bakaran dan persembahan Israel kerap ditolak Tuhan, sebab Tuhan tidak memerlukan hal itu. “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya” (Mzm 50:12).

Dalam Injil dinyatakan dengan jelas, pelbagai syarat pengabulan doa:

Pertama, dipanjatkan dengan penuh iman. Banyak penderita sakit dan kelemahan mengalami kesembuhan berkat imannya akan kuasa dan kasih Yesus Kristus. Kepada ibu yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan dan menjamah jumbai jubah-Nya, Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mat 9:22). Iman ini juga nampak dalam ketekunan dan kesetiaan kita dalam doa, seperti janda yang tiada bosan mengetuk pintu hakim yang tidak benar (Luk 18:1).

Kedua, sejauh kita mau tinggal dalam dan bersama Kristus, artinya hidup dalam kasih. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Bila kita kurang berbuat kasih, niscaya sulit juga doa kita dikabulkan. Sebab dosa-dosa kita bisa menghalangi suara kita sampai di tempat yang mahatinggi (lih. Yes 59:2). Maka saat berdoa novena pun, kita dianjurkan juga menerima Sakramen Tobat. Tuhan juga tak akan mengabulkan permohonan manakala hal itu hendak kita habiskan untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3).

Ketiga, pentingnya dukungan doa dari orang lain. Sebab firman Tuhan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:2). Begitu juga melihat iman mereka, iman si lumpuh dan iman keempat teman yang menggotongnya, Yesus tergerak hati untuk menyembuhkan (Mrk 5:2).

Iming-iming janji berkat dengan cara instan “doa + fotokopi” mengingatkan kita akan godaan si Jahat yang menyuruh Yesus secara instan mengubah batu menjadi roti (Luk 4:3). Permohonan yang meminta Tuhan membuat mukjijat selekas mungkin ini, tidak menunjukkan bahwa kita beriman pada Tuhan, sebaliknya justru mencobai Tuhan. Seru penjahat yang disalibkan bersama Yesus, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:29).

Memang Tuhan itu mahakuasa dan sanggup mengerjakan karya ajaib tanpa kita. Kendati demikian, Tuhan senantiasa mengajak kita untuk berusaha dan bekerjasama dengan rahmat-Nya. Kita ingat kisah mukjizat dalam perkawinan di Kana, di sana manusia harus mengisi tempayan dengan air terlebih dahulu (Yoh 2:7). Begitu juga dengan kisah pergandaan roti untuk menyenyangkan lima ribu orang, dibutuhkan lima roti dan dua ikan (Mrk 6:38) sebagai simbol modal dan usaha kita. Modal dan usaha yang kita persembahkan kepada Tuhan, niscaya akan diberkati Tuhan sehingga berlipat ganda.

 

Jangan Takut!

Yang mengherankan adalah selebaran gelap tersebut, berani mengancam siapa saja yang mengabaikan isinya, apalagi mereka yang sampai berani membuangnya. Tak sedikit pembaca yang kemudian mempercayainya, atau setidak-tidaknya berjaga-jaga jangan sampai celaka menimpa mereka lantaran mengabaikan selebaran itu. Bukankah ancaman demikian, tak jauh beda dengan pelbagai ancaman yang menghantui kita manakala mengabaikan perhitungan hari baik – hari buruk dan ancaman “Bathara Kala” bila kita tidak diruwat.

Jika hal itu yang terjadi, sebenarnya kita masih dibelenggu oleh ketakutan. Kepada kita yang telah dibaptis, St. Paulus mengingatkan, “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15). Yesus Kristus adalah Injil, kabar gembira dari Allah. Sewaktu Dia lahir,  malaikat berseru kepada Maria (Luk 1:30) dan para gembala  (Luk 2:10), “Jangan takut!” Kata yang sama disampaikan Yesus waktu Dia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan setelah kebangkitan (Mat 28:10). Memang kita tak perlu takut, sebab Allah itu kasih (1 Yoh 4:8) , Dia tak akan menghukum dan mencelakai kita. Dialah Immanuel (Mat 1:23), Allah beserta kita, yang senantiasa melindungi kita (Mat 28:20). Bersama Yesus, siapa takut (Rm 8:35)?

 

Penutup

Maka kesimpulannya, bila kita menerima sms semacam ini, jangan mudah percaya dan tidak perlu diteruskan, karena justru akan menggoyahkan iman orang lain. Betapapun mulianya maksud sms berartai ini (misalnya menyerukan pertobatan), namum cara yang ditempuhnya sama sekali tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Memang, memberitakan kabar baik adalah tugas setiap orang, tetapi tentu tanpa harus iming–imingi sebuah janji dan menakut-nakuti orang lain. Segala setiap perkara apapun, janganlah kuatir tetapi nyatakanlah segalah hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).

 

Rahim dan ASI yang berbahagia

Posted By Komsos on March 17th, 2011

LUK 11:27-2811:27   Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya:
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” 11:28 Tetapi Ia berkata:
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Menarik bahwa perikop ini hanya ditulis oleh Lukas. Dari sisi model penulisan, sekali lagi Lukas seolah “menyela”
reportase aktifitas Yesus yang sibuk mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Seolah Lukas ingin merekam juga
suasana di sekitar Yesus, termasuk celetukan dan komentar dari para audiens. Celetukan seorang wanita seperti di
atas sangat lazim terjadi. Manakala ada sesorang yang mengagumkan, menggemaskan, membuat heboh maka akan keluar celetukan dari orang-orang. Dan yang lazim adalah : “anak siapa itu!” Atau mungkin “seandainya anakku seperti itu….” Hal yang sangat lumrah. Namun ada yang sedikit aneh dalam celetukan yang ditulis oleh Lukas ini. Deskripsi celetukan ini sangat tidak lazim. : “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”Celetukan yang lazim – namun dengan cara yang tidak lazim. Terlihat tidak lazim karena sangat spesifik dikatakan  “Ibu yang mengandung…” bukan sekedar “anak siapa” namun langsung dengan “berkat : berbahagialah….. makarios” dan  secara terang terangan dikatakan dalam bahasa aslinya “koilia / koilos” . Ungkapan teknis yang sangat biologis mengarah pada “rahim” seorang wanita. “Berbahagialah wanita yang “rahimnya” mengerami Engkau: makaria e koilia e bastasasa se ”.

(more…)

“QUO VADIS” DPP dan BGKP Salib Suci 2011 – 2014?

Posted By Komsos on March 11th, 2011

Tak terasa tahun 2011 merupakan akhir masa bakti kepengurusan DPP (Dewan Pastoral Paroki) dan BGKP (Badan Gereja Katolik Paroki; dulu: Dewan Gereja/Keuangan atau Bendahara DPP) Salib Suci periode 2008-2011. Lalu, mau dibawa ke mana lagi (quo vadis = ke mana engkau pergi?) penggembalaan umat paroki Salib Suci periode 2011-2014? Berdasarkan kesadaran pada status umat paroki di persimpangan jalan peziarahan, muncullah beberapa pertanyaan sebagai bahan permenungan umat bersama.

Perkembangan Umat Berbasis ArDas KS dan Visi Paroki Salib Suci

Apakah kadar iman katolik umat sudah lebih dewasa daripada sebelumnya? Apakah hubungan antar umat sudah lebih akrab, hangat dan bertanggungjawab alias ‘guyub’? Apakah sudah lebih banyak umat yang mau terlibat aktif dalam kegiatan di lingkungan/wilayah/paroki, termasuk kesediaan untuk menjadi pelayan umat alias pengurus DPP lingkungan/wilayah/paroki? Akhirnya, apakah umat sudah siap mewartakan dan mewujudnyatakan katolisitas (=iman katolik) dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat, teristimewa dalam memenuhi panggilan perutusan?

Sederet pertanyaan permenungan ini sekaligus merupakan penjabaran dan pengejawantahan cita-cita bersama gereja yang sudah dicanangkan sebagai Arah Dasar Keuskupan Surabaya (ArDas KS) 2010-2019, yaitu ‘Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner’. Meski usia ArDas KS masih berlangsung satu tahun namun pertanyaan ini seyogyanya mulai kita renungkan dan mawas-dirikan sejak kini sebelum terlambat.

Terlebih, sebetulnya permenungan ini masih sangat erat kaitannya dengan Visi Paroki Salib Suci yang selaras dengan ArDas KS, yakni: (1) Umat yang bertekun dalam pengajaran para Rasul [dewasa dalam iman], (2) Umat yang bertekun dalam persekutuan atas dasar saling mencintai, dan (3) Umat yang bertekun dalam Perayaan Ekaristi, Sakramen-sakramen dan Doa [Kisah Para Rasul 2:42].

Rumusan visi paroki dikutip dari kisah gereja perdana dan dicanangkan bagi umat paroki Salib Suci sejak berdiri pada tahun 1988 dalam penggembalaan umat bersama Pastor Heribert Ballhorn SVD. Sudah semestinya kita semua perlu secara terbuka menghargai perkembangan jumlah dan kadar keimanan umat serta jujur mengakui keterbatasan insani umat yang masih terus perlu diperbaiki, ditingkatkan dan disempurnakan.

(more…)