Wilayah

Jun 162015
 
26e - Copy

Awal bulan Juni 2015, para pelajar dipusingkan dengan persiapan menghadapi Ujian Akhir Semester. Waktu bermain terpaksa dikurangi, studi diperbanyak. Begitu juga, jam tidur dikurangi dan bangun lebih awal mesti dilakoni demi mendapatkan nilai yang baik.

Setelah semuanya dilalui, rasanya benar-benar plong. Nah, untuk menghilangkan rasa stres selama UAS, anggota Rekat Rayon Utara, Paroki Salib Suci, punya trik tersendiri. Yuk, kita liat apa yang mereka lakukan… Continue reading »

Apr 122015
 
IMG_20150412_180100 - Copy

Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 11-12 April 2015, wilayah St. Alfonsus de Liguori, yang merupakan wilayah “termuda” dalam Paroki Salib Suci, mengadakan rekoleksi di Graha Wacana, Ledug. Rekoleksi dengan  tema “Dipanggil unt melayani” ini dibimbing oleh Rm. Victor Bani, SVD.

Pada sesi pertama, dengan sub tema: “Rapuh tapi dipilih untuk menjala hati”, Romo Victor mengajak para peserta rekoleksi, yang terdiri dari Biak, Rekat, OMK, para orangtua dan Lansia Wilayah St. Alfonsus, untuk menyadari panggilan mereka sebagai pengikut-pengikut Yesus. Continue reading »

Mar 142015
 
Arnoldus 1

Perayaan Pesta Nama Wilayah St. Arnoldus Janssen

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah Tritunggal yang Mahakudus, umat wilayah Santo Arnoldus Janssen merayakan pesta pelindung wilayahnya pada tanggal 15 Januari 2015.  Santo Arnoldus Janssen adalah pendiri “Serikat Sabda Allah (SVD)”.  Ia juga mendirikan dua konggregasi misi para suster, yaitu SSpS dan SSpS Adorasi Abadi, yang merupakan suatu Tarekat kontemplatif. Dari sini, Arnoldus Janssen sungguh menyadari bahwa karya misi haruslah selalu diletakkan pada 2 pilar utama, yakni karya dan doa. Spiritualitas  Santo Arnoldus Janssen inilah yang mendorong umat wilayah St. Arnoldus mengadakan Ibadat Triduum sebelum mengadakan misa syukur sebagai perayaan puncak. Continue reading »

Dec 112014
 
csp73503

Agustinus dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir dan ibunya ialah St. Monika, seorang Kristen yang saleh. St. Monika mendidik ketiga putera-puterinya dalam iman Kristen.Namun demikian, menginjak dewasa Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Mengikuti jejak ayahnya, ia menjadi seorang kafir. Continue reading »

Nov 072014
 
Beata Okt 2014 - 3

Pagi merekah di Citra Tropodo Baru saja menghampiri tak kala warga Lingkungan 2 Beata Teresa sibuk mempersiapkan diri untuk kegiatan gathering. Ya….. hari ini warga Lingkungan 2 Beata Teresa punya gawe mengadakan gathering ke kebun raya purwodadi dan kebun teh Wonosari, Malang

Continue reading »

Mar 272013
 

FKKW-Agstns-2013

Pada hari Minggu, 3 Maret 2013, Forum Komunikasi Ketua Wilayah Paroki Salib Suci Tropodo biasa disingkat FKKW diadakan kembali. Forum ini merupakan sebuah ajang untuk berbagi rasa antar sesama Ketua Wilayah, sehingga mereka bisa saling berbagi suka duka dalam memimpin wilayah masing-masing.

Sebagai tuan rumah untuk FKKW kali ini adalah Wilayah St. Agustinus, dan bertempat di salah satu rumah warga wil. Agustinus, jalan Anjasmoro.

 

Dalam acara kali ini, FKKW dihadiri Romo Servas dan Romo Dasi, dan tentu saja para ketua wilayah, beserta anggota DPP. Pembicaraan berlangsung hangat, ditambah dengan gaya moderasi oleh pak Bambang Sutrisno, mantan ketua wilayah Agustinus, menjadikan pembicaraan antar ketua wilayah semakin gayeng dan guyub.

 

Pokok pembicaraan antar ketua wilayah kali ini, memunculkan beberapa topik terhangat di paroki seperti kondisi OMK dan Rekoleksi Umat. Namun satu topik yang paling hangat diperbincangkan dalam FKKW hari itu adalah tentang jumlah kehadiran umat saat Rekoleksi Umat diadakan di wilayah masing-masing.
Dari hasil perbincangan, tampak bahwa hampir semua wilayah mengalami hal yang sama terkait tingkat kehadiran umat dalam Rekoleksi Umat, yaitu rendahnya persentase kehadiran umat dalam Rekoleksi yang sebenarnya diadakan untuk memeriahkan perayaan Pesta Perak Paroki SS sekaligus memberdayakan iman umat paroki SS.

FKKW-Agstns-2013-2

 

Beberapa ketua wilayah memberikan solusi untuk mengatasi rendahnya minat umat dengan cara tidak dikatakan secara langsung bahwa pertemuan adalah Rekoleksi Umat, sebagai gantinya dikatakan bahwa kegiatan kumpul-kumpul umat ini untuk rujakan, atau arisan, dlsb.
Memang kondisi tersebut (rendahnya minat untuk datang ke Rekoleksi Umat) tidak terjadi di semua wilayah, karena ada juga wilayah yang tidak kekurangan umat (minimal 20 orang) saat mengadakan rekoleksi. Menurut penjelasan sang ketua wilayah tersebut, keadaan ini bisa terjadi karena ada proses “jemput bola” sebelumnya. Maksudnya, para pengurus wilayah, sering melakukan kunjungan ke rumah2 warga di wilayah, sehingga suasana guyub terasa, dan umat tidak merasa asing dengan saudara-saudara mereka sewilayah, dan pada akhirnya membuat mereka tidak ragu-ragu lagi untuk datang ke kegiatan wilayah termasuk Rekoleksi Umat. Ini sebuah contoh yang patut ditiru oleh wilayah-wilayah lain.

 

Satu pokok pikiran yang sama mengenai mengapa tingkat kehadiran umat sangat rendah adalah umat Katolik dinilai tidak suka kalo diminta untuk men-sharing-kan pengalaman imannya. Sehingga apabila ada kegiatan yang bersifat diskusi, atau sharing, seperti Rekoleksi Umat, Pendalaman Iman APP, Pendalaman Iman Advent, yang semua itu bersifat dua arah, maka umat yang datang akan sedikit. Namun bila kegiatan wilayah/lingkungan berupa tindakan satu arah seperti doa rosario, doa lingkungan, doa arwah, atau kegiatan yang bersifat bersenang-senang, seperti olahraga, wisata rohani,  maka banyak umat yang hadir.

Setelah cukup lama terjadi perbincangan mengenai topik yang dianggap meresahkan para ketua wilayah ini, pada akhirnya Romo Dasi memberikan satu ketegasan dan pedoman moral mengenai hal tersebut. Romo Dasi memberikan satu ajaran dari salah satu pembimbing rohani beliau ketika Romo Dasi masih frater dulu. Bahwa kita jangan menjadikan TINGKAT KEHADIRAN UMAT sebagai TARGET, karena kalo hal tersebut yang dijadikan target atas keberhasilan satu kegiatan, maka kita akan lebih sering kecewa. Karena demikianlah memang kondisi manusia, kadang banyak yang hadir, kadang sedikit. Dan kita tidak bisa membatasi atau memaksa para umat untuk hadir atau tidak hadir dalam satu kegiatan. Target dari kegiatan seharusnya adalah siapa orang yang mau hadir, dan apakah nilai dari kegiatan telah sampai ke dalam hati orang yang mau hadir itu.
Tidak cukup sampai di situ, Romo Servas memberikan tambahan dari pengalaman beliau saat membimbing pendalaman Kitab Suci di paroki GYB. Saat itu juga sama. Di saat awal-awal pembentukan kelompok pendalaman iman di sana juga sepi peminat. Namun target saat itu, bukanlah jumlah kehadiran, tetapi KESETIAAN dari mereka yang mau hadir. Benar saja, setelah beberapa lama berjalan, pembinaan iman yang tadinya hanya dihadiri oleh sedikit orang itu, ternyata sekarang telah berkembang pesat, bahkan para Romo di GYB saat itu kebingungan membagi waktu kunjungan karena semakin banyaknya kelompok-kelompok pendalaman Kitab Suci.
Jadi pada akhirnya, target utama dari keberhasilan kegiatan (entah bernama Rekoleksi Umat atau Pendalaman Iman), sekali lagi bukanlah banyak atau sedikitnya umat yang hadir, namun KESETIAAN dari umat yang mau hadir, dan KESINAMBUNGAN dari kegiatan yang diadakan. Sehingga lama kelamaan, umat yang hadir akan mendapatkan hasil, dan otomatis prinsip “gethok tular” akan terjadi dan kegiatan tersebut akan berkembang pesat dengan sendirinya.

 

Akhirnya, FKKW ditutup dengan doa dan berkat dari Romo Servas, lalu dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan siang bersama. Sambil makan-makan, para peserta dapat saling berbincang santai tentang apa saja, sambil menyantap buah-buahan sebagai pencuci mulut

 

Akhir kata, kami dari Wilayah Agustinus sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa acara FKKW akhirnya berakhir dengan baik, dan mendapatkan banyak pencerahan, terutama dari para romo paroki dan saudara-saudari dari Wilayah lain.

 

Terima kasih romo Servas dan romo Dasi atas nasehat-nasehatnya, semoga kami dapat melaksanakan nasehat tersebut dengan baik di hari-hari mendatang. Terima kasih untuk para Ketua Wilayah yang telah hadir untuk berbagi rasa sehingga diharapkan kita, sebagai warga Paroki Salib Suci, tidak lagi memiliki batas-batas di antara umat Paroki. Terima kasih juga untuk para anggota DPP untuk bimbingannya, semoga kerja sama ini semakin berkembang di hari selanjutnya. Amin