<>

SIAPAKAH PUTERI ITU?

PANDUAN TEMATIS  BULAN ROSARIO UNTUK MENGENAL, MENCINTAI DAN MENELADANI BUNDA MARIA

PAROKI SALIB SUCI SIDOARJO

 

ratu-sorga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR

Bulan Oktober adalah bulan yang penuh gairah dalam hidup menggereja karena bulan ini ditetapkan sebagai bulan Rosario.  Antusiasme  berdoa Rosario  bergilir dari rumah ke rumah dalam satu wilayah atau lingkungan selalu dipadati umat. Devosi yang sehat ini rupanya telah mengakar kuat. Tak diragukan lagi bahwa ungkapan devosi Maria yang paling popular dan dicintai dalam Gereja adalah Rosario. Dari generasi ke generasi, Rosario menjadi ungkapan devosi semua paus dan tokoh-tokoh suci Gereja : St. Thomas Aquinas, St. Alfonsus Liguori, St. Louis Maria de Monfort, Ibu Teresa Calcuta, Para Paus dan masih banyak lagi.  Bagi kita sendiri, tentunya semarak devosi ini perlu mendapatkan penjernihan yang sepatutnya, agar umat tidak terjebak ke dalam spiritualitas yang kerdil, emosional dan dangkal belaka.

Untuk itu, kami ingin menggunakan Bulan Rosario ini sebagai suatu bulan untuk merenungkan dan mengenal SIAPAKAH Bunda Maria – dan tentu saja akhirnya adalah bagaimana kita bisa meneladan dan mencintai dia. Salah satu sarana yang baik adalah melalui katekese umat saat sebulan penuh berdoa Rosario. Katekese umat ini disampaikan melalui tema-tema khusus yang setiap hari menjadi focus dalam pewartaan para katekis.

MENGAPA PERLU TEMA-TEMA KHUSUS ?

Dari sisi Katekis :

Yang pertama adalah untuk memudahkan para katekis mempersiapkan apa yang akan disampaikan saat giliran mereka bertugas.

Yang kedua menghindarkan tumpang tindih antar katekis karena tidak adanya koordinasi apa yang harus disampaikan. Kerapkali para katekis harus mempersiapkan sendiri tema pewartaannya sehingga duplikasi kesamaan tema antar katekis sangat dimungkinkan.

Yang ketiga memacu para katekis untuk menggali lebih dalam tema-tema Marianis yang mungkin selama ini perlu didalami dan bahkan mungkin belum dipahami. Para katekis diajak untuk senantiasa belajar mengembangkan diri sehingga pewartaan yang disampaikan jadi lebih dalam dan bermutu.

Dari Sisi Umat : pemahaman umat akan Bunda Maria akan sangat terbantu dengan katekese yang mencerahkan – bukan sekedar ajakan hidup baik untuk meneladan Bunda Maria yang diulang-ulang selama sebulan penuh. Dan ada berbagai manfaat lain yang akan bisa dipetik dari tema-tema harian yang disajikan para pewarta.

Dan untuk itulah buku panduan ini disusun.

 

TENTANG MARIA

  1. MARIA DALAM ALKITAB

Bagaimana Tradisi Katolik bisa berbicara begitu banyak tentang Maria? PB begitu sedikit berbicara tentang dia?

  1. Luk 1:26-38 : Maria diberi kabar oleh Malaikat Gabriel
  2. Luk 1:39-45 : Maria mengunjungi Elisabeth
  3. Luk 1:46-55 : Magnificat Maria
  4. Luk 2:1-5 : Maria dan Yoseph ke Bethlehem
  5. Luk 2 :6-20 ; Mat 1:18-25 : Kelahiran Yesus
  6. Luk 2:21-40 : Yesus dipersembahkan ke Bait Allah
  7. Yoh 2:1-11 : Perkawinan di Kana
  8. Yoh 19:25-27 (bdk. Mat 27:55-56; mrk 15:40-41) : Maria berdiri di kaki salib
  9. Kis 1:14 : Maria di tengah para murid (bdk Kis 2 : Pentakosta)

Dari segi jumlah, cerita Alkitab secara khusus berkisah tentang Maria memang sangat sedikit. (152 ayat : Paulus 1 ayat, Lukas 89 ayat, Kis 1 ayat dan sisanya Matius, Markus, Yohanes). Dari segi mutu ibarat permata. Kecil  tetapi luar biasa indahnya.

Peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru. Ia hadir dalam janji Allah terhadap hawa, ibu dari semua yang hidup dan dengan “fiat”nya ia dilukiskan dalam kitab Wahyu sebagai tabut perjanjian, bejana pilihan yang mengandung Allah sendiri. Maria menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9) untuk menebus anak-anak hawa, dengan membalikkan dosa hawa.

Peran Maria : Terbentang sepanjang sejarah keselamatan.

  • Maria merupakan bagian integral dari Wahyu Ilahi
  • Maria terkait erat dengan Yesus dalam rencana ilahi, yaitu sebagai Bunda Allah Penyelamat

Sehingga : Misteri dan Karya Kristus tidak dapat dimengerti tanpa Maria karena inkarnasi Sabda terjadi melalui Maria !

Meski demikian : harus selalu diingat bahwa pada tempat pertama, gagasan-gagasan PL maupun PB adalah hendak menjelaskan Yesus sebagai penyelamat, bukan Maria. Karena itu Mariologis harus ditafsirkan dalam konteks Soteriologis!

Ajaran tentang Maria tidak merampas kemuliaanNya melainkan memantulkannya (Maria cermin kekudusan). Sebagaimana Maria telah memberikan darah dan daging kepada Allah Putera, demikian ia memberikan darah dan daging kepada Gereja sepanjang segala masa.

 

  1. SIAPAKAH MARIA ?

Maria (Aram-Yahudi מרים Maryām “pahit”; Bahasa Yunani Septuaginta Μαριαμ, Mariam, Μαρια, Maria; bahasa Arab: Maryam, مريم) adalah ibu Yesus,  tunangan Yusuf . Sedikit yang diketahui mengenai riwayat hidup Maria dari Perjanjian Baru. Yang kita ketahui hanyalah dia adalah kerabat dari Elizabet, istri dari imam Zakaria anggota golongan imam Abia. Elizabet sendiri seorang keturunan Harun.

Sumber lain yang bisa ditelusuri mengenai Maria adalah dari Injil apokrif proto Yakobus (sekitar abad II – bdk Luk 1:1-4). Dikisahkan bahwa  orangtua Maria bernama Yoakhim dan Anna (Hana) dari Nazareth, suami istri yang sudah tua namun belum mempunyai anak. Keduanya terus berdoa agar bisa mempunyai anak dan mereka berjanji untuk mempersembahkannya bagi Allah. Karenanya ketika Maria lahir, sesuai dengan nazar, Maria dipersembahkan ke Kenisah melalui imam Zakharia, yang beristerikan Elisabeth keponakan Anna & Yoakim (sepupu Maria).  Tak lama setelahnya kedua orang tua Maria wafat dan Maria diasuh oleh imam Zakharia dan Elisabeth, istrinya. Dan sesuai nazar dan pesan orang tua Maria, dia dipersiapkan untuk mengabdi kepada Allah. Umur Maria sekitar 2 tahun saat itu.

Dan ketika berusia 12 tahun, Maria ditunangkan dengan Yusuf, tukang kayu keturunan Daud. Mengapa tidak dengan calon imam sehingga terwujud pesan orang tua Maria? Dikisahkan bahwa sebelumnya Zakharia mendapatkan petunjuk / tanda dari Allah untuk mempertunangkan Maria dengan Yusuf. Awalnya Maria ragu, ketika dibawa Yusuf tunangannya yang bukan calon iman ke Nasareth. Namun Yusuf seorang yang tulus hati, seorang duda yang saleh dan sangat menghormati Maria. Dia menikahi Maria justru untuk melindungi niat Maria mengabdi kepada Allah.  Mereka tinggal terpisah di Nazareth.

Dalam adat Yahudi terdapat dua tahap pernikahan : Erusin dan Nisu’in. Erusin berarti bertunangan = janji resmi untuk menikah dihadapan saksi. Pasangan yang dipertunangkan tidak diperbolehkan sama sekali untuk berduaan saja di bawah satu atap, meskipun sudah sah disebut suami isteri. Pelanggaran terhadap janji ini adalah zinah = hukuman rajam. Sedangkan Nisu’in merupakan tahap pengantin pria membawa pengantin wanita ke rumahnya untuk hidup bersama. Dalam masa tahap pertama pertunangan mereka (Erusin),  saat itulah Malaikat Gabriel mewartakan kepadanya bahwa dia akan menjadi ibu dari Mesias yang dijanjikan itu dengan cara mengandungnya melalui Roh Kudus. Maria hamil. Dan sesuai Ul 22:23-27 harus diketahui sebab kehamilannya. Apakah karena hubungan bebas dengan lelaki lain atau karena diperkosa. Yusuf sebenarnya berhak mengajukannya ke pengadilan, namun ia seorang yang “tulus hati dan tak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum” Tulus hati (dikaios). Karenanya Yusuf berniat untuk “Menceraikan dengan diam-diam”. Menceraikan secara diam-diam tanpa surat resmi pengadilan sebetulnya juga tidak dibenarkan secara hhkum (Ul 24:1). Yusuf berada dalam kegalauan dan kebimbangan besar. Untunglah malaikat datang menemui dia melalui mimpi. Malaikat itu berpesan agar Yusuf tidak gentar dan mengambil Maria sebagai isterinya. Dan melalui mimpi Yusuf mendapatkan tugas perutusannya sebagai ayah hukum Yesus (memberi nama bdk Kej 17:19; 1Taw 22:9) sehingga Yesus masuk ke trah Daud.

Kepada Maria, malaikat juga memberitahukan bahwa Elizabet, yang sebelumnya mandul, kini secara ajaib telah mengandung. Karenanya Maria segera mengunjungi kerabatnya , yang tinggal bersama suaminya Zakaria di sebuah kota Yudea “di daerah perbukitan” (kemungkinan di Yuttah, bersebelahan dengan Maon, sekitar 160 km dari Nazareth). Begitu Maria tiba dan menyalami Elizabet, Elizabet dengan segera menyatakan Maria sebagai “ibu dari Tuhannya“, dan atas pernyataan itu Maria menyanyikan sebuah kidung ungkapan syukur] yang umum dikenal sebagai Magnificat. Tiga bulan sesudahnya, yaitu  segera setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, Maria pulang ke rumahnya.

Ketika kehamilan Maria sendiri makin membesar, keluarlah  sebuah dekrit dari kaisar Romawi Augustus yang menitahkan agar semua warga didata (sensus). Segera Yusuf  membawa istrinya  pergi ke Betlehem (sekitar 80 atau 90 mil /kurang lebih 130 km dari Nazareth), untuk mengikuti sensus itu, karena Yusuf dari keturunan Daud yang berasal dari Bethlehem. Ketika mereka berada di Betlehem, Maria melahirkan putera sulungnya; namun karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan, dia harus menggunakan sebuah palungan, atau tempat makan hewan, sebagai tempat meletakkan bayinya. Sesudah delapan hari kemudian, anak itu disunat dan dinamai Yesus, sesuai instruksi yang diberikan oleh malaikat Tuhan kepada Yusuf. Dan setelah bayi Yesus berusia 40 hari, maka Yesus diserahkan kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem sesuai dengan aturan hukum bagi anak-anak sulung. Hal ini kemudian diikuti oleh rentetan peristiwa lain : kunjungan orang-orang majus dari Timur, pengungsian Yusuf beserta Maria dan Yesus ke Mesir, kembalinya mereka dari sana setelah mangkatnya Raja Herodes Agung, dan Keluarga Kudus itu menetap di Nazaret.

Maria tampaknya menetap di Nazaret selama kira-kira tiga puluh tahunan tanpa peristiwa-peristiwa istimewa. Satu-satunya peristiwa yang dicatat Perjanjian Baru adalah saat pada Yesus berusia dua belas tahun. Saat itu Yesus terpisah dari orang tuanya dalam perjalanan pulang mereka dari perayaan Paskah Yahudi di Yerusalem dan kemudian ditemukan di tengah para guru di Bait Allah. Kemungkinan besar antara peristiwa tersebut sampai dengan permulaan tampilnya Yesus ke depan umum, Yusuf suami Maria meninggal karena tidak disebut-sebut lagi.

Setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan dicobai oleh iblis di padang gurun, Maria kembali hadir ketika Yesus mengerjakan mujizat pertamaNya di hadapan umum pada pesta pernikahan di Kana dengan mengubah air menjadi anggur berkat perantaraan Maria. Selanjutnya dalam beberapa peristiwa Maria hadir bersama “saudara-saudara” (Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas) serta “saudari-saudari” Yesus yang tidak disebutkan nama-namanya.

Maria juga dilukiskan hadir pada peristiwa penyaliban Yesus, berdiri di dekat “murid yang dikasihi Yesus” bersama saudarinya Maria Klopas, Maria Magdalena serta wanita-wanita lain yang telah mengikuti Yesus dari Galilea dan melayaniNya.

Menurut Kisah Para Rasul, sesudah kenaikan Yesus ke surga, kurang-lebih 120 jiwa berkumpul di “Kamar Atas” bertekun dalam doa untuk menantikan Sang Penolong yang dijanjikan Yesus, di mana Maria adalah satu-satunya orang yang disebutkan namanya selain ke-12 rasul serta para wanita lain dan saudara-saudara Yesus. Selama penantian itu, dipilihlah Rasul  Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot.

Sejak setelah peristiwa ini, nama Maria menghilang dari Alkitab, meskipun beberapa golongan Kristiani yang meyakini bahwa Maria sekali lagi digambarkan sebagai wanita surgawi dalam Wahyu. Kematiannya tidak tercatat dalam Alkitab.

Menurut tradisi Katolik Romawi dan Ortodoks Timur, Maria tinggal bersama Rasul Yohanes di Efesus. Dan antara tiga sampai lima belas tahun sesudah kenaikan Kristus itu, di Yerusalem atau Efesus, Maria meninggal dunia; disaksikan para rasul Kristus. Selanjutnya kemudian hari, ketika para rasul membuka makamnya, ternyata kosong, sehingga mereka menyimpulkan bahwa dia telah diangkat secara badaniah ke surga

(disunting dari : Wikipedia dan berbagai sumber)

 

GELAR – GELAR MARIA & LITANI MARIA (LORETO)

Santa Maria, Santa Bunda Allah, Santa Perawan Termulia, Santa Perawan Wahyu, Bunda Kristus, Bunda Gereja, Bunda Rahmat Ilahi, Bunda yang Tersuci, Bunda yang Termurni, Bunda yang Tetap Perawan, Bunda yang Tak Bercela, Bunda yang Patut Dicintai, Bunda yang Patut Dikagumi, Bunda Penasihat yang Baik, Bunda Pencipta, Bunda Penebus, Bunda Segala Bangsa, Bunda Dukacita, Bunda Pengharapan Suci, Bunda Penolong Abadi, Bunda Segala Kemenangan, Perawan yang Amat Bijaksana, Perawan yang Harus Dihormati, Perawan yang Harus Dipuji, Perawan yang Berkuasa, Perawan yang Murah Hati, Perawan yang Setia, Cermin Kekudusan, Takhta Kebijaksanaan, Pohon Sukacita Kami, Bejana Rohani, Bejana yang Patut Dihormati, Bejana Kebaktian yang Utama, Bunga Mawar yang Gaib, Benteng Daud, Benteng Gading, Rumah Kencana, Tabut Perjanjian, Pintu Surga, Bintang Timur, Keselamatan Orang Sakit, Perlindungan Orang Berdosa, Penghibur Orang Berdukacita, Pertolongan Orang Kristen, Ratu Para Malaikat, Ratu Para Bapa Bangsa, Ratu Para Nabi, Ratu Para Rasul, Ratu Para Saksi Iman, Ratu Para Pengaku Iman, Ratu Para Perawan, Ratu Para Orang Kudus, Ratu yang Dikandung Tanpa Dosa, Ratu yang Diangkat ke Surga, Ratu Rosario yang Amat Suci, Ratu Pencinta Damai, Santa Perawan Maria dari Guadalupe, Maria dari Lourdes, Maria dari Fatima, Maria dari Gunung Karmel, Hati Maria yang Tidak Bernoda, Maria dari Medali Wasiat, Pengantara Segala Rakhmat, Ratu Konggregasi Pasionis, Bunda Penolong Abadi, Madam Medugorje, Putri Allah Bapa, Bunda Allah Putra, Mempelai Allah Roh Kudus, Misionaris Pertama, Tabernakel Pertama, Ratu Samudra Pasifik, Hawa Baru, Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa, Maria yang Dipersembahkan Kepada Allah, Ratu Pertolongan Abadi, Bintang Laut, Bunda Maria dari Luxemburg

Mungkin anda tercengang melihat deretan gelar di atas, tetapi gelar – gelar tersebut hanyalah sebagian dari 117 gelar yang dimiliki oleh Bunda Maria. Gelar – gelar tersebut muncul dengan berbagai latar belakang yang berbeda – beda. Untuk mengetahui latar belakang dari pemberian gelar – gelar tersebut,  kita  akan membahas beberapa gelar yang mungkin familiar bagi kita.

 

  1. MENGAPA MARIA DIBERI GELAR TERTENTU? APA DASARNYA?
  1. DASAR PENGHORMATAN KEPADA BUNDA MARIA ADALAH KARENA PERANNYA SEBAGAI BUNDA ALLAH  (THEOTOKOS)

Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh gelar tentang Maria bersumber pada kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Allah, bunda Sang Penebus. Oleh karena itu, semua gelar Maria senantiasa bersumber pada misteri Inkarnasi Kristus. Jadi, seluruh gelar Maria adalah untuk semakin memperkuat pengajaran tentang Inkarnasi Kristus.

  1. MARIA BUKAN PESAING YESUS

Dengan banyaknya gelar yang diberikan kepada Maria, bukan berarti bahwa Maria menjadi “pesaing” Yesus. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.

Pengantaraan Maria bersifat partisipasi. Kepengantaraan Kristus tidak menggusur dan tidak bersaing dengan kepengantaraan Maria melainkan meneguhkannya. Bukan sebagai pengantaraan yang lepas dan berbeda dengan Kristus melainkan karena mengambil bagian dan merupakan perpanjangan kepengantaraan Kristus. Karena Maria sendiri juga ditebus oleh Kristus secara istimewa.

Justru penolakan terhadap pengantaraan Maria adalah karena orang salah memahami hakekat, kekuatan dan kedalaman kepengantaraan Kristus. Allah tidak bersaing dengan kita, seolah Ia dihormati hanya kalau kita (manusia) tidak dihormati.

Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:

“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium, 53)

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. “Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

Tiada satu makluk pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman. Dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber.

Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat (Lumen Gentium 62), karena  keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus. Mulai dari persetujuan yang diberikannya pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dengan setia dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui perantaraan yang berlimpah. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia.

Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.

Maka gelar-gelar Maria tersebut pertama-tama bukan mau mengagungkan Maria tetapi Yesus Kristus. Baru kemudian kedua, puja-puji atas effek penebusan, yang dihasilkan Yesus, pertama-tama atas diri Maria, tetapi kemudian diratakan untuk semua ummat manusia. Maria adalah buah pertama, kemudian umat Allah buah-buah berikutnya. Dengan demikian di balik devosi kepada Maria terkandung dua maksud tersebut. Kemuliaan Maria adalah jasa penebusan Yesus Kristus. Dengan kata lain Maria dan kita semua hanya nunut pada kemuliaan Yesus Kristus.

Jadi semangat gelar-gelar kepada Santa Perawan Maria adalah (1) memuliakan Allah yang berkenan menjadi manusia (Yesus Kristus), (2) mensyukuri buah sukses penebusan-Nya yang sudah terwujud pada umat manusia (pertama-tama pada Maria), (3) memuliakan barang siapapun khususnya Maria yang mau menyambut positif penebusan Yesus Kristus sehingga terkena effek-baik pada diri sendiri maupun semua manusia, (4) memohon kepada Tuhan dengan perantaraan Maria dan para kudus, agar dapat seperti Maria, menyambut positif penebusan-Nya, dan mau bekerja sama dengan Rahmat illahi, sehingga kehidupan kita sendiri, demikian pula tetangga-tetangga kita diubah, sehingga menjadi anak-anak Allah juga. Dan akhirnya (5) memohon kepada Perawan Maria agar mendoakan kita dan menolong kita untuk bisa seperti dia.

 

  1. PELOMPOKKAN GELAR-GELAR MARIA

Kita bisa mengelompokkan gelar-gelar Maria berdasarkan SIFAT GELAR itu sendiri, yaitu:

 

  1. GELAR YANG BERSIFAT DOKTRINAL

Gelar Maria yang bersifat doktrinal adalah gelar-gelar Maria yang diberikan sebagai dogma Gereja. Jadi gelar ini menjadi ajaran resmi Gereja. Gelar Dogmatis kepada Bunda Maria adalah : DOGMA MARIA BUNDA ALLAH / MATER DEI / THEOTOKOS, DOGMA MARIA TETAP PERAWAN /SEMPER VIRGO / AEIPARTHENOS, DOGMA MARIA IMMACULATA CONCEPTIO, DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA / MARIA ASUMPTA

Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.

  1. Ketaatan dan kekudusan Bunda Maria adalah teladan bagi kita umat beriman.
  2. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
  3. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
  4. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.

 

  1. GELAR YANG BERSIFAT DEVOSIONAL

Gelar Maria yang bersifat devosi adalah gelar-gelar yang bersifat puitis atau alegori, seperti : Tabut Perjanjian, Benteng Daud, Benteng Gading/Turris Eburnus, Cermin keadilan/Speculum Justitiae, Takhta Kebijaksanaan/Sedes Sapientiae, Bintang Timur/Bintang Fajar/Stella Matutina, Pintu Surga/Caeli Porta, Bintang Samudera/Stella Maris, Mawar yang Gaib/Rosa Mystica, Hamba Tuhan/Ancilla Domini, Ratu Bidadari/Regina Angelorum, Ratu Damai/Regina Pacis, dll

Sebagian besar gelar di atas berhubungan dengan nubuat dan perlambang dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Beberapa di antaranya berfokus pada kesucian dan peran keibuannya. Selain itu ada pula yang berasal dari kitab Wahyu.

 

  1. GELAR KARENA PENAMPAKAN ATAU PENGARUH GEOGRAFIS

Sementara gelar karena penampakan atau geografis adalah gelar yang diberikan kepada Maria karena kehadirannya di tempat-tempat tertentu, dan juga penghormatan daerah tertentu kepada Maria yang khusus daerah tersebut, bukan Gereja Katolik seluruhnya, misalnya Maria dari Lourdes, Maria Bunda Karmel, Maria Bunda La Salette. Di sebuah paroki di Pakem, Yogyakarta ada gelar ’Kitiran Kencana’ bagi Bunda Maria.

 

  1. LITANI SANTA PERAWAN MARIA (LORETO)

Pujian dan gelar kepada Bunda Maria kemudian dirangkum dalam sebuah litani yang bernama Litani Santa Maria.  Ada banyak versi Litani Bunda Maria, namun yang terkenal adalah versi Loreto. Loreto adalah sebuah kota kecil di Italia di mana ada tempat peziarahan Ibu Maria. Teks paling kuno yang dipakai di situ dibuat oleh Santo Petrus Kanisius di Dilligen Jerman pada 1558. Gelar-gelar Maria yang ada dalam Litani ini bukan baru, tetapi diambil dari sebuah litani kuno dari abad pertengahan (1100-1400). Litani ini oleh St. Petrus Kanisius dipublikasikan guna menggairahkan devosi kepada Bunda Maria sebagai tanggapan atas “Reformasi” Protestan yang menyerang devosi-devosi sejenis. Litani ini merupakan seruan gelar pujian kepada Santa Perawan yang digunakan dalam perayaan-perayaan di Gereja Loreto, Italia sejak abad ketigabelas. Litani ini disetujui oleh Paus Sixtus V tahun 1587.

 

HARI-HARI YANG BERKAITAN DENGAN PERAYAAN MARIA

 1          Januari            = HR SPM Bunda Allah

11        Februari          =  Pfak Penampakan Bunda Maria di Lourdes (Hari Orang sakit Sedunia)

22        Maret              = Tujuh kedukaan Santa Maria ??

25        Maret              = HR SPM Menerima Kabar Gembira (HR Kabar Sukacita)

13        Mei                  = Santa Maria dari Fatima

24        Mei                  = Maria Pertolongan Orang Kristiani

31        Mei                  = Pesta SPM Mengunjungi Elisabeth

4          Juni                 = Maria Ratu para Rasul

8          Juni                = Santa Perawan Maria, Takhta Kebijaksanaan

16        Juni                 = PW  Hati Tersuci Santa Perawan Maria

16        Juli                   =  Maria dari Gunung Karmel

23        Juli                   = Santa Perawan Maria Bunda Rahmat Ilahi

27        Juli                   = Bunda Maria Penolong Abadi ??

5          Agustus           =  Pemberkatan basilika Santa Perawan Maria

15        Agustus           = HR SPM Diangkat ke Surga

22        Agustus           = PW SPM Ratu

8          September     = Pesta  Kelahiran SPM

12        September     = Pfak Nama Maria Tersuci

15        September     = PW SPM Berdukacita

7          Oktober          = PW SP Maria Ratu Rosario

21        November      = PW SPM Dipersembahkan kepada Allah

27        November      = Maria dari medali wasiat

8          Desember       = HR SP Maria dikandung tanpa Noda

12        Desember       = Pfak Bunda Maria dari Guadalupe

 

 

TEMA – TEMA PANDUAN KATEKESE MARIA

TEMA HARI PERTAMA

MARIA BUNDA ALLAH (MATER DEI / THEOTOKOS / DEI GENITRIX) MARIA RATU PENCINTA DAMAI (REGINA PACIS)

Saran Bacaan : Lukas 2 : 16 – 21

Maria Bunda Allah merupakan dogma pertama tentang Maria. Dogma ini dicetuskan oleh Konsili Efesus tahun 431. Pada jaman itu berkembang ajaran Nestorius yang mengatakan bahwa Maria hanya melahirkan kemanusiaan Yesus – bukan keilahian Yesus. Adalah salah jika Maria disebut sebagai Bunda Allah (Theotokos = yang melahirkan Allah).

Gereja menjawab dengan tegas bahwa Yesus adalah Allah sejak semula – termasuk saat IA berada di rahim Maria. Di dalam rahim Maria, Allah Putera menerima kodrat insani-Nya. Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, maka Maria adalah Bunda Allah. Tugas Maria tidak dipersempit dalam fungsi fisiologis belaka. Justru mengingkari peran Maria sebagai Bunda Allah berarti mengingkari kebenaran inkarnasi bahwa Yesus adalah sungguh Allah – sungguh Manusia.

Jadi pada dasarnya dogma ini bukanlah sesuatu yang melulu tentang Maria melainkan justru tentang Kristus sebagai Allah dan Manusia. Dengan gelar ini tekanan utama justru pada siapa Yesus yang adalah satu pribadi dua kodrat (Unio hypostateis – communicatio idiomatum).

Di mana dasar Kitab Suci yang mengatakan itu?

Pertama secara harafiah bisa diambil dari kata-kata Elisabeth saat Maria mengunjunginya :”Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk 1:43 – bdk. KGK 495)

Dari ajaran biblis bisa disimpulkan :

  1. Maria adalah ibu Yesus
  2. Yesus adalah sungguh Allah = Maria adalah Bunda Allah.

Jika kesimpulan kita tidak demikian (Maria = Bunda Allah) maka berarti kita menyangkal salah satu atau kedua premis dasar tersebut.

Hari Raya Maria Bunda Allah dirayakan Gereja Katolik setiap tanggal 1 Januari – yang bertepatan pula dengan hari Perdamaian Dunia. Maria juga dikenal sebagai Ratu Pecinta Damai (Regina Pacis).

Dari peran Maria sebagai Bunda Allah ini, gelar yang lain bisa dikenakan pula kepadanya : Maria Bunda Kristus, Maria Bunda Penebus (Kristus penebus – bdk. 1 Timotius 2:6; 1 Korintus 6:20), Maria Bunda Pencipta (Karena Yesus Kristus ikut bersama Allah Bapa dan Roh Kudus, mencipta alam semesta dan manusia – Kolose 1:16; Yohanes 1:3). Semua gelar kepada Maria bersumber terutama karena perannya sebagai Bunda Allah.

Peran Ke-Bunda-an Maria ini tidak berhenti pada saat ia melahirkan Yesus, namun tugas Maria terus berlangsung sepanjang hidup Yesus. Hidup Maria sangat jelas terlihat dibaktikan seluruhnya untuk Yesus. Ia melindungi Yesus di masa kanak-kanakNya, ia mendidik dan mengajar Yesus hingga dewasa. Ia terus melihat dan memperhatikan Yesus saat IA telah dewasa dan mengajar. Maria juga turut berduka dalam perjalanan salib Yesus – bahkan sampai wafat dan kebangkitanNya. Peran Maria itu terus berlangsung hingga ia diangkat ke surga dan menjadi Ratu Surga.

 

TEMA HARI KEDUA

MARIA RATU PARA MALAIKAT (REGINA ANGELORUM)

Saran Bacaan : Mat 18: 1 –  10

Pada tanggal 2 Agustus, Gereja merayakan gelar Maria Ratu Para Malaikat. Dan pada tanggal 2 Oktober ini, Gereja memperingati Para Malaikat Pelindung.

Dalam Kepercayaan Katolik kita mengenal adanya malaikat, yaitu mahluk yang telah terlebih dulu diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia dijadikan. Adanya Malaikat merupakan satu Kebenaran Iman: Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan “malaikat”, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang itu bersifat sama jelas” (KGK 328). Malaikat adalah ciptaan Allah, sebagaimana kita imani bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang kelihatan maupun yang tak kelihatan.

Kata malaikat berasal dari bahasa Ibrani malakh מלאך, yang berarti utusan (Lat. Angelus, Yun. Aggelos, Ing. Angel). Kata ini di dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi: malaikat, utusan, suruhan, orang-orang suruhan, bentara, pesuruh, dan raja.

Malaikat mempunyai peran yang sangat besar. Dalam Kitab Suci, para malaikat memenuhi seluruh Alkitab, sejak awal Perjanjian Lama hingga kitab Wahyu.     Malaikat telah berperan besar dalam Kisah Manusia Pertama di taman Firdaus. Para malaikat Allah diutus untuk menjaga taman Firdaus agar manusia yang telah diusir tidak kembali ke sana.  Dalam Kejadian 22 kita mengenal kisah dramatis Abraham yang telah menguyunkan pisaunya untuk menyembelih Ishak namun dihalangi oleh malaikat. Malaikat membela Yakub dari kecurangan Laban (Kej 31:11). Malaikat bahkan bergulat dengan Yakup semalam-malaman di tepi sungai Yabok (Kej 32:24-25). Malaikat pula yang menjelaskan kepada Musa mengenai fenomena semak bernyala yang tak terbakar (Kel 3:2). Malaikat berjalan di depan umat Allah yang keluar dari Mesir. Mereka melindungi Israel yang berjalan di padang gurun (Kel 23:20-23; 33:2) dengan menempatkan kabut antara bala tentara Mesir dan umat Israel (Kel 14:19). Selanjutnya mereka menyampaikan Sabda Allah kepada para nabi. Malaikat memberi makan kepada Elia di padang gurun (1 Raj 19:5). Kitab Tobit menunjukkan pada kita bagaimana malaikat memandu perjalanan seorang pemuda untuk memulihkan nasib keluarganya, mencari obat bagi kebutaan ayahnya dan menemukan istri yang cantik dan saleh dalam perjalanan hidupnya.

Sejak awal kisah Perjanjian Baru peran malaikat juga telah tampak. Maria menerima Kabar dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26 dst), lalu dalam Mat 1:20 dst Yusuf yang sedang bimbang menerima nasehat malaikat melalui mimpi untuk menerima Maria. Di Padang Gembala, bala tentara malaikat bernyanyi dihadapan para gembala (Luk 2:9dst). Lagi Yusuf melalui mimpi menerima perintah ke Mesir untuk menyelamatkan bayi Yesus (Mat 2:13). Malaikat rupanya juga berperan penting saat seseorang meninggal. Lukas 16:22 mengatakan “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham”. Kisah Lazarus yang disia-sia dan sengsara hidupnya, saat meninggal, ia dibawa malaikat ke pangkuan Abraham. Malaikat melindungi dan mengantarnya ke pangguan Bapa Iman.

Malaikat kerap disebut pula sebagai “penjaga” (Dan 4:13). Mereka disebut juga sebagai “tentara langit” (Ul 17:3) atau juga bala tentara “TUHAN” (Yos 5:14).   “Bala tentara” ini dihubungkan pula dengan bintang-bintang, karena bintang-bintang dianggap terkait erat dengan para malaikat. Namun, YHWH membedakan diri-Nya dari para malaikat, dan karena itu orang-orang Ibrani dilarang Musa menyembah “bala tentara surga” itu.

Malaikat pelindung dikenal sejak lama. Dalam Mzm 34:8 tertulis “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka” – dan Mazmur 91:10 – 12 lebih tegas dan jelas merumuskan peran mereka : “malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu”.

Istilah “menjaga” menjadikan peran para malaikat yang sangat spesifik sebagai pelindung umat Allah seperti tertulis dalam kel 23:20-21 “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia”. Dari banyak teks Alkitab kita menjadi yakin bahwa Allah melalui para malaikatNya menuntun kita agar terhindar dari celaka dan sampai pada tujuan abadi hidup kita, yaitu Allah sendiri.

Peran para malaikat ini bagi para anak-anak juga merupakan suatu anugerah Allah yang sangat tak terhingga indahnya : Mat 18:10 “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. Matius mengingatkan kita agar jangan menjadi batu sandungan bahkan menyesatkan anak kecil. Mereka mempunyai pelindung khusus, yaitu para malaikat pelindung mereka. Malaikat pelindung merupakan wujud penyelenggaraan Ilahi bagi kita. Allah peduli kepada kehidupan kita, juga kepada para anak kecil

Kepercayaan bahwa setiap orang mempunyai malaikat pelindungnya masing-masing bisa ditarik sejak dari Perjanjian Lama meski tidak secara spesifik mengatakannya (bdk Mzm 34:8; 91:10-12). Lebih lanjut dalam Mat 18:10 seperti dikutip di atas bahwa anak-anak dilindungi oleh malaikat pelindung. Selanjutnya Kisah Para Rasul 12:15 mengungkapkan “Kata mereka kepada perempuan itu: “Engkau mengigau.” Akan tetapi ia tetap mengatakan, bahwa benar-benar demikian. Kata mereka: “Itu malaikatnya.”  Kalimat ini merupakan sebuah rujukan tersirat mengenai kepercayaan ini.

St. Hieronimus dan Basilius berkata bahwa dosa menjauhkan manusia dari malaikat pelindung. Konsep malaikat pelindung dan hierarki mereka dikembangkan secara luas oleh Pseudo-Dionisius dari Aeropagus pada abad ke-5 dan memiliki pengaruh yang kuat pada seni dan devosi kerakyatan saat itu.

Kristus adalah pusat dunia malaikat. Mereka adalah para malaikat-Nya: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia…” (Mat 25:31). Mereka adalah milik-Nya karena mereka diciptakan oleh Dia dan untuk Dia: “Karena di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintahan, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Mereka lebih lagi milik-Nya, karena ia menjadikan mereka pesuruh rencana keselamatan-Nya: “Mereka adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan” (Ibr 1:14) – KGK 331

 

Meski demikian luhur dan sucinya para malaikat , kedudukan manusia sebagai citra Allah lebih luhur di mata Tuhan. Karenanya, ibunda Yesus – Maria Bunda Allah sekaligus menjadi ratu bagi para malaikat. Maria adalah puteri kesayangan Allah, dipuji di antara manusia, disegani dan disayang oleh para malaikat. KGK 973: “Oleh fiat, yang diucapkan pada saat warta gembira dan yang dengannya ia memberikan persetujuannya untuk misteri inkarnasi, ia sudah berperan serta dalam karya, yang akan diselesaikan oleh Putranya. Di mana saja, Kristus berada sebagai Penebus dan Kepala Tubuh Mistik, di situ Maria berada sebagai Bunda.” Inilah landasan yang menjadikan Bunda Maria disebut Ratu para malaikat karena “Kristus sudah dimuliakan dan seluruh alam semesta berlutut pada-Nya” (Flp 2:11).

 

TEMA HARI KETIGA

MARIA HAWA BARU

Saran Bacaan : Wahyu 12 : 1 – 18

 Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Adam yang baru (Roma 5:12-21; 1Kor 15:22). Adam adalah manusia ciptaan pertama yang membawa kehancuran kepada seluruh umat manusia, Kejatuhan Adam berakibat pada jatuhnya seluruh umat manusia. Kristus sebagai Adam yang Baru, menjadi ciptaan yang baru yang menebus apa yang telah dilakukan Ada sehingga seluruh keturunan umat manusia diselamatkan berkat penebusanNya disalib.

Belajar dari metode St. Paulus dalam mengajar umat, para Bapa Gereja sejak abad kedua dan selanjutnya (Yustinus Martir, Ireneus, Hieronimus) melihat hubungan antara Maria dan Hawa. Maria oleh Bapa Gereja digelari sebagai Hawa yang Baru. Hawa sebagai ibu dari semua yang hidup telah digoda setan dalam bentuk ular dan tidak taat pada perintah Allah. Akhirnya Hawa jatuh dan membawa serta seluruh keturunannya kepada kematian akibat dosa.

Kisah tersebut terdapat pada Kitab Kejadian 3, kisah penciptaan. Dan diakhir kisah itu Allah memberikan janji nubuat pertama untuk keselamatan manusia. Janji ini dikenal sebagai Injil Pertama (proto euangelion) : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan (itu!), antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej 3:15)

Ketika waktunya telah tiba,  malaikat mendatangi seorang perawan bernama Maria dan menyampaikan kabar suka cita yang memusingkan kepalanya bahwa ia akan mengandung karena Roh Kudus dan melahirkan Yesus Penyelamat dunia. Dengan iman dan ketaatannya, Maria mengucapkan fiatnya. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38)

Dan Yohanes dalam Kitab Wahyu 12, seolah mencocokkan hubungan antara kedua perempuan itu. Antara Hawa dan Maria : melalui Hawa dosa masuk kedalam dunia – dan melalui Maria, Allah akan menebus dosa manusia itu, yaitu melalui Putera yang dikandungnya: Yesus.

Banyak sekali kemiripan jika kita membaca kisah jatuhnya manusia di Kitab Kejadian 3 dengan Kitab Wahyu 12  ini :

  • Ada 3 tokoh utama :
    • Dalam Kejadian 3 (selain Allah) : Hawa – Adam dan Ular ;
    • Dalam Wahyu 12 : Maria – Yesus (Adam Baru) dan Ular tua (naga / setan)
  • Di dalam kedua Kisah itu ada Pertempuran / perbantahan
    • Dalam Kej 3 antara : perempuan (Hawa) dan ular ;
    • Dalam Wahyu 12 antara : Perempuan (Maria) dan Ular tua
  • Keduanya mengalami Sakit bersalin
  • Keduanya berkaitan dengan Padang gurun :
    • Dalam Wahyu 12:14 perempuan itu menyelamatkan diri di padang gurun ;
    • Maria (Keluarga Kudus) juga hijrah ke Mesir melalui padang gurun (Mat 2:13-21)

Jadi Maria ditampilkan sebagai Hawa Baru yang memalui dia, Allah menebus dosa manusia.

Para Bapa gereja membandingkan keduanya dengan sangat bagus :

  • St Ireneus mengatakan : ”belenggu ketidaktaatan Hawa diretas oleh ketaatan Maria; apa yang diikat hawa lewat ketidaktaatannya dilepaskan maria dengan kepercayaannya”. (LG 56).
  • Tertulianus mengatakan : “kontras yang paling mencolok antara Maria dan hawa adalah dalam hal iman; sebagaimana hawa percaya kepada ular – demikian Maria percaya kepada Allah. Pelanggaran yang terjadi karena kepercayaan yang satu, dihapus oleh kepercayaan yang lain”.
  • Yustinus : Hawa dan Maria keduanya adalah perawan. Hawa mengandung kata-kata ular, sedangkan Maria mengandung Sabda Allah.
  • Hawa Muncul pada awal penciptaan dan kejatuhannya bersama Adam adalah jejak tragis PL; Maria muncul di ufuk era baru (Langit dan bumi Baru – Yes 65:17) dan ketaatannya bersama Adam Baru merupakan jejak kemenangan PB.
  • Hawa adalah ibu biologis kita ; Maria adalah Ibu Rohani kita yang kebundaannya jauh melampaui kebundaan fisik Hawa.

Manakah yang akan kita pilih sebagai ibu kita : Hawa atau Maria???

 

TEMA HARI KEEMPAT

MARIA BUNGA MAWAR AJAIB (ROSA MYSTICA)

Saran Bacaan : Yes 35 : 1 – 10

Maria digelari sebagai bunga mawar yang gaib. Yesaya menubuatkan bahwa sebuah tunggul (tunas) keturunan Isai (Daud) yang akan tumbuh melahirkan Mesias bagi bangsa Israel (Yes 11:1). Dan bagi Gereja tunas Isai itu adalah Maria, yang juga berasal dari keturunan Daud. Tunas itu secara ajaib secara ajaib bersemi dan berbunga seperti tongkat Harun (Bil 17:8). Anna, Ibu Maria, mandul, namun pada akhirnya secara ajaib melahirkan Maria. Maria, perawan, belum bersuami, secara ajaib mengandung dan melahirkan Yesus. Maria bagaikan mawar dari Saron yang bersorak-sorai melihat kemuliaan Tuhan (Yes 35:1; Kid 2:1)

Mawar dianggap sebagai bunga yang terindah, bunga kerajaan yang harumnya melampaui segala bunga lainnya. Bunda Maria memiliki kekudusan yang manis dan keutamaan yang cantik. Gelar ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Bunda Maria dalam spiritualitas Katolik, sebagai teladan keutamaan dan kekudusan dalam peran keibuannya, dan sebagai tanda akan kehidupan yang akan datang.

Gelar Maria sebagai Bunga Mawar yang gaib mengingatkan kita pula akan kisah penampakan Maria di Guadalupe yang diperingati setiap tanggal 12 Desember. Demikian kisahnya  :

Pada suatu pagi yang dingin tanggal 9 Desember 1531, seorang petani duda berusia 50 tahun, keluar dari rumahnya di sebuah desa di Mexico. Petani ini semula bernama “Elang Bernyanyi” – dan baru saja ia mengganti namanya karena baru dibaptis, dengan nama Juan Diego. Sabtu pagi itu ia bergegas menuju Tlatelolco untuk merayakan Misa. Sejak mengenal Kristus, tiap hari ia rajin mengikuti misa pagi meski harus berjalan cukup jauh melintasi bukit untuk sampai di  Tlatelolco.

Sementara menyusuri jalan, ia mendengar suara orang menyanyi. Suara seorang perempuan. Dari tempat suara itu, Juan Diego melihat awan putih muncul membentuk pelangi. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tengah-tengah awan dan menjadi terang benderang. Dan ia melihat seorang perempuan yang amat cantik rupawan berdiri di depan awan. Pakaiannya berkilau keemasan.

Juan Diego menunduk dalam sikap berlutut. Perempuan itu kemudian berkata dalam bahasa setempat: “Anakku, Juan Diego, kemanakah engkau hendak pergi?”. Juan Diego menjawab, “Yang mulia, saya dalam perjalanan menuju gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa.” Selanjutnya perempuan itu meminta Juan Diego untuk pergi ke kediaman Uskup dan mengatakan kepadanya bahwa Bunda Maria menginginkan sebuah gereja dibangun di bukit di mana ia menampakkan diri sebagai penghormatan kepadanya.

Juan Diego bergegas ke kediaman Mgr Zumarraga, Uskup Mexico. Ia ragu-ragu, ia menyadari dirinya sebagai seorang petani Indian yang tak dikenal. Menjelang malam, ia datang kembali ke bukit. Bunda Maria sudah menunggu di sana. Juan minta agar Bunda Maria mengirim orang lain saja untuk menghadap Uskup. Katanya, “Saya hanya seorang yang miskin. Saya merasa tidak layak hadir di tempat Uskup. Maafkan saya, ya Ratu. Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu.” Tetapi Bunda Maria menegaskan bahwa ia menghendaki Juan dan bukan orang lain. Atas desakan itu, keesokan harinya Juan memberanikan diri menghadap Bapa Uskup. Uskup mengajukan sejumlah pertanyaan dan mengatakan bahwa jika benar ia adalah Bunda Allah, maka ia perlu memberi bukti.

Pada tanggal 12 Desember, Bunda Maria menampakkan diri lagi kepada Juan. Ia mengajak Juan Diego mendaki sebuah bukit yang gersang, hanya kaktus dan belukar yang tumbuh di sana. Tetapi, setibanya Juan di sana, bukit itu dipenuhi bunga-bunga mawar segar yang berembun dan harum mewangi. Bunda Maria mengambil mawar-mawar yang telah dipetik dan merangkaikannya di dalam lipatan-lipatan TILMA (= mantol kasar yang dipakai suku Indian Mexico) Juan.

Ketika Juan tiba di kediaman Uskup, Juan harus menunggu lama karena dihalang-halangi para penjaga yang dengan penuh rasa ingin tahu berusaha mengambil mawar-mawar dari mantol Juan. Namun, begitu mereka mengulurkan tangan, mawar-mawar itu seperti terpateri di mantol Juan sehingga mereka tidak dapat mengambilnya.  Di hadapan Uskup, Juan membuka tilmanya dan mawar-mawar pun berjatuhan ke lantai. Dan ajaib, di  tilma Juan terlukis gambar Bunda Allah dalam pakaian Indian. Tangannya terkatup dalam sikap berdoa, rambutnya yang hitam lembut terurai sampai ke bahunya. Wajahnya bulat oval dengan matanya setengah tertutup. Senyum merekah di bibirnya. Uskup Juan de Zumarraga jatuh berlutut. Airmata mengalir membasahi pipinya ketika ia berdoa mohon ampun karena kurang percaya. Kemudian Uskup membawa tilma Juan Diego ke dalam kapel dan meletakkannya di depan Sakramen Mahakudus.

Di kemudian hari, diadakan penyelidikan yang cermat dan teliti atas lukisan di mantol Juan Diego. Besarnya lukisan itu kurang lebih 1,50 meter. Bunda Maria mengenakan mantol berwarna hijau kebiru-biruan berhiaskan 46 bintang emas, tiap-tiap bintang berujung delapan. Jubah Bunda Maria berwarna merah jambu dengan sulaman bunga-bunga berbenang emas, sangat indah. Tepian leher dan lengan bajunya dilapisi kulit berbulu halus berwarna putih. Sebuah bros dengan salib hitam di tengah-tengah menghiasi lehernya. Di sekeliling tubuhnya bergemerlapanlah gelombang dari cahaya emas di atas latar belakang merah padam. Di pupil mata kanan Bunda Maria tergambar tiga sosok, yaitu Juan Diego, Juan Gonzalez – penerjemah, dan Uskup Zumarraga. Lukisan Santa Perawan Maria dari Guadalupe kini ditempatkan di Basilika Santa Perawan Maria dari Guadalupe di Mexico City yang didirikan pada tahun 1977.

 

“Janganlah khawatir mengenai apapun,

bukankah aku ada di sini?

Aku, yang adalah bundamu.

Bukankah engkau ada dalam perlindunganku?”

Bunda Maria dari Guadalupe

 

TEMA HARI KELIMA

MARIA POHON SUKACITA KAMI (CAUSA NOSTRAE LAETITIAE)

Saran Bacaan : Lukas 1 : 46 -58

 

Bagi masyarakat agraris, pohon menjadi sumber kehidupan. Demikian juga bagi bangsa Yahudi. Ada banyak macam pohon yang menjadi sumber mata pencaharian : Pohon Ara, Pohon Aras, Pohon Kurma, Zaitun, Tarbantin, Cendana, Gandarusa, dsb

Dalam Alkitab, pohon Ara kerap dihubungkan dengan janji-janji Allah tentang kemakmuran (bdk Yer 5:17, Hos 2:12, dsb). Pohon yang menghasilkan banyak buah merupakan sukacita dan tanda perdamaian dan karunia Allah. Bukan hanya itu, pohon juga kerap menjadi suatu tanda akan sesuatu. Banyak ayat dalam Perjanjian Lama dan Baru menunjukkan peran pohon sebagai pengingat, missal dalam kisah Abraham yang menandai suatu tempat dekat dengan pohon Tarbantin (Kej 12:6; 13:18, dsb) – juga Kisah Natanael di bawah pohon Ara (Yoh 1:48). Pohon besar juga menjadi tempat berteduh (1Raj 13:14 dsb), tempat menguburkan mayat di bawahnya (1Taw 10:12). Pendek kata pohon menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Maria digelari sebagai Pohon sukacita kami. Dalam terjemahan bahasa Latin dan bahasa Inggrisnya, sebenarnya tidaklah dimaksudkan dengan kata POHON, melainkan SUMBER. Jadi dalam bahasa Latin disebutkan  Causa Nostrae Laetitiae (sumber / penyebab suka cita kami) – dan senada dengan dalam bahasa Inggrisnya : Cause of Our Joy. Mungkin dalam bahasa Indonesianya, kata pohon memang bisa diartikan sebagai kiasan tantang asal sesuatu. Kita kenal dengan istilah pohon keluarga, yang berisi rangkaian asal-usul / silsilah seseorang.

Maria bagaikan pohon yang menjadi harapan akan masa depan untuk hasil yang berlimpah. Artinya Maria juga menjadi sumber kegembiraan kita karena Maria telah menghadirkan bagi kita rahmat terbesar, yaitu Yesus. Maria juga menjadi tanda kasih karunia Allah karena buah-buah rohani yang dihasilkannya. Maria menjadi tempat berteduh kita di tengah panas terik kehidupan. Maria menjadi sandaran bagi kita saat ajal nanti. Sukacita inilah yang dibuahkan Maria. Ketika Maria yang mengandung Tuhan di perutnya datang mengunjungi kita, jiwa kita ikut melonjak kegirangan (bdk. Lukas 1:43-44). Maria yang kita kunjungi dengan rajin dengan doa Salam Maria dan doa Rosario, akan memberi sukacita berlimpah kepada kita.

 

TEMA HARI KEENAM

MARIA TABUT PERJANJIAN (ARCA TESTAMENTI / FOEDERIS ARCA)

Saran Bacaan : Wahyu 11 : 19 – 12 : 11

Benar jika dikatakan bahwa, meski dalam Perjanjian Baru peranan atau kisah Bunda Maria tidaklah banyak ditulis, namun sesungguhnya sejak Perjanjian Lama, jejak-jejak nubuat tentang Bunda Maria telah banyak dijumpai. Sebagaimana salah satu gelar yang akan kita renungkan adalah Maria sebagai Tabut Perjanjian.

Dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah lambang kehadiran Allah. Tabut Perjanjian itu menjadi pusat dari Bait Allah. Apa yang membuat Bait Allah itu sakral, suci dan dikuduskan adalah karena di dalamnya Allah hadir dalam Tabut Perjanjian.

Tabut Perjanjian sangat kudus dan ia diselubungi oleh awan kemuliaan (shekinah), berlapis emas. Di dalam Tabut Perjanjian itu terdapat tiga barang :

  • Loh batu dimana jari Allah mengguratkan Sepuluh PerintahNya di Gunung Sinai, (Kel 25:16)
  • Satu Bejana berisi Manna yang menjadi makanan bagi bangsa Israel selama 40 th di padang gurun (Kel 16 : 32 – 36)
  • Tongkat Harun, imam agung pertama.

Tabut Perjanjian adalah kudus karena isi didalamnya sinonim kehadiran Allah di tengah Israel. Di mana Tabut Perjanjian berada – di situ YHWH hadir. Karenanya Tabut Perjanjian diperlakukan sangat hormat.

Maria digelari tabut perjanjian. Mengapa? Pertama-tama adalah karena Maria sebagaimana Tabut Perjanjian menghadirkan Allah bagi dunia. Dan persis dengan isi Tabut Perjanjian lama, apa yang dikandung Maria pun bermakna sama, bahkan lebih besar dari isi Tabut Perjanjian:

  • Kalau Tabut Perjanjian berisi guratan jari Allah yang berupa 10 perintahNya; maka yang dikandung Maria adalah Yesus yang membawa hukum baru yaitu hukum cinta kasih
  • Kalau Tabut Perjanjian berisikan roti manna yang menjadi santapan bangsa Israel di padang gurun, yang dikandung Maria adalah Yesus yang adalah roti kehidupan – roti yang turun dari surga, yang tidak akan membuat lapar lagi
  • Kalau Tabut Perjanjian berisikan tongkat Harun imam agung pertama, yang dikandung Maria adalah Yesus Sang Imam Agung yang Mahatinggi.
  • Kalau Tabut Perjanjian diselimuti oleh awan kemuliaan (shekinah), Maka Maria pun dinaungi oleh Roh Kudus (Luk 1:35)

 

TEMA HARI KETUJUH

MARIA RATU ROSARIO YANG AMAT SUCI (REGINA SANCTISSIMI ROSARII)

Saran Bacaan : Matius 6 : 5 – 8

Sebagai bahan katekese, uraian bisa diambil dari Sejarah Rosario – bagian terakhir dari buku ini

 

TEMA  HARI KEDELAPAN

MARIA TETAP PERAWAN (SEMPER VIRGO / AEI PARTHENOS)

Saran Bacaan : Matius 1 : 18 – 25

 AJARAN GEREJA KATOLIK :

  • Maria Perawan sebelum (virginitas ante partum) , saat (virginitas in partu) dan setelah melahirkan (virginitas post partum) Kelahiran Yesus tidak menghilangkan keperawanannya melainkan bahkan menguduskannya (bkd LG 57 & 59)
  • Keperawanan Maria adalah menyangkut disposisi (sikap mental) kesucian perawan baik secara fisik maupun spiritual.
  • Keperawanan fisik Maria harus dilihat sebagai simbol dan ungkapan keperawanan spiritual karena raga adalah ungkapan dari pribadi (KGK 364).

Ajaran Maria tetap perawan berasal dari ajaran Ignatius dari Antiokia, Ambrosius dari Milan dan Agustinus dari Hippo dan akhirnya menjadi ajaran resmi Gereja sejak Sinode Lateran tahun 649 – dan ditetapkan sebagai dogma pada konsili Konstantinopel II tahun 553. Dan ditegaskan lagi pada Konsili Ekumenis Konstantinopel III (681).

Ada banyak gelar mengenai keperawanan Maria dalam Litani Loreto : Santa Maria Perawan termulia (Sancta Virgo Virginum), Perawan yang amat Bijaksana (Virgo Prodentissima) , Perawan yang Patut dihormati (Virgo Veneranda), Perawan yang Patut dipuji (Virgo Praedicanda), Perawan yang berkuasa (Virgo Potens), Perawan yang Murah hati (Virgo Clemens), Perawan yang setia(Virgo Fidelis). Beberapa tema mengenai keperawanan Maria ini akan kita perdalama beberapa tema / hari ke depan.

Bagaimanakah selama ini kita berusaha untuk berjuang menjaga kesucian hati dan pikiran kita?

 

TEMA HARI KESEMBILAN

MARIA PERAWAN YANG TERMULIA (SANCTA VIRGO VIRGINUM)

Saran Bacaan : Matius 13 : 44 – 58 Saudara-saudara Yesus

Masih dalam kaitan tema Maria sebagai perawan, hari ini kita hendak merenungkan Maria sebagai perawan yang termulia. Mengapa Maria disebut sebagai perawan termulia? Ya, karena Maria yang melahirkan Yesus. Dan terlebih dari itu, Maria senantiasa menjaga keperawanan dan kesuciannya. Gereja mengajarkan bahwa Maria tetap perawan: sebelum – pada saat dan setelah melahirkan.

Dan terhadap hal ini, kerap kali kita dihadapkan pada sanggahan yang mengatakan bahwa Maria setelah melahirkan Yesus, masih melahirkan lagi anak yang menjadi saudara-saudari Yesus. Beberapa teks Kitab Suci seolah membenarkan hal itu. Kalau Yesus mempunyai saudara/i maka Maria tidaklah selalu perawan (semper virgo) sebab ia telah melahirkan anak-anak lain selain Yesus.

Mari melihat KS lebih dalam : Saudara/i  dalam bahasa Ibrani  Akh ; Yun. Adelphos/i = keluar dari rahim

Kata ini bisa mempunyai arti luas, artinya saudara kandung (sebagaimana Kain dan Habil dalam Kejadian 4:2). Bisa juga punya arti sempit, yaitu saudara bukan saudara kandung, missal saudara tiri (seperti Raja Filipus adalah saudara tiri Reja Herodes dalam Markus 6:17-18). Bisa juga berarti sanak saudara / kerabat sebagaimana dipakai dalam kisah Kejadian 13:8 dimana Abraham mengatakan kepada Lot bahwa “kita ini saudara”.  Semuanya menggunakan kata yang sama “saudara” atau akh dalam bahasa Ibrani – dan adelphos dalam bahasa Yunani. Lalu siapa yang dimaksud dengan saudara-saudara Yesus itu?

Kitab Apokrif Protoevangelium Yakobus (th 150) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan saudara-saudara Yesus adalah anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelumnya – bukan saudara kandung. Tafsiran ini disaksikan juga oleh St. Hieronimus

Jadi arti saudara/i di teks Injil ini bisa berarti sepupu Yesus (anak saudari Maria, Yoh 19:25) atau pun saudara tiri. Siapa persisnya tidak kita ketahui – yang jelas tidak harus berarti saudara kandung.

Mengapa demikian? Karena bahasa Ibrani tidak mempunyai kata khusus untuk saudara sepupu. Sedangkan dalam bahasa Yunani ada – namun karena dalam bahasa Ibrani yang dipakai adalah akh, maka dalam bahasa Yunani diterjemahkan apa adanya menjadi adelphos, bukan kata khusus untuk menunjuk saudara sepupu.

Jika dilihat dengan cermat makin jelas bahwa dua dari empat saudara Yesus yang disebut dalam Mat 13:55 itu memiliki ibu yang berbeda (Bdk Mat 27:56 – KGK 500) dan sepertinya lebih tua dari Yesus (bdk. Mat 1:18-25; Luk 1:26-38; 2:27). Mereka anak Maria bukan ibu Yesus. Nama Maria cukup digemari bagi perempuan saat itu! Dan hanya Yesus yang selalu disebut anak Maria.

Argumen lain adalah dalam Yohanes 19:25-27 dikisahkan bahwa saat hendak wafat disalib,  Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes. Seandainya Yesus punya banyak saudara/i (kandung) maka aneh jika Ia repot-repot serahkan ibu-Nya kepada muridNya. (argumen ini sejak abad III). Apakah kita pun bersedia menjadi anak-anak Maria – saudara-saudari Yesus?

 

TEMA HARI KESEPULUH

MARIA PERAWAN YANG HARUS DIHORMATI (VIRGO VENERANDA) MARIA PERAWAN YANG HARUS DIPUJI (VIRGO PRAEDICANDA)

Saran Bacaan : Matius 1: 18 – 25

Maria adalah perawan yang harus dihormati dan dipuji. Mengapa? Karena dia telah bersedia menjadi Ibu Tuhan. Dan tidak berhenti di situ, dia juga terus menjaga kesucian dan kehormatannya hingga ia diangkat ke surga. Maria tetap Perawan sebelum melahirkan Yesus, Pada saat melahirkan Yesus dan sesudah kelahiran Yesus.

Meski demikian, kita mengalami bahwa banyak keberatan mengenai kesucian Maria ini. Salah satunya adalah kesalahan dalam mengartikan Injil Matius 1 : 25 “ tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus”

Pengertian salah yang terbentuk seolah-olah : setelah melahirkan Yesus, Maria bersetubuh dengan Yusuf dan melahirkan banyak anak (Bdk Mat 12:46;  13:55). Maria tetap perawan hanya sampai kelahiran Yesus saja  – benarkah demikian ?

Mari KS melihat lebih dalam :

Hendaknya kita tidak mengartikan teks kitab suci sepotong-sepotong melainkan harus dalam kesatuan perikopnya. Jika kita lihat Tujuan utama ayat tsb : menekankan bahwa Yesus dikandung bukan dari benih laki-laki ; tidak ada campur tangan Yusuf dalam proses penjelmaan Allah menjadi manusia melalui rahim Maria. Ini yang hendak disampaikan.

Ayat ini hanya mengatakan bahwa sampai waktu tertentu persetubuhan tidak dilakukan – TETAPI JUGA TIDAK BERBICARA tentang adanya persetubuhan SESUDAH KELAHIRAN Yesus.

Kata “sampai” tidak selalu berarti “sesudahnya”

Model  / cara penuturan seperti itu sangat biasa dalam KS, missal :

  • 2 Sam 6:23 dikatakan “Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya” – setelah mati pun juga tetap tidak punya anak!

Dan ada banyak contoh kata “sampai” yang tidak selalu berarti “sesudah”, missal dalam Kej 35:4; Ul 34:34:5-6; mzm 123:2; Yes 46:4; Mat 28:20; dan 1Kor 15:23-26

Jadi, hati-hati dalam mengartikan Kitab Suci. Dan mari kita meneladan Maria yang senantiasa terhormat dan patut dipuji.

 

TEMA HARI KESEBELAS

MARIA PERAWAN YANG AMAT BIJAKSANA (VIRGO PRUDENTISSIMA) MARIA PERAWAN YANG SETIA (VIRGO FIDELIS)

Saran Bacaan : Lukas 2 : 40 – 52

Maria digelari perawan yang amat bijaksana dan setia. Dan kebijaksanaan itu kita lihat hari ini dalam teks Lukas bahwa Maria menyimpan segala sesuatu, misteri Allah itu dalam hatinya. Ia tidak mengumbar emosi dan amarah terhadap Yesus yang sepertinya “kurang ajar” menjawabnya. Ia tidak mengeluh meski telah tiga hari tiga malam kembali ke Bait Allah dengan penuh rasa kuatir mencari Yesusnya yang hilang.

Maria juga tidak menyerah mendampingi Yesus, bahkan saat Yesus dikira orang-orang telah gila. Bahkan saat Yesus menderita dan wafat di kayu salib. Maria tetap setia.

Mari kita belajar dari Maria untuk menahan diri dari kebiasaan bergosip, mengumbar marah, mengomel, dan sebagainya.

 

TEMA HARI KEDUABELAS

MARIA PERAWAN YANG BERKUASA (VIRGO POTENS) MARIA PERAWAN YANG MURAH HATI (VIRGO CLEMENS)

Saran Bacaan : Yohanes 2: 1 – 12

Salah satu perikop terkenal (kontroversial) mengenai peran kepengantaraan Maria adalah peristiwa perkawinan di Kana. Dalam budaya Yahudi, pesta perkawinan berlangsung tujuh hari. Tuan rumah kehabisan anggur. Maria melontarkan perkataan kepada Yesus dengan jelas :”mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Jawaban Yesus terkesan menolak : “Hai perempuan. Mau apa engkau dari padaKu? Saat-Ku belum tiba” Sepertinya celaan yang kasar, namun benarkah demikian? Mari kita lihat lebih cermat :

Pertama pada akhirnya Yesus memenuhi permintaan Maria, jika Ia bermaksud mencela ibu-Nya maka permintaan itu tidak akan dipenuhi.

Kedua, kata-kata : ”mau apakah engkau daripadaku” adalah idiom bahasa Ibrani dan Yunani yang lazim pada masa itu, dan justru menyatakan hormat bahkan pujian daripada celaan. Contohnya dalam Luk 8:28 ungkapan yang sama persis disampaikan oleh setan lewat orang yang dirasukinya dan menyatakan pengakuan akan kekuasaan Yesus : ” “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.“

“mau apa engkau dari-ku perempuan?” (bdk Hak 11:12; 2Sam 19:22; 1Raj 17:18; 2Raj 3:13), dalam bahasa aslinya Yesus menyebut Maria “itta” (Aram) yang berarti perempuan (Oleh LAI diterjemahkan ibu – bukan “imma” (ibu)

Ada yang mengira sekali lagi Yesus mencela Maria. Padahal dengan menggunakan kata “perempuan” ini, Yesus berniat menggemakan  kata yang sama dalam kitab Kejadian. Perempuan adalah nama yang diberikan Adam kepada Hawa (Kej 2:23). Penyebutan kata “perempuan” yang mengingatkan kepada kisah penciptaan menggarisbawahi makna pesta pernikahan yang mereka hadiri, Yesus menyapa Maria sebagai Hawa Baru

Ketiga : Apakah Maria memaksa Yesus?

Tidak. Maria hanya mengatakan “Mereka kehabisan anggur”. Kehabisan anggur dalam pesta Yahudi adalah bencana bagi tuan rumah. Maria melihat bencana itu di ambang pintu, maka ia datang kepada Yesus. Yang disampaikan Maria bukanlah permohonan, hanya laporan apa yang terjadi.

Di Kana, Yesus justru menghormati ibuNya, meski bahkan sebenarnya Maria tidak pernah memerintah Dia. Maria hanya berkata pada pelayan : ”Lakukanlah apa pun yang Ia katakan padamu” (Yoh 2:5). Per Mariam ad Jesum!

Keempat kata-kata  “Saat-Ku belum tiba”. Yang dimaksud dengan “saat Yesus” adalah saat dimana Allah memuliakan PuteraNya, sebagai mesias yang dinantikan hingga sengsara, wafat  dan kebangkitan Yesus (saat Misteri Paskah Baru diungkapkan). Memang saat itu belum tiba, namun mukjijat yang dilakukan Yesus merupakan pratanda yang membangkitkan harapan akan karunia Paskah Kristus itu.

Saat Yesus memang belum tiba – namun itu tidak berarti penolakan kepada Bunda Maria. Maria tidak berkata apa-apa. Ia yakin dengan kebaikan PuteraNya. Dan yang ia katakan kepada para pelayan, tepat sekali menunjukkan peran pengantaraan Maria : mengantar orang semakin dekat dengan Yesus “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!

Akhirnya Yesus merubah air menjadi anggur – melihat peran Maria dan ketaatan para pelayan melakukan yang diperintahkanNya.

Enam tempayan. Enam dalam tradisi berarti belum sempurna (7 sempurna). Enam melambangkan ketidaksempurnaan hukum Yahudi dan Yesus datang menyempurnakannya dengan hukum cinta kasih sehingga air menjadi anggur terbaik, yang dihidangkan belakangan.

Maria adalah perawan yang berkuasa, bukan berkuasa untuk mengatur-atur kuasa Yesus melainkan dengan sepenuh hati menyerahkan situasi yang gawat kepada Puteranya. Ia yakin bahwa Sang Putra akan bertindak bijaksana untuk menolong, meski saatnya belum tiba sekalipun. Dan semuanya itu Maria lakukan untuk kita – bukan untuk dirinya sendiri. Maria adalah perawan yangberkuasa dan murah hati.

 

TEMA HARI KETIGA BELAS

MARIA BUNDA YANG BERDUKACITA / MATER DOLOROSA DUKA MARIA YANG PERTAMA & KEDUA : NUBUAT SIMEON  & KELUARGA KUDUS HARUS MENGUNGSI KE MESIR

Saran Bacaan : Saran Bacaan : Lukas 2 : 21 – 40

Sejak menerima kabar dari Malaikat Gabriel, Maria telah menyadari bahwa perjalanan hidup yang akan dilaluinya tidaklah mudah. Dengan penuh kesadaran dia tahu apa konsekuensi yang akan dihadapinya karena ia mengandung bukan dari seorang laki-laki. Hukuman rajam sudah di depan mata – namun dia berani mengatakan “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” Fiat mihi secundum verbum tuum (Luk 1:38). Sebagai konsekuensi atas jawaban YA tersebut, Maria rela melakukan penghampaan diri (Kenosis) sebagaimana yang dilakukan Yesus hingga di jalan salibNya (bdk Flp 2:6-8)

Peran Maria dalam sejarah keselamatan (Hawa Baru) bukan peran yang mudah dan  mengalir (takdir) saja – melainkan dengan melibatkan persetujuan bebas Maria. Jawaban YA dari Maria bukan sekedar YA atas kehamilan yang sangat misterius itu saja,  melainkan YA atas segala yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya – yang dia sendiri tidak tahu. Jawaban YA Maria tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan Maria sebagai wakil umat manusia penerima keselamatan.

Dan setelah itu pun perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Maria tidak tahu semua yang akan terjadi, namun terbukti bahwa ia menjalani semuanya dengan ketabahan seorang ibu yang luar biasa. Meskipun bagi Maria rencana Allah tidak semuanya jelas dari awal, namun dalam kegelapan iman itu Maria mempercayakan diri kepada Allah secara tak tergoncangkan.

Banyak sekali penderitaan yang dialami Maria sepanjang hidupnya bersama Yesus sampai di bawah kaki salib. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Oleh karena itu, Gereja menamai Maria Mater Dolorosa, Bunda yang Berdukacita – yang diperingati setiap tanggal 15 September. Seluruh penderitaan Maria diringkas Gereja dalam tujuh jenis kedukaan yang diambil dari tujuh perstiwa, Kita akan merenungkannya dalam TIGA PERTEMUAN :

  • Pertemuan pertama : Duka pertama dan kedua : Nubuat Simeon & Keluarga Kudus Mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan bayi Yesus
  • Pertemuan kedua : Duka Ketiga : Yesus hilang dan diketemukan di Bait Allah
  • Pertemuan Ketiga : Maria dan Salib Yesus : Duka keempat – ketujuh : Maria berjumpa dengan Yesus saat memanggul salibNya, Maria menatap Yesus yang menderita dan wafat di salib,  Maria menerima Jenasah Yesus dan Maria turut menguburkan Yesus.

 

NUBUAT SIMEON & PENGUNGSIAN KE MESIR

“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”

  • Maria memenuhi hukum Allah: mempersembahkan putera sulung dan pemberian nama (sesuai pesan Malaikat)
  • Kata-kata Simeon dengan tepat menyatakan :
    • Misi yang akan diemban Yesus – bukan misi kemenangan melainkan menimbulkan “tanda perbantahan” bagi banyak orang.
    • Peran Maria dalam misi itu : suatu pedang akan menembus hati Maria
  • Apakah Maria memahami artinya? Belum. Dalam kegelapan imannya Maria “menyimpannya dalam hati dan merenungkannya” (symballein)
  • Ketidaktahuan dan kegelapan bukan berarti meragukan melainkan justru Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Demikian pula perjalanan Keluarga Kudus ke Mesir. Bagaikan derita yang tak ada hentinya, setelah ditolak oleh orang-orang untuk bisa melahirkan di tempat “normal” yang layak, keluarga baru ini harus hijrah ke Mesir untuk menghindari pembunuhan Herodes yang merasa terancam dengan kelahiran Yesus. Jika para leluhur mereka lari dari Mesir menuju ke tanah terjanji, sebaliknya kini, sang Juru Selamat harus menuju ke Mesir sebelum kembali ke Nazareth setelah Herodes meninggal. Perjalanan yang sukar dan penuh rintangan dengan membawa bayi tentu bukan hal yang mudah bagi keluarga miskin itu.

Beranikah kita meneladan Maria untuk menyerahkan ketidaktahuan kita pada Allah?

 

TEMA HARI KEEMPAT BELAS

DUKA MARIA KETIGA, YESUS HILANG DAN DIKETEMUKAN DI BAIT ALLAH

“Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?

 Saran Bacaan : Lukas 2 : 41 – 52

  • Teks menyatakan “kecemasan orang tua Yesus”. Mereka “mencari” Yesus.
  • Mengapa kejadian ini disebut “duka” bagi Maria? Karena Maria saat itu begitu kuatir akan keselamatan Puteranya itu. Tiga hari berjalan kembali ke Yerusalem setelah serangkaian acara yang melelahkan sebelumnya, bisa membuat Maria dan Yoseph frustasi, marah, kesal, saling menyalahkan mungkin.
  • Namun apa yang diperoleh setelah Yesus diketemukan? Yesus bahkan tidak merasa seperti orang yang hilang – dan mungkin Maria seperti hendak melompat memeluk Yesus ketika pertama kali melihatNya. Namun apa kata Yesus? “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkahkamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?
  • Nilai utamanya bukan “dimana” Yesus melainkan “siapa” Yesus sebenarnya. Bukan karena Yesus ditemukan lagi di Kenisah melainkan menegaskan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk melaksanakan kehendak BapaNya. “ tidaklah kamu tahu bahwa Aku ….”
  • Hubungan Yesus – BapaNya ini melampaui daya tangkap Yusuf – Maria. Maria menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Kembali Maria dalam kegelapan imannya menghampakan diri dan berserah kepada Allah

 

TEMA HARI KELIMA BELAS

DUKA MARIA KEEMPAT – KETUJUH :

YESUS BERJUMPA DENGAN IBUNYA SAAT MEMANGGUL SALIB MARIA MENATAP YESUS YANG SENGSARA DAN WAFAT DISALIB MARIA MENERIMA DAN MEMELUK JENASAH YESUS

MARIA TURUT MEMAKAMKAN YESUS

Saran Bacaan : Yoh 19: 23 – 41

 Maria dan Salib Yesus

Hadirnya Maria dalam hidup Yesus merupakan suatu proses peziarahan iman. Dalam keseluruhan proses itu Maria terus menerus mengosongkan diri dan bergantung pada imannya. Hingga peristiwa di bawah salib pun bagi Maria mungkin hal tersebut berbeda dari pengertian dan harapannya, namun ia tetap setia, tetap mengosongkan dirinya, solider dengan Yesus yang tergantung di salib. Tidak ada tempat yang paling tepat (berat) namun mulia bagi kenotis Maria selain di bawah salib anaknya.

Di bawah salib ini kesatuan batin antara Ibu dan Anak ditonjolkan sekali lagi dan mendapatkan peneguhannya. Peran serta Maria sepanjang jalan salib Yesus membuatnya digelari sebagai Bunda Penebus (Mater Redemptoris) dan Rekan Penebus (Co-redemptrix), Mediatrix  (perantara) dan Advocate (pembela)-  (KGK 969)

 Maria Rekan Penebus (Co-Redemptrix)

  • Titik tolak untuk memahami ajaran Maria sebagi Ko-redemptrix adalah ajaran tentang penebusan
  • Penebusan Objektif : Karya penyelamatan Allah dalam diri Kristus sekali untuk selamanya.
  • Penebusan Subjektif : penerimaan manusia atas penebusan objektif dalam iman (prinsip receptive) dan panggilan untuk berpartisipasi dalam kurban salib. Artinya setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi ko-penebus (Princip Cooperative)
  • Panggilan sebagai ko-penebus memang tidak menyumbangkan suatu pun bagi penebusan Yesus (final, lengkap, cukup, sekali untuk selamanya). Namun hanya dengan berpartisipasi pada karya penebusan itu, menerima dengan terbuka, membuka diri untuk rahmat– barulah rahmat penebusan itu bekerja efektif
  • Terhadap Maria, panggilan untuk menjadi ko-penebus (penebusan subjektif) telah terjadi sebelum dan disaat jalan salib terlaksana – dan hingga selamanya :
    • Konsepsi : Maria dikandung tanpa noda – adalah bagian dari anugerah penebusan objektif yang ditanggapinya (subjektif) dengan sangat terbuka memelihara keperawanannya sambil menantikan Mesias bersama umat pilihan lain.
    • Anunsiasi : secara objektif dalam ruang dan waktu penebus dianugerahkan kepada rahimnya – dan maria dengan bebas, rela dan aktif (subjektif) menjawab dengan “fiat”nya. Jawaban “YA” Maria sangat menentukan bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan bagi seluruh umat manusia

Peristiwa Golgota : saat anaknya tergantung disalib (penebusan objektif), Maria berdiri di kaki salib. Maria menanggapi secara pribadi penebusan itu dalam iman yang telah mendarah daging karena sejak awal keibuannya, Simeon telah meramalkan bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk 2:35) – dan dibawah salib semuanya itu menjadi jelas. Maria ikut serta dalam penderitaan Kristus sebagai socia passionis (teman sependeritaan). Dalam arti inilah kita Maria disebut Co-redemptrix. Dan karena peristiwa di bawah salib ini Maria digelari Ratu Para Martir, objek kemartirannya adalah kemartiran sang penebus sendiri. Tugas Maria sebagai ko-penebus ditentukan oleh kurban Kristus sendiri. (Bdk Ibu Martir Makabe!)

Inilah puncak kenosis Maria (pengosongan diri) : berpartisipasi dalam misteri penebusan manusia. Maria sekaligus sebagai murid Yesus yang sempurna : Barang siapa mengikuti aku tetapi …. (Luk 14:27). Maria menjadi model kita dalam menghampakan diri untuk mengikuti Kristus.

Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan Maria Bunda Yang Berduka cita : “Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.” Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan.

 

TEMA HARI KE ENAM BELAS

MARIA PENGHIBUR ORANG BERDUKACITA (CONSOLATRIX AFFLICTORUM) MARIA BUNDA PENASEHAT YANG BAIK (MATER BONI CONSILII)

Saran Bacaan : 2 Kor 1 : 2 – 7

Penderitaan yang telah dialami Bunda Maria membuat dia menjadi penghiburan bagi mereka yang berduka cita.  Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. ‘Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.’ Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!” (1980).

Kita pun diajak untuk senantiasa meneladan Bunda Maria untuk senantiasa siap menghibur mereka yang berduka cita. Pengalaman hidup Bunda Maria juga menjadikannya sebagai Bunda Penasehat yang Baik. Maria adalah Bunda surgawi  yang sekaligus mengerti kondisi keduniawian kita. Mari kita mengadu keluh kesah kita dan memohon nasehat dari Sang Bunda.

 

TEMA HARI KETUJUH BELAS

MARIA RATU PARA MARTIR / SAKSI IMAN (REGINA MARTYRUM) MARIA RATU PARA PENGAKU IMAN (REGINA CONFESSORUM)

Saran Bacaan : 2 Makabe7 : 1 – 41

 Kata martir berasal dari kata dalam Bahasa Yunani, yaitu μαρτυρ, yang berarti “saksi” atau “orang yang memberikan kesaksian”. Dalam Agama Katolik, “Martir” adalah seseorang yang berani berjuang hingga mati demi membela imannya Terhadap Yesus Kristus. Sedangkan pengaku iman adalah seorang kristen yang menderita karena imannya.

Maria disebut sebagai Ratu Para Martir. Pada peristiwa Golgota, saat anaknya tergantung disalib, Maria berdiri di kaki salib. Maria menanggapi secara pribadi penebusan itu dalam iman yang telah mendarah daging karena sejak awal keibuannya, Simeon telah meramalkan bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk 2:35) – dan dibawah salib semuanya itu menjadi jelas. Maria ikut serta dalam penderitaan Kristus sebagai socia passionis (teman sependeritaan). Dalam arti inilah kita Maria disebut Co-redemptrix. Dan karena peristiwa di bawah salib ini Maria digelari Ratu Para Martir, objek kemartirannya adalah kemartiran sang penebus sendiri. Tugas Maria sebagai ko-penebus ditentukan oleh kurban Kristus sendiri. Maria menjadi sosok nyata yang dari penderitaan yang pernah dialami oleh ibu para martir Makabe dalam 2 Makabe 7

Maria disebut sebagai Ratu Para Pengaku Iman. Dengan menyatakan fiat – nya, Bunda Maria menjadi pengaku iman; dan dengan hadir di kaki salib, Bunda Maria menegaskan ketaatan imannya. Ia pantas menjadi ratu para pengaku iman. Perawan Maria dengan iman dan ketaatan yang bebas, telah bekerja sama untuk keselamatan manusia (LG 56). Sebagai wakil seluruh kodrat manusia (Thomas Aquinas Sth. 3.30.1) ia mengucapkan perkataan “ya”. Oleh ketaatannya, ia menjadi Hawa baru, menjadi Bunda orang-orang yang hidup (KGK 511).

 

TEMA HARI KEDELAPAN BELAS

MARIA RATU PARA RASUL (REGINA APOSTOLORUM)

Saran Bacaan : Kisah Para Rasul  1 : 1 – 14

Devosi kepada Bunda Maria Ratu Para Rasul, adalah salah satu devosi tertua dalam Gereja. Meski gelar ini baru muncul di akhir abad ke-12, yaitu dalam Litani Loreto. Peringatan Maria Ratu Para rasul, secara tradisi diperingati pada hari Sabtu setelah Hari Raya Kenaikan Tuhan. Meski demikian, setiap tanggal  4 Juni, beberapa konggregasi juga memperingati peringatan Maria Ratu Para Rasul ini. Mengapa Maria digelari sebagai Ratu Para Rasul? Akar alkitabiah dari gelar ini adalah Kis 1: 13-14 yang memperlihatkan Maria berada di tengah-tengah para rasul saat menantikan Roh Kudus. Karena itu pula maka pesta Maria Ratu para Rasul ditetapkan oleh Kongregasi Ibadat pada hari Sabtu pertama setelah kenaikan Tuhan.

Peran Kerasulan Maria dimulai sejak ia menerima Kabar Gembira. Peran itu terus dijalankannya sebagai Ibu Tuhan, dalam kegelapan iman yang belum tentu semua jelas bagi dirinya. Terlebih saat Puteranya harus diadili, disiksa, memanggul salib dan bahkan akhirnya mati di salib. Setelah itu, perutusan Maria terus berlangsung saat ia bersama para rasul menunggu Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Maria sehati bersama para rasul, menghibur mereka, berdoa bersama mereka dan menerima Roh Kudus bersama para rasul. Bagi Para Rasul, kehadiran Bunda Maria bukan tanpa arti, melainkan suatu kegembiraan dan kehormatan besar karena mereka bersama Bunda Yesus yang mereka cintai.

Kerasulan Maria bukan sekedar berkata-kata. Dia melakukan kerasulan yang menjangkau semua orang yang lain. Kerasulan doa, kerasulan keteladanan yang baik, kerasulan penderitaan, Maria memenuhi semuanya itu. Jika orang lain mengajar tentang Injil, Maria telah menghayati semua ajaran itu. Kerasulan Maria adalah menunjukkan Yesus di dalam suatu cara yang tak akan pernah bisa disejajarkan dengan orang lain dalam sepanjang segala abad. Kerasulan Maria adalah kerasulan tingkat paling tinggi, tak pernah disamai, tak pernah dilampaui.

Marilah kita senantiasa memohon restu dan doa dari Bunda Maria dalam setiap usaha kerasulan kita.

 

TEMA HARI KE SEMBILAN BELAS

MARIA BENTENG DAUD (TURRIS DAVIDICA) MARIA BENTENG GADING (TURRIS EBURNEA)

Saran Bacaan : 2 Sam 22 : 1 – 13

Benteng atau kubu, dalam bahasa Ibrani metsad dan metsota merupakan suatu bangunan yang digunakan terutama untuk tujuan pertahanan. Di dalam bangunan benteng juga terdapat bangunan yang menjulang tinggi yaitu menara jaga. Fungsinya adalah untuk mengawasi adanya musuh dari kejauhan, menyampaikan peringatan apabila ada musuh yang datang menyerang dan juga sebagai gudang penyimpanan senjata. Dalam Alkitab Allah kerap disebut sebagai “benteng” kita atau “kubu pertahanan” kita (Mzm 18:3; 27:1; 48:4). Pada jaman dahulu, “kota” dan “benteng” tidaklah bisa dilepaskan. Dalam kisah pembangunan Yerusalem oleh Nehemia diisyaratkan bahwa syarat sebuah kota haruslah memiliki tembok pertahanan.

Fungsi benteng dalam pertahanan bukan sekedar untuk menahan serangan musuh, atau mencegah agar musuh tidak masuk ke kota, melainkan juga sebagai tempat berlindung para tentara untuk menyerang musuh. Jika ingin merebut suatu kota maka benteng pertahananlah yang harus diruntuhkan terlebih dahulu.

“Benteng Daud” adalah benteng yang didirikan dijaman Daud-Salomo dan berdiri mencolok kokoh di puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Yerusalem.  Benteng yang demikian merupakan sarana pertahanan kota yang sangat tangguh. Di jaman Daud sajalah bangsa Israel bersatu dan mencapai puncak kejayaannya (bdk Kid 4:4).

Maria diperbandingkan dengan Benteng Daud karena kesuciannya, karena ia dikenal sebagai yang penuh rahmat dan karena ia dikandung tanpa dosa. Dengan doa-doa dan teladannya, Maria merupakan bagian dari “sarana pertahanan” Tuhan dengan mana Kerajaan Allah akan berdiri tegak tak terkalahkan dan dosa akan senantiasa dikalahkan

Maria juga disebut “Benteng Gading”. Kalau umumnya benteng dibuat dari lapisan-lapisan batu dan lumpur, dalam Kidung Agung 7 : 4 terdapat satu benteng yang sangat indah dan berharga, yaitu benteng gading. Gading, bagi orang Yahudi jaman itu memberikan cirri kekayaan dan kemewahan bagi pemiliknya (bdk 1Raj 10:18-22; Why 18:12). Gading digunakan untuk tahta dan kadang dilapisi emas (bdk 1Raj 10:18), untuk menghias kamar raja, dan lainnya.

Kiasan “Menara Gading” pada Kidung Agung 7:4 dan Mazmur 45:9 menunjuk pada sepasang kekasih (Menara dan Gading) yang saling melengkapi dan mengasihi. Keduanya menunjukkan kemesraan, keserasian sekaligus  kekuatan cinta yang mengagumkan. Hubungan antara Kristus dan PengantinNya, yaitu Gereja digambarkan pula bagaikan hubungan sepasang suami-istri. Dan Maria sebagai Bunda Kristus dan Bunda Gereja menjadi benteng pertahanan yang bukan saja kuat, namun juga indah, bagaikan benteng gading bagi iman Gereja, kesetiaan Gereja kepada Sang Kristus, mempelainya.

TEMA HARI KEDUAPULUH

MARIA TERKANDUNG TANPA NODA (MARIA IMMACULATA CONCEPTIO)

Saran Bacaan : Lukas 1: 26 – 38

Satu gelar Maria yang sangat dikenal dan dicintai oleh Gereja Katolik adalah Maria Dikandung Tanpa Noda, Maria Immaculata Conceptio. Penetapan gelar ini dilakukan oleh Paus Pius IX  dalam dokuemn Gereja berjudul Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854 : Sesungguhnya, dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Meski baru ditetapkan tahun 1854, bukan berarti dogma ini adalah “rekayasa” gereja jaman itu, melainkan devosi terhadap Maria yang dikandung tanpa dosa telah jauh ada dalam hidup umat beriman. St. Gregorius dari  Nazianse (390), St. Gregorius dari  Nysaa (395), Sophronius (638), Joh. Damaskus (749), Pelagius, St. Agustinus juga telah  mengajarkan bahwa Maria terlindungi dari dosa asal. Kepercayaan ini terus terpelihara dalam devosi umat beriman. Di tahun  1476 oleh Paus Paus Siktus IV ditetapkan tanggal perayaannya, yaitu 8 Desember.  

Dari sisi Alkitabiah / Kitab Suci, dogma ini merujuk pada salam Malaikat kepada Maria dalam  Lukas 1:28 “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”.

Kesaksian Malaikat Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. “Engkau yang dikaruniai (kechariotomene)”. menurut Origenes, sebutan ini “yang dikaruniai” tak pernah diberikan kepada orang lain kecuali Maria! Maria dikaruniai dengan anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri. Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan dengan gelarnya, ayitu orang yang  penuh rahmat – itulah nama Maria yang sebenarnya (Paus Yohanes Paulus II, ensiklik RMT – Maria Bunda Penebus 1986). Rahmat yang diterima oleh Maria jelas berbeda dibandingkan dengan rahmat yang diterima orang lain, perempuan-perempuan lain seperti Elisabeth, Sara, Hana dan lainnya. Mereka semua mandul dan memperoleh “rahmat” Allah. Sementara Rahmat / karunia yang diterima Maria adalah anugerah tak terhingga yaitu Yesus sendiri. Rahmat yang penuh, kuat, dan lengkap. Keadaan berahmat itu bukan melulu  saat disampaikan Gabriel melainkan sejak Maria dikandung dan sepanjang hidupnya.

Selain itu, dari sisi Kitab Suci juga bahwa keadaan Maria yang dikandung tanpa dosa ini justru merupakan penggenapan dari berbagai gelar / tugas yang disandang Maria : Maria Hawa Baru – Maria Tabut Perjanjian Baru, Bejana Rohani, dsb.

Dari sisi logika iman dan akal budi, sesuai dengan pendapat Bapa-bapa Gereja, gelar ini juga sangat masuk akal : oleh karena Yesus menjadi daging di dalam tubuh Sang Perawan Maria, adalah suatu hal yang masuk akal apabila  Maria bebas dari segala dosa, untuk menyiapkan tempat yang layak bagi Putera Allah dan Maria sendiri bisa menyatakan penyerahan dirinya atas kehendak Ilahi. Karena pentingnya peran Maria, maka Allah (berhak) membuat pengecualian untuk Maria.

Dalam prakteknya, terdapat beberapa kesalah pahaman mengenai dogma ini, baik dari sisi umat Katolik maupun dari sisi non Katolik :

  • Sangkaan non Katolik : Dogma Maria Imaculata mengacu pada awal kehidupan Yesus dalam rahim Maria. Padahal lebih jauh dari itu, yaitu pada sejak awal Maria dikandung oleh ibunya: St. Anna, ia telah bebas dari dosa asal dan segala pengaruhnya.
  • Sangkaan lainnya (kadang dari Katolik!) yang sebenarnya berkait dengan sangkaan sebelumnya bahwa Maria ditebus bukan oleh Yesus melainkan oleh Allah sendiri, karena saat Maria dikandung Yesus belum lahir

Terhadap sangkaan yang kedua, harus ditegaskan bahwa Maria tetap ditebus oleh Yesus sendiri. Bagaimana dijelaskan? Bukankah Maria telah lahir sebelum Yesus menebus manusia? Ajaran yang menjelaskan hal ini disebut dengan ajaran Redemptio Praeservativa :

  • Kekudusan Maria adalah Karya Yesus. Di antara semua perempuan, hanya Maria yang puteranya ada sebelum ia ada. Penghormatan Yesus terhadap Maria tidak menunggu sampai Ia menjelma melainkan sejak awal mula pula. Allah tidak terikat ruang dan waktu, perkara “sebelum” dan “sesudah” tidak berlaku bagiNya
  • Sejak Maria dikandung, Karya Penyelamatan Yesus telah bekerja. Maria diselamatkan Yesus dengan cara yang khas dan unik.
  • Illustrasi : menyelamatkan anak dari tenggelam
  • Kita diselamatkan Yesus dengan cara ditarik keluar dari kubangan dosa (redemptio restorativa), sedangkan Maria diselamatkan Yesus dengan dijaga sedemikian rupa (redemptio praeservativa) sehingga Maria tidak pernah jatuh sama sekali dalam dosa.
  • Katekismus Gereja Katolik 492 mengajarkan : “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa’, hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul’”

Menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma itu.

  • Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol)  1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup…”
  • Tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “O Maria sinelabe originali concepta, intersede pro nobis, qui ad te confugimus”
  • Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

Ajaran mengenai Maria yang dikandung tanpa noda ini selaras dengan gelar-gelar Maria lainnya dalam litanI, misalkan : Bunda yang tersuci (Mater Castissima), Bunda yang termurni (Mater Purissima), Bunda Yang Tetap Perawan (Mater Inviolata), Bunda Yang Tak tercela (Mater Intemerata), Bunda Yang Patut Dikagumi (Mater Mirabilis), dan Bunda yang Patut Dicintai (Mater Amabilis)

 

TEMA HARI KEDUA PULUH SATU

MARIA BEJANA ROHANI (VAS SPIRITUALE), MARIA BEJANA YANG PATUT DIHORMATI (VAS HONORABILES) , DAN MARIA BEJANA KEBAKTIAN UTAMA (VAS INSIGNE DEVOTIONIS)

Bahan Bacaan : 2Kor 4 : 1 – 7

Sebelum penemuan kerajinan tanah liat (6 SM), perabot-perabot dibuat dari kulit, gelagah, kayu atau batu. Setelah penemuan kerajinan tanah liat, bejana dibuat pula dari tanah liat – dan setelah penemuan logam, banyak peralatan dibuat dari logam. Namun dengan fungsi yang berbeda karena anggur lebih tepat jika ditaruh dalam kantong kulit dan air lebih baik jika diletakkan di bejana tanah liat. Periuk / bejana tanah liat yang berpori membuat air sedikit terhisap sehingga mencegah penguapan dan isinya tetap sejuk.

Bagi kehidupan bangsa Yahudi dahulu, bejana / gentong / tempayan / buyungmerupakan suatu perlengkapan yang sangat dibutuhkan dan berperan bagi banyak sisi kehidupan. Bejana bukan sekedar tempat air untuk kebutuhan sehari-hari saja. Fungsi bejana adalah untuk menaruh air atau anggur (kulit). Bejana air juga diletakkan di depan rumah karena jalan penuh debu maka kaki tangan harus dicuci sebelum seseorang masuk rumah. Mencuci kaki tamu menunjukkan keramah tamahan (bdk. 1Sam 25:41; Luk 7:44; Yoh 15:5; Kis 13:25). Di dalam Bait Suci, terdapat mezbah untuk kurban bakaran. Di samping mezbah terdapat bejana tempat air untuk pembersih setiap ada upacara ritual dan untuk membasuh tangan dan kaki imam (bdk Kel 30:17-21; 1Raj 7:23-26). Bejana yang lebih kecil / pasu juga dipakai sebagai tadah / wadah bagi darah kurban yang disembelih untuk dipercikkan ke mezbah dan umat Allah yang hadir dalam upacara itu (Kel 24:6).

Maria digelari sebagai bejana rohani. Bejana rohani yang dimaksud adalah bejana tanah liat yang memuat harta rohani (2 Korintus 4:7). Maria mengandung dari Roh Kudus (Mat 1:18) dan dituruni oleh Roh Kudus (Luk 1:35). Karena itu Maria menjadi bejana rohani, sebab penuh dengan Roh Kudus. Dalam diri Maria, Roh Kudus menjadi sangat nyata dan berbuah bagi kehidupan rohani kita.

Maria juga digelari sebagai Bejana yang patut dihormati. Maria sebagai Bejana Roh Kudus tidaklah membuatnya sombong melainkan dengan penuh kerendahan hati mengakui kerendahannya : “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38). Kita kagum dan patut menghormati kerendahan hati Maria.

Maria juga disebut sebagai Bejana Kebaktian Utama. Sebagaimana kita lihat bahwa bejana juga menjadi peralatan penting untuk upacara kurban di Bait Allah.  Selain tempat air untuk membersihkan mezbah, bejana kecil / pasu dipakai pula untuk wadah darah kurban yang akan dipercikkan pada mezbah dan mereka yang hadir (Kel 24:6). Dengan percikkan darah itu, Allah dan UmatNya terikat dalam suatu perjanjian. Dengan percikkan darah itu, dosa umat Allah dihapuskan.

Kurban Perjanjian Lama itu kini telah digantikan oleh kurban Kristus. Kristus-lah Anak Domba Kurban, Mezbah tempat kurban dilaksanakan, dan sekaligus imam Agung yang mempersembahkan kurban. Dan melalui Maria, melalui peristiwa inkarnasi, Darah Kristus itu sampai pada kita, direcikkan pada kita sehingga kita layak disertakan dalam Perjanjian Baru dengan Allah. Kita didamaikan dengan Allah. Kurban Kristus itulah kebaktian yang utama. Maria sepenuhnya merelakan diri bagi kehendak Allah yang mau melaksanakan karya penyelamatanNya bagi umat manusia di dunia. Karena itu Maria menjadi tempat unggul dalam penyerahan diri dan keterarahannya kepada Allah. Dialah Bejana Kebaktian yang Utama.

Bagaimana dengan kita?

 

TEMA HARI KEDUA PULUH DUA

MARIA RUMAH KENCANA (DOMUS AUREA) MARIA TAHTA KEBIJAKSANAAN (SEDES SAPIENTIAE) MARIA PINTU SURGA (COELI PORTA)

 Saran Bacaan : Yohanes 1 : 1 -14

Ketiga gelar Maria yang akan kita bahas, yaitu Maria sebagai Rumah Kencana, Tahta Kebijaksanaan dan Pintu Surga – semuanya berkaitan dengan kebundaan Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus.

Maria yang mengandung Yesus menjadi bagai RUMAH KENCANA  (Domus Aurea) bagi Yesus. Rumah adalah tempat dimana kita akan pulang, meski jauh kita pergi. Rumah adalah tempat kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang bebas dan diterima sebagai saudara. Rumah juga menjadi tempat terkudus bagi kita, karena di dalamnya kita sejak kecil belajar mengenal Allah dan kasihNya. Bagi umat Israel, rumah mereka yang sesungguhnya adalah Bait Allah di Yerusalem. Bagi orang Israel, tak ada kerinduan yang lebih besar daripada kerinduan untuk selalu pulang ke Yerusalem. Kerinduan pada Bait Allah karena Allah hadir di sana. Bagian dalam Bait Allah dilapisi emas (kencana – bdk 1 Raj 6:20-22). Di bagian itu Allah hadir di tengah-tengah umatNya. Maria disamakan dengan bagian dalam Bait Allah itu karena Maria mengandung Yesus, Allah Manusia, yang akan hadir dan berkarya di dunia. Maria yang murni dan penuh kasih menjadi bagai rumah kencana bagi Yesus, Sang Putera.

Maria juga digelari sebagai TAKHTA KEBIJAKSANAAN (Sedes Sapientiae). Karena kebijaksanaan Ilahi yang sesungguhnya hanyalah Sang sabda Allah, yaitu Yesus sendiri ( bdk 1Kor 1:30).  Dengan menjadi manusia, kebijaksanaan itu bertahta di dalam rahim Maria.

Mengapa Maria disebut sebagai PINTU SURGA (Caeli Porta)? Sebagaimana pintu lainnya, untuk masuk ke suatu tempat haruslah melalui pintu. Dan Maria adalah sarana yang dipergunakan Kristus untuk datang dari surga demi membebaskan kita dari dosa. Peristiwa inkarnasi terjadi melalui rahim Bunda Maria. Melalui misteri inkarnasi itulah Misteri Paskah, Misteri Penebusan Kristus bisa terjadi. Dan berkat penebusan itulah kita dibebaskan dari dosa dan menikmati surga. Sebab itu, Maria patutlah disebut pintu surga, pintu yang dilalui Yesus masuk ke dalam dunia ini dan pintu kepada kepenuhan janji di mana kita akan beroleh bagian dalam kehidupan kekal

 

TEMA HARI KEDUA PULUH TIGA

MARIA DIANGKAT KE SURGA (MARIA ASSUMPTA IN CAELUM)

Saran Bacaan : Roma 8 : 1 – 17

Pada tanggal 1 Nopember 1950, Paus Pius XII mengeluarkan dokumen berjudul Munificentissimus Deus. Di dalam dokumen Gereja ini ditetapkan dogma tentang Maria diangkat ke surga.: Berikut ini adalah bunyi Dogma ini, “….divinitus revelatum dogma esse: Immaculatam Deiparam semper Virginem Mariam, expleto terrestris vitae cursu, fuisse corpore et anima ad caelestem gloriam assumptam.“ (MD 44) (terj bebas) “setelah menyelesaikan perjalanan hidup duniawinya, Santa Maria Perawan Maria Bunda Allah yang tak bernoda, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga.”

Ajaran ini ditegaskan dalam lagi dalam Lumen Gentium artikel 59 : ”akhirnya Perawan yang tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ini, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, Tuan atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut”

Seperti halnya dengan dogma Maria dikandung tanpa noda, dogma Maria diangkat ke surga ini bukan sesuatu yang tiba-tiba ditetapkan oleh Paus. Anggapan ini seolah-olah menyatakan bahwa Gereja (Paus) bebas membuat ajaran-ajaran baru yang menyimpang dari kitab suci. Ajaran atau pun devosi bahwa Maria diangkat ke surga bukan sesuatu yang jatuh dari langit tetapi sudah lama hal ini dihayati dalam Tradisi Apostolik – dan sangat berkait erat dengan dogma Maria dikandung tanpa noda.

Iman Gereja tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga, telah lama berakar dalam Gereja. Para pengajar  tentang hal ini antara lain adalah: St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), (1206-1280), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albert Agung, St. Benardinus (1380-1404), St. Robertus Belarminus (1542-1621), St. St. Petrus Kanisius (1520-1597), Alphosus Liguori (1696-1787).

Konsep Maria diangkat ke surga juga diajarkan oleh Gereja Ortodoks Timur dan gereja Oriental dan Ortodoks Koptik, dikenal dengan nama Tidurnya Sang Theotokos. Dalam denominasi-denominasi yang merayakannya, peristiwa pengangkatan ke surga ini dirayakan tiap tanggal 15 Agustus, sebagai sebuah hari wajib suci dalam Gereja Katolik Roma.

 BAGAIMANA DOGMA INI DIJELASKAN?

Sebagaimana telah disebutkan bahwa Dogma ini berkait erat dengan ajaran mengenai Maria dikandung tanpa noda. Bahkan menurut  Paus Pius XII, Maria diangkat ke surga adalah konsekuensi dari ia dikandung tanpa noda:

Tempat Maria dalam sejarah keselamatan  adalah istimewa dan unik. Allah memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria karena ia harus mengandung Putera Allah. Hubungan antara anak dan ibu dalam kandungan sangat dekat – tak terpisahkan bahkan. Dan hal yang sama terjadi antara Yesus dan Maria. Maka sungguh masuk akal bahwa Allah menyediakan tempat/rahim yang suci tak ternoda oleh dosa asal maupun pribadi – karena Allah tidak bisa bersatu dengan dosa.

Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa maka selanjutnya,  setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Apakah ada dasar Kitab Sucinya? Tentang pengangkatan manusia ke surga bukanlah hal baru. Henokh juga dikabarkan diangkat oleh Allah agar tidak mengalami kematian (bdk. Kej 5:24 – Ibr 11:5); juga Elia diangkat ke surga dengan kereta kuda berapi (2Rsaj 2:1-13). Tradisi Yahudi juga menganggap Musa terangkat ke surga karena tidak diketemukan kuburnya. Maria???

Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang dengan mengandung Yesus, ia menjadi tempat kediaman Sabda Allah yang menjadi manusia, Sang Roti, maka Bunda Maria mengalami persatuan dengan Yesus. Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesusnaik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.

Pengangkatan Maria ke surga sebagai pemenuhan janji Allah bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (Rm 5-6, 1Kor 15:21-26;54-57).

Maria adalah manusia pertama yang paling layak  layak menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Dan Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna sehingga Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.

Dalam Maria janji Tuhan akan kebangkitan badan dipenuhi: kebangkitan jiwa dan badan para orang beriman pada akhir zaman. Oleh karena peran dan ketaatan-nya yang istimewa sebagai Ibu Tuhan dan hamba Allah, Bunda Maria diangkat ke surga, sebagai yang pertama dari anggota Gereja yang menerima janji itu sebagai teladan semua orang yang percaya kepada-Nya dan yang hidup melakukan kehendak-Nya (lih. Mrk 3:35).

Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya.

Pengangkatan Maria ke surga menjadikan peran kepengantaraan Maria terhadap segenap manusia menjadi efektif karena sebagai bunda yang berkuasa sebagaimana Yesus di sana sebagai Anak Allah yang berkuasa (Rm 1:4).

Setelah dogma ini diumumkan Paus Pius XII menetapkan pesta liturgis yang baru: Santa Perawan Maria Ratu – sebagai konsekuensi dogma tersebut dan sekaligus peneguhan tersirat terhadap keiikutsertaan Maria dalam karya penebusan.

Mengapa kamu percaya bahwa Maria dikandung tanpa noda? Apa jawab kita?

  • Kalau anda dapat menciptakan ibumu dan menjaganya dari segala kekotoran dan cela, apakah anda akan melakukannya? Tentu saja, anda akan melakukannya! Tetapi dapatkah anda melakukannya? Tidak! anda tidak dapat! Tetapi Yesus dapat, dan karena itu Yesus melakukannya!

Apakah Bunda Maria meninggal atau tidak?

Ada beda pandangan Maria meninggal atau tidak. Jika dikatakan tanpa dosa mengapa meninggal (upah dosa = maut!). Beberapa teolog (timur) meyakini Maria hanya tertidur – sedangkan kebanyakan teolog Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa Maria bersatu erat dengan Yesus dan meninggal sebagai solidaritas kepada Puteranya yang Allah pun meninggal! Hanya saja, tubuh Maria dikatakan tidak membusuk dan diangkat jiwa dan badannya ke surga. Maria mengambil bagian dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus secara penuh dan pertama.

Di mana Maria meninggal / diangkat ke Surga?

Setelah penyaliban, Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes (Yoh 19:26-27). Tulisan jemaat perdana mengatakan bahwa setelah itu Yohanes dan Maria tinggal di Efesus. Ada beberapa perbedebatan dimana hidup terakhir Maria : di Efesus atau kembali ke Jerusalem. Baik kedua kota itu maupun kota lain tak ada yang mengatakan menyimpan jenasahnya. Kita tidak mempunyai catatan tentang penghormatan relikui Maria

 

TEMA HARI KEDUA PULUH EMPAT

MARIA RATU SURGA (REGINA CAELI)

Saran Bacaan : 1 Raja-raja 2 : 13 -20

Gereja Katolik menghormati Maria sebagai Ratu.

  • Sejarah sejak para Bapa gereja (Hieronimus, Agustinus, Efrem) sampai ajaran Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik – semua mengajarkan martabat Maria sebagai ratu.
  • Kita kenal ada Madah / doa “Salam Ya Ratu Surgawi….”. Dimasa Paskah, doa Malaikat Tuhan diganti dengan doa Ratu Surga.
  • Dalam Doa Rosario peristiwa mulia kelima : Maria dimahkotai di surga
  • Ada Hari pesta khusus yang didedikasikan untuk merayakan ke-ratu-annya atas surga dan bumi (22 Agustus)
  • Banyak lukisan, gambar, patung Maria di seluruh dunia tak jarang dengan berhiaskan mahkota.

Apakah artinya? Apakah tidak berlebihan???? Apakah ada dasar Kitab Sucinya??? Bukankah gelar Maria sebagai Ratu itu merongrong martabat Yesus begaia Raja? Bagaimana mungkin ia bunda Yesus sekaligus “istri” raja Yesus???

Ada banyak pertanyaan dan pertama-tama, kita mesti mengetahui apa yang dimaksud dengan “ratu” di sini. Secara singkat bisa dikatakan bahwa ratu yang dimaksud adalah Ibunda Ratu, atau ibu suri – bukan permaisuri. Konsep modern ratu = isteri raja. Konsep ini tidak sesuai dengan budaya timur tengah di mana raja mempunyai banyak isteri. Memang ada permaisuri (istri yang utama) namun bukan dalam peran seorang Ratu. Bayangkan Salomo yang mempunyai 700 istri.

Setiap raja mempunyai satu ibu. Memberikan martabat ratu kepada si ibu merupakan langkah bijak dan strategis: Bunda Ratu adalah isteri raja terdahulu – sekaligus ibu raja yang bertahta sekarang. Bunda Ratu adalah simbol martabat rajawi sang raja; yang mengikat dia dengan darah rajawi sang raja. Bunda ratu menjadi jaminan keabsahan kedudukan sang raja dalam dinasti tersebut.

Dalam budaya kerajaan Israel kuno, ibunda ratu jauh lebih berkuasa dibandingkan dengan permaisuri. Seorang raja bisa mempunyai banyak istri – namun ia tetap hanya mempunyai satu ibu.  Bunda ratu : Ibr. gebirah (nyonya besar) memiliki kedudukan kedua setelah raja.

  • 1 dan 2 Raja-raja : peran bunda ratu dalam kerajaan daud : hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, selalu disebut pula sang ibunda raja sambil digarisbawahi perannya dalam suksesi itu.
  • akhir 2Raj ketika Babel menaklukkan Kej. Yehuda, ibunda ratu merupakan orang pertama dalam daftar orang-orang yang diserahkan setelah raja Yoyakhin sendiri. Ibunda raja sangat vital perannya.
  • Kekuasaan rajawi ibunda ratu sangat nyata :
    • Ambil bagian dalam pemerintahan rakyat, memiliki singgasana dan mahkota sendiri (Yer 13:18-20)
    • Kisah Batsyeba : bandingkan Batsyeba saat menjadi istri Daud (permaisuri – 1Raj 1:16-17,31) yang harus menyembah raja sampai ke tanah dan memberi hormat jika akan masuk ke kamar Daud suaminya. – dengan ketika ia menjadi ibunda ratu bagi Salomo anaknya 1Raj 2:19-20). Bahkan raja Salomo tunduk menyembah dan menyambutnya – bahkan duduk di sisi kanan raja (tempat terhormat bdk. Mzm 110 : Mesias akan duduk di sisi kanan Allah – Ibr 1:13)

Ibunda Ratu dalam kerajaan Israel kuno juga berperan besar sebagai perantara  bagi sang raja – lihat 1 Raj 2:19-20 : Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.” Jawab raja kepadanya: “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.”

Bagaimana dengan Maria?

Peran bunda Maria sebagai Ibunda Ratu sebsungguhnya telah dinubuatkan sejak jaman Daud memerintah. Yesaya 7:14 mengatakan akan datang Mesias dari seorang perawan keturunan Daud. “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.

Latar belakang nubuat ini adalah ketika kerajaan Daud  terancam invasi dari dua musuh besar yang berkoalisi untuk menyerang Yerusalem. Raja Ahas merasa takut dan putus asa. Yesaya datang memberikan nubuat bahwa kerajaannya akan bertahan. Nubuat ini mengarah kepada keturunan Daud, berkaitan dengan kelangsungan dinasti Daud – karena itu perempuan muda yang melahirkan seorang putera jelas seorang bunda ratu. Siapakah dia?

Bagi jemaat perdana, nubuat ini sangat jelas maknanya jika kita baca berdampingan dengan cerita Injil bahwa “Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud ….. dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.“ (Luk1:26-27.32-33)

Tugas keratuan Maria ini semakin mendapatkan pengukuhannya ketika Elisabeth yang dipenuhi RK berseru “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk1 :43)

Dalam bahasa istana timur tengah kuno, gelar “ibu Tuhanku” adalah sapaan untuk ibunda ratu – sedangkan raja disebut dengan gelar “Tuhanku” (Bdk 2sam 24:21). Elisabeth adalah orang pertama dalam KS yang secara eksplisit mengakui jabatan Maria sebagai Bunda ratu!

Peran keratuan Maria itu, akhirnya menjadi tugas Maria setelah ia diangkat ke surga. Maria menjadi ratu surga. Hal ini dengan jelas telah dinubuatkan pula oleh Yohanes dalam Wahyu 12 : Maria sebagai ratu bermahkotakan dua belas bintang. Dua belas bintang mengingatkan kita akan dua belas suku Israel sekaligus dua belas rasul yang adalah batu dasar Israel baru yaitu Gereja.

Lalu apa gunanya / apa hubungannya peran Maria sebagai Ratu Surga bagi kita? Sebagaimana peran ibunda ratu di kerajaan Israel yang berkuasa setelah sang raja, Maria pun diberi kuasa oleh Puteranya untuk membantu kita. Maria juga menjadi perantara kita kepada Sang Putera. Ia terus berbicara atas nama kita di hadapan tahta Sang Putera.

Martabat Maria sebagai ratu bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan kristiani. Martabat itu bukanlah sekedar kedudukan menonjol di surga yang harus kita kagumi dari jauh, melainkan justru Martabat Maria sebagai ratu berfungsi sebagai ikon, suatu tanda eskatologis, dari panggilan semua orang kristiani, yaitu ambil bagian dalam kemenangan mulia Kristus atas dosa dan kematian (LG 68; KGK 972)

 

TEMA HARI KEDUA PULUH LIMA

MARIA BUNDA GEREJA (MATER ECCLESIAE)

Saran Bacaan : Yohanes 19 : 25 – 30

Maria adalah Bunda Gereja. Gelar ini dimaklumkan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 21 November 1964. Dasar Kitab Suci yang bisa kita renungkan bahwa Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita adalah Kisah Maria dibwah salib Yesus. Saat itu Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes dan Yohanes kepada Maria. Yohanes di sini menjadi gambaran Gereja dan kepadanyalah Yesus menyerahkan Maria ibuNya. Pada detik-detik penting dalam hidupNya, Yesus melakukan sesuatu yang sangat penting juga bagi GerejaNya: Ia memberikan ibuNya sebagai Ibu Rohani bagi GerejaNya

Penyerahan Maria kepada Yohanes juga bermakna simbolis. Sebutan “perempuan” mempunyai makna profetis-simbolis bahwa Maria adalah ibu semua orang Kristiani (bdk Hawa baru). Di bawah misteri salib, peran keibuan Maria Bunda Gereja ditegaskan oleh Yesus. Dalam tulisan Yohanes yang lain (Why 12:17) secara eksplisit ditegaskan siapa anak-anak Maria yang lain (Gereja)

Yohanes sendiri adalah satu-satunya murid yang mengikuti Yesus di sepanjang Kalvari. Tidak kebetulan bahwa murid terkasih yang dekat dengan Maria saja yang punya keberanian berdiri di bawah salib Yesus. Dia membuktikan bahwa hanya murid yang memegang tangan Maria akan sanggup mengikuti Tuhan disepanjang Kalvari.

Maria adalah ibu kita dalam tata rahmat dan ibu bagi semua yang hidup dalam Kristus (bdk Kej 3:20). Gereja menghormatinya dengan penuh kasih sayang sebagai bundanya yang tercinta (LG 53). Dalam diri Santa Perawan Maria, Gereja telah mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (LG 65)

Ada persamaan mistik antara Maria dan Gereja ; artinya bahwa Gereja yang dipanggil Allah untuk menyembah HANYA kepadaNya, selalu melibatkan Maria dalam penyembahannya.

Di Kalvari semuanya disingkapkan. “Saat Yesus telah tiba” dan “pedang yang menusuk jiwa Maria” telah terlaksana. Dan di saat itu Yesus menyerahkan Gereja kepada perlindungan keibuan Maria dan Maria kepada GerejaNya. Maria menjadi ibu rohani Gereja karena kesatuannya yang intim dengan Yesus. Demikian pula, gereja menjadi murid yang dikasihiNya karena kedekatannya dengan sang Bunda.

 

TEMA HARI KEDUA PULUH ENAM

MARIA BUNDA RAHMAT ILAHI (MATER DIVINAE GRATIAE)

 Saran Bacaan : Luk 1 : 26 – 38

Devosi santa Perawan Maria sebagai Bunda Rahmat Ilahi dan Pengantara Segala Rahmat berkembang pada abad XX dan dimaklumkan oleh Paus benedictus XV pada tahun 1921.

Mengapa Maria diberi gelar sebagai Bunda Rahmat Ilahi dan Pengantara Segala Rahmat?

Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya bahwa semua gelar Maria bersumber pada Yesus. Maria tidak bisa dilepaskan dari Yesus. Kedukaan Maria adalah karena sengsara Yesus – demikian juga gelar, peran dan tugas Maria adalah bersumber dan mengambil bagian dari Yesus.

Maria menjadi Bunda Rahmat Ilahi karena rahmat Allah melimpah atas Maria, bahkan sebelum kelahiran Maria telah dipersiapkan Allah. Jika Yohanes Pembabtis sebagai bentara Yesus (pembuka jalan bagi Tuhan) saja telah dikuduskan sebelum kelahirannya, betapa terlebih lagi Maria yang akan menjadi ibu bagi Allah Putera. Malaikat Gabriel yang datang membawa kabar gembira juga menegaskan hal itu. “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Dalam seluruh Kitab Suci, hanya Maria yang disebut Allah sebagai orang yang dikarunia! Hanya Maria yang sejak semula dibebaskan dari dosa asal, demi menjadi rahim bagi Allah sendiri!

Maria disebut sebagai Bunda Rahmat Ilahi adalah karena Yesus Kristus adalah Rahmat, kasih karunia Ilahi yang diberikan Allah kepada kita (Yoh 1:16-17). Dan dari Yesus ini segala rahmat untuk manusia diberikan. Maria melahirkan bagi kita Kristus pangkal segala rahmat.

Dan tidak hanya berhenti sampai setelah Yesus lahir. Maria senantiasa penuh rahmat dalam perjalanannya mengikuti salib Yesus. Perhatian Maria sebagai Bunda Yesus, tidak berhenti hanya dengan melahirkan Yesus, menyusui Yesus dan membesarkanNya – melainkan hingga sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.

Kerap terjadi bahwa penolakan terhadap pengantaraan Maria adalah karena orang salah memahami hakekat, kekuatan dan kedalaman kepengantaraan Kristus. Allah tidak bersaing dengan kita, seolah Ia dihormati hanya kalau kita (manusia) tidak dihormati.

Menghormati Maria sebagai Bunda Ratu tidak merampas sesuatu pun dari Kristus – sebaliknya justru berarti menekankan bahwa Maria sepenuhnya tunduk di bawah Kristus, sebagaimana jabatan bunda ratus sepenuhnya tergantung pada martabat rajawi puteranya.

Yesus sendiri yang mendorong kita semua bahkan untuk berpartisipasi dalam diriNya dengan mengatakan : “tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu, sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal dalam Aku” (Yoh 15:4). Tinggal dalam Yesus bukan tenang, nyaman, santai, damai saja melainkan juga harus berbuah. Berpartisipasi memberikan buah kepada orang lain!

Peran Maria sebagai ibu umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi kepengantaraan unik Kristus, melainkan justru menunjukkan kekuatannya (LG 60 bdk. KGK 970)

Dalam PL, Allah menggunakan para bapa bangsa dan para nabis sebagai perantaraNya. Dalam PL dan PB, Allah menggunakan para malaikat untuk menjadi peranbtara pesan-pesan dan rahmatNya.

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa setelah Maria diangkat ke surga, “ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka pengantaraannya ia terus menerus memperoleh bagi kita kurnia-kurnia yang mengantar kita kepada keselamatan kekal” (LG 62)

Jika orang memohon agar Bunda Maria mendoakan mereka, bukan Bunda Maria yang mengabulkan doa, melainkan Allah; namun Gereja Katolik percaya, karena kedekatan Bunda Maria dengan Yesus, maka dalam proses doa tersebut, Bunda Maria dapat membimbing umat kepada Yesus, dan jika Yesus berkenan, maka Ia akan mengabulkan doa seseorang yang dipanjatkan bersama dengan doa Ibu-Nya sendiri.

Jika seorang menolak untuk berdoa bersama Bunda Maria, tentu saja tidak menjadi masalah, sebab Tuhan Yesus tentu tetap dapat mengabulkan doa orang tersebut, terutama yang dinaikkan dengan ketulusan hati.

Walaupun tentu saja, secara objektif dapat dikatakan, orang tersebut tidak mempergunakan cara yang sesungguhnya ditawarkan oleh Gereja demi kebaikan orang itu sendiri. Ibaratnya, Bunda Maria adalah ‘pemberian’ Yesus kepada kita, untuk kita jadikan sebagai Ibu rohani kita (Yoh 19:27), dan memang terserah pada kita akankah kita menerimanya dalam rumah hati kita atau tidak.

TEMA HARI KEDUA PULUH TUJUH

MARIA CERMIN KEKUDUSAN (SPECULUM SANCTITATIS)

MARIA CERMIN KEADILAN (SPECULUM IUSTITIAE)

Saran Bacaan: Lukas 1 : 46 – 55 atau 2 Kor 3 : 1 – 18

Maria adalah cermin kekudusan dan keadilan Allah. Mengapa?

Yesus Kristus adalah Kebenaran Allah (Rm 3:21-22) dan  “Tuhan, keadilan kita” (Yer 23:6). Maria merupakan cermin yang memantulkan secara penuh karya penyelamatan Allah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dan tak seorang pun yang dapat mencerminkan kasih setia kepada Kristus lebih baik dari Maria. Hanya Allah saja adalah kudus, tidak ada lainnya yang kudus (1 Samuel 2:2; Wahyu 15:4). Dan Allah adalah sumber kekudusan. Manusia sebagai citra Allah seharusnya memantulkan kekudusan penciptanya itu ( bdk. 2 Korintus 3:18; Imamat 11:44; Kejadian 1:26).

Maria adalah teladan paling unggul dalam mengejar kekudusan. Seluruh hidup Maria didedikasikan untuk menyucikan diri dan  melaksanakan Kehendak Allah sebagaimana sabda Yesus : “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:34).

Maria sebagai cermin kekudusan karena Maria adalah gambaran kesempurnaan manusia. Allah sejak dahulu menuntut agar manusia menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya (bdk Im 9:2; Mat 5:48). Dan Allah memberikan kepada kita teladan yang bisa menjadi cermin bagi kita untuk menjadi sempurna, yaitu Maria.  Apa yang ditunut Allah bukan sesuatu tuntutan yang mustahil, melainkan bisa digenapi. Para Kudus dengan meneladan Maria pun akhirnya sanggup mencari garis akhir hidup yang sempurna: mencapai kekudusan. Itulah pula sebabnya Maria  gelari Ratu Para Kudus (Regina Sanctorum).

Dan kekudusan Maria itu bukan demi dirinya sendiri. Hingga sekarang pun, sebagai Ratu Surga, Maria senantiasa menyertai putra-putrinya di dunia, teristimewa kesejahteraan rohani semua orang, bahkan para pendosa yang paling malang. Maria menjadi perantara di demi keselamatan jiwa-jiwa manusia

 

Maria juga menjadi cermin bagi keadilan Allah. Kidung Magnificat Maria dengan jelas menandaskan bahwa Allah telah memperhatikan kerendahan hambaNya, Ia mengangkat yang hina dina dan serta menceraiberaikan orang yang congkak hati. IA menurunkan orang yang berkuasa dan meninggikan orang yang rendah. IA mengenyangkan orang lapar dan mengusir yang kaya pergi dengan tangan kosong. Allah tak pernah lupa akan janjiNya!

Maria cermin keadilan Allah – barang siapa tengah merasa dizalimi, merasa ditindas, merasa tak mendapatkan keadilan – bersama Maria kita masih punya harapan. Dan satu-satunya harapan yang pasti tak akan mengecewakan adalah Allah Sang Pemilik Kehidupan.

 

TEMA HARI KEDUA PULUH DELAPAN

MARIA BINTANG SAMUDERA (STELLA MARIS) MARIA BINTANG KEJORA  / BINTANG TIMUR (STELLA MATUTINA)

Saran Bacaan : Matius 2 : 1 – 12

Bintang merupakan benda bercahaya di luar angkasa yang tampak sampai di bumi, kecuali matahari dan bulan. Dalam Alkitab, banyaknya jumlah bintang menjadi lambang kemahamurahan Allah (bdk Kel 32:13; Ul 1:10; 10:22; Ibr 11:12). Allah berjanji kepada Abraham bahwa kelak keturunannya akan seperti bintang di langit banyaknya (Bdk Kej 15:5; 22:17; 26:4).

Bintang (gugusan bintang) oleh bangsa Yahudi kuno juga dipakai sebagai tanda pergantian musim (bdk Ayb 9:9; 38:31; Ams 5:8). Bintang juga dipakai sebagai penunjuk arah (bdk Ayb 9:9; Bil 24:17; Yes 60:3; Mat 2:2). Kata bintang juga dipakai dalam arti kiasan yang mengacu pada sesuatu yang luhur dan cemerlang.

Maria digelari sebagai Bintang Timur atau Bintang Kejora. Bintang ini muncul di ufuk Timur mendahului terbitnya matahari. Dengan tampil di dunia dan kemudian menjadi Ibu Yesus, Maria menjadi fajar keselamatan Allah. Maria disebut Bintang Kejora karena tampilnya mendahului terbitnya “Matahari” (Kidung Paskah) keselamatan, yaitu Yesus, akan tampil berkarya di dunia. Dalam Kidung Agung 6:10 keindahan Maria sebagai bintang timur dilukiskan sebagai “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya?”

Bintang timur inilah yang menjadi penuntun arah bagi tiga raja hingga berhasil menemukan bayi Kristus. Kita pun dengan mengarahkan pandangan kepada Maria akan dituntun sampai pada Puteranya. Per Mariam ad Jesum: melalui Maria sampai kepada Kristus. Karena dia adalah bintang penuntun kita.

Maria juga digelari sebagai Stella Maris, Bintang Samudera. Mengapa? Gelar ini pertama-tama digunakan pada abad ke-9. Di abad itu pelayaran oleh bangsa-bangsa Eropa sedang mencapai puncaknya. Dan mereka kerap kali hanya mengandalkan bintang untuk menunjukkan arah (astronomi). Dalam pelayaran itu, tak jarang para misionaris pun ikut serta untuk menyebarkan kabar gembira ke seluruh dunia. Ada kalanya saat langit gelap, cuaca badai dan gelombang pasang yang mengerikan – bintang di langit tidak kelihatan, tidak bisa diandalkan kemana kapal harus mengarah. Para pelaut pun menyandarkan harapannya kepada Bunda Maria. Mereka berdoa melalui Bunda Maria dan akhirnya selamat. Hingga akhirnya Maria menjadi pelindung para pelaut dan misi-misi Katolik.

Gelar Maria sebagai Bintang Laut (Stella Maris) mengilhami banyak nama bagi Gereja, sekolah-sekolah,  perguruan tinggi, dan biara-biara – khususnya yang ada di pesisir pantai  – untuk didedikasikan kepada Sang Stella Maris.

Gereja kerap digambarkan sebagai kapal yang berlayar mengarungi samudera kehidupan. Bagaikan bintang samudera membimbing para nahkoda mengarungi lautan berbadai menuju pelabuhan yang aman, demikian juga Maria, melalui segala doa dan teladannya, membimbing kita sepanjang perjalanan hidup kita, kadang melalui samudera yang bergolak, menuju pelabuhan surgawi. Mari kita mengarahkan mata dan hati kita pada Sang Bintang Laut saat gelombang badi mengoyakkan iman kita……..

Paschasius Radbertus in the ninth century wrote of Mary, Star of the Sea, as a guide to be followed on the way to Christ “lest we capsize amid the storm-tossed waves of the sea.” “Jika angin pencobaan muncul, Jika Anda didorong atas batu kesengsaraan melihat ke bintang, panggilan pada Mary, Jika Anda melemparkan pada gelombang kebanggaan, ambisi, iri, persaingan, melihat ke bintang, memanggil Mary. Haruskah marah, atau ketamakan, atau daging keinginan keras menyerang kapal lemah jiwa Anda, melihat bintang, menyerukan kepada Maria. “ (St. Bernadus dari Clairvaux)

 

TEMA HARI KEDUA PULUH SEMBILAN

MARIA PERTOLONGAN UMAT KRISTIANI (MARIA AUXILIUM CHRISTIANORUM)

Saran Bacaan : Yoh 2 : 1 – 11

Bahan Katekese lihat bagian akhir Bab V tentang Maria Pertolongan Orang Kristen

 

 

TEMA HARI KE TIGA PULUH

MARIA PERLINDUNGAN ORANG BERDOSA (REFUGIUM PECCATORUM)

 Saran Bacaan :  Lukas 5 : 27 – 32

Maria melindungi orang berdosa? Ya benar, Maria menjadi perlindungan bagi orang berdosa yang mau bertobat. Maria menjamin bahwa mereka yang berniat bertobat tidak akan dihukum. Dalam hukum Israel terdapat tradisi bahwa pendosa yang ketakutan dan berlari ke Bait Allah dan memegang erat tanduk-tanduk mezbah Allah, ia tidak boleh dihukum (1 Raj 1: 51). Kenekatannya memegang tanduk mezbah seolah membuktikan pertobatannya. Maria bagaikan tanduk-tanduk mezbah Allah. Kerapkali pendosa yang berniat untuk bertobat merasa tak pantas, malu atau bahkan takut untuk langsung berhadapan dengan Allah – dan mereka memilih terlebih dahulu mendatangi Maria untuk memohon perlindungan dan bimbingannya. Dan dari Maria, ia akan dihantar kepada pertobatan sempurna dan berdamai dengan Puteranya.

Beranikah kita untuk benar-benar bertobat? Atau justru kita kerap menjadi batu sandungan bagi mereka yang akan bertobat?

 

TEMA HARI KE-TIGA PULUH SATU

MARIA DAN TRI TUNGGAL MAHAKUDUS

Salam Putri Allah Bapa, Salam Bunda Allah Putera, Salam Mempelai Allah Roh Kudus,

Saran Bacaan : Lukas 1 : 26 – 38

Bagi yang mencintai Rosario akan kerap pula menyapa Bunda Maria dengan ketiga sapaan diatas. Namun tak jarang pula banyak yang bertanya-tanya dan sedikit mengernyitkan dahi : apa maksudnya? Mengapa Maria disapa sebagai “Putri” bagi Allah Bapa, sebagai “Bunda” bagi Allah Putera, dan sebagai “Mempelai” bagi Allah Roh Kudus? Kalau Allah itu satu, berarti Maria sekaligus menjadi anak (Bapa), sekaligus ibu (Putra), sekaligus istri (Roh Kudus). Lho?

Kesalahan pemahaman semacam itu bisa terjadi pertama-tama karena kekeliruan memahami konsep ke-Esa-an Allah dalam misteri Allah Tritunggal – serta kekeliruan memahami hubungan Maria dengan Allah Tritunggal.

Allah Tritunggal Maha Kudus. Ada katekese yang salah yang sering diajarkan mengenai Allah Tri Tunggal. Kerap Allah Tri Tunggal dipahami sebagai satu pribadi saja bagaikan seorang laki-laki yang mempunyai tugas di rumah sebagai kepala keluarga, di lingkungannya sebagai ketua RT di kantor sebagai pegawai. Ini salah karena kita telah terjebak pada bidaah modalisme. Ada pula yang mengatakan bahwa Allah Tri Tunggal itu, kalau dulu namanya Allah Bapa, lalu jadi Manusia bernama Yesus, lalu setelah Yesus Bangkit, sekarang IA mendampingi manusia secaratak kasat mata dengan nama Allah Roh Kudus. Ini juga keliru karena bagaimana pun juga ketiga pribadi itu adalah pribadi yang berbeda. Kita kerap tidak berani mengakui perbedaan ketiga Pribadi itu karena ketakutan dengan tuduhan kita punya tiga Allah.

Kita mengakui bahwa Allah itu Esa. Makna Esa bukan berarti satu dalam ukuran jumlah namun Esa dalam arti integral atau “utuh”. Allah itu satu keutuhan. Ketiganya tetap satu dan dalam satu kesatuan erat yang tak terpisah namun tetap berbeda…. Satu hakekat tiga pribadi yang bersatu erat tak terpisahkan (integral)  – Allah begitu misteri dan tidak terikat dengan jumlah, waktu, dan tempat. Tak perlu ada ketakutan kerdil bahwa Allah yang tiga pribadi itu akan saling bersaing dan berebut kuasa. Alangkah naifnya.

Dan hubungan Bunda Maria dengan Allah Tritunggal demikian erat, mesra dan istimewa. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus:

Maria adalah sosok puteri yang sejak semula telah dipersiapkan Allah dalam rencana karya keselamatanNya. Sejak semula ia telah dipilih, dijaga dan dikuduskan. Sebagai Puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai Puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Sebagai Bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sejak awal kehadiran Yesus ke dunia hingga akhir hayatNya di kayu salib, Bunda Maria tidak pernah lepas dari sosok keibuannya kepada Yesus. Ia menjadi Bunda Allah pertama-tama memang karena ia yang dipilih Allah melahirkan Yesus – namun tidak hanya itu. Ia pun menjadi Bunda Allah karena ketaatannya mentaati Sabda Allah. Ia sekaligus menjadi orang yang memenuhi semua kriteria sebagai Bunda Allah.  Ketika seorang perempuan dari antara khalayak ramai angkat suara dan mengatakan kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”; Yesus menjawab dalam suatu pujian kepadamu, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Lukas 11:27-28). Marialah orang pertama yang layak disebut sebagai orang yang benar-benar mendengarkan Firman Allah dan memeliharaNya.

 

Maria adalah mempelai Roh Kudus. Ia mengandung karena Roh Kudus (Luk 1: 35). Dan bukan hanya itu, Maria senantiasa menjaga hubungan mesra dengan Allah Roh Kudus sepanjang hidupnya. Sangat naïf mengatakan bahwa Maria melahirkan anak-anak lagi setelah Yesus lahir. Mengapa dikatakan naïf? Karena Maria sesungguhnya adalah mempelai Roh Kudus, bukan mempelai Yosef. Dan Maria senantiasa menjaga kesuciannya itu. Sebagai Mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela hingga akhir hayatnya.

 

Apa yang bisa kita tarik dari teladan Maria sebagai Puteri Allah Bapa? Sebagai Bunda Allah Putera dan sebagai Mempelai bagi Allah Roh Kudus? Dari sana kita bisa melihat sejauh mana kedalaman hubungan kita sendiri dengan Allah Tritunggal Maha Kudus. Jika kita bisa dan berani menggambarkan, seperti apa sih hubungan kita dengan Allah? Apakah justru kita seperti anak manja yang terus merengek-rengek meminta-minta? Atau anak yang ….. tak tahu terima kasih? Hanya kalau butuh saja? Terus berjanji namun senantiasa ingkar?

  1. SEKILAS SEJARAH PERKEMBANGAN ROSARIO
  2. TERBENTUKNYA DOA ROSARIO

Penggunaan “manik-manik” untuk mendaras doa yang diulang-ulang sebagai media bermeditasi telah dikenal bahkan sebelum kekristenan dimulai. Di dalam Gereja sendiri, cara berdoa dengan menggunakan untaian biji-bijian atau simpul-simpul pada tali awalnya digunakan untuk membantu orang yang kurang terpelajar menghitung jumlah Bapa Kami atau Salam Maria yang didaraskan sebagai pengganti 150 Mazmur. Karenanya untaian biji atau simpul tali itu kemudian dikenal juga dengan sebutan  “Paternoster,” atau juga dikenal sebagai “brevir (doa mazmur) orang-orang sederhana”

Perkembangan struktur / susunan doa Rosario.  Pada awalnya tentu  tidaklah langsung jadi sebagaimana kita kenal sekarang ini. Dari sekedar untaian doa 150 Bapa Kami atau Salam Maria kemudian dalam perjalanan waktu yang panjang mengalami perkembangan bentuk / susunan. Perkembangan yang cukup pesat terjadi di sekitar abad 12-15 dimana untaian dibagi menjadi 50 kali doa Salam Maria (atau lebih) didaraskan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur atau ayat-ayat lain untuk mengenangkan “sukacita Maria” dalam hidup Yesus dan Maria.

Siapa yang kemudian mempopulerkan doa Rosario? Menurut tradisi, St. Dominikus Guzman, pendiri tarekat Dominikan (wafat 1221) adalah yang mempopulerkan doa ini dan merangkaikan  150 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 150 kali doa Salam Maria. Karenanya bentuk doa ini kemudian dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”),  yang arti umumnya berarti bunga rampai (suatu kumpulan bahan yang serupa). Doa Salam Maria yang diulang-ulang itu adalah bagaikan bunga mawar yang dirangkaikan kepada Bunda Maria. Pada masa ini pula atmosfir biblis doa Rosario semakin berkembang dengan ditambahkannya rangkaian peristiwa  “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”.

Dikisahkan bahwa St. Diminikus yang tergerak oleh penampakan Bunda Maria, mewartakan penggunaan Rosario untuk mempertobatkan bidaah Albigenisme (dari nama kota Albi di Perancis Selatan). Bidaah ini percaya bahwa semua yang jasmaniah adalah jahat dan yang rohaniah adalah baik. Karenanya, inkarnasi Allah Putera tidaklah masuk akal. (Pengaruh Platonisme:  jiwa terbelenggu dalam tubuh yang jahat). Karenanya mereka juga menolak perkawinan dan prokreasi. Dan tindakan religius mereka yang paling “luhur” disebut “endura”, bunuh diri untuk membebaskan jiwa dari raga. Mereka juga menentang otoritas manapun yang mewakili suatu kerajaan dunia ini, sebab itu mereka membantai para pejabat kerajaan dan para pejabat Gereja.

Perkembangan selanjutnya, di awal abad ke-15, Henry Kalkar (1408), seorang biarawan Carthusian, mengelompokkan  ke-150 Salam Maria ke dalam beberapa kelompok yang berisi 10 Salam Maria dengan diawali satu Bapa Kami. Dan hingga pada abad ke-16, struktur lima misteri Rosario telah didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa biblis yang sangat erat berkait dengan Bunda Maria dan Yesus : Peristiwa Gembira, Peristiwa Sedih dan Peristiwa Mulia.

Dan setelah penampakan Bunda Maria di Fatima (1917), doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak ditambahkan pada akhir setiap misteri, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Dewasa ini, Rosario dijunjung tinggi dan dianjurkan sebagai suatu sarana yang efektif bagi pertumbuhan rohani. Banyak para kudus mendorong didaraskannya Rosario, termasuk St Petrus Kanisius, St Filipus Neri dan St Louis de Montfort. Paus Leo XIII, yang kerap disebut “Paus Rosario”, menegaskan bahwa Rosario  sebagai suatu senjata rohani yang ampuh melawan kejahatan (Supremi Apostolatus Officio, 1884).

Paus Pius XI tahun 1938 memberikan indulgensi penuh kepada barangsiapa yang mendaraskan Rosario di depan Sakramen Mahakudus.

Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI  juga dikenal sebagai penganjur Rosario yang gigih. Buku Pedoman Indulgensi (1969), yang disetujui Paus Paulus VI, memberikan indulgensi penuh “jika Rosario didaraskan di sebuah gereja atau suatu tempat doa umum, atau dalam suatu kelompok keluarga, suatu komunitas religius atau perkumpulan saleh….” (No. 48).

Yang paling akhir,  menandai diawalinya 25 tahun masa pontifikatnya,  Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, dimana beliau menetapkan Peristiwa Cahaya dan  mendorong umat beriman untuk menggunakan Rosario untuk “bersama Maria, merenungkan wajah Kristus.”

 

  1. KISAH ROSARIO DALAM PERANG LEPANTO : MARIA AUXILIUM CHRISTIANORUM

Rosario semakin populer, di era Paus  Pius V. Saat itu terjadi peperangan dimana bangsa Turki menyerang Eropa Timur yang Katolik. Tahun 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan mereka. Selanjutnya di tahun 1521 Belgrade, Hungaria, juga ditaklukkan. Dan di tahun 1526, mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria sehingga penguasaan Kristen atas Mediterania berada di ujung tanduk.

Pada bulan Februari 1570, utusan Turki mengultimatum Venisia dengan pilihan untuk  menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus jatuh. Kemudian ditetapkan syarat-syarat penyerahan diri demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Turki mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya dibelah empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.

Tahun 1571, Paus Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka: Jerman-Austria).

Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan Rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,”. Kekuatan armada Turki jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal perang maupun pasukan. Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571,  Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Turki dikalahkan.

Siang itu, Paus Pius V yang tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran yang  bermil-mil jauhnya, ia berkata, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.”

Tahun berikutnya sebagai ucapan syukur, Paus Pius V menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria.

Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” (Pertolongan Orang-orang Kristen) pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”

 

  1. 15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA ROSARIO
  1. Mereka yang dengan setia mengabdi kepada dengan mendaraskan Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna
  2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka yang mendaraskan Rosario
  3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan menaklukkan kesesatan
  4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan mendapatkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendambakan hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini.
  5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario tidak akan binasa
  6. Dia yang mendaraskan Rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilanNya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa  persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal
  7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja
  8. Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang melimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran di surge
  9. Aku akan membebaskan mereka yang setia berdevosi Rosario, dari api penyucian.
  10. Putra-putri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surge
  11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan Rosario
  12. Aku akan menolong semua mereka yang menganjurkan Rosario Suci dalam segala kebutuhan mereka
  13. Aku mendapatkan janji dari Putera Ilahiku bahwa segenap penganjur Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.
  14. Semua mereka yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putera Tunggalku, Yesus Kristus

Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Jadwal Misa

Senin, Rabu, Kamis, Sabtu :
pk. 05.30

Selasa, Jumat :
pk. 18.00

Minggu :
pk. 05.30, 07.30 & 17.30

Lokasi Paroki Salib Suci

Desain & Kreasi oleh

Desain & Kreasi dikembangkan bersama DG5 DESIGN

Pusat Layanan DESAIN & FOTO PRODUK MURAH !!!! untuk keperluan Website, Brosur, Seleberan dsb