<>

Waktu saya mengikuti pramupas tingkat rayon, sebagian besar kata kunci cenderung pada kata pelayanan, misalnya “Gereja yang Melayani”. Kata kunci yang kelihatannya singkat tapi bermakna itu adalah ringkasan dari suatu uraian yang intinya, agar gereja yang lebih aktif melayani umatnya, misalnya : Hendaknya Pastor sering mengunjungi umat dan lebih dekat dengan umatnya. Di sini gereja diartikan adalah pemimpinnya atau lebih tepat Pastor atau Romonya.   Rupanya hal tersebut salah mengartikan, sebab salah seorang Romo yang hadir juga saat itu menjelaskan bahwa “GEREJA” adalah orang atau umat yang percaya dan mengikuti kehendak Allah dan Tuhan Yesus Kristus yang dikuatkan oleh Roh Kudus.
Jelas di sini gereja adalah umat, jadi kalau tadi ada kata kunci “Gereja yang Melayani” berati umat yang saling melayani dengan dasar kasih. Sebab Tuhan Yesus sendiri pernah berpesan agar kita saling melayani. Setiap orang yang percaya adalah pelayan Tuhan, sehingga kata  “Pelayanan” sering dipakai dalam gereja. Tapi apa sebenarnya pelayanan  itu? Orang menggunakan kata pelayanan dengan arti yang berbeda beda, sering kali pula dengan arti yang sempit.


Kita sering menggunakan kata pelayanan, namun kalau kita mau jujur, patut dipertanyakan : Benarkah kita saling melayani ? Sebab seringkali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap : Eh, enaknya menyuruh-nyuruh, memangnya aku ini jongosnya apa?
Dalam gereja sering orang berbicara tentang pelayanan, begitu sering orang menggunakan kata pelayanan atau melayani sehingga artinya sangat kabur.
Sewaktu para mudika mendapat tugas dari gereja, lalu ketika dewan memberikan sejumlah uang guna menggantikan apa yang sudah mereka bayarkan, maka seorang anggota mengatakan: “Tak usah, ini pelayanan”. Di sini melayani berarti melakukan sesuatu secara sukarela.  Ketika salah satu paroki merenovasi gedung gerejanya dan panitia meminta dana kepada umat, mereka setuju dan berkata : “, kita perlu melayaninya”. Di sini melayani berarti memberi sumbangan.   Misa Kudus untuk anak-anak, dilayani oleh romo pembantu paroki, di sini melayani berarti melakukan atau memimpin.  Ketika pesta ulang tahun paroki telah usai, panitia tidak membereskan pekerjaannya sampai tuntas, “maklum, namanya juga pelayanan” pelayanan di sini berarti tidak perlu dipaksa.  Pelatih koor berpesan kepada anggotanya untuk datang tepat waktu, “jangan santai-santai, ini pelayanan!” Pelayanan di sini adalah komitmen atau kesungguhan.   Seorang frater (calon romo) ketika ditanya, “Anda bekerja di mana?” lalu ia menjawab, “saya tidak bekerja, saya diperbantukan untuk melayani di paroki X”,. Lalu ini berarti : melayani merupakan kata yang berlawanan dengan kata bekerja.
Untuk memperluas kata “melayani” ini, masyarakat umum sering juga memakai kata “melayani”. Pelayanan di resto ini memuaskan. Artinya, makanannya lezat dan dihidangkannya secara tepat dan ramah.   Kamu sih, suka melayani orang yang mengajak berkelahi, artinya: suka menerima tantangan. Bahkan panti pijat dan mandi uap juga menggunakan kata “melayani”  dengan iklannya yang berbunyi : Anda akan dilayani oleh pramuria kami yang cantik dan menarik.

Nah, bila kita sering membaca Kitab Suci, tentu sering juga mendapatkan kata pelayanan di dalamnya, misalkan dalam tulisan Lukas 17: 8 yang berbunyi : . . . . . Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai . . . . .; Juga pada Lukas 22: 26 dan 27 yang berbunyi : . . . . . .yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Dan : Sebab siapakah yang lebih besar, yang duduk makan atau yang melayani? . . . Masih banyak lagi, seperti pada : Kis. 6: 4 yang berbunyi : dan supaya kamu sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.  Lalu dalam 2 Kor. 8 mengenai Pelayanan Kasih, 2 Kor 11: 23 tertulis : Apakah mereka pelayan Kristus? Dan masih banyak lagi mengenai pelayanan. Bahkan Kristus sendiri pernah bersabda : Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. (Luk 22: 27). Jadi jelas di sini jiwa Kristus adalah melayani, demikian juga seharusnya jiwa kristiani para pengikut-Nya. Orang yang mau berjalan di belakang Yesus adalah orang yang rela melayani. Dalam pelaksanaannya, ini tidak mudah. Sebagai mana yang telah terurai di atas tadi, melayani banyak mengandung segi dan resiko. Melayani bukan sekedar menyibukkan diri di sana-sini dan bukan pula sekedar memberi ini dan itu.  Melayani adalah menempatkan diri di bawah kepentinga Tuhan dan kepentingan orang lain. Ini sungguh bertolak belakang dengan jalan hidup yang lazim di mana orang justru mengutamakan kepentingan diri sendiri.
Kiranya tulisan ini bisa menjadikan berkat dalam ketaatan dan pertumbuhan iman kita kepada Dia yang menegaskan : “Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu,hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa yang ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan banyak orang” (Mrk10:44-45)   Yos/Maria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Jadwal Misa

Senin, Rabu, Kamis, Sabtu :
pk. 05.30

Selasa, Jumat :
pk. 18.00

Minggu :
pk. 05.30, 07.30 & 17.30

Lokasi Paroki Salib Suci

Desain & Kreasi oleh

Desain & Kreasi dikembangkan bersama DG5 DESIGN

Pusat Layanan DESAIN & FOTO PRODUK MURAH !! untuk keperluan Website Brosur, Seleberan dsb