Category Archives: Prosesi Liturgis

Pentingnya Aturan dalam Liturgi

Dalam suatu diskusi tentang liturgi, khususnya tentang bagaimana berliturgi dengan benar, seringkali saya temui perlawanan dan penolakan untuk berliturgi dengan benar sesuai dengan hukum dan aturan liturgi yang berlaku secara universal. Apabila seseorang diingatkan tentang cara berliturgi yang benar, apabila mereka dikritik karena berliturgi secara keliru (misalnya memasukkan band dalam misa, mengganti homili dengan drama, memasukkan tarian dalam misa, dst), mereka akan cenderung marah dan menyampaikan beberapa respon, yang bisa dirangkum sebagai berikut :

  • Saya ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Yang penting kan hati kita, tidak perlu terlalu kaku soal liturgi..toh itu kan buatan manusia. Jangan jadi orang yang fundamentalis…menafsirkan secara ketat aturan liturgi
  • Ah kalian itu mirip seperti orang Farisi yang ketat pada aturan, padahal yang penting bagaimana saya bisa lebih merasakan kehadiran Tuhan, bagaimana saya bisa mengalami Tuhan…
  • Tuhan kan melihat isi hati manusia…
  • Aturan2 liturgi itu gak penting, yang penting itu karya nyata…
  • dst

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang katolik dalam berliturgi?

Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “The Spirit of Liturgy”, berkata bahwa hukum fundamental dari liturgi adalah “kami tidak tahu dengan apa kami harus beribadah kepada Allah” (Kel 10 : 26). Perhatikan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa : manusia itu tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah yang dilakukannya sudah sesuai dengan kehendak Allah, kecuali Allah yang telah menyatakannya pada kita.

Pada Perjanjian Lama, ketika Musa sedang berada di Gunung Sinai menunggu Tuhan memberikan dua loh batu yang bertuliskan 10 perintah Allah; dan umat Israel menanti di kaki Gunung Sinai, umat Israel malah melanggar apa yang diperintahkan Allah (bdk Kel 20:3-5 tentang pembuatan patung berhala). Mereka meminta Harun untuk membuat patung lembu emas :

Buatlah untuk kami Allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir–kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia

Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.” – Kel 32: 23

Paus Benediktus XVI (dalam audiensi umum tentang sekolah doa) mengkomentari hal tersebut dengan berkata bahwa umat Israel lelah dengan Allah yang tak kelihatan, sedangkan perantara mereka – Musa – juga tak kelihatan, maka mereka berusaha membuat allah yang dapat dijangkau, allah yang dapat dirasakan kehadiran-Nya oleh manusia. Dan inilah godaan manusia dalam perjalanan imannya : bahwa manusia cenderung untuk membuat gambaran tentang Allah sesuai dengan apa yang mereka inginkan, sesuai dengan rencana mereka. Apa yang dilakukan umat Israel yang membuat lembu emas sebenarnya adalah ini :

Mereka menukar Kemuliaan Allah dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput –Mazmur 106:20

Lalu, apa hubungannya dengan liturgi yang dirayakan sesuka hati tanpa menaati aturan yang berlaku?

Ketika seseorang merayakan liturgi tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Gereja, maka sebenarnya seseorang mulai menyembah allah, yang sebenarnya bukanlah Allah. Mereka ingin menyembah sesuai dengan cara mereka, sesuai dengan keinginan dan perasaan mereka – dan mereka begitu yakin bahwa Allah berkenan dengan cara mereka –  bukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang telah ditentukan Gereja. Tanpa sadar, mereka juga menciptakan gambaran Allah yang keliru.

Disini kita melihat adanya pergeseran : liturgi, dimana Allah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita, dibuang begitu saja dan digantikan oleh ego manusia. Allah harus memuaskan perasaan manusia, Allah harus memberikan rasa nyaman, harus menunjukkan kehadiran-Nya seperti yang manusia inginkan, Allah harus memberikan perasaan gembira, semangat dan sukacita.

Ekaristi_1

 

Perhatikan bahwa liturgi yang seenaknya diubah, telah menempatkan manusia sebagai pusat dari liturgi. Liturgi yang tidak dirayakan dengan benar sesuai ketetapan resmi Gereja, berubah menjadi liturgi yang egoistis – hanya ingin memuaskan perasaan manusia semata. Dan Allah diharuskan untuk memuaskan dan memberikan perasaan-perasaan itu.

Disinilah aturan-aturan liturgi yang kaku menjadi penting. Aturan-aturan liturgi yang kaku itu menyadarkan kita bahwa liturgi itu bukanlah produk buatan manusia, melainkan liturgi itu berasal dari Gereja, dan hanya Gereja dengan otoritas yang berasal dari Allah yang mengetahui dengan pasti bagaimana cara menyembah dan memuliakan Allah secara benar.

Aturan dalam liturgi, mengajarkan kita untuk menjadi rendah hati : mengakui bahwa kita tidak tahu dengan cara seperit apa kita harus beribadah dan menyembah Allah. Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Gereja lah yang lebih mengetahui cara menyembah Allah yang tepat.

Aturan dalam liturgi, mencegah liturgi menjadi sesuatu yang egoistis : berpusat pada manusia dan bukan berpusat pada Allah. Aturan liturgi mencegah manusia untuk menyembah allah yang palsu, allah ciptaan manusia yang dibuat untuk memuaskan perasaan-perasaan manusia.

Aturan dalam liturgi, mendorong kita untuk taat dan setia terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Gereja. Setia kepada Gereja, berarti juga setiap kepada Yesus, karena Yesus dan Gereja adalah satu dan tak terpisahkan.

Aturan dalam liturgi menjamin adanya kebebasan, kebebasan yang tunduk kepada kebenaran. “Ketika setiap manusia hidup tanpa hukum, manusia hidup tanpa kebebasan”. Ini pernyataan Paus Benediktus XVI yang saya kutip di bagian paling atas artikel ini. Hukum dan aturan, khususnya dalam liturgi, memberi tahu kita tentang kebenaran dalam tata cara menyembah Allah. Tanpa adanya hukum dan aturan, bukan kebebasan yang terjadi, melainkan kekacauan, karena setiap orang akan bisa memaksakan apa yang ia inginkan sesuka hatinya.

Oleh karena itu, berliturgilah dengan cara yang telah ditetapkan Gereja – karena cinta dan ketaatan kepada Allah juga diperlihatkan dengan ketaatan dan kesetiaan dalam berliturgi sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

By Cornelius 28 April 2013 dikopi dari LUX VERITATIS 7

Asal Mula Masa Adven

Hari raya Natal adalah salah satu dari dua hari raya yang paling penting dalam masa liturgi Gereja Katolik. Sebagai Hari Raya yang penting maka dalam menyongsongnya dibutuhkan persiapan yang khusus pula. Masa persiapan ini dikenal sebagai Masa Adven.

Masa liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari minggu terakhir bulan November. Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.

Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.

Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita  ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.

Sumber:

Lingkaran Adven : Lambang dan Maknanya

Ada beberapa hal yang khas di dalam Masa Adven ini. Yang paling kelihatan adalah dengan adanya karangan Adven. Setiap bagian dari karangan Adven ini memiliki arti dan makna yang mendalam.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak memiliki akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun yang senantiasa hijau (evergreen), Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “evergreen” berarti senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu merupakan lambang tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mau mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin ini mau melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal.  Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya, lilin lain juga ikut mulai dinyalakan. Seiring bertambah terangnya Lingkaran Adven untuk setiap minggunya dengan bertambahnya jumlah lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala-nyala akan kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin berwarna ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa saat kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete“. Gaudete adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih,  artinya : sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (dilambangkan dengan warna ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih, yang berarti masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung Kristus, sang Penebus, di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada Hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat menyolok di Gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja.

Jadi jika anda melihat/memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan diriNya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama : “Bapa di Surga … tambahkanlah kerinduan kami kepada Krisyus,m Juruselamat kami, dab berilah kami kekuatan yntuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangNya membuat kami bersukacita atas kehadiranNya dan menyambut terang kebenaranNya.”

Sumber:

  • Buku “Berdoalah dan Berjaga-jagalah – Ibadat Adven Keluarga”, Keuskupan Surabaya, 2011