Gereja Katolik PAROKI SALIB SUCI Tropodo Sidoarjo, Jawa Timur » Renungan & Refleksi http://parokisalibsuci.org Situs Resmi Dewan Pastoral Paroki Gereja Katolik Salib Suci, Keuskupan Surabaya Fri, 06 Dec 2013 07:26:32 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.8 7 Pernyataan Tuhan Yesus saat berada di Salib http://parokisalibsuci.org/2012/04/06/7-pernyataan-saat-yesus-berada-di-atas-salib/ http://parokisalibsuci.org/2012/04/06/7-pernyataan-saat-yesus-berada-di-atas-salib/#comments Fri, 06 Apr 2012 13:11:13 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=632

Injil mencatat bahwa selama enam jam Yesus tergantung di kayu salib Dia membuat tujuh pernyataan yang berbeda. Pernyataan-pernyataan sangat luar biasa bukan hanya karena merupakan kata-kata yang terakhir oleh Yesus sebelum kematian-Nya, tetapi juga karena kata-kata ini menggambarkan kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus Tuhan kita.

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34).
Bahkan saat mengalami rasa sakit yang mengerikan akibat penyaliban, Ia berdoa untuk orang-orang yang yang menyebabkan penderitaan-Nya. Ia datang ke bumi dengan tujuan memberi pengampunan para pendosa dan Dia mengasihi mereka dan menghapus dosa hingga akhir hidupNya. Semua karena dosa manusia dan Dia berada di kayu Salib dan menderita atas nama dosa itu.

 

2. “Hari ini engkau akan bersama Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43).

Tidak hanya Yesus mengampuni mereka yang menyalibkan Dia, Dia juga memaafkan salah seorang pencuri yang disalibkan di samping-Nya. 2 Penjahat yang di salibkan bersama Yesus, Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, namun seorang lainnya memiliki perubahan hati.

Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lukas 23:39-42) .

Pada saat ini Yesus membuat pernyataan-Nya yang kedua diatas salib dan menjanjikan untuk mengampuni penjahat yang bertobat. Sekali lagi kita melihat keprihatinan Yesus bagi orang lain. Teladan-Nya kemudian di contohi Rasul Paulus  untuk menasihati jemaat Filipi,

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (Filipi 2:3).

3. “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26).

Meskipun Yesus terus menderita di kayu salib pikirannya masih pada orang lain. Dia melihat ibunya berdiri di dekat Rasul Yohanes dan berkata, “Ibu, inilah anakmu.” Dia kemudian melihat Yohanes dan berkata, “Inilah ibumu!” Dengan melakukan ini Dia mempercayakan perawatan ibu-Nya kepada Yohanes. Kebiasaan orang Yahudi (Hukum Taurat) mensyaratkan anak sulung untuk mengurus orang tuanya, dan Yesus mematuhi hukum Allah sampai akhir. Di awal pelayanan-Nya Yesus menekankan penghormatan terhadap hokum Allah (Hukum Taurat):

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17).

Yesus menggenapi hokum Taurat dalam penderitaanNya di atas kayu salib.

4. “Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46).

Perkataan keempat Yesus dari salib mungkin yang paling sulit bagi kita untuk mengerti. Anak Allah yang tak berdosa yang telah, ada sejak kekekalan, dalam hubungan intim dengan Bapa-Nya, kini roh terpisah dari-Nya. Ketika dosa dunia dilimpahkan/menjadi bagian dari  Yesus, untuk kali pertama, terjadilah pemisahan antara Bapa dan Putra.

Alkitab mencatat sesuatu terjadi di antara mereka bahwa kita hanya dapat memahami melalui mata iman. Allah yang Maha Suci dan tak berdosa itulah Allah Bapa dan Allah yang telah merendahkan diri menjadi seperti ciptaanNya dan mau berdosa (menerima limpahan dosa manusia) itulah Putra Allah. (Filipi 2:6-7)

Artinya, bahwa Allah dalam Kristus mendamaikan dunia dengan dirinya sendiri (2 Korintus 5:19).

Yesus menderita rasa sakit yang tak pantas akibat pemisahan diriNya melepaskan kesetaraan sebagai Allah: Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:21).

Agar hal ini (penebusan) terjadi, Bapa harus meninggalkan Anak dan menghukum-Nya untuk kita.  Inilah maksud dari perkataan Yesus: “Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

5. “Aku haus” (Yohanes 19:28).

Pernyataan kelima yang Yesus dari salib mengingatkan kita lagi bahwa Dia menderita sebagai manusia. Alkitab mengatakan,

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia—supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci—:”Aku haus!” (Yoh 19:28).

Ia hidup sebagai manusia dan menderita sebagai manusia agar Dia bisa mengidentifikasi dengan penderitaan kemanusiaan. Dari pernyataan ini kita amati bahwa Yesus menderita efek fisik yang penuh akibat penyaliban. Tidak bisa dikurangi, untuk beban dosa yang harus kita(manusia) limpahkan kepada-Nya.

6. “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).

Pernyataan keenam dari Yesus saat di kayu salib adalah teriakan kemenangan. Teks Yunani berbunyi tetelestai, “Sudah selesai.” Apa yang selesai? Sambil kita mempertimbangkan kehidupan dan pelayanan Yesus kita bisa memikirkan beberapa hal yang membuat kematian-Nya lengkap.

Ia menyelesaikan pekerjaan Bapa, yang harus di lakukanNya. Ia menggenapi nubuat. Dia mencapai kemenangan atas Setan, dosa, dan kematian. Dia mencapai kemenangan atas iblis. Misi kekelan BERHASIL !

7. “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46).

Ini adalah pernyataan terakhir yang kita terima dari Yesus sebelum kematian-Nya. Semuanya telah selesai dan sekarang sudah waktunya untuk menyerahkan roh-Nya. Sebelumnya Yesus membuat pernyataan bahwa Ia rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-Nya.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17,18).

Dari sini kita menyadari bahwa Yesus harus sengaja menyerahkan roh-Nya; itu tidak dapat diambil dari-Nya. Kecuali Dia menginginkan sendiri untuk mati, Dia tidak dipaksa. Karena Dia adalah korban yang bersedia, Dia memilih untuk mati. Setelah membuat pernyataan terakhirnya, Yesus mati.

Akhirnya…
Tujuh pernyataan Yesus diatas kayu salib memiliki arti luas dan penting bagi orang percaya hari ini. Perkataan-perkataan ini sekali lagi mengingatkan kita arti kematian-Nya, selain menjadi fakta sejarah, jauh lebih dari itu. Itu adalah pengorbanan tertinggi untuk menjamin keselamatan kita. Kata-kata terakhir Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat memegang kepercayaan penuh kepada-Nya sebagai Juruselamat kita.

]]>
http://parokisalibsuci.org/2012/04/06/7-pernyataan-saat-yesus-berada-di-atas-salib/feed/ 2
Pemeriksaan Batin Menurut Sepuluh Perintah Allah http://parokisalibsuci.org/2012/02/23/pemeriksaan-batin-menurut-sepuluh-perintah-allah/ http://parokisalibsuci.org/2012/02/23/pemeriksaan-batin-menurut-sepuluh-perintah-allah/#comments Thu, 23 Feb 2012 07:58:16 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=599

Masa prapaskah yang diawali dengan hari Rabu Abu, merupakan saat yang tepat untuk melihat diri kembali, melakukan refleksi atas segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Artikel berikut merupakan daftar yang mungkin belum melingkupi segala bentuk perbuatan-perbuatan dosa, namun diharapkan daftar pemeriksaan batin dengan membaca kembali Sepuluh Perintah Allah ini sudah cukup untuk membantu membangkitkan / mendorong refleksi pribadi sebagai persiapan melakukan Sakramen Pertobatan, sehingga di hari raya nanti, kita benar-benar mendapatkan sukacita sejati di dalam nama Tuhan kita dalam kondisi yang bersih.

 

  1. Akulah Tuhan Allahmu, janganlah menyembah berhala, berbaktilah kepadaku saja dan cintailah aku melebihi segala sesuatu.
    1. Meragukan keberadaan Tuhan
    2. Meninggalkan agama Katolik atau bergabung dengan agama lain
    3. Tidak mempercayai kebenaran iman Katolik atau ajaran-ajaran Gereja
    4. Gagal mengakui atau mempertahankan Iman Katolik saat dibutuhkan
    5. Menyangkal bahwa dia seorang Katolik
    6. Menjadikan Gereja atau ajarannya sebagai bahan gurauan
    7. Malu akan keyakinannya atau gagal menunjukkan tanda-tanda nyata bahwa dirinya adalah Katolik karena takut/ malu akan anggapan orang lain
    8. Membaca buku / literatur yang menggoyahkan iman Katolik,
    9. Berkonsultasi dengan orang–orang yang membahayakan iman Katolik anda
    10. Bergabung dengan kelompok rahasia atau organisasi yang bertentangan dengan iman Katolik (seperti Freemasons, partai komunis, kelompok pro–aborsi)
    11. Menjadi saksi atau terlibat dalam pernikahan seorang katolik yang tidak disetujui oleh Gereja Katolik
    12. Tidak menerima komuni pada perayaan Paskah tiap tahun
    13. Mengabaikan pengakuan dosa sedikitnya sekali dalam setahun
    14. Tidak berpantang dan berpuasa pada hari – hari yang telah ditentukan oleh Gereja
    15. Tidak berpuasa sedikitnya 1 jam sebelum menerima Komuni Kudus;
    16. Tidak mengaku dosa secara pribadi atas absolusi dosa – dosa maut yang telah diterima secara masal
    17. Mengabaikan pemenuhan denda / hukuman dari penitensi yang diberikan oleh Romo dalam Sakramen Pertobatan;
    18. Berdoa tanpa konsentarsi atau membiarkan perhatiannya terpecah oleh hal-hal lain
    19. Menerima Komuni Kudus tidak dengan hormat atau tanpa rasa syurkur
    20. Tidak berdoa secara teratur
    21. Bersikap masa bodoh tentang iman Katolik atau tidak berusaha mencari bimbingan Gereja Katolik atas permasalahan iman atau moral

 

  1. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat
    1. Menghina Allah, Yesus, Maria, para malaikat atau orang–orang Kudus
    2. Berkata–kata yang tidak sopan tentang Orang–orang Kudus, tempat–tempat / benda–benda yang Kudus
    3. Mengutuk (atau mengata-ngatai) orang atau sesuatu
    4. Mengucapkan sumpah tanpa alasan yang kuat / masuk akal
    5. Gagal memenuhi sumpah atau janji

 

  1. Kuduskanlah Hari Tuhan
    1. Tidak menghadiri Misa pada hari Minggu atau Misa pada hari lain yang diwajibkan oleh Gereja dengan sengaja
    2. Terlambat datang pada Misa hari Minggu atau hari suci yang lain atau meninggalkan misa sebelum selsesai tanpa alasan yang layak (Tidak hadir sejak Persembahan sampai dengan Komuni adalah dosa maut);
    3. Dengan sengaja mengganggu/membuat kekacauan pada saat Misa
    4. Melakukan pekerjaan berat atau berbelanja yang tidak penting atau berbisnis pada hari Minggu

 

  1. Hormatilah Ibu Bapamu
    1. Tidak hormat, tidak patuh atau menghina/mencela orang tua, kakek – nenek atau wali
    2. Tidak menghormati pasangan suami / istri atau anggota keluarga yang lain
    3. Orang tua tidak membaptiskan anaknya segera setelah dilahirkan, gagal memberikan pendidikan iman Katolik kepada anaknya seperti mengaku dosa, menerima Komuni pertama, menerima sakramen penguatan atau menghadiri Misa di hari Minggu
    4. Orang tua mengabaikan kebutuhan anaknya : materi, pendidikan, disiplin, moral atau emosi
    5. Penganiayaan atau perlakuan  yang kejam terhadap anak
    6. Gagal memenuhi/menyediakan kebutuhan bagi orangtua pada saat mereka membutuhkannya
    7. Gagal memenuhi tanggung jawab misalnya di tempat kerja, di rumah atau di sekolah
    8. Tidak mematuhi atasan, guru atau perusahaan;
    9. Murid melalaikan tugas belajarnya
    10. Tidak menghormati orang yang lebih tua
    11. Tidak mematuhi hukum yang berlaku atau petugas penegak hukum
    12. Tidak memiliki patriotisme

 

  1. Jangan membunuh
    1. Melakukan pembantaian yand tidak adil atau membunuh
    2. Aborsi
    3. Menganjurkan seseorang untuk melakukan aborsi atau membantu melakukan aborsi;
    4. Ikut serta dalam program Ibu pengganti (anak di dapat dengan menanamkan telur yang telah dibuahi ke wanita lain)
    5. Melakukan Inseminasi buatan (program bayi tabung)
    6. Ikut serta dalam donor sperma
    7. Melakukan sterilisasi
    8. Pemenggalan / pemotongan anggota tubuh
    9. Percobaan bunuh diri
    10. Tindakan kekerasan
    11. Membahayakan jiwa diri sendiri atau jiwa orang lain secara ceroboh (misal: menyetir tidak hati-hati/ugal-ugalan); menyerang orang lain atau berkelahi secara fisik
    12. Mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan atau merokok berlebihan
    13. Mengkonsumsi obat secara berlebihan / di luar dosis (meskipun obat tersebut diresepkan)
    14. Menggunakan, mengedarkan atau menjual obat–obatan terlarang
    15. Makan atau tidur yang berlebihan atau terlalu sedikit/ kurang (mis: malas, rakus, membuang–buang waktu, diet yang tidak pada tempatnya)
    16. Tidak menjaga kesehatan dengan baik
    17. Menjaga kesehatan atau penampilan terlalu berlebihan
    18. Membalas dendam
    19. Kemarahan, kebencian, antipati, cuek atau kesal terhadap sesama
    20. Memberi julukan atau menggunakan kata–kata kasar terhadap sesama, kasar atau berbuat yang tidak sopan, tidak memperhatikan perasaan orang lain
    21. Mengejek orang yang cacat baik cacat fisik atau pun mental, mengejek ras / agama lain
    22. Memberi contoh yang tidak baik kepada orang lain untuk ditiru
    23. Kurang belas kasih terhadap orang yang menderita
    24. Gagal menolong orang lain dalam bahaya atau yang benar–benar membutuhkan
    25. Menyombongkan keberhasilan atau apa yang sudah dicapai
    26. Keras kepala mempertahankan pendapat pribadi
    27. Menyetujui pendapat yang bertentangan dengan ajaran Gereja (misal: hal aborsi, perceraian, sterilisasi, kontrasepsi)
    28. Tidak sabar
    29. Memperlakukan binatang dengan kejam

 

  1. Jangan berbuat cabul
    1. Perzinahan (dimana kedua belah pihak belum menikah)
    2. Berzinah (Dimana setidaknya salah satu pihak terikat pernikahan dengan orang lain)
    3. Bercumbu secara berlebihan (masturbasi dengan melibatkan pihak lain atau membangkitkan gairah sexual pihak lain mis: dengan berciuman , berpelukan atau sentuhan yang berlebihan)
    4. Tindakan yang kotor/ cabul oleh diri sendiri (Mis: masturbasi, sentuhan, mempamerkan diri sendiri, memancing sensasi erotis)
    5. Tindakan homoseksual
    6. Tindakan /perbuatan sexual yang tidak normal (oral, anal, hubungan sedarah, atau melibatkan binatang)
    7. Penggunaan alat kontrasepsi atau ejakulasi terputus
    8. Menolak memenuhi hak-hak pernikahan kepada pasangan tanpa alasan yang cukup atau memintanya secara berlebihan
    9. Berkencan dengan seseorang yang telah bercerai (secara hukum negara) namun masih terikat pernikahan yang sah
    10. Menyebabkan perpisahan yang tidak perlu dari pasangan atau dari anak – anaknya
    11. Seronok dalam berpakaian
    12. Menikmati hiburan yang tidak sehat (Misal: tarian seronok, buku, majalah, gambar, video, TV, internet, grup musik tertentu)
    13. Mengucapkan kata–kata kotor / menjijikkan (jorok, perkataan atau cerita yang vulgar)
    14. Bergaul dengan orang–orang yang bermoral buruk yang melakukan atau berkesempatan untuk melakukan perbuatan dosa

 

  1. Jangan mencuri

Catatan: (1.) Jumlah atau besarnya kerugian harus disebutkan dalam pengakuan (2.) Dosa akan menjadi dosa maut apabila besarnya sesuatu yang dicuri atau dirusakkan sebanding dengan gaji sehari; yang lain termasuk dosa ringan. (3.) Untuk mendapatkan pengampunan dari dosa maut atau ringan harus ada kemauan untuk mengganti atau membayar kerugian

    1. Mencuri barang atau uang
    2. Merusakkan atau menghancurkan milik umum atau milik orang lain
    3. Bekerjasama dengan orang yang melakukan pencurian
    4. Penyelundupan
    5. Membuat tuntutan hukum untuk sesuatu yang tidak adil atau membuat pernyataan yang tidak adil dalam tuntutan hukum
    6. Ketidakjujuran dalam berbisnis
    7. Membebankan harga yang terlalu tinggi / di luar batas
    8. Menutupi / merahasiakan kerusakan pada barang yang ditawarkan untuk dijual
    9. Tidak membayar pekerja / karyawan dengan adil
    10. Gagal melakukan pekerjaan sesuai dengan beban kerja yang sudah dibayar; bekerja dengan tidak baik (bekerja setengah hati)
    11. Kelalaian untuk membayar pajak penghasilan atau kelalaian untuk membayar sesuai jumlah yang benar
    12. Menawarkan atau meneima suap
    13. Berjudi atau bertaruh secara berlebihan
    14. Tidak membayar hutang
    15. Gagal atau menunda–nunda dalam membayar tagihan
    16. Meminjam tanpa ijin pemilik
    17. Tidak melaporkan kembalian / pembayaran yang salah kepada Kasir
    18. Gagal / tidak mengembalikan barang yang dipinjam
    19. Menggunakan uang secara egois atau tidak bertanggung jawab (mis: pengeluaran yang tidak perlu atau belanja yang berlebihan)
    20. Tidak berniat sungguh-sungguh untuk mencari pemilik dari barang yang ditemukan
    21. Gagal berkontribusi dalam menunjang kehidupan Gereja sesuai dengan kemampuannya
    22. Tidak mengganti barang yang dicuri atau rusak
    23. Berbuat curang pada ujian, pelajaran di sekolah atau pekerjaan rumah (bagi pelajar)
    24. Pelanggaran hak cipta dan segala bentuk pembajakan
    25. Berbuat curang pada permainan atau pertandingan olah raga
    26. Menyia-nyiakan atau menggunakan makanan atau barang secara berlebihan

 

  1. Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu manusia
    1. Dengan sengaja berbohong
    2. Sumpah palsu (berbohong dibawah sumpah)
    3. Tidak menjaga/ mentaati sumpah/ janji
    4. Bersumpah untuk melakukan sesuatu yang berdosa/ melawan hukum
    5. Dengan sengaja berusaha mendengarkan pengakuan orang lain dalam kamar pengakuan pribadi
    6. Membahayakan reputasi orang lain (fitnah atau gunjingan)
    7. Menceritakan keburukan orang lain (menjatuhkan nama baik)
    8. Membuka rahasia yang seharusnya disimpan; melanggar kepercayaan
    9. Membaca surat atau dokumen pribadi milik orang lain yang bukan menjadi haknya
    10. Menyombongkan perbuatan dosa
    11. Kritik yang tidak membangun / tidak mengenal belas kasihan
    12. Cepat menuduh dan kecurigaan yang berlebihan
    13. Dengan dengaja menyesatkan atau menipu orang lain
    14. Menolak untuk mengampuni/ memaafkan orang yang sudah meminta maaf, atau menyimpan sakit hati
    15. Gagal meminta maaf kepada orang yang sudah disakiti

 

  1. Jangan ingin berbuat cabul
    1. (Lihat kembali Perintah ke 6)
    2. Pemikiran atau keinginan yang kotor / cabul

 

  1. Jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil
    1. Mencintai seseorang atau sesuatu melebihi Tuhan
    2. Gagal memberi bantuan kepada yang membutuhkan
    3. Tamak (Keinginan yang berlebihan untuk memiliki sesuatu atau kesenangan akan hal tersebut)
    4. Egois; mengasihani diri sendiri
    5. Ingin memiliki, mengambil atau merusakkan milik orang lain
    6. Keinginan untuk menguasai, mengatur atau membatasi orang lain secara tak adil
    7. Kecemburuan/ iri hati akan keberuntungan orang lain, kebaikan rupa, reputasi atau hak milik; Bergembira diatas kemalangan orang lain
    8. Mengharapkan sesuatu yang buruk untuk orang lain
    9. Keangkuhan, kesombongan, keinginan untuk dipuji
    10. Gagal melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan
    11. Kesadaran untuk melakukan perbuatan dosa dengan memberikan persetujuan dalam hati namun tidak melakukannya dalam tindakan nyata
]]>
http://parokisalibsuci.org/2012/02/23/pemeriksaan-batin-menurut-sepuluh-perintah-allah/feed/ 0
Mereka juga berhak atas…… http://parokisalibsuci.org/2012/02/02/mereka-juga-berhak-atas/ http://parokisalibsuci.org/2012/02/02/mereka-juga-berhak-atas/#comments Thu, 02 Feb 2012 03:53:58 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=590

Pengantar
Seluruh persiapan Perayaan Natal, seolah ditutup dan diakhiri dengan suara berdentangnya lonceng gereja, menjelang Misa Malam Natal.
Dengan berbagai persiapan pula setiap umat datang dan masuk ke gedung gereja. Kebanyakan dengan wajah yang ceriah dan segar, dengan pakaian yang tampak indah, walaupun ada beberapa umat, yang entah karena alasan apa, tampak begitu sederhana, seperti biasanya, tidak berbeda dengan ketika datang ke Misa-misa yang lain.
Dan, sesuai jadwal, Misa-pun dimulai. Tidak dapat dipungkiri, Misa Malam Natal memang lebih agung dan lebih meriah dari pada Misa-misa yang lain (kecuali Misa malam Paskah). Semua orang tahu, Misa itu adalah untuk memperingati dan menyambut kelahiran bayi YESUS.
Dari sisi sejarah, dapat dimaknai, kita memperingati kelahiran seorang Tokoh Besar, yang sangat berpengaruh pada kehidupan umat manusia. Dari sisi spiritual dapat dikatakan kita menyambut Sang Sabda yang menjadi daging, mengambil rupa manusia, sebagai puncak dari Karya Penyelamatan Allah. Dari sisi pandang Bangsa Israel, Dia-lah Sang Mesias, Sang Pembebas yang telah dinubuatkan oleh para nabi, yang akan membebaskan Bangsa Israel dari penderitaan, kesusahan, kemiskinan, penjajahan, dll. Dan dari sisi iman Kristiani, peristiwa itu dimaknai sebagai: kita menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, Sang Penebus,  Dia yang disebut: Terang, Terang yang besar; Dia menyebut diri-Nya: Jalan dan kebenaran dan hidup. Kepada Dia-lah seluruh iman Kristiani digantungkan dan dipusatkan. Dan Dia-lah sumber pengharapan bagi umat manusia

DIA-kah sumber pengharapan dan kasih…?
Sedemikian banyak atribut dan gelar yang dilekatkan kepada sosok Yesus. Kesemuanya itu setidak-tidaknya terfokus pada dua hal, yaitu: Ke-ilahian-Nya, dan Dia-lah sumber pengharapan. Seluruh iman Kristiani ditarik kepada dua hal tersebut, dengan meyakini, bahwa Dia-lah Jalan, Terang dan Hidup. Karena Dia-lah kita akan sampai dan kembali kepada Bapa, asal dari segala ciptaan. Karena Dia-lah kita mendapatkan pencerahan dalam hidup ini. Dan karena Dia pula-lah kita yakin, bahwa kita berhak atas kehidupan yang kekal. Semua itu bagi kita dirangkai dalam 3 tonggak: IMAN, HARAPAN dan KASIH, yang secara sederhana, dapat dikalimatkan: karena berIMAN akan Dia kita mempunyai HARAPAN, dan kita bisa hidup dari dan untuk KASIH.
Seluruh hidup seorang Kristiani tidak bisa lepas dari ke-tiga tonggak itu. Dengan kata lain, dalam diri dan hidup seorang Kristiani yang sejati wajib, harus, mewujudkan ke-tiga hal tersebut.
Dalam kehidupan bermasyarakat, identitas seorang Kristiani ditentukan oleh: sejauh mana orang itu dapat menampilkan IMAN, HARAPAN dan KASIH itu, bukan hanya terhadap saudara seiman, namun juga terhadap semua orang. Dengan “berbagi” harapan dan kasih itulah, orang dapat menilai dan mengukur iman kita.
Menjadi pengikut Kristus dan hidup di dalam-Nya, kita dituntut untuk menyalurkan “harapan” dan “kasih” yang telah kita dapatkan dari Dia kepada sesama kita.
Dan ibarat memberikan seteguk air kepada orang yang kehausan di padang pasir, maka sungguh amat berarti bila kita membagikan harapan itu bagi mereka yang sudah tidak lagi berpengharapan, dan membagikan kasih kepada mereka yang tercampakkan.
Tindakan membagikan “harapan” dan “kasih” itu menjadi KEWAJIBAN KITA, dan sebaliknya, dari sisi mereka yang terpingggirkan serta, tercampakkan, “harapan” dan “kasih” itu adalah HAK MEREKA yang bisa mereka tuntut dari kita.

Realita di sekeliling kita
Ingatanku melayang, kembali ke saat setelah mengikuti Misa Malam Natal. Di tengah meresapi siraman rohani tentang lahirnya Yesus, sosok yang menawarkan Harapan dan Kasih, sayup-sayup terdengar olehku suara Ebiet G. Ade:
Istriku, marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti
Lihat anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin pinggiran jalan
Wajahnya kurus pucat, matanya dalam
Tercekat pikiranku seketika, larut dalam bayangan keluarga pengemis yang digambarkan dalam lagu itu. Dalam kelaparan, mereka dihadapkan pada “nasib yang semakin tak pasti”.
Istriku, marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan
Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti Ia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakal
Dan sungguh mengenaskan…., mereka berdoa. Ya, mereka berdoa…… untuk melupakan rasa lapar…
Namun, di sisi lain aku terhentak, karena bagaimanapun, mereka tetap mempunyai iman, mereka meyakini, bahwa Tuhan adalah milik siapa saja, milik mereka juga. Dan mereka yakin, Tuhan pasti akan mendengarkan doa mereka.
Aku merenung, masih sebesar itukah imanku, ketika aku didera penderitaan? Apakah dalam penderitaan yang mendera, aku tidak akan menghojat Allah, menyalahkan Allah?
Larut dalam interospeksi, tidak terasa beberapa saat aku seolah tidak mendengarkan lanjutan dari lagu itu, sampai kemudian aku tersadar kembali ketika mendengar bait selanjutnya:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan
Oh, hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Serasa tertampar jiwaku mendengar dan meresapi kata-kata itu. Coba dengar dan hayatilah doa mereka:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki

Dalam introspeksi, pikiranku menggugat imanku: Sanggupkah aku berdoa seperti itu…?
Dan sampailah aku sampai pada puncak kepedihan jiwa, ketika terdengar kalimat terakhir dari lagu itu:

Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu
Tidak ada lagi kata-kata yang bisa terangkai di pikiranku….., selain mengulang, mengulang, dan mengulang kata-kata: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu…………

Ya, Tuhan, jadikan imanku seteguh iman mereka, sehingga setiap saat jiwa dan pikiranku bisa memohon kepada-Mu: Bimbinglah di jalanMu
Gema meriah Perayaan Natal seketika terganti rasa sesal diri. Aku merasa telah begitu pongah, karena merasa bahwa aku adalah seorang Kristiani, yang berbekal Iman, Harapan dan Kasih.
Adakah imanku dapat dibandingkan dengan iman si pengemis itu?
Terlebih lagi, seolah di hadapankulah si pengemis itu bernyanyi, seolah menggugat aku, bahwa dia, dia dan anak istrinya, berhak atas HARAPAN, dan mereka mendambakan KASIH.

Oh, Yesus, ampunilah aku, karena aku ternyata telah begitu egois, begitu mementingkan diri sendiri. Karena pada saat aku berani mengaku, bahwa aku begitu mencintai Engkau, akupun ternyata telah melupakan kata-kata-MU: “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Refleksi
Hari Natal, hampir selalu identik dengan Perayaan, Pesta, Sukacita. Itu bukanlah sesuatu yang salah. Memang, dalam merayakan peringatan lahirnya Sang Sabda menjadi manusia dalam karya penyelamatan Allah, wajarlah kita bersukacita, berpesta, dan merayakannya dengan meriah. Namun, Perayaan, Pesta dan Sukacita itu, seyogyanya bukanlah hanya sekedar tampilan fisik belaka. Lebih dari itu, seharusnya semua itu meresapi dan menghidupi jiwa kita. Dia telah datang, dan kedatangan-Nya adalah bagi semua orang.
Manakala kita mengaku bahwa kita adalah seorang Kristiani, artinya pada saat yang sama kita juga mengakui kita memiliki Iman, Harapan, dan Kasih. Dan pada saat kita mengatakan bahwa kita mencintai Yesus, seyogyanya kita ingat pula bahwa Dia berada di antara saudara-saudara kita yang paling menderita. Apa yang telah kita lakukan bagi Dia…? Adakah kita telah berbagi Harapan dan

Kasih yang telah kita terima dari Allah sendiri…?
Bial kita memiliki kepedulian, kita bisa dengan mudah melihat dan menemukan, bahwa di sekitar kita, ada begitu banyak orang yang mendambakan Kasih. Dan di sekeliling kita, masih ada begitu banyak orang yang terjebak dalam kondisi yang tidak lagi berpengharapan. Orang-orang cacat, orang-orang yang terbuang, anak-anak yang tidak mampu membayar biaya sekolah……. Mereka berhak atas Harapan dan Kasih.
Bila kita mengakui sebagai pengikut Yesus, seyogyanya pula kita berjalan mengikut jalan-Nya, bukan jalan yang kita buat atas dasar kemauan dan egoisme kita.

Bila kita memang mencintai Dia, tentu kita senantiasa mau mengingat kata-kata-Nya dan rela melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita.
Dan bila kita mengimani, bahwa Dia adalah Jalan, kebenaran dan hidup, tentu kitapun dengan senang hati senantiasa memohon: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu.
Dengan berjalan di jalan-Nya-lah kita bisa  meneladan Dia, dalam berbagi KASIH dan HARAPAN bagi mereka yang “kurang beruntung”.
MEREKA yang juga punya HAK untuk menikmati KASIH dan HARAPAN itu, Dan kita, seberapapun besarnya, berkewajiban untuk membagikan KASIH dan HARAPAN itu kepada mereka.

Apa yang menjadi hak mereka yang ada pada kita…?
Kadang kita besilang pendapat tentang apa yang bisa berikan kepada mereka yang miskin pap, terpinggirkan dan menderita?. Apakah dalam bentuk Materi? Atau perhatian? Atau doa?
Bantuan materi, tidak dapat dipungkiri, akan sangat berarti bagi mereka yang miskin-papa dan terpinggirkan. Perhatian, bisa dalam bentuk senyum, tutur sapa yang manis, sikap yang tidak sok-kuasa dan sok-kaya, bisa menjadikan hati dan perasaan mereka bahagia, dan mengembalikan harkat manusiawi mereka. Dan bagaimana dengan DOA?
Mari kita ikuti ilustrasi berikut ini:

Alkisah ada seorang yang kaya-raya yang tekun berdoa, namun sangat kikir. Suatu ketika dia melihat bahwa di sekitarnya masih banyak orang yang miskin.
Melihat hal itu, malam harinya, dalam doanya dia bertanya kepada Tuhan, begini:
“Tuhan, di sekelilingku masih banyak orang miskin. Bukankah Engkau tahu, bahwa aku selalu berdoa bagi mereka, agar Engkau membebaskan mereka dari kemiskinan? Apakah Engkau tidak berkenan dengan doaku sehingga Engkau tidak mengabulkannya?”.
Dan dalam cerita itu, Tuhan menjawab:
“Anak-Ku, Aku tahu Engkau telah berdoa bagi mereka, dan Aku berkenan dengan doa-doamu itu. Karenanya Aku telah berbuat sesuatu untuk mengabulkan doamu itu.”
Dengan penasaran orang itu bertanya lagi:
“Tapi Tuhan, kenyataannya mereka tetap miskin. Mengapa Engkau berkata telah mengabulkan doaku?”
Dan Tuhan menjawab:
“Aku telah memberikan kepadamu harta yang sangat berlimpah. Aku mau memakai engkau untuk menolong mereka, agar mereka terbebas dari penderitaan. Namun engkau terlalu sibuk dengan permohonan-permohonan, sehingga tidak pernah mendengar perintah-KU untuk menolong mereka dengan harta yang telah Ku-berikan kepadamu. Ketahuilah anak-Ku, ada HAK MEREKA pada harta yang Ku-berikan kepadamu itu.
Aku telah mendengarkan doa dan permohonanmu. Mengapa engkau tidak mendengarkan dan melaksanakan perintah-Ku…?”

Pentup
Dia, Cahaya yang Terang, Terang yang besar itu telah hadir di tengah-tengah kita.
Dia hadir bagi semua manusia.
Dan, orang-orang yang miskin papa, yang terpinggirkan, yang menderita, juga punya hak untuk melihat dan menikmati Terang itu, mereka juga punya hak atas KASIH dan HARAPAN.
Apa yang telah kita lakukan bagi mereka….?
Apakah kita sudah memenuhi kewajiban kita yang menjadi hak mereka…?

Deo omnia gratias,
B.F. Setyawan Sandhy

]]>
http://parokisalibsuci.org/2012/02/02/mereka-juga-berhak-atas/feed/ 0
Bunda Maria,…Ratu Sorga http://parokisalibsuci.org/2011/10/10/bunda-maria-ratu-sorga/ http://parokisalibsuci.org/2011/10/10/bunda-maria-ratu-sorga/#comments Mon, 10 Oct 2011 04:12:23 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=518

Gereja Katolik menghormati Maria sebagai Ratu. Hal ini telah berlangsung selama berabad-abad sejarah Kekristenan : sejak para Bapa gereja (Hieronimus, Agustinus, Efrem) sampai ajaran Konsili Vatikan  II dan Katekismus Gereja Katolik dewasa ini.. Madah “Salam Ya Ratu Surgawi….” Adalah madah yang sangat terkenal di seluruh dunia. Rosario sebagai doa devosi terpopuler di kalangan umat menempatkan Peristiwa Mulia Kelima untuk menghormati martabat keratuan Maria : Maria dimahkotai di surga. Lebih dari itu, ada hari pesta khusus yang didedikasikan untuk merayakan ke-ratu-annya atas surga dan  bumi (22 Agustus). Dan kita bisa saksikan pula aneka lukisan, gambar, patung Maria di seluruh dunia yang tak jarang dengan berhiaskan mahkota.

Banyak yang bertanya-tanya : Apakah hal ini tidak berlebihan? Apakah menempatkan Maria sebagai ratu ada dasar Alkitabiah-nya? Mungkinkah gelar ratu bagi Maria ini akan merongrong martabat rajawi Yesus? Dan yang lebih konyol lagi tak jarang timbul pertanyaan : Bagaimana mungkin ia bunda Yesus sekaligus “istri” raja Yesus? Bagaimana martabat dan peran ke-ratu-an maria ini harus dipahami?

  1. Konsep Bunda Ratu Isreal Purba : banyak istri satu ibu.

Pertama-tama yang harus kita mengerti adalah ada perbedaan menyolok antara konsep modern tentang ratu yang adalah isteri raja. Konsep ini tidak sesuai dengan budaya timur tengah di mana raja mempunyai banyak isteri. Memang ada permaisuri (istri yang utama) namun bukan dalam peran seorang Ratu. (Bayangkan Solomo punya 700 istri!). Kepada siapa martabat ratu diberikan?

Setiap raja mempunyai satu ibu. Memberikan martabat ratu kepada si ibu merupakan langkah bijak dan strategis: Bunda Ratu adalah isteri raja terdahulu – sekaligus ibu raja yang bertahta sekarang. Bunda Ratu adalah simbol martabat rajawi sang raja; yang mengikat dia dengan darah rajawi sang raja. Bunda ratu menjadi jaminan keabsahan kedudukan sang raja dalam dinasti tersebut. Mengenal Maria sebagai ratu adalah tepatnya sebagai ibunda ratu (Ibu Suri). Namun peran dan kedudukan ibunda ratu di dalam Kitab Suci mungkin cukup berbeda dibandingkan dengan konsep ibu suri dalam budaya kerajaan di sekitar kita. Kita lihat peran ibunda ratu dalam kerajaan Daud dan Salomo :

  • Bunda ratu : Ibr. gebirah (nyonya besar) memiliki kedudukan kedua setelah raja.

–     1 dan 2 Kitab Raja-Raja : peran bunda ratu dalam kerajaan daud : hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, selalu disebut pula sang ibunda raja sambil digarisbawahi perannya dalam suksesi itu.

–     Akhir 2Raj ketika Babel menaklukkan Kerajaan Yehuda, ibunda ratu merupakan orang pertama dalam daftar orang-orang yang diserahkan setelah raja Yoyakhin sendiri. Ibunda raja sangat vital perannya.

  • Kekuasaan rajawi ibunda ratu sangat nyata :

–     Ambil bagian dalam pemerintahan rakyat, memiliki singgasana dan mahkota sendiri (Yer 13:18-20)

–     Kisah Batsyeba : bandingkan Batsyeba saat menjadi istri Daud (permaisuri – 1Raj 1:16-17,31) yang harus menyembah raja sampai ke tanah dan memberi hormat jika akan masuk ke kamar Daud suaminya. – dengan ketika ia menjadi ibunda ratu bagi Salomo anaknya 1Raj 2:19-20). Bahkan raja Salomo tunduk menyembah dan menyambutnya – bahkan duduk di sisi kanan raja (tempat terhormat bdk. Mzm 110 : Mesias akan duduk di sisi kanan Allah – Ibr 1:13)

  • Peran Ibunda Ratu : Perantara

Peran ini bisa kita lihat misalnya dalam 1Raj 2:19-20 : Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.” Jawab raja kepadanya: “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.”

  • Peran sebagai pengantara bagi rakyat kepada raja. Dalam teks ini sangat jelas dan sarat makna.
  • Peran ini menjadi gambaran bagaimana Maria sebagai ibunda ratu berperan sebagai pengantara kita: terus menerus berbicara atas nama kita di hadapan tahta Puteranya di Surga.

 

B. Maria:  Bunda ratu yang dinubuatkan (Dasar Biblis Ke-Ratu-an Maria)

Peran dan martabat ratu Maria tanpa dasar biblis? Jika kita mencari teks yang secara langsung, gamblang, cetho melo-melo mencari teks atau ayat yang menuliskan Maria = Ratu, maka kita tidak akan menemukannya. Namun ada banyak teks, yang bahkan sejak Perjanjian Lama, telah tertoreh jejak-jejak martabat keratuan Maria. Mari kita melihatnya beberapa secara singkat :

  • Datangnya Mesias dari seorang perawan keturunan Daud telah dinubuatkan dalam Yes 7:14 “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.

Latar belakang nubuat ini adalah ketika kerajaan Daud  terancam invasi dari dua musuh besar yang berkoalisi untuk menyerang Yerusalem. Raja Ahas merasa takut dan putus asa. Yesaya datang memberikan nubuat bahwa kerajaannya akan bertahan. Nubuat ini di satu pihak menunjuk kepada Hizkia anak raja Ahas yang akan lahir. Sekaligus menunjuk pula ke suatu masa depan yang lain, yaitu kedatangan Mesias.

Nubuat ini mengarah kepada keturunan Daud, berkaitan dengan kelangsungan dinasti Daud – karena itu perempuan muda yang melahirkan seorang putera jelas seorang bunda ratu. Siapakah dia?

  • Bagi jemaat perdana, nubuat ini sangat jelas maknanya jika kita baca berdampingan dengan cerita Injil bahwa “Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud ….. dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.“ (Luk1:26-27.32-33)

Dan tugas rajawi Maria ini semakin mendapatkan pengukuhannya ketika Elisabeth yang dipenuhi Roh Kudus berseru “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk1 :43) Dalam bahasa istana timur tengah kuno, gelar “ibu Tuhanku” adalah sapaan untuk ibunda ratu – sedangkan raja disebut dengan gelar “Tuhanku” (Bdk 2sam 24:21). Elisabeth adalah orang pertama dalam Kitab Suci yang secara eksplisit mengakui jabatan Maria sebagai Bunda ratu!

  • Lebih lanjut kisah biblis tentang keratuan Maria secara simbolis juga tersurat nampak dalam konteks kunjungan tiga Maius  (raja) dari timur (Mat 2:11). Dalam konteks ini bahkan peran Yusuf seolah tidak ada – padahal dalam Mat 1-2 Yusuf sangat menonjol (malaikat temui 3 kali, ke Bethlehem, ke Mesir trus kembali ke Israel.) Dalam konteks itu seolah Matius menunjukkan siapa sesungguhnya Maria : Bunda Ratu bagi Raja Yesus yang baru lahir, yang baru dilantik dalam dinasti Daud bertemu dengan para raja. Peristiwa simbolis ini sangat penting : di saat martabat Yesus sebagai raja diakui pertama kali oleh tiga raja dari timur, Matius menggaris bawahi peran sang bunda ratu di sisi kanan Sang Raja.

 

C. Maria Ratu Surga

Lebih jauh lagi, Yohanes melihat ke-bundaratu-an Maria dari sisi eskatologis. Maria Ratu Surga, sebagaimana dikisahkan dalam Wahyu 12. (Lihat tipologi Maria Hawa Baru). Di sana ditampakkan bahwa Maria Ratu Surga bermahkotakan dua belas bintang. Hal ini menunjukkan martabat rajawi Maria yang melampaui para bunda ratu sebelumnya di kerajaan Israel. Dua belas bintang mengingatkan kita akan dua belas suku Israel sekaligus dua belas rasul yang adalah batu dasar Israel baru yaitu Gereja. Gambaran matahari, bulan, dan bintang yang mengelilingi Maria mengingatkan kita akan mimpi Yusuf (Kej 37:9) . Maria akan menonjol dan dihormati diantara sesamanya, manusia.

  • Sebagai model murid Kristus, Maria sungguh memiliki bagian yang unik, menonjol dalam kerajaan Puteranya. Maria menyerahkan hidupnya sebagai hamba Tuhan yang rendah hati (Luk 1:38, 48 bdk. Yoh 2:3-5; 19:25-27), dan dengan demikian ia ditinggikan (Luk 1:46-55; bdk Why 12:1)
  • Karena itu, martabat Maria sebagai ratu bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan kristiani. Martabat itu bukanlah sekedar kedudukan menonjol di surga yang harus kita kagumi dari jauh, melainkan justru Martabat Maria sebagai ratu berfungsi sebagai ikon, suatu tanda eskatologis, dari panggilan semua orang kristiani: ambil bagian dalam kemenangan mulia Kristus atas dosa dan kematian (LG 68; KGK 972)

D. MARIA DIANGKAT KE SURGA? MARIA MENJADI RATU SURGA ? SO WHAT GITU LOH?

Maria adalah ratu surga. Lalu apa kaitannya dengan kita? Apa gunanya bagi kita? Bukankah itu hanya untuk mengagung-agungkan Maria secara berlebihan tanpa ada kaitannya dengan kita para pendosa di dunia? Dia sudah jaya – kita masih menderita. Kalau Maria adalah ratu, so what gitu loh?

Pesimisme seperti ini mesti dijelaskan secara agak luas, yaitu dalam kaitan dengan dua privilege yang dimiliki Maria : Maria Dikandung Tanpa Noda dan Maria Diangkat ke Surga.

Harus diakui bahwa tempat Maria dalam sejarah keselamatan  adalah istimewa dan unik. Allah memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria karena ia harus mengandung Putera Allah. Hubungan antara anak dan ibu dalam kandungan sangat dekat – tak terpisahkan bahkan. Dan hal yang sama terjadi antara Yesus dan Maria. Maka sungguh masuk akal bahwa Allah menyediakan tempat/rahim yang suci tak ternoda oleh dosa asal maupun pribadi – karena Allah tidak bisa bersatu dengan dosa. Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa maka selanjutnya,  setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Menurut Paus Pius XII, Maria diangkat ke surga adalah konsekuensi dari ia dikandung tanpa noda: “dua previlege yang luar biasa ini diangugerahkan kepada Bunda Allah yang berada dalam cahaya cemerlang pada awal dan akhir hidupnya di dunia. Karena kemuliaan tubuhnya yang tetap perawan merupakan pelengkap sekaligus pantas serta mengagumkan, bagi kemurnian jiwanya yang bebas dari segala dosa… Ia mengambil bagian dalam kemuliaan kemenangan Kristus atas dosa dan akibat-akibat dosa yang menyedihkan”.

Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesusnaik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Pengangkatan Maria ke surga sebagai pemenuhan janji Allah dalam kisah proto evangelium (Kabar Baik Pertama : Kej 3:15) bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (Rm 5-6, 1Kor 15:21-26;54-57).

Siapa manusia yang paling ikut menderita saat Yesus disiksa, disalib hingga wafat di kayu salib? Tak pelak lagi, jawaban jujur harus diberikan, yaitu Maria IbuNya! Karenanya, Maria layak menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna sehingga Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.

Dalam Maria janji Tuhan akan kebangkitan badan dipenuhi: kebangkitan jiwa dan badan para orang beriman pada akhir zaman. Oleh karena peran dan ketaatan-nya yang istimewa sebagai Ibu Tuhan dan hamba Allah, Bunda Maria diangkat ke surga, sebagai yang pertama dari anggota Gereja yang menerima janji itu sebagai teladan semua orang yang percaya kepada-Nya dan yang hidup melakukan kehendak-Nya (lih. Mrk 3:35).

Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surge dan menjadi Ibunda Ratu di surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Pengangkatan Maria ke surga menjadikan peran kepengantaraan Maria terhadap segenap manusia menjadi efektif karena sebagai bunda ratu yang berkuasa sebagaimana Yesus di sana sebagai Anak Allah yang berkuasa (Rm 1:4).

 

E. Kepengantaraan Maria : Bukan Bersaing dengan Kristus!

Pengantaraan Maria bersifat partisipasi. Kepengantaraan Kristus tidak menggusur dan tidak bersaing dengan kepengantaraan Maria melainkan meneguhkannya. Bukan sebagai pengantaraan yang lepas dan berbeda dengan Kristus melainkan karena mengambil bagian dan merupakan perpanjangan kepengantaraan Kristus. Karena Maria sendiri juga ditebus oleh Kristus secara istimewa.

Partisipasi atau ambil bagian ini bukan berarti bersaing, melainkan bahkan merupakan suatu keharusan bagi kaum beriman. Melalui  iman dan pembabtisan, Keputraan Ilahi kita : partisipasi keputraan Yesus – dan imamat rajawi kita adalah  partisipasi imamat Agung Kristus. Yesus sendiri yang meng”encourage” kita semua bahkan untuk berpartisipasi dalam diriNya dengan mengatakan : “tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu, sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal dalam Aku” (Yoh 15:4). Tinggal dalam Yesus bukan tenang, nyaman, santai, damai saja melainkan juga harus berbuah. Berpartisipasi memberikan buah kepada orang lain! Dan rasul Paulus juga mengatakan bahwa semua orang Kristiani adalah duta-duta bagi Kristus, artinya pengantara bagi sesama manusia untuk menemukan Kristus (bdk 1Kor 5:18-20). Dalam Perjanjian Lama, Allah menggunakan para bapa bangsa dan para nabi sebagai perantaraNya. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah menggunakan para malaikat untuk menjadi perantara pesan-pesan dan rahmatNya.

Justru penolakan terhadap pengantaraan Maria adalah karena orang salah memahami hakekat, kekuatan dan kedalaman kepengantaraan Kristus. Allah tidak bersaing dengan Maria (kita), seolah Ia dihormati hanya kalau kita (manusia) tidak dihormati. Menghormati Maria sebagai Bunda Ratu tidak merampas sesuatu pun dari Kristus – sebaliknya justru berarti menekankan bahwa Maria sepenuhnya tunduk di bawah Kristus, sebagaimana jabatan bunda ratu sepenuhnya tergantung pada martabat rajawi puteranya. Peran Maria sebagai ibu umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi kepengantaraan unik Kristus, melainkan justru menunjukkan kekuatannya (Lumen Gentium 60 bdk. Katekismus Gereja Katolik 970)

KV II mengajarkan bahwa setelah Maria diangkat ke surga, “ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka pengantaraannya ia terus menerus memperoleh bagi kita kurnia-kurnia yang mengantar kita kepada keselamatan kekal” (LG 62)

Jika orang memohon agar Bunda Maria mendoakan mereka, bukan Bunda Maria yang mengabulkan doa, melainkan Allah; namun Gereja Katolik percaya, karena kedekatan Bunda Maria dengan Yesus, maka dalam proses doa tersebut, Bunda Maria dapat membimbing umat kepada Yesus, dan jika Yesus berkenan, maka Ia akan mengabulkan doa seseorang yang dipanjatkan bersama dengan doa Ibu-Nya sendiri.

Jika seorang menolak untuk berdoa bersama Bunda Maria, tentu saja tidak menjadi masalah, sebab Tuhan Yesus tentu tetap dapat mengabulkan doa orang tersebut, terutama yang dinaikkan dengan ketulusan hati. Walaupun tentu saja, secara objektif dapat dikatakan, orang tersebut tidak mempergunakan cara yang sesungguhnya ditawarkan oleh Gereja demi kebaikan orang itu sendiri. Ibaratnya, Bunda Maria adalah ‘pemberian’ Yesus kepada kita, untuk kita jadikan sebagai Ibu rohani kita (Yoh 19:27), dan memang terserah pada kita akankah kita menerimanya dalam rumah hati kita atau tidak.

 

Awal Bulan Rosario 2011

O Maria, sinelabe originali concept. Intercede pro nobis, qui ad te confugimus

FX. Sutjiharto ([email protected])

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/10/10/bunda-maria-ratu-sorga/feed/ 1
SPIRITUALITAS & LITURGI TRI HARI SUCI http://parokisalibsuci.org/2011/04/25/spiritualitas-liturgi-tri-hari-suci/ http://parokisalibsuci.org/2011/04/25/spiritualitas-liturgi-tri-hari-suci/#comments Mon, 25 Apr 2011 08:25:13 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=411

  • Gereja merayakan misteri terbesar penebusan manusia setiap tahun pada trihari yang berlangsung dari : Misa Perjamuan Malam Terakhir pada Kamis Putih sampai dengan ibadat sore Minggu Paskah. Disebut “Trihari Paskah”, karena di dalamnya dipentaskan dan diwujudkan misteri Paskah, artinya, peralihan Tuhan dari dunia ini kepada Bapa (bdk FPPC. 37)
  • Pada kedua pertama hari-hari ini (Jumat Agung dan Sabtu Paskah) adalah puasa suci; Gereja berpuasa, menurut tradisi kuno, “karena mempelainya diambil  daripadanya’ . Sehingga Gereja dengan hati gembira dan terbuka mencapai sukacita Kebangkitan Tuhan (bdk FPPC. 39)
  • (bdk FPPC. Art 42) Nyanyian-nyanyian (Umat, imam dan petugas lainnya) dalam perayaan Pekan Suci, khususnya Trihari Suci, amat bermakna antara lain :

–     Doa permohonan pada Jumat Agung; eventual juga seruan diakon dan jawaban umat;

–     Nyanyian pengangkatan dan penghormatan salib;

–     Aklamasi prosesi Jilin Paskah dan Madah Paskah, aleluya sesudah bacaan, litani dan aklamasi pemberkatan air baptis.

–     Nyanyian pada pemberkatan dan prosesi Palma dan masuk ke gereja;

–     Nyanyian prosesi dengan minyak-minyak suci;

–     Nyanyian prosesi persembahan dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih dan Madah untuk pemindahan Sakramen Mahakudus;

–     Tanggapan atas mazmur tanggapan dalam perayaan Malam Paskah dan nyanyian untuk pemercikan air suci.

–     Pantaslah juga Kisah Sengsara,

–     Madah Paskah

–     pemberkatan air baptis disertai lagu yang mempermudah menyanyikan teks-teks itu.

  • Teks liturgi nyanyian umat janganlah mudah diabaikan. Dalam pada itu hendaknya selalu ada kesempatan partisipasi umat.
  • Demikian pula di mana kurang peserta, putra altar atau penyanyi, perayaan Trihari Suci jangan diadakan, dan kaum beriman hendaknya bergabung pada jemaat lebih besar.

A. KAMIS PUTIH

  • Liturgi pada Kamis Putih terbagi dua :

–     Liturgi Pagi Hari : Misa Krisma

–     Liturgi Malam Hari : Perjamuan Malam terakhir Yesus (Penetapan Ekaristi, Imamat Perjanjian Baru dan Pembasuhan kaki)

 

1. LITURGI PAGI HARI : MISA KRISMA

  • Pada Kamis Putih pagi tidak ada misa pagi di gereja-gereja Paroki. Satu-satunya misa diadakan di Katedral keuskupan oleh uskup bersama para imam sekeuskupannya.
  • Dalam Misa Konselebrasi ini uskup memberkati minyak suci, oleh karena itu disebut Misa Krisma
  • Dalam misa ini ditampakkan dengan jelas kesatuan imam dan uskup dalam satu imamat Kristus – karenanya sedapat mungkin semua imam mengambil bagian dalam misa ini dan menerima komuni dalam dua rupa.
  • Dalam misa ini para imam membaharui janji imamat mereka.
  • Kaum beriman juga diundang untuk hadir dalam Misa ini dan menyambut Ekaristi.
  • Karena alasan tertentu, Misa krisma bisa diajukan pada hari lain, yang harus dekat dengan Paskah. Namun minyak Krisma dan katekumen yang akan dipakai pada Malam Paskah haruslah dipakai dari Misa Krisma tersebut (bdk FPPC 35)
  • Misa Krisma dirayakan hanya satu kali karena maknanya bagi kehidupan keuskupan; harus di katedral (atau karena alasan pastoral bisa di gereja lain yang penting) – bdk FPPC 36
  • Ada tiga macam minyak suci yang diberkati pada hari kamis Putih itu :

 

a. Minyak Krisma :

  • secara liturgis mempunyai derajat paling tinggi sebab melambangkan pengurapan RK. Dahulu disimpan dengan lampu bernyala di depannya. Daya lambang krisma terletak pada baunya yang harum mewangi sebagai lambang RK yang memenuhi segala sesuatu
  • Bahan baku : balsam halus dan mahal dicampur dengan zaitun. Dengan minyak ini, orang Kristen diurapi menjadi “imamat yang rajawi” (1Prt 2:9).
  • Minyak Krisma dipakai : pengurapan setelah baptis, sakramen Krisma (penguatan), pengurapan pentahbisan Uskup, pemberkatan Gereja, Altar, Lonceng gereja dan Piala Misa.

 

b. Minyak Orang sakit  :

  • Sebagai makna simbolik pengurapan sebagai pengobatan

c. Minyak Katekumen :

  • Dipakai untuk pengurapan sebelum permandian, pengurapan tangan imam yang baru ditahbiskan dan utuk pemberkatan air baptis, gedung gereja dan altar.
  • Makna simbolisnya berasal dari duania atletik dimana otot para atlet digosok dengan minyak agar lincah dan kuat

 

2. LITURGI MALAM HARI : Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih

  • Dengan Misa petang Kamis Putih “Gereja mengawali Trihari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dikhianati, karena cinta akan orang-orangnya yang di dunia, la mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga mempersembahkannya sebagai kurban“ (bdk FPPC. 44)
  • Perhatian sepenuhnya harus diberikan kepada misteri-misteri yang peringatannya dirayakan dalam Misa ini:

–     Pengadaan Ekaristi dan Imamat

–     Serta perintah kasih persaudaraan

  • Itulah yang juga harus menjadi bahan homili hari ini.
  • Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan petang hari, pada waktu yang paling sesuai untuk partisipasi seluruh jemaat. Semua imam dapat berkonselebrasi dalam Misa petang. (bdk FPPC. 46)
  • Bila dituntut keadaan pastoral, Ordinaris wilayah dapat memperkenankan Misa petang kedua di gereja-gereja dan kapel-kapel umum. Bagi kaum beriman yang tak dapat mengambil bagian dalam Misa petang, ia dapat, bila perlu, memperkenankan Misa juga pagi hari.
  • Misa demikian itu tak pernah boleh diperkenankan untuk orang perorangan atau kelompok-kelompok kecil atau mempengaruhi partisipasi Misa utama petang hari.
  • Menurut tradisi kuno Gereja pada hari ini semua Misa tanpa jemaat dilarang. (bdk FPPC 47)
  • Saat “Gloria” dinyanyikan, lonceng-lonceng dibunyikan, bila lazim, dan setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah. Selama waktu itu juga orgel dan alat musik lain hanya boleh dipakai untuk mendukung nyanyian. (bdk FPPC 50)
  • Bacaan pertama diambil dari salah satu teks tertua mengenai Ekaristi, yaitu 1 Kor 11:20-32; sedangkan bacaan Injil dari Injil Yohanes tentang Yesus membasuh kaki para muridNya
  • Setelah Injil dibacakan, perintah Yesus “maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” langsung diperagakan dalam liturgi: imam membasuh kaki 12 pria-pria yang terpilih; maksudnya ialah untuk menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang, “tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Kebiasan ini hendaknya dipertahankan dan maksudnya diterangkan kepada kaum beriman. (bdk FPPC 51)
  • Jika Doa Syukur Agung I yang dipakai (kanon Romawi) maka setelah kata-kata “pada hari sebelum Ia menderita ….” disisipkan kata-kata berikut : “yaitu pada hari ini”. Ungkapan ini dimaksudkan untuk mencegah pikiran melayang ke masa lampau (peristiwa yang telah lalu) sebab perbuatan penyelamatan yang kita rayakan dalam liturgi itu hadir sekarang ini !
  • Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali . Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini. Jumlah hosti yang harus dikonsekrir harus cukup juga untuk komuni pada Jumat Agung (bdk FPPC 48)
  • Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus dipersiapkan kapel dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi; dianjurkan suatu kesederhanaan yang sesuai dengan hari-hari ini, sedangkan semua penyelewengan harus dihindari. Bila tabernakel berada dalam kapel tersendiri yang terpisah dari ruang utama gereja, dianjurkan menyediakan tempat penyimpanan dan penyembahan di situ. (bdk FPPC 49)
  • Amat layaklah pada hari ini para diakon, akolit atau pembantu komuni menyambut komuni langsung dari altar, pada saat komuni, untuk kemudian membawanya kepada orang sakit, agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan (bdk FPPC 53).
  • Setelah doa penutup diadakan prosesi. Sakramen Mahakudus dibawa ke tempat penyimpanan; pembawa salib terdepan, diikuti pembawa Jilin dan dupa; Madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilaksanakan, bila keesokan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan perayaan Sengsara dan Wafat Kristus (bdk FPPC 54).
  • Imam membawa hosti dalam sibori dengan memakai kain bernama VELUM (har = layar, kk = menutupi/menudungi). VELUM adalah simbol penghormatan dan rasa respek yg besar… yg dalam hal ini ditujukkan kepada Sakramen Mahakudus.
  • Karena rasa hormat maka Sakramen Mahakudus tidak dipegang langsung dengan tangan melainkan dengan cara mengalas tangan dengan VELUM.
  • Sikap pada saat ada Sakramen Maha Kudus ditahtakan (Eksposition),  biasanya berlutut dengan kedua kaki sebagai ungkapan sikap menyembah. Tradisi ini berdasar tradisi sejak Perjanjian Lama, di mana setiap kali Allah menampakkan DiriNya, entah dalam rupa tiang awan, Api yang bernyala, gulungan awan di gunung Sinai, dsb, bangsa Israel terbiasa untuk berlutut dengan mukanya sampai ke tanah (bdk …). Bahkan dulu ada pandangan di kalangan orang Israel bahwa memandang ‘wajah Allah’ adalah hal yang terlarang dan tidak pantas, bahkan bisa menyebabkan kematian (bdk ….)
  • Kita melakukannya dengan kedua kaki berlutut/bertelut di hadapan Sakramen Mahakudus yang menjadi tanda kehadiran Allah secara nyata dan berhadapan langsung dengan kita(secara kasat mata). Itulah kiranya sikap badan kita yang sepantasnya; karena berlutut itu juga berarti tanda menyerah, mengakui kekerdilan kita dan kelemahan kita di hadapan Allah, juga sekaligus ungkapan kita yang mengharapkan kemurahan belaskasih Allah yang hadir secara kelihatan bagi umatNya.
  • Sikap ini bisa kita bandingkan secara sederhana dengan sikap kita sendiri terhadap atasan atau pimpinan atau orang yang lebih tinggi dari kita. Kadang tanpa sadar, dalam pembicaraan lewat telpon pun kita membungkuk-bungkukkan diri sebagai sikap hormat.
  • Bukankah terhadap Tuhan junjungan kita kita lebih sepatutnya lagi merendahkan diri lewat sikap dan bahasa tubuh yang sepantasnya??
  • Setelah Misa altar ditutupi. Salib-salib bila mungkin diselubungi dengan kain merah atau ungu, bila tidak sudah terjadi Sabtu sebelum Minggu Prapaskah ke 5. Di depan gambar para Kudus tak boleh dinyalakan Jilin. (bdk FPPC. 57)
  • Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup. Pentakhtaan dengan monstrans tak diperkenankan. (bdk FPPC 55).
  • Tempat penyimpanan tak boleh berbentuk “makam suci”; hendaknya juga dihindari ungkapan “makam suci”; tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni pada Jumat Agung.
  • Kaum beriman hendaknya diajak untuk setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Dalam pada itu dapat dibacakan sebagian dari Injil Yohanes (bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari Sengsara Tuhan sudah mulai (bdk FPPC. 56).
  • Saat ini adalah saat pergumulan Yesus di taman zaitun. “tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan aku?” (Mat 26:40). Jadi inti tuguran adalah berjaga-jaga denganNya.

 

B. JUMAT AGUNG

  • Pada hari ini, waktu Kristus, domba kurban kita dikurbankan. Saat ini, Gereja merenungkan sengsara Tuhan dan Mempelainya dan menyembah Salib-Nya; dalam pada itu ia merenungkan asal-usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia. (bdk FPPC 58)
  • Menurut tradisi kuno pada hari ini Gereja tidak merayakan Ekaristi; komuni suci dibagikan kepada kaum beriman hanya selama perayaan Sengsara dan Wafat Kristus, tetapi mereka yang sakit yang tak dapat mengikuti perayaan ini, dapat menerimanya pada setiap saat. (bdk FPPC 59)
  • Jumat Agung ini seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang wajib (bdk FPPC. 60). Perayaan sakramen-sakramen pada hari ini juga dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan orang sakit. Pemakaman diadakan tanpa nyanyian, orgel dan lonceng. (bdk FPPC. 61).
  • Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan siang menjelang jam 15.00. Karena alasan pastoral dapat ditentukan waktu lain, yang memudahkan umat berkumpul, misalnya langsung setelah siang atau petang, tetapi tidak sesudah jam 21 .00. (bdk FPPC 63).
  • Tata perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yang berasal dari tradisi kuno Gereja, (yakni: ibadat Sabda, penghormatan salib, perayaan komuni) harus diadakan dengan tepat dan setia, dan tak boleh diubah sesukanya (bdk FPPC 64)
  • Liturgi Jumat Agung :
    1. Perarakan masuk– hening – di depan altar imam tiarap – umat berlutut : doa dalam keheningan
    2. Doa kolekta (pembuka)
    3. Liturgi Sabda – Kisah Sengsara Tuhan Yesus
    4. Doa umat meriah
    5. Perarakan Salib sambil membuka selubung salib – Penyembahan Salib
    6. Bapa kami – komuni
    7. Doa post-komuni
    8. Berkat meriah

 

1. Perarakan Masuk hingga Oratio Collecta

  • Imam dan asistennya pergi dengan diam ke altar, tanpa nyanyian. Bila perlu diadakan pengantar, yang diadakan sebelum imam masuk.
  • Imam dan asistennya tunduk di depan altar dan menelungkupkan diri. Ritus ini khas bagi Jumat Agung dan hendaknya dipertahankan, baik karena sikap rendah hati pantas bagi manusia”, maupun mengungkapkan kedukaan Gereja.
  • Kaum beriman berdiri selama masuknya imam dan setelahnya berlutut dan hening sejenak dalam doa. (bdk FPPC 65)
  • Hari Jumat Agung bukan hari biasa melainkan hari dimana kita mengenangkan : Kemanusiaan Yesus yang dihancurkan total nya oleh dosa dan kelemahan kita.
  • Dengan berdoa hening sambil bertiarap, Imam mengungkapkan kehadiran Kristus yang “nothing”, bahkan ‘tak ada rupa padaNya’. Dan dalam doa itu sikap Imam yang biasanya sebagai pemimpin agung dalam Ekaristi juga perlu menghadirkan dirinya sebagai ‘nothing’, supaya lebih membantu menghadirkan gambar wajah Allah yang tersalib dan wafat dalam kesengsaraan Yesus di salib.

2. Liturgi Sabda

  • (bdk FPPC 66) Bacaan yang tersedia harus dibacakan lengkap:

–     Bacaan I : Yesaya Madah tentang Hamba Allah yang menderita  “Ia ditikam karena kedurhakaan kita” (Yes 53:5)

–      Bacaan II : Surat Ibrani 4:14-16; 5:7-9 “Yesus yang tetap taat dan menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua orang yang patuh kepada-Nya”

–     Kisah Sengsara menurut Yohanes dinyanyikan atau dibacakan seperti pada Minggu Palma (bdk FPPC.no.33).

  • Setelah Kisah Sengsara ada homili yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak.
  • Catt : Passio pada Hari Jumat Agung (juga Minggu Palma), tidak boleh diganti dengan peragaan, dramatisasi, dll. Passio adalah Sabda Tuhan, dan untuk Hari Jumat diambil dari Injil Yohanes, maka kalau didramakan, tidak ada bedanya itu drama Injil Yohanes atau Injil Sinoptik lain.

 

3. Doa Umat Meriah

  • (bdk FPPC 67) Doa permohonan hendaknya dilaksanakan menurut teks dan bentuk yang berasal dari tradisi kuno dengan segala intensi, karena mengacu kepada daya universal sengsara Kristus, yang tergantung pada kayu salib untuk keselamatan seluruh dunia.
  • Doa Umat Meriah ini telah dikenal sejak jaman Yustinus Martir (tahun 165).

 

4. Perarakan dan Penyembahan Salib

  • Untuk pengangkatan salib hendaknya cukup besar dan indah. Ritus ini hendaknya dibawakan dengan meriah, sesuai dengan misteri penebusan kita: baik seruan pada pengangkatan salib maupun jawaban umat harus dinyanyikan, dan keheningan penuh hormat setelah ketiga kali berlutut jangan diabaikan, sementara imam sambil berdiri menjunjung salib. (bdk FPPC 68).
  • Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untuk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yang amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan (bdk FPPC 69)
  • Hanya SATU salib disediakan untuk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yang mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat juga diambil nyanyian lain yang sesuai (bdk FPPC 69)
  • (bdk FPPC. FB. SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA)
  • Perarakan Salib yang diselubungi kain menuju panti imam, dan selama perarakan itu imam / pemimpin upacara menyerukan aklamasi tiga kali : “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia”. Umat menjawab dengan aklamasi : “Mari kita bersembah sujud kepadaNya”, kain selubung salib dibuka sedikit demi sedikit.
  • Dalam Ekaristi bahan persembahan roti dan anggur dibawa ke meja Altar dan disiapkan. Pembukaan kain selubung salib memberi makna perubahan sebagaimana konsenkrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara substansial.
  • Salib yang dalam perarakan memang bukan substasi Kristus, namun memberi simbolisasi nyata dan sempurna dari apa yang ditandakan : Salib menandakan sengsara Kristus, sebagaimana pengorbanan dan sengsara Kristus dihadirkan dalam tanda roti dan anggur menjadi Tubuh Dan Darah Kristus, tetapi dalam Ekaristi lebih menunjukkan substasi sengsara dan kebangkitan.
  • Dan akhirnya ketika kain selubung selesai dibuka, salib diangkat dan ditunjukkan, kita memandang salib tempat bergantung Yesus penyelamat dunia, tubuhNya berlumuran darah, “Inilah TubuhKu …. inilah darahKu” (seraya kita memeditasikan kembali kisah sengsara Kristus).
  • Inilah makna salib dalam upacara Jumat Agung, dan analogi sederhana dengan Ekaristi.
  • Lalu bagaimana cara dan sikap kita untuk memberi penghormatan (menyembah) salib ini? Analoginya dalam Ekaristi adalah saat anamnese. Imam menyerukan Mysterium fidei : “Marilah menyatakan misteri iman kita”. Umat menjawab dengan seruan “wafat Kristus kita maklumkan… (mortem tuam)”
  • Dalam penghormatan salib, lagu yang dinyanyikan dalam tradisi Gereja adalah Crucem tuam… yang mengingatkan kita saat kita memberi penghormatan di setiap perhentian Jalan Salib : “Kami menyembah Dikau, ya Tuhan dan bersyukur kepadaMu! Sebab dengan salibMu yang suci Engkau telah menebus dunia”.
  • Dengan menghormati dan menyembah salib Kristus, kita mengungkapkan iman kita dalam tanda penebusan dan penyelamatan; sebagaimana Gereja berdoa dan mempersembahkan kepada Bapa surgawi Tubuh dan Darah PuteraNya seraya memohon anugerah Roh Kudus dalam iman dan pengharapan (doa epiklesis).
  • Lagu “Improperia” dinyanyikan (har: celaan – karena dalam lagu itu Tuhan mencela umatNya yang tak tahu terima kasih): hai umatKu apa salah-Ku padamu? Jawablah Aku : kapan kau kusakiti? …………….
  • Nada teks itu begitu pribadi sehingga tiada taranya di seluruh liturgi Romawi.
  • Jadi penghormatan Salib mengungkapan iman, cinta dan pengharapan kita kepada Yesus Kristus; bukan sekedar kenangan bahwa Yesus sudah wafat di salib. Tindakan cinta dengan penuh iman dan pengharapan ini diungkapkan dengan cara mencium atau memberi kecupan pada salib Kristus, sebagaimana kecupan kasih sayang orang tua kepada anaknya atau kecupan cinta suami-istri.
  • Dengan analogi ini (penghormatan salib dan Ekaristi), bagaimana sikap dan cara kita menghormati salib, sama dengan sikap hormat kita saat Doa syukur Agung dalam Ekaristi.

 

5. Bapa Kami – Komuni

  • Selanjutnya, Imam menyanyikan pengantar doa Bapa Kami, yang kemudian dinyanyikan oleh semua. Salam damai tak dipakai. Komuni dilaksanakan seperti diatur dalam Buku Misa. Sementara komuni dibagikan, dapat dinyanyikan mazmur 22 (21) atau nyanyian lain yang sesuai. Setelah pembagian komuni, bejana dengan hosti yang lebih dibawa ke tempat yang disediakan di luar gereja (bdk FPPC 70)
  • Setelah perayaan altar dilucuti, tetapi salib dan keempat kandelar dibiarkan. Dalam gereja dapat disediakan tempat bagi salib (misalnya di kapel, di mana pada hari Kamis Putih Sakramen Mahakudus disimpan), di mana kaum beriman menghormatinya dan mengucupnya dan meluangkan waktu untuk merenung. (bdk FPPC. 71).
  • Kegiatan devosi, misalnya Jalan Salib, prosesi sengsara atau kebaktian terhadap Santa Perawan Maria yang berduka, janganlah diabaikan karena alasan pastoral, tetapi teks dan nyanyiannya hendaknya sesuai dengan liturgi. Waktu untuk kebaktian itu hendaknya ditetapkan sedemikian rupa, sehingga tak mengganggu ibadat utama, sehingga menjadi jelas bahwa perayaan liturgi jauh lebih penting daripada kebaktian itu (bdk FPPC 72)
  • PERAYAAN Jumat Agung merupakan perayaan KESEDIHAN dan KEHILANGAN yg mendalam. Gereja BERDUKA (bdk FPPC. FPPC 65) dan diajak merenungkan SENGSARA Tuhan (Lih. Missale Romanum). Namun perlu ditegaskan juga bahwa  hari Jumat Agung  bagi kita merupakan hari kontemplasi penuh cinta akan Kristus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan manusia.
  • Itu diwujudkan dgn: masuk/keluar imam TIDAK diiringi dgn nyanyian (Lih. FPPC 65); altar dibersihkan/dilucuti (lih. FPPC 71); patung dan salib [masih] diselubungi kain (Lih. FPPC 26) berwarna ungu atau merah (FPPC 57). Kecuali itu, pantang dan puasa diwajibkan pada hari ini (FPPC 60). Banyak bagian dalam upacara ini wajib diselingi/diakhiri dgn keheningan penuh hormat (FPPC 65, 66, 68). JIWA dari PERAYAAN Jumat Agung adalah KONTEMPLASI bukan KEMERIAHAN.

 

C. SABTU PASKAH

  • Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan Penderitaan, Wafat dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa. Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (bdk FPPC.no.40). Di mana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini. (bdk FPPC. 73).
  • Sejak abad II, hari Sabtu Paskah merupakan hari pantang dan puasa yang keras, tanpa Ekaristi. Namun lama kelamaan mengalami kekaburan.
  • Tahun 1955 Paus Pius XII menyatakan hari sabtu suci merupakan hari “sepi / nyepi” merenungkan misteri Yesus yang kini berada di dalam makam; umat sekalian diajak berkumpul untuk merayakan ibadat harian.
  • Pada hari ini Gereja tak merayakan Kurban Misa . Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci. Perayaan sakramen perkawinan dan sakramen-sakramen lain, kecuali sakramen tobat dan orang sakit, tak boleh diberikan. (bdk FPPC. 75)
  • Gambar Kristus – pada salib, beristirahat di makam atau turun ke alam maut – yang menjelaskan misteri Sabtu Paskah, atau juga gambar Bunda berduka, dapat dipasang dalam Gereja untuk dihormati kaum beriman (bdk FPPC. 74)
  • Kaum beriman harus diajar tentang ciri Sabtu Paskah. Kebiasaan yang terkait dengan hari ini, karena dahulu waktu perayaan Paskah dimajukan, harus dikhususkan bagi malam Paskah dan Minggu Paskah. (bdk FPPC. 76)

 

D. Hari Raya Kebangkitan Tuhan

1. Perayaan Malam Paskah

  • Malam Paskah menurut tradisi kuno adalah “malam tirakatan(vigili) bagi Tuhan” ; tirakatan yang diadakan mengenang malam kudus Tuhan bangkit dan karena itu dipandang sebagai “induk semua tirakatan”. Di malam ini Gereja menantikan, dalam doa, Kebangkitan Tuhan dan merayakannya dengan sakramen baptis, krisma dan ekaristi. (bdk FPPC 77)
  • Malam Paskah adalah malam paling suci, sepanjang tahun liturgi tidak ada malam lebih suci dibandingkan malam Paskah
  • Malam Paskah berarti malam menjelang Hari Raya Paskah, tepatnya malam Minggu.
  • Malam Paskah disebut juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Oleh karena itu, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.
  • Sesuai dengan penghayatan iman kristiani, maka peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah. Pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.

i.Malam Paskah sebagai Perayaan Malam

  • Seluruh perayaan Malam Paskah dilaksanakan waktu malam: tak boleh diadakan sebelum gelap atau berakhir setelah fajar Minggu‘. Peraturan ini harus ditepati secara ketat. Penyelewengan dan kebiasaan yang terjadi di sana-sini, yakni merayakan Malam Paskah pada waktu biasanya diadakan Misa Sabtu sore, tak dibenarkan. (bdk FPPC. 78)
  • Malam Pesta Paskah yang dijalani orang-orang Ibrani dalam menantikan peralihan Tuhan yang membebaskan mereka dari perbudakan firaun, dijadikan kenangan tahunan akan peristiwa ini  adalah gambar yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati: “Kristus mematahkan rantai kematian dan naik dari alam maul sebagai pemenang‘(bdk FPPC. 79)
  • Sejak semula Gereja menjalani Paskah tahunan, hari raya tertinggi, dalam perayaan malam. Karena Kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita dan harapan kita; oleh baptis dan krisma kita dimasukkan ke dalam misteri Paskah: mati bersama Dia, dimakamkan bersama Dia, dibangkitkan bersama Dia dan akan berkuasa bersama Dia juga. Tirakatan ini juga ditujukan kepada penantian kedatangan Tuhan kembali (bdk FPPC 80).

 

ii.Struktur Perayaan Malam Paskah dan Maknanya

  • (bdk FPPC 81) Malam Paskah mempunyai struktur sebagai berikut:

–     Bagian 1 : Perayaan cahaya pendek dan madah Paskah

–     Bagian 2 : Liturgi Sabda :  Gereja Kudus merenungkan karya agung yang dilaksanakan Allah Tuhan pada umat­Nya sejak semula,

–     Bagian 3 : Liturgi Babtis : sampai ia bersama anggota-anggota baru yang dilahirkan kembali dalam baptis

–     Bagian 4 : Liturgi Ekaristi : dan diundang Tuhan ke meja yang disediakan-Nya bagi umat-Nya, sebagai kenangan akan wafat dan Kebangkitan-Nya, sampai ia datang kembali

  • Urutan tata perayaan ini tak boleh diubah atas kuasa sendiri.

 

a. Bagian I : Upacara Cahaya dan Madah Paskah

  • Perayaan di mulai ketika Gereja telah menjadi Gelap, tanpa cahaya lampu / lilin. Suasana gelap ini mensimbolkan keadaan manusia, sebelum kebangkitan Kristus, yang ada dalam kegelapan dosa
  • Dalam upacara cahaya, imam memberkati Api Baru di luar Gereja di depan pintu gerbang utama, menandai Lilin Paskah dengan tanda salib angka tahun yang bersangkutan, menancapkan 5 biji dupa simbol luka-luka Kristus, melingkari dua abjad Yunani yakni Alpha dan Omega (Awal dan Akhir).
  • Lilin Paskah harus sungguh lilin (dari malam) dan setiap tahun lilin baru; hanya boleh dipakai satu Lilin Paskah, cukup besar tetapi tak pernah boleh buatan, agar dapat menjadi tanda bagi Kristus, yang adalah cahaya dunia. (bdk FPPC 82)
  • Dari lilin Paskah cahaya dibagikan kepada lilin-lilin yang dibawa semua, sementara cahaya listrik masih belum dinyalakan. (bdk FPPC 83) kita turut ambil bagian dalam Terang Kristus.
  • Dengan prosesi umat memasuki gereja dan diterangi hanya oleh cahaya lilin Paskah. Seperti putra-putra Israel di malam dibimbing oleh tiang api, demikian pula orang-orang kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus dalam kebangkitan-Nya.
  • Diakon membawa Lilin Paskah tersebut (jika tidak ada diakon, berarti imam itu sendiri), tiga kali berhenti seraya menyanyikan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja, maka umat serentak menjawab “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah), seraya menyalakan lilin-lilin yang dipegang dan berlutut tanda hormat ke arah lilin utama tersebut.
  • Setelah tiba di panti imam, maka lampu-lampu dinyalakan, dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah) oleh diakon atau oleh imam dalam kata-kata puitis, di dalamnya tertampung seluruh sejarah keselamatan. Bila tiada diakon, dan bukan imam sendiri yang dapat menyanyikan madah Paskah, dapat diserahkan kepada seorang penyanyi. (bdk FPPC 84)
  • Exultet merupakan suatu pemakluman atau proklamasi yang meriah dan penuh hikmad tentang Paskah Kristus. Yesus Kristus telah bangkit, mengalakan dosa dan maut dan umat manusia memperoleh keselamatan.
  • Berhadapan dengan peristiwa yang menyelamatkan ini kita patur bersuka cita dengan gembira. Refrein lagu exultet bisa memberi makna suka cita ini : “Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira bagi Kristus Sang Penebus kita; bersyukurlah kepada Allah, kita bangkit bersama Kristus”.
  • Semacam yel… kemenangan … berdiri dengan mengacungkan lilin bernyala di tangan sebagai tanda kemenangan…. simbol Terang Kristus.
  • Maka supaya simbol Terang Kristus ini bisa bermakna, petugas yang membawakan exultet berada dekat Lilin Paskah, lampu gereja belum dihidupkan, penerangan hanya dari Terang Paskah Kristus dari nyala lilin Paskah dan nyala lilin-lilin yang ada di tangan umat…
  • Nyala lilin umat harus dari lilin Paskah, bukan dinyalakan sendiri dari korek api… setelah umat berdiri dengan lilin yg bernyala di tangan baru lagu exultet.
  • Sejak abad ke 4, upacara Jumat Agung telah dipisahkan dari liturgi Malam Paskah dan Hari Raya Paskah.
  • Malam Paskah merupakan rangkuman dari Triduum hari ketiga, berakhirnya masa puasa, namun tercipta saat rekonsiliasi, yang memuncak pada Hari Raya Paskah. Pada waktu itu, telah ditata bentuk liturgi Malam Paskah yang dikenal dengan upacara “Lilin Paskah” sebagai simbol Cahaya Kristus yang mengalahkan dosa dan maut.
  • Tradisi tersebut berlangsung sampai abad ke 14, namun upacara cahaya diadakan pada pagi hari, sehingga simboliknya menghilang dari penghayatan iman umat.
  • Pada tahun 1951, abad ke 20, Paus Pius XII melalui dekritnya “Ad Vigiliam Paschalem” (tentang Vigili Paskah), tepatnya 9-Februari-1951, menetapkan bentuk upacara liturgi Malam Paskah yang dikenal hingga saat ini dalam liturgi  Gereja.

 

b. Bagian II : Liturgi Sabda

  • (bdk FPPC 85) Bacaan-bacaan dari Kitab Suci merupakan bagian kedua perayaan Malam Paskah. Di dalamnya dilukiskan karya-karya agung sejarah keselamatan yang harus direnungkan kaum beriman dengan tenang; mereka dibantu nyanyian mazmur tanggapan, keheningan meditatif dan doa-doa setelah bacaan.
  • Bacaan Sabda Perayaan Malam Paskah terdiri :

–     Tujuh bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari Taurat dan para Nabi, yang sebagian besar berasal dari tradisi kuno Timur dan Barat, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.

–     Dua bacaan dari Perjanjian Baru, satu bacaan surat Rasul dan Injil.

  • Untuk bacaan dari PL kisah tentang sejarah keselamatan Tuhan dgn strukturnya 4 + 3 :

–     4 teks pertama berkaitan dengan malam (kegelapan) dari kehidupan kita menuju ke terang, yakni malam kisah penciptaan, pengurbanan Abraham, malam pembebasan Israel menyeberangi Laut Merah (Paskah Israel) dan pembentukan umat pilihan Allah yg baru setelah pembuangan.

–     3 teks berikutnya berkaitan dengan pembabtisan : perjamuan (Yes 55), Kebebasan dalam Allah (Bar 3) dan menjadi anak angkat Allah (Yeh 36).

  • Setiap bacaan ditanggapi umat beriman dengan bermazmur: kita menanggapi Sabda Allah dengan mazmur yg juga adalah Firman Allah sendiri; artinya kita berseru kepada Tuhan yang terlibat langsung dalam sejarah kemanusiaan, dgn bermazmur.
  • Lalu setelah setiap mazmur ada doa dari pemimpin perayaan (imam) yang memaknai Sabda Allah itu dalam terang Yesus Kristus, Putera Allah.
  • Jadi teks bacaan Kitab Suci PL ada 7, namun boleh dikuangai sampai 3. Tetapi syaratnya : urutan bacaan tidak boleh diubah dan kisah pembebasan bangsa Israel di Keluaran bab 14 harus tetap dibacakan.
  • Demikianlah Gereja menjelaskan misteri Paskah Kristus “dengan berpangkal pada Musa clan semua Nabi”. Maka dari itu haruslah dibacakan semua bacaan, di mana mungkin, agar terpelihara ciri tirakatan yang memang memerlukan waktu yang lebih lama.
  • Tetapi bila ada alasan pastoral untuk mengurangi jumlah bacaan itu, haruslah sekurang-kurangnya dipakai tiga bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari kitab Taurat dan Nabi-nabi; dalam pada itu harus ada bacaan dari bab ke 14 dari Kitab Keluaran dengan kantikumnya9
  • (bdk FPPC 86) Arti tipologis teks-teks Perjanjian Lama berakar dalam Perjanjian Baru dan dijelaskan dalam doa yang dibawakan imam setelah setiap bacaan; kiranya dapat membantu, bila kaum beriman dengan pengantar pendek oleh imam atau diakon dihantar untuk mengerti arti tipologis itu.
  • Setelah setiap bacaan dinyanyikan mazmur tanggapan,  jemaat menjawab dengan refren. Pengulangan unsur-unsur itu dimaksudkan untuk mempertahankan irama yang membantu kaum beriman mengikutinya dengan batin penuh perhatian dan kesalehan. Hendaknya dengan seksama diusahakan agar mazmur jangan diganti dengan nyanyian yang kurang pantas bagi liturgi.
  • (bdk FPPC 87) Setelah bacaan Perjanjian Lama lilin altar dinyalakan dan dinyanyikan gloria serta lonceng­lonceng dibunyikan; lalu diikuti doa pembukaan dan orang beralih kepada bacaan-bacaan dari Perjanjian Baru. Sebagai epistola dibacakan nasihat Rasul Paulus tentang baptis sebagai inisiasi ke dalam misteri Paskah Kristus.
  • “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor 5, 7)
  • Kemudian semua berdiri dan dengan meriah imam menyanyikan Aleluia, tiga kali dan setiap kali lebih tinggi, dan umat mengulanginya. Bila perlu, Alelluia dinyanyikan pemazmur atau penyanyi; umat mengulanginya sebagai sisipan antara ayat-ayat mazmur 118 (117), yang begitu sering dipakai para Rasul dalam kotbah Paskah.
  • Alleluia yang semakin meninggi ini mengungkapkan rasa sukacita, damai dan pembebasan sehingga pernah diibaratkan dengasn “uluran sayap pertama kali dari burung merpati yang terbang keluar sarang”: tanda Roh Kudus yang mulai dicurahkan atas kita oleh Tuhan yang bangkit
  • Pemakluman Kebangkitan Tuhan dalam Injil merupakan puncak seluruh Liturgi Sabda. Injil diikuti homili, meskipun pendek dan tak boleh diabaikan.

 

c. Bagian III : Liturgi Baptis

  • Sesudah homili singkat, dilanjutkan dengan upacara pemberkatan air baptis dan air suci, yang diawali dengan “Litani Para Kudus”.
  • Sejak dahulu orang dibaptis pada malam cahaya baru ini. Malam ini adalah malam paling cocok untuk menerima Sakramen Baptis.
  • Pemberkatan air baptis dilakukan dengan mencelupkan lilin Paskah kedalam air, seraya berkata (imam) : “kami mohon ya Tuhan, semoga dengan perantaraan PuteraMu kekuatan Roh Kudus turun ke dalam bejana ini”
  • Sambil memegang lilin Paskah dalam air ia berkata: “semoga semua orang yang dalam air dibaptis dikubur bersama Kristus yang wafat, diperkenankan pula hidup bersama Kristus yang bangkit”
  • Jika ada katekumen yang akan dibaptis, maka diterimakan Sakramen Permandian (dan Krisma jika upacara dipimpin  seorang Uskup).
  • Setelah itu dilaksanakan pembaharuan janji baptis, Imam mengatakan beberapa kata pengantar. Kaum beriman sambil berdiri memegang lilin yang menyala dan menjawab atas pertanyaan yang diajukan. Lalu mereka diperciki dengan air suci.
  • Demikianlah dengan tanda dan kata mereka diingatkan akan baptis yang telah mereka terima. Imam menelusuri gereja dan memerciki jemaat, sementara semua menyanyi­kan antifon; “Vidi aquam” – “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis (bdk FPPC 89).
  • Pada abad ke 3 ibadat Malam Paskah berlangsung pada malam hari. Pada malam itu pula diadakan upacara pembaptisan bagi para katekumen. Teks Rom 6 tentang makna “mati dan bangkit bersama Kristus dan dua jenis perhambaan”, diwartakan dan direnungkan
  • Menurut data buku “Traditio Apostolica” (Sejarah Tradisi Para Rasul), yang dikarang oleh Hippolitus, maka Malam Paskah dan upacara pembaptisan berlangsung sampai ayam berkokok, dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi pada pagi hari.

 

d. Bagian IV : Liturgi Ekaristi

  • Perayaan ekaristi adalah bagian IV perayaan Malam Paskah dan juga puncaknya, karena ekaristi adalah sakramen Paskah, kenangan akan kurban salib Kristus, kehadiran Tuhan yang Bangkit, penyelesaian inisiasi ke dalam Gereja dan antisipasi pesta Paskah abadi (
  • (bdk FPPC 91). Harus diusahakan agar perayaan ekaristi jangan cepat-cepat dan tergesa-gesa; sebaliknya, semua ritus dan perkataan harus diungkapkan dengan tegas :

–     Doa permohonan yang dilaksanakan mereka yang baru dibaptis untuk pertama kalinya sebagai kaum beriman yang mewujudkan imamat rajawi

–     Persiapan persembahan yang melibatkan peran mereka yang baru dibaptis,

–     Doa Syukur Agung I, atau II, atau III dengan sisipan masing­masing, yang sebaiknya dinyanyikan.

–     Akhirnya Komuni sebagai saat partisipasi paling mendalam pada misteri yang dirayakan. Pada komuni bila mungkin, hendaknya dinyanyikan Mazmur 118 (117) dengan antifon “Anak domba kita“

 

e.Beberapa Petunjuk-petunjuk Pastoral

  • Perayaan Malam Paskah harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan jemaat memahami seluruh kekayaan teks clan ritus. Maka dari itu harus diperhatikan, agar semuanya penuh makna dan tepat, agar kaum beriman berperan aktif dan diusahakan agar ada cukup misdinar serta lektor dan paduan suara. (bdk FPPC 93).
  • Bila jemaat-jemaat ini amat berdekatan atau terlalu kecil diharapkan berhimpun dalam satu Gereja, sehingga perayaan meriah dimungkinkan. Partisipasi kelompok­kelompok dalam perayaan bersama Malam Paskah hendaknya dikembangkan agar dengan demikian semua orang beriman mendapat pengalaman yang lebih mendalam persekutuan dalam Gereja. (bdk FPPC 94).
  • (bdk FPPC 95). Bila perayaan Malam Paskah diumumkan, hendaknya dihindari memberi kesan seolah-olah itu petang Sabtu Paskah. Sebaliknya harus dikatakan bahwa perayaan Malam Paskah terjadi “pada malam Paskah” sebagai satu-satunya ibadat. Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah
  • Barang siapa tidak ikut dalam perayaan Malam Paskah namun merayakannya pada esok harinya (Minggu) tetap telah merayakan paskah. Namun inti pusat dan jantung perayaan Paskah terletak dalam malam Paskah.

2.Minggu HARI RAYA Paskah

  • (bdk FPPC 97) Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Sebagai tobat dianjurkan hari ini pemercikan dengan air, yang diberkati pada Malam Paskah; sementara itu dinyanyikan antifon “Vidi aquam” — “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis. Dengan air berkat ini juga tempat air pada pintu gereja diisi.
  • Lilin Paskah ditempatkan di sisi mimbar atau di sisi altar; lilin itu sekurang-kurangnya pada semua perayaan liturgi agak besar dinyalakan, pada Misa, ibadat pagi atau ibadat sore, sampai dengan Minggu Pentakosta.
  • Setelah itu lilin Paskah itu disimpan dengan hormat dalam kapel baptis, dan pada perayaan baptis lilin baptis dinyalakan padanya. Pada Misa Arwah pada hari pemakaman lilin Paskah hendaknya ditempatkan pada peti sebagai tanda bahwa kematian orang kristiani adalah paskah pribadinya.
  • Di luar masa Paskah lilin Paskah tak boleh dinyalakan dan juga tidak tinggal yang di altar (bdk FPPC 99).
  • Untuk kita renungkan :

Pada Malam Paskah,kita menantikan dan menyongsong Yesus Kristus Tuhan kita yang akan beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah, dan dalam semangat hidup yang baru berkat cahaya Kristus yang kita terima, kita sambut Kristus yang akan bangkit pada Hari Minggu Paskah. Hari raya dari segala hari raya.

Minggu Hari Raya Paska tetap wajib bagi mereka yang telah mengikuti misa malam paskah.

  • Kesimpulannya, Paskah adalah hari-raya-nya Natal (dan semua hari Minggu dan hari raya lainnya…). Mengapa bisa demikian? Karena perayaan Natal, perayaan hari Minggu, dan hari raya lainnya bersumber dari perayaan Paskah.
  • Ekaristi yang merupakan SUMBER dan PUNCAK kehidupan Gereja, dirayakan sebagai pengenangan akan Kristus yang wafat, bangkit, dan kelak akan datang kembali. Misteri iman ini yang diungkapkan kembali pada setiap misa dalam anamnesis.
  • Jadi sumber iman kita memang bukan pada perayaan kelahiran melainkan pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus.
  • Kenapa Natal terkesan lebih populer dari Paskah? Jawabannya: INDUSTRI. Dan kebanyakan umat katolik sudah menjadi korban industri ini, sehingga kalau misa Natal biasanya pakai baju baru, sepatu baru, dll, sedangkan kalau misa Paskah pakai yang apa adanya.
  • Saran saya untuk mengubah pandangan yang salah kaprah ini, mulailah dari yang paling sederhana, yakni menghadiri misa Paskah bersama keluarga, dan gunakan baju terbaik yang keluarga anda miliki.

 

 

Salib Suci – Tropodo

Kamis Putih, 21 April 2011

 

FX. Sutjiharto

Selamat Trihari Suci !!!

 

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/04/25/spiritualitas-liturgi-tri-hari-suci/feed/ 8
SMS berantai,…Pilih Berkat atau Kutuk !!! http://parokisalibsuci.org/2011/03/25/sms-berantai-pilih-berkat-atau-kutuk/ http://parokisalibsuci.org/2011/03/25/sms-berantai-pilih-berkat-atau-kutuk/#comments Fri, 25 Mar 2011 06:12:46 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=311

Tinjauan kritis atas sms pembawa berkat atau yang akan mendatangkan kutuk

 

Pengantar

Walau merupakan persoalan yang sudah cukup lama, namun sampai hari ini masih banyak di antara kita yang menerima sms berantai yang intinya berisi tawaran berkat bagi yang mengindahkan dan ancaman kutuk bagi yang mengabaikan. Oleh karena itu, MAWASS pada edisi ini menyajikan bahasan soal sms berantai atau surat berantai ini yang diambil dari buku :

Beriman Katolik dari Altar Sampai Pasar; Pustaka Nusatama, 2006; F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr; hlm. 178-183.

Selebaran Gelap

Sampai hari ini banyak di antara kita yang masih menerima atau menjumpai “selebaran rohani” berisi iming-iming janji berkat bagi yang mengindahkan isinya dan ancaman kutukan bagi yang mengabaikan. Biasanya kita diminta memfotokopi dan menyebarluaskannya. Atau, bila pesan dalam email, kita diminta untuk memforwardnya.

Entah lantaran tergiur iming-iming berkatnya atau takut akan ancaman kutukannya, banyak orang menurutinya. Begitu juga dengan teks novena, misal novena kepada Yudas Tadeus, ditambahkan syarat pengabulannya: “Novena ini didoakan 6 kali sehari selama 9 hari berturut-turut dan tinggalkan 9 lembar salinan doa ini di gereja tiap hari. Buatkan 81 salinan dan tinggalkan 9 lembar salinannya di gereja selama 9 hari berturut-turut, Anda akan menerima intensi doa sebelum hari ke-9 berlalu.” Pernah juga dulu ada selebaran tentang penglihatan Tuhan Yesus kepada paus yang berisi tentang bencana dan hari kiamat. Anehnya, mereka yang mau menyebarluaskan selebaran itu akan selamat dari malapetaka.

Semua “selebaran rohani” itu sebenarnya adalah sebebaran gelap. Sebab pengirimnya tidak jelas, kalaupun nama dan alamat pengirimnya dicantumkan, biasanya fiktif belaka. Berkaitan dengan doa-doa yang akan disebarluaskan dalam Gereja Katolik selalu dibutuhkan imprimatur (izin terbit) dari Uskup/wakilnya dan nihil obstat yang menyatakan bahwa isinya tidak bertentangan dengan susila dan iman Katolik. Jadi, tak perlu kita terkecoh dan terhasut oleh provokasi dari selebaran gelap itu.

Bisa jadi, selebaran gelap tersebut dibuat untuk membingungkan dan menggoyahkan keyakinan iman kita sebagai pengikut Kristus. Mari kita melihat “iming-iming berkat” dan “ancaman kutuk” tersebut dalam perspektif iman Katolik.

 

Hal Pengabulan Doa

Yang menarik untuk disimak dari selebaran tersebut adalah adanya kesan kuat bahwa penggandaan dan penyebarluasan selebaran dan teks doa itu menjadi syarat terkabulnya doa. Asalkan kugandakan dan kusebarluaskan, niscaya doa permohonanku terkabul. Di sinilah terjadinya bahaya takhayul. Seakan-akan Tuhan wajib mengabulkan doa kita, sebab kita telah “membayar” dengan menggandakan dan menyebarluaskan teks tersebut. Padahal untuk pengabulan doa, Tuhan tidak butuh suapan. Bahkan korban bakaran dan persembahan Israel kerap ditolak Tuhan, sebab Tuhan tidak memerlukan hal itu. “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya” (Mzm 50:12).

Dalam Injil dinyatakan dengan jelas, pelbagai syarat pengabulan doa:

Pertama, dipanjatkan dengan penuh iman. Banyak penderita sakit dan kelemahan mengalami kesembuhan berkat imannya akan kuasa dan kasih Yesus Kristus. Kepada ibu yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan dan menjamah jumbai jubah-Nya, Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mat 9:22). Iman ini juga nampak dalam ketekunan dan kesetiaan kita dalam doa, seperti janda yang tiada bosan mengetuk pintu hakim yang tidak benar (Luk 18:1).

Kedua, sejauh kita mau tinggal dalam dan bersama Kristus, artinya hidup dalam kasih. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Bila kita kurang berbuat kasih, niscaya sulit juga doa kita dikabulkan. Sebab dosa-dosa kita bisa menghalangi suara kita sampai di tempat yang mahatinggi (lih. Yes 59:2). Maka saat berdoa novena pun, kita dianjurkan juga menerima Sakramen Tobat. Tuhan juga tak akan mengabulkan permohonan manakala hal itu hendak kita habiskan untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3).

Ketiga, pentingnya dukungan doa dari orang lain. Sebab firman Tuhan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:2). Begitu juga melihat iman mereka, iman si lumpuh dan iman keempat teman yang menggotongnya, Yesus tergerak hati untuk menyembuhkan (Mrk 5:2).

Iming-iming janji berkat dengan cara instan “doa + fotokopi” mengingatkan kita akan godaan si Jahat yang menyuruh Yesus secara instan mengubah batu menjadi roti (Luk 4:3). Permohonan yang meminta Tuhan membuat mukjijat selekas mungkin ini, tidak menunjukkan bahwa kita beriman pada Tuhan, sebaliknya justru mencobai Tuhan. Seru penjahat yang disalibkan bersama Yesus, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:29).

Memang Tuhan itu mahakuasa dan sanggup mengerjakan karya ajaib tanpa kita. Kendati demikian, Tuhan senantiasa mengajak kita untuk berusaha dan bekerjasama dengan rahmat-Nya. Kita ingat kisah mukjizat dalam perkawinan di Kana, di sana manusia harus mengisi tempayan dengan air terlebih dahulu (Yoh 2:7). Begitu juga dengan kisah pergandaan roti untuk menyenyangkan lima ribu orang, dibutuhkan lima roti dan dua ikan (Mrk 6:38) sebagai simbol modal dan usaha kita. Modal dan usaha yang kita persembahkan kepada Tuhan, niscaya akan diberkati Tuhan sehingga berlipat ganda.

 

Jangan Takut!

Yang mengherankan adalah selebaran gelap tersebut, berani mengancam siapa saja yang mengabaikan isinya, apalagi mereka yang sampai berani membuangnya. Tak sedikit pembaca yang kemudian mempercayainya, atau setidak-tidaknya berjaga-jaga jangan sampai celaka menimpa mereka lantaran mengabaikan selebaran itu. Bukankah ancaman demikian, tak jauh beda dengan pelbagai ancaman yang menghantui kita manakala mengabaikan perhitungan hari baik – hari buruk dan ancaman “Bathara Kala” bila kita tidak diruwat.

Jika hal itu yang terjadi, sebenarnya kita masih dibelenggu oleh ketakutan. Kepada kita yang telah dibaptis, St. Paulus mengingatkan, “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15). Yesus Kristus adalah Injil, kabar gembira dari Allah. Sewaktu Dia lahir,  malaikat berseru kepada Maria (Luk 1:30) dan para gembala  (Luk 2:10), “Jangan takut!” Kata yang sama disampaikan Yesus waktu Dia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan setelah kebangkitan (Mat 28:10). Memang kita tak perlu takut, sebab Allah itu kasih (1 Yoh 4:8) , Dia tak akan menghukum dan mencelakai kita. Dialah Immanuel (Mat 1:23), Allah beserta kita, yang senantiasa melindungi kita (Mat 28:20). Bersama Yesus, siapa takut (Rm 8:35)?

 

Penutup

Maka kesimpulannya, bila kita menerima sms semacam ini, jangan mudah percaya dan tidak perlu diteruskan, karena justru akan menggoyahkan iman orang lain. Betapapun mulianya maksud sms berartai ini (misalnya menyerukan pertobatan), namum cara yang ditempuhnya sama sekali tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Memang, memberitakan kabar baik adalah tugas setiap orang, tetapi tentu tanpa harus iming–imingi sebuah janji dan menakut-nakuti orang lain. Segala setiap perkara apapun, janganlah kuatir tetapi nyatakanlah segalah hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).

 

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/03/25/sms-berantai-pilih-berkat-atau-kutuk/feed/ 1
Rahim dan ASI yang berbahagia http://parokisalibsuci.org/2011/03/17/rahim-dan-asi-yang-berbahagia/ http://parokisalibsuci.org/2011/03/17/rahim-dan-asi-yang-berbahagia/#comments Thu, 17 Mar 2011 06:53:22 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=293

LUK 11:27-2811:27   Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya:
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” 11:28 Tetapi Ia berkata:
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Menarik bahwa perikop ini hanya ditulis oleh Lukas. Dari sisi model penulisan, sekali lagi Lukas seolah “menyela”
reportase aktifitas Yesus yang sibuk mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Seolah Lukas ingin merekam juga
suasana di sekitar Yesus, termasuk celetukan dan komentar dari para audiens. Celetukan seorang wanita seperti di
atas sangat lazim terjadi. Manakala ada sesorang yang mengagumkan, menggemaskan, membuat heboh maka akan keluar celetukan dari orang-orang. Dan yang lazim adalah : “anak siapa itu!” Atau mungkin “seandainya anakku seperti itu….” Hal yang sangat lumrah. Namun ada yang sedikit aneh dalam celetukan yang ditulis oleh Lukas ini. Deskripsi celetukan ini sangat tidak lazim. : “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”Celetukan yang lazim – namun dengan cara yang tidak lazim. Terlihat tidak lazim karena sangat spesifik dikatakan  “Ibu yang mengandung…” bukan sekedar “anak siapa” namun langsung dengan “berkat : berbahagialah….. makarios” dan  secara terang terangan dikatakan dalam bahasa aslinya “koilia / koilos” . Ungkapan teknis yang sangat biologis mengarah pada “rahim” seorang wanita. “Berbahagialah wanita yang “rahimnya” mengerami Engkau: makaria e koilia e bastasasa se ”.

Dalam perjanjian lama ungkapan ini kerap dipakai untuk menunjukkan perlindungan dan pengenalan  Yahweh pada manusia sejak ia “dibentuk” dalam rahim (Aram : rechem) ibu (bdk MZM 22: 10-11; 71:6 ; 139: 13). Hal yang sama juga dipakai untuk kata mastos . Kata yang sangat teknis untuk susu ibu. kai mastoi ous eqhlasas Pemakaian kata-kata teknis biologis ini memang bisa dimaklumi mengingat Lukas adalah seorang dokter/tabib.

 

Namun lebih dari itu, tentunya dalam pemakaian kata-kata itu terkandung pesan yang sangat mendasar. Rahim yang meng-erami/yang di dalamnya benih manusia bertumbuh hingga saat kelahiran tiba. Di dalam rahim tersebut janin embrio terbentuk. Sejak awal kehidupan dimulai dari pertemuan sperma dan ovum yang terjadi dirahim ini.

 

Hingga Sembilan bulan sepuluh hari sang embrio – yang nota bene adalah (sudah) manusia personal yang penuh mendapatkan segala-galanya. Bukan hanya asupan gisi dari tubuh ibu kepada sang bayi melalui plasenta, melainkan juga asupan psikis dan spiritual dari persona sang ibu kepada jabang bayi. Diyakini bahwa apa yang dirasakan oleh sang ibu – juga dirasakan oleh si bayi. Bahkan sejak dalam kandungan pun sang ibu dianjurkan untuk sering berbicara kepada si bayi – komunikasi telah terjalin secara psikis dan batin sejak bayi dalam kandungan.

 

Setelah bayi keluar dari rahim, air susu ibu menjadi makanan pertama dan utama bagii bayi. Sebelum bayi mampu mencerna makanan yang lain, susu ibu adalah satu-satunya asupan yang sangat dibutuhkan. Selama beberapa bulan awal hidupnya pun bayi sangat bergantung pada air susu ibu. ASI-lah yang memelihara anak pada awal hidup dunia.

Ibu harus benar-benar menjaga makanan yang dimakannya sendiri selama bayi masih menyusu. Apa yang dimakan ibu – juga dimakan bayi melalui susu. Bahkan tak jarang jika bayi sakit maka ibulah yang harus menelan obat agar tersalurkan pada bayi saat menyusui. Suatu proses yang sangat mengagumkan. Lama sebentarnya si anak mendapatkan ASI ternyata sangat menentukan kondisi kesehatan fisik si anak hingga dewasa. Dan tak hanya sekedar makanan, dalam proses menyusui juga sangat intens terjadi kontak batin antara ibu dan bayi. Rasa sayang dan perasaan batin ibu juga sangat dirasakan oleh anaknya dan terekan pada alam bawah sadar. Hal ini sangat berpengaruh pada kondisi dan ketahanan psikis anak hingga dewasa.

Bagaimana anak memandang dan berinteraksi bersama manusia lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia diperlakukan pada masa lalu. Apa yang direkam di bawah sadar di masa lalu seolah menjadi “platform/cetak biru” bagi pola tingkah lakunya kelak.

Cara komentar yang tak lazim ini mendapatkan pemaknaannya lebih mendalam dengan jawaban Yesus : “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”Seolah/sekilas Yesus seperti menyangkal apa yang dikatakan wanita tadi, namun sesungguhnya tidak.

Seperti pula ketika saudara-saudara yesus menjenguk Dia, Yesus mengatakan hal yang senada : Mat 12:50 “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”Justru dengan mengatakan demikian kepada kita, yesus menunjukkan bahwa dalam diri ibu Yesus/Maria, keistimewaan bukan sekedar karena rahimnya mengandung Yesus – dan air susunya menghidupi Yesus – melainkan terutama karena Maria adalah pendengar firman Allah dan memeliharanya. Maria menjadi model yang paling lengkap karena selain
hubungan fisik, psikis dan spiritual dengan Yesus – Maria juga contoh sempurna pendengar dan pemelihara Firman, pelaksana kehendak Allah. Sebagaimana St. Dominikus pencipta doa salam maria menyebutkan : “Terpujilah engkau di antara wanita…. Dan terpujilah buah tubuhmu Yesus!”. Karena Maria, sebutan “yang berbahagia” menjadi universal.

Tidak terbatas hanya yang berhubungan darah dengan Yesus – tidak terbatas pada untuk orang Yahudi saja – melainkan
untuk semua bangsa. Hal ini sesuai dengan tujuan Lukas menulis Injilnya, yaitu kabar gembira bagi bangsa-bangsa di
luar Yahudi juga.   (FX. Sutjiharto)

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/03/17/rahim-dan-asi-yang-berbahagia/feed/ 1
SMS Berantai http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/sms-berantai/ http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/sms-berantai/#comments Thu, 28 Oct 2010 04:22:34 +0000 http://parokisalibsuci.wordpress.com/?p=95

Saat kita merenung dan berpikir apakah kita sudah merasakan ada berkat dan kedamaian dalam keseharian kita ?………..

Kata itu telah mengusik saya. Benar memang setiap orang akan mengalami  beragam permasalahan dalam hidup.  Tetapi apakah harus kita membanding akan perasaan atau kenyataan,  bahwa  kita harus mempertanyakan ada tidaknya berkat dan kedamaian dalam hidup ini?

Mari kita menengok kebelakang…..Dulu sebelum ada handphone kita sering mendapatkan surat berantai yang isinya mengajak seorang yang mendapatkan surat untuk melakukan hal yang sama mengirimkan surat  sebanyak sepuluh orang  agar mendapatkan apa yang diinginkan……Hasilnya…………? Sekarang setelah jaman sudah berkembang dan teknologi makin maju,  muncul hal serupa hanya berganti gaya,  yakni sms berantai.  Uniknya gaya bahasanya sangat atraktif dan meyakinkan (bagi sebagian orang)  bahkan pada akhir kalimatnya bernada ancaman!

Nah, jika memahami makna keimanan kita dan merenung sabda kehidupan bahwa ajaran Kristus selalu menekankan kepada kasih,  maka kita akan paham bahwa berkat dan kedamaian berawal dari bagaimana kita melakukan titah kasih itu, sudahkah kita menjalankan itu? Dan setiap tindakan kasih yang kita lakukan,  berkat dan kedamaian pasti ada, hanya seturut kehendak Allah;  tetapi tidak pernah Kristus mengajarkan tentang ancaman dan kekerasan seperti tertulis pada kitab suci , “…..jika kamu ditampar pipi kanan berikan pipi kirimu……” ayat ini sangat sederhana tetapi sangat tepat untuk menjelaskan  apakah  sms berantai  itu dapat dipertanggungjawabkan…………?

Dalam relung hati dan dalam kehausan akan hadirnya berkat dalam hidup ini, sungguh sms berantai sepertinya  pandai memanfaatkan celah.  Namun dengan kearifan dan iman, kita berharap hal itu tidak menjadikan perilaku keimanan kita mudah goyah dengan iming-iming yang  dijanjikan  sms berantai;  tetapi  justru   menjadikan kita lebih dewasa dan arif dalam menanggapinya. Mari  tetap berpegang teguh pada iman akan Kristus, mari kita hayati pesan-Nya ; “Damai sejahtera kutinggalkan bagimu, damai sejahteraku  kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu, janganlah gelisah dan gentaar hatimu”

Yoh. 14:27.

 

]]>
http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/sms-berantai/feed/ 0