Injil mencatat bahwa selama enam jam Yesus tergantung di kayu salib Dia membuat tujuh pernyataan yang berbeda. Pernyataan-pernyataan sangat luar biasa bukan hanya karena merupakan kata-kata yang terakhir oleh Yesus sebelum kematian-Nya, tetapi juga karena kata-kata ini menggambarkan kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus Tuhan kita.
1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34).
Bahkan saat mengalami rasa sakit yang mengerikan akibat penyaliban, Ia berdoa untuk orang-orang yang yang menyebabkan penderitaan-Nya. Ia datang ke bumi dengan tujuan memberi pengampunan para pendosa dan Dia mengasihi mereka dan menghapus dosa hingga akhir hidupNya. Semua karena dosa manusia dan Dia berada di kayu Salib dan menderita atas nama dosa itu.
2. “Hari ini engkau akan bersama Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43).
Tidak hanya Yesus mengampuni mereka yang menyalibkan Dia, Dia juga memaafkan salah seorang pencuri yang disalibkan di samping-Nya. 2 Penjahat yang di salibkan bersama Yesus, Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, namun seorang lainnya memiliki perubahan hati.
Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lukas 23:39-42) .
Pada saat ini Yesus membuat pernyataan-Nya yang kedua diatas salib dan menjanjikan untuk mengampuni penjahat yang bertobat. Sekali lagi kita melihat keprihatinan Yesus bagi orang lain. Teladan-Nya kemudian di contohi Rasul Paulus untuk menasihati jemaat Filipi,
dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (Filipi 2:3).
3. “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26).
Meskipun Yesus terus menderita di kayu salib pikirannya masih pada orang lain. Dia melihat ibunya berdiri di dekat Rasul Yohanes dan berkata, “Ibu, inilah anakmu.” Dia kemudian melihat Yohanes dan berkata, “Inilah ibumu!” Dengan melakukan ini Dia mempercayakan perawatan ibu-Nya kepada Yohanes. Kebiasaan orang Yahudi (Hukum Taurat) mensyaratkan anak sulung untuk mengurus orang tuanya, dan Yesus mematuhi hukum Allah sampai akhir. Di awal pelayanan-Nya Yesus menekankan penghormatan terhadap hokum Allah (Hukum Taurat):
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17).
Yesus menggenapi hokum Taurat dalam penderitaanNya di atas kayu salib.
4. “Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46).
Perkataan keempat Yesus dari salib mungkin yang paling sulit bagi kita untuk mengerti. Anak Allah yang tak berdosa yang telah, ada sejak kekekalan, dalam hubungan intim dengan Bapa-Nya, kini roh terpisah dari-Nya. Ketika dosa dunia dilimpahkan/menjadi bagian dari Yesus, untuk kali pertama, terjadilah pemisahan antara Bapa dan Putra.
Alkitab mencatat sesuatu terjadi di antara mereka bahwa kita hanya dapat memahami melalui mata iman. Allah yang Maha Suci dan tak berdosa itulah Allah Bapa dan Allah yang telah merendahkan diri menjadi seperti ciptaanNya dan mau berdosa (menerima limpahan dosa manusia) itulah Putra Allah. (Filipi 2:6-7)
Artinya, bahwa Allah dalam Kristus mendamaikan dunia dengan dirinya sendiri (2 Korintus 5:19).
Yesus menderita rasa sakit yang tak pantas akibat pemisahan diriNya melepaskan kesetaraan sebagai Allah: Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:21).
Agar hal ini (penebusan) terjadi, Bapa harus meninggalkan Anak dan menghukum-Nya untuk kita. Inilah maksud dari perkataan Yesus: “Ya Tuhan, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
5. “Aku haus” (Yohanes 19:28).
Pernyataan kelima yang Yesus dari salib mengingatkan kita lagi bahwa Dia menderita sebagai manusia. Alkitab mengatakan,
Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia—supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci—:”Aku haus!” (Yoh 19:28).
Ia hidup sebagai manusia dan menderita sebagai manusia agar Dia bisa mengidentifikasi dengan penderitaan kemanusiaan. Dari pernyataan ini kita amati bahwa Yesus menderita efek fisik yang penuh akibat penyaliban. Tidak bisa dikurangi, untuk beban dosa yang harus kita(manusia) limpahkan kepada-Nya.
6. “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).
Pernyataan keenam dari Yesus saat di kayu salib adalah teriakan kemenangan. Teks Yunani berbunyi tetelestai, “Sudah selesai.” Apa yang selesai? Sambil kita mempertimbangkan kehidupan dan pelayanan Yesus kita bisa memikirkan beberapa hal yang membuat kematian-Nya lengkap.
Ia menyelesaikan pekerjaan Bapa, yang harus di lakukanNya. Ia menggenapi nubuat. Dia mencapai kemenangan atas Setan, dosa, dan kematian. Dia mencapai kemenangan atas iblis. Misi kekelan BERHASIL !
7. “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46).
Ini adalah pernyataan terakhir yang kita terima dari Yesus sebelum kematian-Nya. Semuanya telah selesai dan sekarang sudah waktunya untuk menyerahkan roh-Nya. Sebelumnya Yesus membuat pernyataan bahwa Ia rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-Nya.
Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17,18).
Dari sini kita menyadari bahwa Yesus harus sengaja menyerahkan roh-Nya; itu tidak dapat diambil dari-Nya. Kecuali Dia menginginkan sendiri untuk mati, Dia tidak dipaksa. Karena Dia adalah korban yang bersedia, Dia memilih untuk mati. Setelah membuat pernyataan terakhirnya, Yesus mati.
Akhirnya…
Tujuh pernyataan Yesus diatas kayu salib memiliki arti luas dan penting bagi orang percaya hari ini. Perkataan-perkataan ini sekali lagi mengingatkan kita arti kematian-Nya, selain menjadi fakta sejarah, jauh lebih dari itu. Itu adalah pengorbanan tertinggi untuk menjamin keselamatan kita. Kata-kata terakhir Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat memegang kepercayaan penuh kepada-Nya sebagai Juruselamat kita.
Masa prapaskah yang diawali dengan hari Rabu Abu, merupakan saat yang tepat untuk melihat diri kembali, melakukan refleksi atas segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Artikel berikut merupakan daftar yang mungkin belum melingkupi segala bentuk perbuatan-perbuatan dosa, namun diharapkan daftar pemeriksaan batin dengan membaca kembali Sepuluh Perintah Allah ini sudah cukup untuk membantu membangkitkan / mendorong refleksi pribadi sebagai persiapan melakukan Sakramen Pertobatan, sehingga di hari raya nanti, kita benar-benar mendapatkan sukacita sejati di dalam nama Tuhan kita dalam kondisi yang bersih.
Catatan: (1.) Jumlah atau besarnya kerugian harus disebutkan dalam pengakuan (2.) Dosa akan menjadi dosa maut apabila besarnya sesuatu yang dicuri atau dirusakkan sebanding dengan gaji sehari; yang lain termasuk dosa ringan. (3.) Untuk mendapatkan pengampunan dari dosa maut atau ringan harus ada kemauan untuk mengganti atau membayar kerugian
Pengantar
Seluruh persiapan Perayaan Natal, seolah ditutup dan diakhiri dengan suara berdentangnya lonceng gereja, menjelang Misa Malam Natal.
Dengan berbagai persiapan pula setiap umat datang dan masuk ke gedung gereja. Kebanyakan dengan wajah yang ceriah dan segar, dengan pakaian yang tampak indah, walaupun ada beberapa umat, yang entah karena alasan apa, tampak begitu sederhana, seperti biasanya, tidak berbeda dengan ketika datang ke Misa-misa yang lain.
Dan, sesuai jadwal, Misa-pun dimulai. Tidak dapat dipungkiri, Misa Malam Natal memang lebih agung dan lebih meriah dari pada Misa-misa yang lain (kecuali Misa malam Paskah). Semua orang tahu, Misa itu adalah untuk memperingati dan menyambut kelahiran bayi YESUS.
Dari sisi sejarah, dapat dimaknai, kita memperingati kelahiran seorang Tokoh Besar, yang sangat berpengaruh pada kehidupan umat manusia. Dari sisi spiritual dapat dikatakan kita menyambut Sang Sabda yang menjadi daging, mengambil rupa manusia, sebagai puncak dari Karya Penyelamatan Allah. Dari sisi pandang Bangsa Israel, Dia-lah Sang Mesias, Sang Pembebas yang telah dinubuatkan oleh para nabi, yang akan membebaskan Bangsa Israel dari penderitaan, kesusahan, kemiskinan, penjajahan, dll. Dan dari sisi iman Kristiani, peristiwa itu dimaknai sebagai: kita menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, Sang Penebus, Dia yang disebut: Terang, Terang yang besar; Dia menyebut diri-Nya: Jalan dan kebenaran dan hidup. Kepada Dia-lah seluruh iman Kristiani digantungkan dan dipusatkan. Dan Dia-lah sumber pengharapan bagi umat manusia
DIA-kah sumber pengharapan dan kasih…?
Sedemikian banyak atribut dan gelar yang dilekatkan kepada sosok Yesus. Kesemuanya itu setidak-tidaknya terfokus pada dua hal, yaitu: Ke-ilahian-Nya, dan Dia-lah sumber pengharapan. Seluruh iman Kristiani ditarik kepada dua hal tersebut, dengan meyakini, bahwa Dia-lah Jalan, Terang dan Hidup. Karena Dia-lah kita akan sampai dan kembali kepada Bapa, asal dari segala ciptaan. Karena Dia-lah kita mendapatkan pencerahan dalam hidup ini. Dan karena Dia pula-lah kita yakin, bahwa kita berhak atas kehidupan yang kekal. Semua itu bagi kita dirangkai dalam 3 tonggak: IMAN, HARAPAN dan KASIH, yang secara sederhana, dapat dikalimatkan: karena berIMAN akan Dia kita mempunyai HARAPAN, dan kita bisa hidup dari dan untuk KASIH.
Seluruh hidup seorang Kristiani tidak bisa lepas dari ke-tiga tonggak itu. Dengan kata lain, dalam diri dan hidup seorang Kristiani yang sejati wajib, harus, mewujudkan ke-tiga hal tersebut.
Dalam kehidupan bermasyarakat, identitas seorang Kristiani ditentukan oleh: sejauh mana orang itu dapat menampilkan IMAN, HARAPAN dan KASIH itu, bukan hanya terhadap saudara seiman, namun juga terhadap semua orang. Dengan “berbagi” harapan dan kasih itulah, orang dapat menilai dan mengukur iman kita.
Menjadi pengikut Kristus dan hidup di dalam-Nya, kita dituntut untuk menyalurkan “harapan” dan “kasih” yang telah kita dapatkan dari Dia kepada sesama kita.
Dan ibarat memberikan seteguk air kepada orang yang kehausan di padang pasir, maka sungguh amat berarti bila kita membagikan harapan itu bagi mereka yang sudah tidak lagi berpengharapan, dan membagikan kasih kepada mereka yang tercampakkan.
Tindakan membagikan “harapan” dan “kasih” itu menjadi KEWAJIBAN KITA, dan sebaliknya, dari sisi mereka yang terpingggirkan serta, tercampakkan, “harapan” dan “kasih” itu adalah HAK MEREKA yang bisa mereka tuntut dari kita.
Realita di sekeliling kita
Ingatanku melayang, kembali ke saat setelah mengikuti Misa Malam Natal. Di tengah meresapi siraman rohani tentang lahirnya Yesus, sosok yang menawarkan Harapan dan Kasih, sayup-sayup terdengar olehku suara Ebiet G. Ade:
Istriku, marilah kita tidur
Hari telah larut malam
Lagi sehari kita lewati
Meskipun nasib semakin tak pasti
Lihat anak kita tertidur menahankan lapar
Erat memeluk bantal dingin pinggiran jalan
Wajahnya kurus pucat, matanya dalam
Tercekat pikiranku seketika, larut dalam bayangan keluarga pengemis yang digambarkan dalam lagu itu. Dalam kelaparan, mereka dihadapkan pada “nasib yang semakin tak pasti”.
Istriku, marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan
Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti Ia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakal
Dan sungguh mengenaskan…., mereka berdoa. Ya, mereka berdoa…… untuk melupakan rasa lapar…
Namun, di sisi lain aku terhentak, karena bagaimanapun, mereka tetap mempunyai iman, mereka meyakini, bahwa Tuhan adalah milik siapa saja, milik mereka juga. Dan mereka yakin, Tuhan pasti akan mendengarkan doa mereka.
Aku merenung, masih sebesar itukah imanku, ketika aku didera penderitaan? Apakah dalam penderitaan yang mendera, aku tidak akan menghojat Allah, menyalahkan Allah?
Larut dalam interospeksi, tidak terasa beberapa saat aku seolah tidak mendengarkan lanjutan dari lagu itu, sampai kemudian aku tersadar kembali ketika mendengar bait selanjutnya:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki
Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan
Oh, hindarkanlah mereka dari iri dan dengki
Serasa tertampar jiwaku mendengar dan meresapi kata-kata itu. Coba dengar dan hayatilah doa mereka:
Tuhan, selamatkan istri dan anakku
Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki
Dalam introspeksi, pikiranku menggugat imanku: Sanggupkah aku berdoa seperti itu…?
Dan sampailah aku sampai pada puncak kepedihan jiwa, ketika terdengar kalimat terakhir dari lagu itu:
Kuatkanlah jiwa mereka
Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu
Tidak ada lagi kata-kata yang bisa terangkai di pikiranku….., selain mengulang, mengulang, dan mengulang kata-kata: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu…………
Ya, Tuhan, jadikan imanku seteguh iman mereka, sehingga setiap saat jiwa dan pikiranku bisa memohon kepada-Mu: Bimbinglah di jalanMu
Gema meriah Perayaan Natal seketika terganti rasa sesal diri. Aku merasa telah begitu pongah, karena merasa bahwa aku adalah seorang Kristiani, yang berbekal Iman, Harapan dan Kasih.
Adakah imanku dapat dibandingkan dengan iman si pengemis itu?
Terlebih lagi, seolah di hadapankulah si pengemis itu bernyanyi, seolah menggugat aku, bahwa dia, dia dan anak istrinya, berhak atas HARAPAN, dan mereka mendambakan KASIH.
Oh, Yesus, ampunilah aku, karena aku ternyata telah begitu egois, begitu mementingkan diri sendiri. Karena pada saat aku berani mengaku, bahwa aku begitu mencintai Engkau, akupun ternyata telah melupakan kata-kata-MU: “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
Refleksi
Hari Natal, hampir selalu identik dengan Perayaan, Pesta, Sukacita. Itu bukanlah sesuatu yang salah. Memang, dalam merayakan peringatan lahirnya Sang Sabda menjadi manusia dalam karya penyelamatan Allah, wajarlah kita bersukacita, berpesta, dan merayakannya dengan meriah. Namun, Perayaan, Pesta dan Sukacita itu, seyogyanya bukanlah hanya sekedar tampilan fisik belaka. Lebih dari itu, seharusnya semua itu meresapi dan menghidupi jiwa kita. Dia telah datang, dan kedatangan-Nya adalah bagi semua orang.
Manakala kita mengaku bahwa kita adalah seorang Kristiani, artinya pada saat yang sama kita juga mengakui kita memiliki Iman, Harapan, dan Kasih. Dan pada saat kita mengatakan bahwa kita mencintai Yesus, seyogyanya kita ingat pula bahwa Dia berada di antara saudara-saudara kita yang paling menderita. Apa yang telah kita lakukan bagi Dia…? Adakah kita telah berbagi Harapan dan
Kasih yang telah kita terima dari Allah sendiri…?
Bial kita memiliki kepedulian, kita bisa dengan mudah melihat dan menemukan, bahwa di sekitar kita, ada begitu banyak orang yang mendambakan Kasih. Dan di sekeliling kita, masih ada begitu banyak orang yang terjebak dalam kondisi yang tidak lagi berpengharapan. Orang-orang cacat, orang-orang yang terbuang, anak-anak yang tidak mampu membayar biaya sekolah……. Mereka berhak atas Harapan dan Kasih.
Bila kita mengakui sebagai pengikut Yesus, seyogyanya pula kita berjalan mengikut jalan-Nya, bukan jalan yang kita buat atas dasar kemauan dan egoisme kita.
Bila kita memang mencintai Dia, tentu kita senantiasa mau mengingat kata-kata-Nya dan rela melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita.
Dan bila kita mengimani, bahwa Dia adalah Jalan, kebenaran dan hidup, tentu kitapun dengan senang hati senantiasa memohon: Bimbinglah di jalanMu, bimbinglah di jalanMu.
Dengan berjalan di jalan-Nya-lah kita bisa meneladan Dia, dalam berbagi KASIH dan HARAPAN bagi mereka yang “kurang beruntung”.
MEREKA yang juga punya HAK untuk menikmati KASIH dan HARAPAN itu, Dan kita, seberapapun besarnya, berkewajiban untuk membagikan KASIH dan HARAPAN itu kepada mereka.
Apa yang menjadi hak mereka yang ada pada kita…?
Kadang kita besilang pendapat tentang apa yang bisa berikan kepada mereka yang miskin pap, terpinggirkan dan menderita?. Apakah dalam bentuk Materi? Atau perhatian? Atau doa?
Bantuan materi, tidak dapat dipungkiri, akan sangat berarti bagi mereka yang miskin-papa dan terpinggirkan. Perhatian, bisa dalam bentuk senyum, tutur sapa yang manis, sikap yang tidak sok-kuasa dan sok-kaya, bisa menjadikan hati dan perasaan mereka bahagia, dan mengembalikan harkat manusiawi mereka. Dan bagaimana dengan DOA?
Mari kita ikuti ilustrasi berikut ini:
Alkisah ada seorang yang kaya-raya yang tekun berdoa, namun sangat kikir. Suatu ketika dia melihat bahwa di sekitarnya masih banyak orang yang miskin.
Melihat hal itu, malam harinya, dalam doanya dia bertanya kepada Tuhan, begini:
“Tuhan, di sekelilingku masih banyak orang miskin. Bukankah Engkau tahu, bahwa aku selalu berdoa bagi mereka, agar Engkau membebaskan mereka dari kemiskinan? Apakah Engkau tidak berkenan dengan doaku sehingga Engkau tidak mengabulkannya?”.
Dan dalam cerita itu, Tuhan menjawab:
“Anak-Ku, Aku tahu Engkau telah berdoa bagi mereka, dan Aku berkenan dengan doa-doamu itu. Karenanya Aku telah berbuat sesuatu untuk mengabulkan doamu itu.”
Dengan penasaran orang itu bertanya lagi:
“Tapi Tuhan, kenyataannya mereka tetap miskin. Mengapa Engkau berkata telah mengabulkan doaku?”
Dan Tuhan menjawab:
“Aku telah memberikan kepadamu harta yang sangat berlimpah. Aku mau memakai engkau untuk menolong mereka, agar mereka terbebas dari penderitaan. Namun engkau terlalu sibuk dengan permohonan-permohonan, sehingga tidak pernah mendengar perintah-KU untuk menolong mereka dengan harta yang telah Ku-berikan kepadamu. Ketahuilah anak-Ku, ada HAK MEREKA pada harta yang Ku-berikan kepadamu itu.
Aku telah mendengarkan doa dan permohonanmu. Mengapa engkau tidak mendengarkan dan melaksanakan perintah-Ku…?”
Pentup
Dia, Cahaya yang Terang, Terang yang besar itu telah hadir di tengah-tengah kita.
Dia hadir bagi semua manusia.
Dan, orang-orang yang miskin papa, yang terpinggirkan, yang menderita, juga punya hak untuk melihat dan menikmati Terang itu, mereka juga punya hak atas KASIH dan HARAPAN.
Apa yang telah kita lakukan bagi mereka….?
Apakah kita sudah memenuhi kewajiban kita yang menjadi hak mereka…?
Deo omnia gratias,
B.F. Setyawan Sandhy
Gereja Katolik menghormati Maria sebagai Ratu. Hal ini telah berlangsung selama berabad-abad sejarah Kekristenan : sejak para Bapa gereja (Hieronimus, Agustinus, Efrem) sampai ajaran Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik dewasa ini.. Madah “Salam Ya Ratu Surgawi….” Adalah madah yang sangat terkenal di seluruh dunia. Rosario sebagai doa devosi terpopuler di kalangan umat menempatkan Peristiwa Mulia Kelima untuk menghormati martabat keratuan Maria : Maria dimahkotai di surga. Lebih dari itu, ada hari pesta khusus yang didedikasikan untuk merayakan ke-ratu-annya atas surga dan bumi (22 Agustus). Dan kita bisa saksikan pula aneka lukisan, gambar, patung Maria di seluruh dunia yang tak jarang dengan berhiaskan mahkota.
Banyak yang bertanya-tanya : Apakah hal ini tidak berlebihan? Apakah menempatkan Maria sebagai ratu ada dasar Alkitabiah-nya? Mungkinkah gelar ratu bagi Maria ini akan merongrong martabat rajawi Yesus? Dan yang lebih konyol lagi tak jarang timbul pertanyaan : Bagaimana mungkin ia bunda Yesus sekaligus “istri” raja Yesus? Bagaimana martabat dan peran ke-ratu-an maria ini harus dipahami?
Pertama-tama yang harus kita mengerti adalah ada perbedaan menyolok antara konsep modern tentang ratu yang adalah isteri raja. Konsep ini tidak sesuai dengan budaya timur tengah di mana raja mempunyai banyak isteri. Memang ada permaisuri (istri yang utama) namun bukan dalam peran seorang Ratu. (Bayangkan Solomo punya 700 istri!). Kepada siapa martabat ratu diberikan?
Setiap raja mempunyai satu ibu. Memberikan martabat ratu kepada si ibu merupakan langkah bijak dan strategis: Bunda Ratu adalah isteri raja terdahulu – sekaligus ibu raja yang bertahta sekarang. Bunda Ratu adalah simbol martabat rajawi sang raja; yang mengikat dia dengan darah rajawi sang raja. Bunda ratu menjadi jaminan keabsahan kedudukan sang raja dalam dinasti tersebut. Mengenal Maria sebagai ratu adalah tepatnya sebagai ibunda ratu (Ibu Suri). Namun peran dan kedudukan ibunda ratu di dalam Kitab Suci mungkin cukup berbeda dibandingkan dengan konsep ibu suri dalam budaya kerajaan di sekitar kita. Kita lihat peran ibunda ratu dalam kerajaan Daud dan Salomo :
– 1 dan 2 Kitab Raja-Raja : peran bunda ratu dalam kerajaan daud : hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, selalu disebut pula sang ibunda raja sambil digarisbawahi perannya dalam suksesi itu.
– Akhir 2Raj ketika Babel menaklukkan Kerajaan Yehuda, ibunda ratu merupakan orang pertama dalam daftar orang-orang yang diserahkan setelah raja Yoyakhin sendiri. Ibunda raja sangat vital perannya.
– Ambil bagian dalam pemerintahan rakyat, memiliki singgasana dan mahkota sendiri (Yer 13:18-20)
– Kisah Batsyeba : bandingkan Batsyeba saat menjadi istri Daud (permaisuri – 1Raj 1:16-17,31) yang harus menyembah raja sampai ke tanah dan memberi hormat jika akan masuk ke kamar Daud suaminya. – dengan ketika ia menjadi ibunda ratu bagi Salomo anaknya 1Raj 2:19-20). Bahkan raja Salomo tunduk menyembah dan menyambutnya – bahkan duduk di sisi kanan raja (tempat terhormat bdk. Mzm 110 : Mesias akan duduk di sisi kanan Allah – Ibr 1:13)
Peran ini bisa kita lihat misalnya dalam 1Raj 2:19-20 : Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.” Jawab raja kepadanya: “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.”
B. Maria: Bunda ratu yang dinubuatkan (Dasar Biblis Ke-Ratu-an Maria)
Peran dan martabat ratu Maria tanpa dasar biblis? Jika kita mencari teks yang secara langsung, gamblang, cetho melo-melo mencari teks atau ayat yang menuliskan Maria = Ratu, maka kita tidak akan menemukannya. Namun ada banyak teks, yang bahkan sejak Perjanjian Lama, telah tertoreh jejak-jejak martabat keratuan Maria. Mari kita melihatnya beberapa secara singkat :
Latar belakang nubuat ini adalah ketika kerajaan Daud terancam invasi dari dua musuh besar yang berkoalisi untuk menyerang Yerusalem. Raja Ahas merasa takut dan putus asa. Yesaya datang memberikan nubuat bahwa kerajaannya akan bertahan. Nubuat ini di satu pihak menunjuk kepada Hizkia anak raja Ahas yang akan lahir. Sekaligus menunjuk pula ke suatu masa depan yang lain, yaitu kedatangan Mesias.
Nubuat ini mengarah kepada keturunan Daud, berkaitan dengan kelangsungan dinasti Daud – karena itu perempuan muda yang melahirkan seorang putera jelas seorang bunda ratu. Siapakah dia?
Dan tugas rajawi Maria ini semakin mendapatkan pengukuhannya ketika Elisabeth yang dipenuhi Roh Kudus berseru “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk1 :43) Dalam bahasa istana timur tengah kuno, gelar “ibu Tuhanku” adalah sapaan untuk ibunda ratu – sedangkan raja disebut dengan gelar “Tuhanku” (Bdk 2sam 24:21). Elisabeth adalah orang pertama dalam Kitab Suci yang secara eksplisit mengakui jabatan Maria sebagai Bunda ratu!
C. Maria Ratu Surga
Lebih jauh lagi, Yohanes melihat ke-bundaratu-an Maria dari sisi eskatologis. Maria Ratu Surga, sebagaimana dikisahkan dalam Wahyu 12. (Lihat tipologi Maria Hawa Baru). Di sana ditampakkan bahwa Maria Ratu Surga bermahkotakan dua belas bintang. Hal ini menunjukkan martabat rajawi Maria yang melampaui para bunda ratu sebelumnya di kerajaan Israel. Dua belas bintang mengingatkan kita akan dua belas suku Israel sekaligus dua belas rasul yang adalah batu dasar Israel baru yaitu Gereja. Gambaran matahari, bulan, dan bintang yang mengelilingi Maria mengingatkan kita akan mimpi Yusuf (Kej 37:9) . Maria akan menonjol dan dihormati diantara sesamanya, manusia.
D. MARIA DIANGKAT KE SURGA? MARIA MENJADI RATU SURGA ? SO WHAT GITU LOH?
Maria adalah ratu surga. Lalu apa kaitannya dengan kita? Apa gunanya bagi kita? Bukankah itu hanya untuk mengagung-agungkan Maria secara berlebihan tanpa ada kaitannya dengan kita para pendosa di dunia? Dia sudah jaya – kita masih menderita. Kalau Maria adalah ratu, so what gitu loh?
Pesimisme seperti ini mesti dijelaskan secara agak luas, yaitu dalam kaitan dengan dua privilege yang dimiliki Maria : Maria Dikandung Tanpa Noda dan Maria Diangkat ke Surga.
Harus diakui bahwa tempat Maria dalam sejarah keselamatan adalah istimewa dan unik. Allah memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria karena ia harus mengandung Putera Allah. Hubungan antara anak dan ibu dalam kandungan sangat dekat – tak terpisahkan bahkan. Dan hal yang sama terjadi antara Yesus dan Maria. Maka sungguh masuk akal bahwa Allah menyediakan tempat/rahim yang suci tak ternoda oleh dosa asal maupun pribadi – karena Allah tidak bisa bersatu dengan dosa. Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa maka selanjutnya, setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.
Menurut Paus Pius XII, Maria diangkat ke surga adalah konsekuensi dari ia dikandung tanpa noda: “dua previlege yang luar biasa ini diangugerahkan kepada Bunda Allah yang berada dalam cahaya cemerlang pada awal dan akhir hidupnya di dunia. Karena kemuliaan tubuhnya yang tetap perawan merupakan pelengkap sekaligus pantas serta mengagumkan, bagi kemurnian jiwanya yang bebas dari segala dosa… Ia mengambil bagian dalam kemuliaan kemenangan Kristus atas dosa dan akibat-akibat dosa yang menyedihkan”.
Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Pengangkatan Maria ke surga sebagai pemenuhan janji Allah dalam kisah proto evangelium (Kabar Baik Pertama : Kej 3:15) bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (Rm 5-6, 1Kor 15:21-26;54-57).
Siapa manusia yang paling ikut menderita saat Yesus disiksa, disalib hingga wafat di kayu salib? Tak pelak lagi, jawaban jujur harus diberikan, yaitu Maria IbuNya! Karenanya, Maria layak menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna sehingga Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.
Dalam Maria janji Tuhan akan kebangkitan badan dipenuhi: kebangkitan jiwa dan badan para orang beriman pada akhir zaman. Oleh karena peran dan ketaatan-nya yang istimewa sebagai Ibu Tuhan dan hamba Allah, Bunda Maria diangkat ke surga, sebagai yang pertama dari anggota Gereja yang menerima janji itu sebagai teladan semua orang yang percaya kepada-Nya dan yang hidup melakukan kehendak-Nya (lih. Mrk 3:35).
Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.
Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surge dan menjadi Ibunda Ratu di surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Pengangkatan Maria ke surga menjadikan peran kepengantaraan Maria terhadap segenap manusia menjadi efektif karena sebagai bunda ratu yang berkuasa sebagaimana Yesus di sana sebagai Anak Allah yang berkuasa (Rm 1:4).
E. Kepengantaraan Maria : Bukan Bersaing dengan Kristus!
Pengantaraan Maria bersifat partisipasi. Kepengantaraan Kristus tidak menggusur dan tidak bersaing dengan kepengantaraan Maria melainkan meneguhkannya. Bukan sebagai pengantaraan yang lepas dan berbeda dengan Kristus melainkan karena mengambil bagian dan merupakan perpanjangan kepengantaraan Kristus. Karena Maria sendiri juga ditebus oleh Kristus secara istimewa.
Partisipasi atau ambil bagian ini bukan berarti bersaing, melainkan bahkan merupakan suatu keharusan bagi kaum beriman. Melalui iman dan pembabtisan, Keputraan Ilahi kita : partisipasi keputraan Yesus – dan imamat rajawi kita adalah partisipasi imamat Agung Kristus. Yesus sendiri yang meng”encourage” kita semua bahkan untuk berpartisipasi dalam diriNya dengan mengatakan : “tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu, sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri jika ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal dalam Aku” (Yoh 15:4). Tinggal dalam Yesus bukan tenang, nyaman, santai, damai saja melainkan juga harus berbuah. Berpartisipasi memberikan buah kepada orang lain! Dan rasul Paulus juga mengatakan bahwa semua orang Kristiani adalah duta-duta bagi Kristus, artinya pengantara bagi sesama manusia untuk menemukan Kristus (bdk 1Kor 5:18-20). Dalam Perjanjian Lama, Allah menggunakan para bapa bangsa dan para nabi sebagai perantaraNya. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah menggunakan para malaikat untuk menjadi perantara pesan-pesan dan rahmatNya.
Justru penolakan terhadap pengantaraan Maria adalah karena orang salah memahami hakekat, kekuatan dan kedalaman kepengantaraan Kristus. Allah tidak bersaing dengan Maria (kita), seolah Ia dihormati hanya kalau kita (manusia) tidak dihormati. Menghormati Maria sebagai Bunda Ratu tidak merampas sesuatu pun dari Kristus – sebaliknya justru berarti menekankan bahwa Maria sepenuhnya tunduk di bawah Kristus, sebagaimana jabatan bunda ratu sepenuhnya tergantung pada martabat rajawi puteranya. Peran Maria sebagai ibu umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi kepengantaraan unik Kristus, melainkan justru menunjukkan kekuatannya (Lumen Gentium 60 bdk. Katekismus Gereja Katolik 970)
KV II mengajarkan bahwa setelah Maria diangkat ke surga, “ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka pengantaraannya ia terus menerus memperoleh bagi kita kurnia-kurnia yang mengantar kita kepada keselamatan kekal” (LG 62)
Jika orang memohon agar Bunda Maria mendoakan mereka, bukan Bunda Maria yang mengabulkan doa, melainkan Allah; namun Gereja Katolik percaya, karena kedekatan Bunda Maria dengan Yesus, maka dalam proses doa tersebut, Bunda Maria dapat membimbing umat kepada Yesus, dan jika Yesus berkenan, maka Ia akan mengabulkan doa seseorang yang dipanjatkan bersama dengan doa Ibu-Nya sendiri.
Jika seorang menolak untuk berdoa bersama Bunda Maria, tentu saja tidak menjadi masalah, sebab Tuhan Yesus tentu tetap dapat mengabulkan doa orang tersebut, terutama yang dinaikkan dengan ketulusan hati. Walaupun tentu saja, secara objektif dapat dikatakan, orang tersebut tidak mempergunakan cara yang sesungguhnya ditawarkan oleh Gereja demi kebaikan orang itu sendiri. Ibaratnya, Bunda Maria adalah ‘pemberian’ Yesus kepada kita, untuk kita jadikan sebagai Ibu rohani kita (Yoh 19:27), dan memang terserah pada kita akankah kita menerimanya dalam rumah hati kita atau tidak.
Awal Bulan Rosario 2011
O Maria, sinelabe originali concept. Intercede pro nobis, qui ad te confugimus
FX. Sutjiharto ([email protected])
]]>– Doa permohonan pada Jumat Agung; eventual juga seruan diakon dan jawaban umat;
– Nyanyian pengangkatan dan penghormatan salib;
– Aklamasi prosesi Jilin Paskah dan Madah Paskah, aleluya sesudah bacaan, litani dan aklamasi pemberkatan air baptis.
– Nyanyian pada pemberkatan dan prosesi Palma dan masuk ke gereja;
– Nyanyian prosesi dengan minyak-minyak suci;
– Nyanyian prosesi persembahan dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih dan Madah untuk pemindahan Sakramen Mahakudus;
– Tanggapan atas mazmur tanggapan dalam perayaan Malam Paskah dan nyanyian untuk pemercikan air suci.
– Pantaslah juga Kisah Sengsara,
– Madah Paskah
– pemberkatan air baptis disertai lagu yang mempermudah menyanyikan teks-teks itu.
A. KAMIS PUTIH
– Liturgi Pagi Hari : Misa Krisma
– Liturgi Malam Hari : Perjamuan Malam terakhir Yesus (Penetapan Ekaristi, Imamat Perjanjian Baru dan Pembasuhan kaki)
1. LITURGI PAGI HARI : MISA KRISMA
a. Minyak Krisma :
b. Minyak Orang sakit :
c. Minyak Katekumen :
2. LITURGI MALAM HARI : Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih
– Pengadaan Ekaristi dan Imamat
– Serta perintah kasih persaudaraan
B. JUMAT AGUNG
1. Perarakan Masuk hingga Oratio Collecta
2. Liturgi Sabda
– Bacaan I : Yesaya Madah tentang Hamba Allah yang menderita “Ia ditikam karena kedurhakaan kita” (Yes 53:5)
– Bacaan II : Surat Ibrani 4:14-16; 5:7-9 “Yesus yang tetap taat dan menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua orang yang patuh kepada-Nya”
– Kisah Sengsara menurut Yohanes dinyanyikan atau dibacakan seperti pada Minggu Palma (bdk FPPC.no.33).
3. Doa Umat Meriah
4. Perarakan dan Penyembahan Salib
5. Bapa Kami – Komuni
C. SABTU PASKAH
D. Hari Raya Kebangkitan Tuhan
1. Perayaan Malam Paskah
i.Malam Paskah sebagai Perayaan Malam
ii.Struktur Perayaan Malam Paskah dan Maknanya
– Bagian 1 : Perayaan cahaya pendek dan madah Paskah
– Bagian 2 : Liturgi Sabda : Gereja Kudus merenungkan karya agung yang dilaksanakan Allah Tuhan pada umatNya sejak semula,
– Bagian 3 : Liturgi Babtis : sampai ia bersama anggota-anggota baru yang dilahirkan kembali dalam baptis
– Bagian 4 : Liturgi Ekaristi : dan diundang Tuhan ke meja yang disediakan-Nya bagi umat-Nya, sebagai kenangan akan wafat dan Kebangkitan-Nya, sampai ia datang kembali
a. Bagian I : Upacara Cahaya dan Madah Paskah
b. Bagian II : Liturgi Sabda
– Tujuh bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari Taurat dan para Nabi, yang sebagian besar berasal dari tradisi kuno Timur dan Barat, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.
– Dua bacaan dari Perjanjian Baru, satu bacaan surat Rasul dan Injil.
– 4 teks pertama berkaitan dengan malam (kegelapan) dari kehidupan kita menuju ke terang, yakni malam kisah penciptaan, pengurbanan Abraham, malam pembebasan Israel menyeberangi Laut Merah (Paskah Israel) dan pembentukan umat pilihan Allah yg baru setelah pembuangan.
– 3 teks berikutnya berkaitan dengan pembabtisan : perjamuan (Yes 55), Kebebasan dalam Allah (Bar 3) dan menjadi anak angkat Allah (Yeh 36).
c. Bagian III : Liturgi Baptis
d. Bagian IV : Liturgi Ekaristi
– Doa permohonan yang dilaksanakan mereka yang baru dibaptis untuk pertama kalinya sebagai kaum beriman yang mewujudkan imamat rajawi
– Persiapan persembahan yang melibatkan peran mereka yang baru dibaptis,
– Doa Syukur Agung I, atau II, atau III dengan sisipan masingmasing, yang sebaiknya dinyanyikan.
– Akhirnya Komuni sebagai saat partisipasi paling mendalam pada misteri yang dirayakan. Pada komuni bila mungkin, hendaknya dinyanyikan Mazmur 118 (117) dengan antifon “Anak domba kita“
e.Beberapa Petunjuk-petunjuk Pastoral
2.Minggu HARI RAYA Paskah
Pada Malam Paskah,kita menantikan dan menyongsong Yesus Kristus Tuhan kita yang akan beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah, dan dalam semangat hidup yang baru berkat cahaya Kristus yang kita terima, kita sambut Kristus yang akan bangkit pada Hari Minggu Paskah. Hari raya dari segala hari raya.
Minggu Hari Raya Paska tetap wajib bagi mereka yang telah mengikuti misa malam paskah.
Salib Suci – Tropodo
Kamis Putih, 21 April 2011
FX. Sutjiharto
Selamat Trihari Suci !!!
]]>
Tinjauan kritis atas sms pembawa berkat atau yang akan mendatangkan kutuk
Pengantar
Walau merupakan persoalan yang sudah cukup lama, namun sampai hari ini masih banyak di antara kita yang menerima sms berantai yang intinya berisi tawaran berkat bagi yang mengindahkan dan ancaman kutuk bagi yang mengabaikan. Oleh karena itu, MAWASS pada edisi ini menyajikan bahasan soal sms berantai atau surat berantai ini yang diambil dari buku :
Beriman Katolik dari Altar Sampai Pasar; Pustaka Nusatama, 2006; F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr; hlm. 178-183.
Selebaran Gelap
Sampai hari ini banyak di antara kita yang masih menerima atau menjumpai “selebaran rohani” berisi iming-iming janji berkat bagi yang mengindahkan isinya dan ancaman kutukan bagi yang mengabaikan. Biasanya kita diminta memfotokopi dan menyebarluaskannya. Atau, bila pesan dalam email, kita diminta untuk memforwardnya.
Entah lantaran tergiur iming-iming berkatnya atau takut akan ancaman kutukannya, banyak orang menurutinya. Begitu juga dengan teks novena, misal novena kepada Yudas Tadeus, ditambahkan syarat pengabulannya: “Novena ini didoakan 6 kali sehari selama 9 hari berturut-turut dan tinggalkan 9 lembar salinan doa ini di gereja tiap hari. Buatkan 81 salinan dan tinggalkan 9 lembar salinannya di gereja selama 9 hari berturut-turut, Anda akan menerima intensi doa sebelum hari ke-9 berlalu.” Pernah juga dulu ada selebaran tentang penglihatan Tuhan Yesus kepada paus yang berisi tentang bencana dan hari kiamat. Anehnya, mereka yang mau menyebarluaskan selebaran itu akan selamat dari malapetaka.
Semua “selebaran rohani” itu sebenarnya adalah sebebaran gelap. Sebab pengirimnya tidak jelas, kalaupun nama dan alamat pengirimnya dicantumkan, biasanya fiktif belaka. Berkaitan dengan doa-doa yang akan disebarluaskan dalam Gereja Katolik selalu dibutuhkan imprimatur (izin terbit) dari Uskup/wakilnya dan nihil obstat yang menyatakan bahwa isinya tidak bertentangan dengan susila dan iman Katolik. Jadi, tak perlu kita terkecoh dan terhasut oleh provokasi dari selebaran gelap itu.
Bisa jadi, selebaran gelap tersebut dibuat untuk membingungkan dan menggoyahkan keyakinan iman kita sebagai pengikut Kristus. Mari kita melihat “iming-iming berkat” dan “ancaman kutuk” tersebut dalam perspektif iman Katolik.
Hal Pengabulan Doa
Yang menarik untuk disimak dari selebaran tersebut adalah adanya kesan kuat bahwa penggandaan dan penyebarluasan selebaran dan teks doa itu menjadi syarat terkabulnya doa. Asalkan kugandakan dan kusebarluaskan, niscaya doa permohonanku terkabul. Di sinilah terjadinya bahaya takhayul. Seakan-akan Tuhan wajib mengabulkan doa kita, sebab kita telah “membayar” dengan menggandakan dan menyebarluaskan teks tersebut. Padahal untuk pengabulan doa, Tuhan tidak butuh suapan. Bahkan korban bakaran dan persembahan Israel kerap ditolak Tuhan, sebab Tuhan tidak memerlukan hal itu. “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya” (Mzm 50:12).
Dalam Injil dinyatakan dengan jelas, pelbagai syarat pengabulan doa:
Pertama, dipanjatkan dengan penuh iman. Banyak penderita sakit dan kelemahan mengalami kesembuhan berkat imannya akan kuasa dan kasih Yesus Kristus. Kepada ibu yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan dan menjamah jumbai jubah-Nya, Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mat 9:22). Iman ini juga nampak dalam ketekunan dan kesetiaan kita dalam doa, seperti janda yang tiada bosan mengetuk pintu hakim yang tidak benar (Luk 18:1).
Kedua, sejauh kita mau tinggal dalam dan bersama Kristus, artinya hidup dalam kasih. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Bila kita kurang berbuat kasih, niscaya sulit juga doa kita dikabulkan. Sebab dosa-dosa kita bisa menghalangi suara kita sampai di tempat yang mahatinggi (lih. Yes 59:2). Maka saat berdoa novena pun, kita dianjurkan juga menerima Sakramen Tobat. Tuhan juga tak akan mengabulkan permohonan manakala hal itu hendak kita habiskan untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3).
Ketiga, pentingnya dukungan doa dari orang lain. Sebab firman Tuhan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:2). Begitu juga melihat iman mereka, iman si lumpuh dan iman keempat teman yang menggotongnya, Yesus tergerak hati untuk menyembuhkan (Mrk 5:2).
Iming-iming janji berkat dengan cara instan “doa + fotokopi” mengingatkan kita akan godaan si Jahat yang menyuruh Yesus secara instan mengubah batu menjadi roti (Luk 4:3). Permohonan yang meminta Tuhan membuat mukjijat selekas mungkin ini, tidak menunjukkan bahwa kita beriman pada Tuhan, sebaliknya justru mencobai Tuhan. Seru penjahat yang disalibkan bersama Yesus, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:29).
Memang Tuhan itu mahakuasa dan sanggup mengerjakan karya ajaib tanpa kita. Kendati demikian, Tuhan senantiasa mengajak kita untuk berusaha dan bekerjasama dengan rahmat-Nya. Kita ingat kisah mukjizat dalam perkawinan di Kana, di sana manusia harus mengisi tempayan dengan air terlebih dahulu (Yoh 2:7). Begitu juga dengan kisah pergandaan roti untuk menyenyangkan lima ribu orang, dibutuhkan lima roti dan dua ikan (Mrk 6:38) sebagai simbol modal dan usaha kita. Modal dan usaha yang kita persembahkan kepada Tuhan, niscaya akan diberkati Tuhan sehingga berlipat ganda.
Jangan Takut!
Yang mengherankan adalah selebaran gelap tersebut, berani mengancam siapa saja yang mengabaikan isinya, apalagi mereka yang sampai berani membuangnya. Tak sedikit pembaca yang kemudian mempercayainya, atau setidak-tidaknya berjaga-jaga jangan sampai celaka menimpa mereka lantaran mengabaikan selebaran itu. Bukankah ancaman demikian, tak jauh beda dengan pelbagai ancaman yang menghantui kita manakala mengabaikan perhitungan hari baik – hari buruk dan ancaman “Bathara Kala” bila kita tidak diruwat.
Jika hal itu yang terjadi, sebenarnya kita masih dibelenggu oleh ketakutan. Kepada kita yang telah dibaptis, St. Paulus mengingatkan, “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15). Yesus Kristus adalah Injil, kabar gembira dari Allah. Sewaktu Dia lahir, malaikat berseru kepada Maria (Luk 1:30) dan para gembala (Luk 2:10), “Jangan takut!” Kata yang sama disampaikan Yesus waktu Dia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan setelah kebangkitan (Mat 28:10). Memang kita tak perlu takut, sebab Allah itu kasih (1 Yoh 4:8) , Dia tak akan menghukum dan mencelakai kita. Dialah Immanuel (Mat 1:23), Allah beserta kita, yang senantiasa melindungi kita (Mat 28:20). Bersama Yesus, siapa takut (Rm 8:35)?
Penutup
Maka kesimpulannya, bila kita menerima sms semacam ini, jangan mudah percaya dan tidak perlu diteruskan, karena justru akan menggoyahkan iman orang lain. Betapapun mulianya maksud sms berartai ini (misalnya menyerukan pertobatan), namum cara yang ditempuhnya sama sekali tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Memang, memberitakan kabar baik adalah tugas setiap orang, tetapi tentu tanpa harus iming–imingi sebuah janji dan menakut-nakuti orang lain. Segala setiap perkara apapun, janganlah kuatir tetapi nyatakanlah segalah hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).
]]>
LUK 11:27-2811:27 Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya:
“Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” 11:28 Tetapi Ia berkata:
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Menarik bahwa perikop ini hanya ditulis oleh Lukas. Dari sisi model penulisan, sekali lagi Lukas seolah “menyela”
reportase aktifitas Yesus yang sibuk mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Seolah Lukas ingin merekam juga
suasana di sekitar Yesus, termasuk celetukan dan komentar dari para audiens. Celetukan seorang wanita seperti di
atas sangat lazim terjadi. Manakala ada sesorang yang mengagumkan, menggemaskan, membuat heboh maka akan keluar celetukan dari orang-orang. Dan yang lazim adalah : “anak siapa itu!” Atau mungkin “seandainya anakku seperti itu….” Hal yang sangat lumrah. Namun ada yang sedikit aneh dalam celetukan yang ditulis oleh Lukas ini. Deskripsi celetukan ini sangat tidak lazim. : “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”Celetukan yang lazim – namun dengan cara yang tidak lazim. Terlihat tidak lazim karena sangat spesifik dikatakan “Ibu yang mengandung…” bukan sekedar “anak siapa” namun langsung dengan “berkat : berbahagialah….. makarios” dan secara terang terangan dikatakan dalam bahasa aslinya “koilia / koilos” . Ungkapan teknis yang sangat biologis mengarah pada “rahim” seorang wanita. “Berbahagialah wanita yang “rahimnya” mengerami Engkau: makaria e koilia e bastasasa se ”.
Dalam perjanjian lama ungkapan ini kerap dipakai untuk menunjukkan perlindungan dan pengenalan Yahweh pada manusia sejak ia “dibentuk” dalam rahim (Aram : rechem) ibu (bdk MZM 22: 10-11; 71:6 ; 139: 13). Hal yang sama juga dipakai untuk kata mastos . Kata yang sangat teknis untuk susu ibu. kai mastoi ous eqhlasas Pemakaian kata-kata teknis biologis ini memang bisa dimaklumi mengingat Lukas adalah seorang dokter/tabib.
Namun lebih dari itu, tentunya dalam pemakaian kata-kata itu terkandung pesan yang sangat mendasar. Rahim yang meng-erami/yang di dalamnya benih manusia bertumbuh hingga saat kelahiran tiba. Di dalam rahim tersebut janin embrio terbentuk. Sejak awal kehidupan dimulai dari pertemuan sperma dan ovum yang terjadi dirahim ini.
Hingga Sembilan bulan sepuluh hari sang embrio – yang nota bene adalah (sudah) manusia personal yang penuh mendapatkan segala-galanya. Bukan hanya asupan gisi dari tubuh ibu kepada sang bayi melalui plasenta, melainkan juga asupan psikis dan spiritual dari persona sang ibu kepada jabang bayi. Diyakini bahwa apa yang dirasakan oleh sang ibu – juga dirasakan oleh si bayi. Bahkan sejak dalam kandungan pun sang ibu dianjurkan untuk sering berbicara kepada si bayi – komunikasi telah terjalin secara psikis dan batin sejak bayi dalam kandungan.
Setelah bayi keluar dari rahim, air susu ibu menjadi makanan pertama dan utama bagii bayi. Sebelum bayi mampu mencerna makanan yang lain, susu ibu adalah satu-satunya asupan yang sangat dibutuhkan. Selama beberapa bulan awal hidupnya pun bayi sangat bergantung pada air susu ibu. ASI-lah yang memelihara anak pada awal hidup dunia.
Ibu harus benar-benar menjaga makanan yang dimakannya sendiri selama bayi masih menyusu. Apa yang dimakan ibu – juga dimakan bayi melalui susu. Bahkan tak jarang jika bayi sakit maka ibulah yang harus menelan obat agar tersalurkan pada bayi saat menyusui. Suatu proses yang sangat mengagumkan. Lama sebentarnya si anak mendapatkan ASI ternyata sangat menentukan kondisi kesehatan fisik si anak hingga dewasa. Dan tak hanya sekedar makanan, dalam proses menyusui juga sangat intens terjadi kontak batin antara ibu dan bayi. Rasa sayang dan perasaan batin ibu juga sangat dirasakan oleh anaknya dan terekan pada alam bawah sadar. Hal ini sangat berpengaruh pada kondisi dan ketahanan psikis anak hingga dewasa.
Bagaimana anak memandang dan berinteraksi bersama manusia lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia diperlakukan pada masa lalu. Apa yang direkam di bawah sadar di masa lalu seolah menjadi “platform/cetak biru” bagi pola tingkah lakunya kelak.
Cara komentar yang tak lazim ini mendapatkan pemaknaannya lebih mendalam dengan jawaban Yesus : “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”Seolah/sekilas Yesus seperti menyangkal apa yang dikatakan wanita tadi, namun sesungguhnya tidak.
Seperti pula ketika saudara-saudara yesus menjenguk Dia, Yesus mengatakan hal yang senada : Mat 12:50 “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”Justru dengan mengatakan demikian kepada kita, yesus menunjukkan bahwa dalam diri ibu Yesus/Maria, keistimewaan bukan sekedar karena rahimnya mengandung Yesus – dan air susunya menghidupi Yesus – melainkan terutama karena Maria adalah pendengar firman Allah dan memeliharanya. Maria menjadi model yang paling lengkap karena selain
hubungan fisik, psikis dan spiritual dengan Yesus – Maria juga contoh sempurna pendengar dan pemelihara Firman, pelaksana kehendak Allah. Sebagaimana St. Dominikus pencipta doa salam maria menyebutkan : “Terpujilah engkau di antara wanita…. Dan terpujilah buah tubuhmu Yesus!”. Karena Maria, sebutan “yang berbahagia” menjadi universal.
Tidak terbatas hanya yang berhubungan darah dengan Yesus – tidak terbatas pada untuk orang Yahudi saja – melainkan
untuk semua bangsa. Hal ini sesuai dengan tujuan Lukas menulis Injilnya, yaitu kabar gembira bagi bangsa-bangsa di
luar Yahudi juga. (FX. Sutjiharto)
Saat kita merenung dan berpikir apakah kita sudah merasakan ada berkat dan kedamaian dalam keseharian kita ?………..
Kata itu telah mengusik saya. Benar memang setiap orang akan mengalami beragam permasalahan dalam hidup. Tetapi apakah harus kita membanding akan perasaan atau kenyataan, bahwa kita harus mempertanyakan ada tidaknya berkat dan kedamaian dalam hidup ini?
Mari kita menengok kebelakang…..Dulu sebelum ada handphone kita sering mendapatkan surat berantai yang isinya mengajak seorang yang mendapatkan surat untuk melakukan hal yang sama mengirimkan surat sebanyak sepuluh orang agar mendapatkan apa yang diinginkan……Hasilnya…………? Sekarang setelah jaman sudah berkembang dan teknologi makin maju, muncul hal serupa hanya berganti gaya, yakni sms berantai. Uniknya gaya bahasanya sangat atraktif dan meyakinkan (bagi sebagian orang) bahkan pada akhir kalimatnya bernada ancaman!
Nah, jika memahami makna keimanan kita dan merenung sabda kehidupan bahwa ajaran Kristus selalu menekankan kepada kasih, maka kita akan paham bahwa berkat dan kedamaian berawal dari bagaimana kita melakukan titah kasih itu, sudahkah kita menjalankan itu? Dan setiap tindakan kasih yang kita lakukan, berkat dan kedamaian pasti ada, hanya seturut kehendak Allah; tetapi tidak pernah Kristus mengajarkan tentang ancaman dan kekerasan seperti tertulis pada kitab suci , “…..jika kamu ditampar pipi kanan berikan pipi kirimu……” ayat ini sangat sederhana tetapi sangat tepat untuk menjelaskan apakah sms berantai itu dapat dipertanggungjawabkan…………?
Dalam relung hati dan dalam kehausan akan hadirnya berkat dalam hidup ini, sungguh sms berantai sepertinya pandai memanfaatkan celah. Namun dengan kearifan dan iman, kita berharap hal itu tidak menjadikan perilaku keimanan kita mudah goyah dengan iming-iming yang dijanjikan sms berantai; tetapi justru menjadikan kita lebih dewasa dan arif dalam menanggapinya. Mari tetap berpegang teguh pada iman akan Kristus, mari kita hayati pesan-Nya ; “Damai sejahtera kutinggalkan bagimu, damai sejahteraku kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu, janganlah gelisah dan gentaar hatimu”
Yoh. 14:27.
]]>