Gereja Katolik PAROKI SALIB SUCI Tropodo Sidoarjo, Jawa Timur » Prosesi Liturgis http://parokisalibsuci.org Situs Resmi Dewan Pastoral Paroki Gereja Katolik Salib Suci, Keuskupan Surabaya Fri, 06 Dec 2013 07:26:32 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.8 Pentingnya Aturan dalam Liturgi http://parokisalibsuci.org/2013/06/03/pentingnya-aturan-dalam-liturgi/ http://parokisalibsuci.org/2013/06/03/pentingnya-aturan-dalam-liturgi/#comments Mon, 03 Jun 2013 00:09:45 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=767 Dalam suatu diskusi tentang liturgi, khususnya tentang bagaimana berliturgi dengan benar, seringkali saya temui perlawanan dan penolakan untuk berliturgi dengan benar sesuai dengan hukum dan aturan liturgi yang berlaku secara universal. Apabila seseorang diingatkan tentang cara berliturgi yang benar, apabila mereka dikritik karena berliturgi secara keliru (misalnya memasukkan band dalam misa, mengganti homili dengan drama, memasukkan tarian dalam misa, dst), mereka akan cenderung marah dan menyampaikan beberapa respon, yang bisa dirangkum sebagai berikut :

  • Saya ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Yang penting kan hati kita, tidak perlu terlalu kaku soal liturgi..toh itu kan buatan manusia. Jangan jadi orang yang fundamentalis…menafsirkan secara ketat aturan liturgi
  • Ah kalian itu mirip seperti orang Farisi yang ketat pada aturan, padahal yang penting bagaimana saya bisa lebih merasakan kehadiran Tuhan, bagaimana saya bisa mengalami Tuhan…
  • Tuhan kan melihat isi hati manusia…
  • Aturan2 liturgi itu gak penting, yang penting itu karya nyata…
  • dst

Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang katolik dalam berliturgi?

Paus Benediktus XVI, dalam bukunya “The Spirit of Liturgy”, berkata bahwa hukum fundamental dari liturgi adalah “kami tidak tahu dengan apa kami harus beribadah kepada Allah” (Kel 10 : 26). Perhatikan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa : manusia itu tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah yang dilakukannya sudah sesuai dengan kehendak Allah, kecuali Allah yang telah menyatakannya pada kita.

Pada Perjanjian Lama, ketika Musa sedang berada di Gunung Sinai menunggu Tuhan memberikan dua loh batu yang bertuliskan 10 perintah Allah; dan umat Israel menanti di kaki Gunung Sinai, umat Israel malah melanggar apa yang diperintahkan Allah (bdk Kel 20:3-5 tentang pembuatan patung berhala). Mereka meminta Harun untuk membuat patung lembu emas :

Buatlah untuk kami Allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir–kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia

Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.” – Kel 32: 23

Paus Benediktus XVI (dalam audiensi umum tentang sekolah doa) mengkomentari hal tersebut dengan berkata bahwa umat Israel lelah dengan Allah yang tak kelihatan, sedangkan perantara mereka – Musa – juga tak kelihatan, maka mereka berusaha membuat allah yang dapat dijangkau, allah yang dapat dirasakan kehadiran-Nya oleh manusia. Dan inilah godaan manusia dalam perjalanan imannya : bahwa manusia cenderung untuk membuat gambaran tentang Allah sesuai dengan apa yang mereka inginkan, sesuai dengan rencana mereka. Apa yang dilakukan umat Israel yang membuat lembu emas sebenarnya adalah ini :

Mereka menukar Kemuliaan Allah dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput –Mazmur 106:20

Lalu, apa hubungannya dengan liturgi yang dirayakan sesuka hati tanpa menaati aturan yang berlaku?

Ketika seseorang merayakan liturgi tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Gereja, maka sebenarnya seseorang mulai menyembah allah, yang sebenarnya bukanlah Allah. Mereka ingin menyembah sesuai dengan cara mereka, sesuai dengan keinginan dan perasaan mereka – dan mereka begitu yakin bahwa Allah berkenan dengan cara mereka –  bukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, bukan sesuai dengan apa yang telah ditentukan Gereja. Tanpa sadar, mereka juga menciptakan gambaran Allah yang keliru.

Disini kita melihat adanya pergeseran : liturgi, dimana Allah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita, dibuang begitu saja dan digantikan oleh ego manusia. Allah harus memuaskan perasaan manusia, Allah harus memberikan rasa nyaman, harus menunjukkan kehadiran-Nya seperti yang manusia inginkan, Allah harus memberikan perasaan gembira, semangat dan sukacita.

Ekaristi_1

 

Perhatikan bahwa liturgi yang seenaknya diubah, telah menempatkan manusia sebagai pusat dari liturgi. Liturgi yang tidak dirayakan dengan benar sesuai ketetapan resmi Gereja, berubah menjadi liturgi yang egoistis – hanya ingin memuaskan perasaan manusia semata. Dan Allah diharuskan untuk memuaskan dan memberikan perasaan-perasaan itu.

Disinilah aturan-aturan liturgi yang kaku menjadi penting. Aturan-aturan liturgi yang kaku itu menyadarkan kita bahwa liturgi itu bukanlah produk buatan manusia, melainkan liturgi itu berasal dari Gereja, dan hanya Gereja dengan otoritas yang berasal dari Allah yang mengetahui dengan pasti bagaimana cara menyembah dan memuliakan Allah secara benar.

Aturan dalam liturgi, mengajarkan kita untuk menjadi rendah hati : mengakui bahwa kita tidak tahu dengan cara seperit apa kita harus beribadah dan menyembah Allah. Oleh karena itu, kita harus percaya bahwa Gereja lah yang lebih mengetahui cara menyembah Allah yang tepat.

Aturan dalam liturgi, mencegah liturgi menjadi sesuatu yang egoistis : berpusat pada manusia dan bukan berpusat pada Allah. Aturan liturgi mencegah manusia untuk menyembah allah yang palsu, allah ciptaan manusia yang dibuat untuk memuaskan perasaan-perasaan manusia.

Aturan dalam liturgi, mendorong kita untuk taat dan setia terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Gereja. Setia kepada Gereja, berarti juga setiap kepada Yesus, karena Yesus dan Gereja adalah satu dan tak terpisahkan.

Aturan dalam liturgi menjamin adanya kebebasan, kebebasan yang tunduk kepada kebenaran. “Ketika setiap manusia hidup tanpa hukum, manusia hidup tanpa kebebasan”. Ini pernyataan Paus Benediktus XVI yang saya kutip di bagian paling atas artikel ini. Hukum dan aturan, khususnya dalam liturgi, memberi tahu kita tentang kebenaran dalam tata cara menyembah Allah. Tanpa adanya hukum dan aturan, bukan kebebasan yang terjadi, melainkan kekacauan, karena setiap orang akan bisa memaksakan apa yang ia inginkan sesuka hatinya.

Oleh karena itu, berliturgilah dengan cara yang telah ditetapkan Gereja – karena cinta dan ketaatan kepada Allah juga diperlihatkan dengan ketaatan dan kesetiaan dalam berliturgi sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

By Cornelius 28 April 2013 dikopi dari LUX VERITATIS 7

]]>
http://parokisalibsuci.org/2013/06/03/pentingnya-aturan-dalam-liturgi/feed/ 0
Asal Mula Masa Adven http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/asal-mula-masa-adven/ http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/asal-mula-masa-adven/#comments Tue, 06 Dec 2011 08:00:22 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=534

Hari raya Natal adalah salah satu dari dua hari raya yang paling penting dalam masa liturgi Gereja Katolik. Sebagai Hari Raya yang penting maka dalam menyongsongnya dibutuhkan persiapan yang khusus pula. Masa persiapan ini dikenal sebagai Masa Adven.

Masa liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari minggu terakhir bulan November. Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.

Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.

Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita  ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.

Sumber:

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/asal-mula-masa-adven/feed/ 0
Lingkaran Adven : Lambang dan Maknanya http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/lingkaran-adven-lambang-dan-maknanya/ http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/lingkaran-adven-lambang-dan-maknanya/#comments Tue, 06 Dec 2011 07:42:06 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=537

Ada beberapa hal yang khas di dalam Masa Adven ini. Yang paling kelihatan adalah dengan adanya karangan Adven. Setiap bagian dari karangan Adven ini memiliki arti dan makna yang mendalam.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak memiliki akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun yang senantiasa hijau (evergreen), Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “evergreen” berarti senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu merupakan lambang tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mau mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin ini mau melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal.  Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya, lilin lain juga ikut mulai dinyalakan. Seiring bertambah terangnya Lingkaran Adven untuk setiap minggunya dengan bertambahnya jumlah lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala-nyala akan kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin berwarna ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa saat kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete“. Gaudete adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih,  artinya : sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (dilambangkan dengan warna ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih, yang berarti masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung Kristus, sang Penebus, di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada Hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat menyolok di Gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja.

Jadi jika anda melihat/memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan diriNya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama : “Bapa di Surga … tambahkanlah kerinduan kami kepada Krisyus,m Juruselamat kami, dab berilah kami kekuatan yntuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangNya membuat kami bersukacita atas kehadiranNya dan menyambut terang kebenaranNya.”

Sumber:

  • Buku “Berdoalah dan Berjaga-jagalah – Ibadat Adven Keluarga”, Keuskupan Surabaya, 2011
]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/12/06/lingkaran-adven-lambang-dan-maknanya/feed/ 0
TANDA SALIB http://parokisalibsuci.org/2011/04/29/tanda-salib/ http://parokisalibsuci.org/2011/04/29/tanda-salib/#comments Fri, 29 Apr 2011 08:56:44 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=425 Hidup kita diawali dengan Tanda Salib dan diakhiri pula dengan Tanda Salib . (Rm Heribertus SVD : Pengantar Misa II  RY Tritunggal maha Kudus, 30 Mei 2010)

PENGANTAR

Priiiitttttt, Peluit piala dunia telah ditiup. Genderang laga sepak bola dunia akan memukau jutaan pasang mata di seluruh belahan bumi. Di arena itu kita lihat pula bertaburan pemain yang memasuki arena dengan membuat Tanda Salib, atau teriakan gembira disertai Tanda Salib setelah gol tercipta. Kita bangga sambil menduga,  emain itu pasti Katolik  Tapi tunggu dulu . kenapa ada gerakan Tanda Salib yang tidak sama dengan yang kita lakukan? Apakah Tanda Salib yang tidak sama itu mempunyai makna yang sama? Lalu apa arti Tanda Salib??? Menurut pelajaran agama di sekolah minggu, garis lurus dari atas ke bawah melambangkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan  garis horisontal menyamping melambangkan hubungan antar sesama manusia. Keduanya harus seimbang, tidak miring-miring, sebagaimana harusnya relasi kita dengan Tuhan dan sesama.

Hanya itu sajakah????Dalam tulisan ini kita akan mencoba masuk lebih dalam lagi memahami Tanda Salib. Benarkah Tanda Salib HANYA dilakukan oleh orang Katolik saja??? Apakah Tanda Salib ini mempunyai akar Alkitabiah? Apakah jemaat perdana juga menandai diri dengan Tanda Salib ? Bagaimana pandangan para bapa Gereja mengenai Tanda Salibi? Apa makna sesungguhnya yang terkandung dalam Tanda ini? Bagaimana seharusnya Tanda Salib ini dilakukan?Semoga tulisan ini memperkaya pemahaman kita akan tradisi maupun teologi Katolik yang benar.

 

TANDA SALIB : TIDAK MELULU KATOLIK

Tanda Salib merupakan ritual gerakan tangan khas  beberapa Gereja Kristen, meski tidak semua kelompok Kristen melakukannya. Ritual ini dilakukan dengan membuat gerakan simbol salib di udara atau di atas tubuh seseorang / sesuatu, disertai pengucapan rumusan Trinitaris. Tanda Salib senantiasa berhubungan dengan Misteri Keselamatan yang dilaksanakan Yesus secara paripurna melalui kematianNya di kayu salib Kalvari. Tanda Salib bukan melulu milik jemaat Katolik Roma/Latin. Dengan berbagai variasinya, Tanda Salib digunakan juga oleh Gereja Barat lain (Anglikan, Lutheran, Episcopal, Presbiterian dan Metodis), Gereja Katolik Ortodox Ritus  Timur , dan Ortodox Oriental. Gereja Evangelist dan Protestant modern sangat jarang menggunakan tanda ini, meski dalam katekismus kecilnya, Martin Luther merekomendasikan agar umat membuat Tanda Salib di saat tidur dan di saat bangun tidur. Beberapa reformis menolak Tanda Salib karena menganggapnya sebagai bagian dari praktek Gereja Katolik yang tanpa dasar biblis. Benarkah demikian?

 

RAGAM CARA MEMBUAT TANDA SALIB

Sebelum kita mempelajari dasar biblis Tanda Salib, kita melihat dahulu aneka gesture, gerakan dan makna Tanda salibPOSISI JARI / TANGAN DAN MAKNANYAPada Umumnya di gereja Barat (Katolik Roma) dan Armenia, Ethiopia, gerakan Tanda Salib dilakukan dengan menggunakan tangan kanan dan jari terbuka. Lima jari tersebut melambangkan kelima luka-luka Yesus yang Kudus. Posisi tangan dan jari-jemari dalam saat ritual ini rupanya pernah menjadi polemik dan perhatian yang sangat serius. Paus Leo IV di abad pertengahan bahkan menginstruksikan :  andailah Piala dan Hosti dengan salib yang benar dan bukan dengan lingkaran atau dengan bentuk jari-jemari yang berlain-lainan  namun dengan dua jari yang teracung dan ibu jari yang terselip diantaranya dengan mana Trinitas disimbolkan.

Perhatikanlah hal ini sungguh-sungguh atau sebaliknya kamu tidak dapat memberkati apapun (Lih. Georgi,  iturg. Rom. Pont.  III, 37)Gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja Ortodok membuat Tanda Salib dengan ibu jari (jempol), jari telunjuk dan jari tengah yang disatukan. Kesatuan ketiganya ini menyimbolkan Tritunggal Maha Kudus. Sedangkan kedua jari yang tersisa tetap melekat pada telapak tangan dan menyimbolkan kodrat manusiawi dan kodrat keilahian Yesus. Lain lagi dengan Jemaat Gereja Ortodox Rusia (kuno) yang  menggunakan model sebaliknya. Dua Jari (Jempol dan telunjuk) yang menyatu  sedangkan ketiga

jari lainnya ditekuk.Untuk membuat Tanda Salib sebagai berkat atas diri seseorang atau sesuatu, cara yang paling lazim ialah dengan membentuk suatu singkatan I X C (Iesous Christos Soter= Yesus Kristus Penyelamat) dengan jari-jemari.  Jari telunjuk me-representasikan huruf I, Jari tengah berseberangan dengan ibu jari membentuk huruf X, dan ibu jari bersama jari-jari yang tertekuk membentuk huruf C. Gambar St. Basilius Agung yang menunjukkan bagaimana seharusnya posisi tangan  uskup / imam memberkati dengan Tanda SalibSelain Tanda Salib besar, kita jumpai pula Tanda Salib kecil yang diterakan dengan menggunakan ibu jari pada dahi, bibir dan dada. Ritual ini dilakukan saat mendengarkan Sabda Allah (injil). Pada saat yang sama imam atau diakon yang mewartakan Sabda Tuhan menandai Kitab Suci.

Dahulu (abad ketiga belas), sesaat selesai pembacaan Injil, umat diwajibkan untuk menggoreskan Tanda Salib kecil di bangku atau di dinding atau di buku dan kemudian menciumnya. Hal yang serupa juga dilakukan oleh para imam sesaat menaiki altar sesegera menggoreskan Tanda Salib kecil di meja altar dan menciumnya. Tradisi mencium salib ini rupanya juga dilakukan dibeberapa tempat. Di Spanyol, kebanyakan umat setelah membuat Tanda Salib (kecil) dan segera mencium tangan atau ibu jarinya.Dan menurut beberapa ahli, Tanda Salib kecil ini adalah bentuk awal sebelum berkembang menjadi Tanda Salib besar dan Tanda Salib untuk pemberkatan. Hal ini bermula dari ritus pembaptisan bayi yang ditandai dengan salib pada dahi mereka.

GERAKAN, UCAPAN  DAN MAKNANYA

Gerakan ritual Tanda Salib pada umumnya disertai dengan ucapan Trinitarian : di dahi (in nomine Patris / in the name of the Father / dalam nama Bapa), di perut / dada (et Filii, and of the Son / dan Putera), di bahu sebelah kiri (et Spiritus / and of the holy  / dan Roh ) dan menyilang di dada kanan (Sancti / Spirit / Kudus ). Kemudian kedua tangan terkatup sambil berseru : Amen/Amin. Perhatikan kata  t, and , dan selalu digunakan di awal untuk menunjukkan kesetaraan dan kesatuan ketiga PRIBADI tersebut. Beberapa  Bapa Gereja berpendapat bahwa Dahi menyimbolkan Surga dimana kita senantiasa berdoa kepada Bapa mohon kebijaksanaan, Perut menyimbolkan Bumi yang mengisyaratkan Yesus yang berkenan berinkarnasi menjadi manusia, dan Bahu sebagai lambang tempat kekuatan berada, lambang Roh Kudus yang penuh daya.Di antara pendapat para tokoh Gereja mengenai arti gerakan dan ucapan Tanda Salib, pendapat Fransiskus de la sales kiranya cukup menarik untuk disimak :  Pertama-tama kita mengangkat tangan dan menandai dahi dengan ucapan  alam Nama Bapa yang berarti bahwa Bapa adalah pribadi pertama dalam Tritunggal Maha kudus. Kemudian kita berkata,  an Putera sambil mengarahkan tangan ke dada yang merupakan ekpresi bahwa Sang Putera berasal dari Bapa, yang mengirimkan Dia turun ke Bumi melalui rahim seorang perawan. Selanjutnya tangan bergerak dari bahu sebelah kiri ke sebelah kanan sambil terucap kata,  an Roh Kudus yang menunjukkan bahwa Roh Kudus sebagai pribadi ketiga dari Trinitas adalah berasal dari Bapa dan Putera. Dan Dia adalah cinta yang menyatukan keduaNya dan melalui rahmatNya kita mengambil bagian dalam buah-buah salib Kristus. Karenanya, Tanda Salib merupakan sebuah deklarasi singkat akan misteri iman kita. Karena penderitaan Kristus kita beroleh pengampunan dosa, dengan mana kita terlepas dari sisi kiri kutukan menuju ke sisi kanan berkat Allah Ada perbedaan antara Gereja Katolik Barat dan Timur, yaitu mengenai variasi gerakan Tanda Salib berkaitan dengan penyebutan Roh Kudus: antara bahu kanan ke kiri (ritus timur / Ortodox) atau bahu kiri ke kanan (ritus Latin / Roma).

Bagaimana perbedaan ini dilihat? beberapa ahli menafsirkan bahwa perbedaan tersebut muncul karena perbedaan bahasa yang digunakan oleh kedua ritus tersebut. Dalam bahasa Latin (dipakai gereja Katolik Roma) penyebutan  oh (yang) Kudus adalah kata benda (dahulu, di kiri), menyusul kata sifat, spiritus sancti  sedangkan dalam bahasa Yunani (Ritus timur) justru sebaliknya, kata sifat (dahulu menyusul) kata bendanya (di kanan) : “??   ???? ?????????. Jawaban teologis yang sangat indah atas hal ini bisa kita dapatkan dari Paus Innocentius III (1198–1216) yang memberikan instruksi sebagai berikut : “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari karena tanda itu menandakan  perlindungan Trinitas  Beginilah Tanda Salib itu mesti dilakukan : dari atas ke bawah, dan dari  kiri ke kanan  karena Kristus telah turun dari Surga ke Bumi, dari dari kaum Yahudi (kiri) kepada seluruh bangsa di dunia (kanan).

Selain itu, Tanda Salib dibuat dari  kiri ke kanan karena dari penderitaan (kiri) kita mesti menyeberang menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus yang harus melintasi kematian menuju kehidupan dan dari dunia orang mati (Hades) menuju Surgawi (Paradise)  Selain posisi jari dan gerakan, formula pengucapan pun mempunyai banyak variasi. Di awal abad-abad pertama, kita menemukan berbagai bukti bahwa Tanda Salib disertai dengan doa permohonan / seruan semisal: Kristus Materai Allah yang hidup, dalam nama Yesus, dan sebagainya. Pada perkembangan seterusnya formulasi ini berkembang menjadi : Dalam Nama Yesus dari Nasareth, Dalam Nama Tritunggal Maha Kudus, Dalam Nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, Pertolongan kita dalam nama Tuhan, Ya Allah bersegeralah menolong aku. Gereja Katolik Ortodox ketika membuat Tanda Salib atas diri sendiri pada umumnya sambil mengucapkan doa berikut :  Allah yang kudus, Roh yang Maha Kuat, Roh yang kekal, Kasihanilah kami

DASAR BIBLIS DAN SEJARAH

Pemakaian Tanda Salib merupakan suatu praktek ritual doa Kristiani yang sangat tua. Tindakan ritual membuat Tanda (Salib) di dahi memiliki akar dalam Kitab Suci. Perjanjian Lama : Yehezhiel 9:4  ”Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana.”Tawv dari akar kata ‘tavah’ : sebuah tanda, sebuah keterlibatan, materai, goresan.Dalam Kitab Yehezhiel dinyatakan bahwa suatu simbol berbentuk T memiliki fungsi sebagai perlindungan Ilahi. Tuhan Allah, melalui Yehezhiel, memperlihatkan kepada sisa-sia bangsa Israel (jangan lupa bahwa GEREJA adalah  SRAEL baru!!) penghakiman yang akan ditimpakan kepada Yerusalem karena penyembahan berhala yang telah dilakukannya. Dalam penglihatan ini, orang-orang yahudi yang ditandai dengan abjad terakhir Ibrani TAW pada dahi mereka akan diselamatkan saat hari pembalasan tiba. Menarik sekali bahwa abjad Ibrani ini berbentuk T (salib).

Jadi sejak perjanjian lama, Tanda Salib di dahi ini telah melambangkan ikatan perjanjian dengan Allah dan lambang perlindungan Ilahi!Perjanjian BaruKitab Wahyu dan Galatia Ternyata tema yang sama berlanjut dalam Perjanjian Baru. Dengan menarik gambaran Yehezhiel, Kitab Wahyu juga melukiskan hamba-hamba Allah yang setia dalam perjanjian baru ditandai dengan suatu materai di dahi mereka. Dengan tanda ini, mereka dikhususkan menjadi umat Allah dan dilindungi dari penghakiman Ilahi yang akan ditimpakan di atas bumi.WHY 7:3 katanya: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”WHY 9:4 Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya.WHY 14:1 Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.Gal 6:17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.Beberapa ahli juga menafsirkan perkataan rasul Paulus bahwa dia menanggung  anda-tanda Kristus di tubuhnya adalah mengacu pada Tanda Salib.

Jaman Bapa-Bapa GerejaUmat Kristen Perdana menganggap membuat Tanda Salib adalah ekspresi iman yang paling umum. St. Basilius di abad keempat mengatakan bahwa kita belajar mengenai Tanda Salib kepada jaman para rasul dan yang dilakukan pada ritus pembaptisan. Dikatakan oleh Scott Hahn, seorang teolog Katolik modern, bahwa kesaksian-kesaksian mengenai Tanda Salib oleh jemaat awali sangat banyak sekali, bahkan sebuah buku cukup untuk memuatnya.
TANDA SALIB KECIL DI DAHI =  TERTUATanda Salib kecil di dahi merupakan yang tertua. Para Bapa gereja Awali di abad kedua sangat familiar dengan praktek ini.  Tertulianus mengatakan “Di semua perjalanan dan gerakan kita, di semua kedatangan dan kepergian kita, saat melepaskan sepatu, saat mandi, saat siap bersantap, saat menyalakan lentera, saat merebahkan diri di ranjang, saat duduk   kita menandai dahi kita dengan Tanda Salib  (De cor. Mil., iii).Santo-santa besar juga bersaksi atas kuasa yang sangat besar mengenai Tanda Salib ini. St. Cyprianus dari Carthage di abad ketiga menulis bahwa,  i dalam  Tanda Salib terdapat seluruh kebajikan dan kuasa  Di dalam Tanda Salib ini ada keselamatan bagi semua orang yang menandainya pada dahi mereka  Ritual ini musti dilakukan dengan sangat hormat, khitmat dan tanpa malu, sebagaimana tercermin dari banyak tulisan Bapa gereja di abad keempat berikut :”Janganlah kita merasa malu untuk mengakui Salib. Hendaknya Tanda Salib menjadi materai diri yang dibuat dengan jemari tanpa`rasa malu pada dahi kita dan pada segala sesuatu :  atas roti yang kita makan, atas cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring, dan saat kita bangun; ketika kita sedang di jalan dan ketika sedang sendiri  Baiklah kita pelihara hal ini secara cuma-cuma, demi orang miskin, tanpa jerih payah yang besar  karena demikian pulalah kita terima rahmat itu dari Allah.

Tanda Salib adalah tanda iman dan sekaligus  tanda yang menakutkan bagi si jahat. Karena Dia telah mengalahkan mereka dalam SalibNya . Karena di saat memandang Salib, mereka diingatkan akan peristiwa penyaliban itu . – St. Cyril of Jerusalem, A.D. 315  386, Catecheses, xiii, 36Pada abad yang sama St. Athanasius menyatakan bahwa  leh Tanda Salib semua ilmu sihir berhenti, dan semua ilmu tenung tidak bekerja. Iblis menjadi tidak berkuasa di hadapan salib Yesus Kristus. Praktek menerakan Tanda Salib kecil di dahi yang banyak sekali terlihat di tulisan para bapa gereja ini  secara jelas mengacu kepada beberapa tulisan dalam kitab suci: Yehezhiel 9:4 dan khususnya Wahyu 7:3, 9:4 dan 14:1. Secara khusus Tanda Salib kecil di dahi telah digunakan sejak umat perdana dalam ritus pembaptisan. Dan di masa kemartiran, Tanda Salib menjadi penguat dan tanda kebanggaan para martir. Mereka dengan bangga membuat Tanda Salib pada diri mereka saat sekarang menjelang ajal. Bahkan di saat tangan mereka di belenggu, mereka menggerakkan lidah untuk menandai diri dengan Tanda Salib  ..

PERKEMBANGAN TANDA SALIB

Perkembangan demi perkembangan ritus ini terus terjadi. Tanda Salib yang semula dilakukan di dahi dengan ibu jari berkembang ke beberapa bagian tubuh lain. St. Hieronimus (Jerome,  pitaph. Paulae) menerakannya di bibir  sementara Prudentius di dada / hati (Prudentius,  athem   vi, 129). Sementara itu untuk objek yang bergerak, Tanda Salib dibuat di udara mengarah kepada benda tersebut.  Epiphanius menceritakan bahwa Josephus memberikan berkat Tanda Salib atas kapal sambil menyerukan sebentuk doa. (Adv. H ., xxx, 12). Dan sebuah Tanda Salib besar diterakan di atas sekujur tubuh oleh St. Nino. Dengan menggenggam sebuah salib kayu dan sambil berdoa, St Nino menyetuh dahi Sang Ratu Georgia yang sedang sakit keras, menarik garis hingga ke kaki dan ke kedua bahunya membentuk sebuah salib  dan mukjijat kesembuhan terjadi. (Studia Biblica, V, 32).

PRAKTEK PEMBERKATAN DENGAN TANDA SALIB

Theodorus (393 57) memberikan instruksi sebagai berikut :Berikut cara memberkati seseorang dengan menggunakan tangan dan membuat Tanda Salib di atasnya. Satukan tiga jari secara bersamaan, ini melambangkan Trinitas : Allah Bapa, Allah Puter, Allah Roh Kudus. Mereka bukan tiga Allah, melainkan satu Allah dalam Tritunggal Maha Kudus. Nama mereka berbeda, namun dalam satu Ke-Allahan.  Allah Bapa tidak pernah berinkarnasi, Allah Putera berinkarnasi (dilahirkan) namun bukan diciptakan; Allah Roh Kudus tidak  dilahirkan maupun dijadikan, namun keluar dari Allah Bapa: Tiga dalam satu kesatuan Ilahi. Keilahian adalah satu  dan satu martabat. Mereka mendapatkan / menerima sujud sembah dari seluruh ciptaan, baik malaikat maupun manusia. Inilah yang ditunjukkan oleh ketiga jari tersebut. Kalian harus menggenggam kedua jari lainnya, namun tidak terlalu ketat. Keduanya merepresentasikan dua kodrat Yesus : Ilahi dan Manusiawi. Allah dalam Keilahiannya dan manusia dalam kemanusiawiannya. Keduanya menyatu secara sempurna.  Jari-jari di atas melambangkan keilahian, dan yang bawah melambangkan kemanusiawian. Jalan keselamatan berlangsung dari jemari atas menuju ke jemari bawah.  Demikianlah jari-jemari ini diartikan, karena dari kemuliaan surga Dia turun demi keselasmatan kita. Dan demikianlah kalian harus menandai dirimu sendiri dengan salib dan memberikan berkat (dengan Tanda Salib), sebagaimana diperintahkan oleh Allah Bapa. Paus Innocentius III (1198 216) memberikan panduan sebagai berikut :

Tanda Salib dibuat dengan tiga jari karena tanda itu menandakan  perlindungan Trinitas  Beginilah Tanda Salib itu mesti dilakukan : dari atas ke bawah, dan dari  kiri ke kanan  karena Kristus telah turun dari Surga ke Bumi, dari dari kaum Yahudi (kiri) kepada seluruh bangsa di dunia (kanan). Selain itu, Tanda Salib dibuat dari  kiri ke kanan karena dari penderitaan (kiri) kita mesti menyeberang menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus yang harus melintasi kematian menuju kehidupan dan dari dunia orang mati (Hades) menuju Surgawi (Paradise).

ARTI TEOLOGIS TANDA SALIB TANDA SALIB : DALAM NAMA ALLAH !Tanda Salib bukan suatu doa ritual hampa. Dengan melakukan ritual doa sederhana ini, kita sedang melaksanakan tindakan biblis yang suci. Kita sedang menyebut nama Tuhan. Dalam Kitab Suci, kapan pun seseorang menyebut nama Tuhan, saat itu adalah saat yang penuh kekuatan. Dalam seluruh rangkaian sejarah keselamatan terlihat dengan jelas bahwa apabila umat Allah mengikat atau membaharui perjanjian mereka dengan Allah, mereka selalu menyebut Nama Kudus Allah. Dengan itu, artinya, mereka mengundang Allah untuk masuk dan bertindak dalam kehidupan mereka  dan sebaliknya, dengan menyebut Nama Tuhan, umat pun mengungkapkan komitmen janji setia untuk hidup dalam perjanjian dengan Dia, meyerahkan seluruh hidup ke dalam Nama KudusNya (bdk Kej 4:26, 12:8, 26:25, 1 Raj 18:24, 32)TANDA SALIB : RINGKASAN IMAN Tanda Salib adalah gerakan yang paling mendasar yang kita lakukan. Tanda Salib adalah misteri Injil sesaat. Tanda Salib adalah iman kristiani yang diringkas dalam satu gerakan. Saat kita membuat Tanda Salib, kita sedang menyatakan  sebuah  redo singkat bahwa kita percaya akan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Dalam Tanda Salib misteri Trinitas, inkarnasi, penebusan  seluruh syahadat dapat diungkap dan ditangkap dalam sekejap!

TANDA SALIB : TINDAKAN SAKRAMENTAL (SUMPAH) Sebagai mana sebuah tindakan sakramental, Tanda Salib merupakan tindakan yang  disertai kata-kata yang membaharui inti Sakramen Baptis. Sakramen berasal dari kata latin sacramentum, yang berarti sumpah (perjanjian). Ketika pertama kalinya menjadi Katolik, pada saat pembaptisan, kita ditandai dengan Tanda Salib, yakni ketika imam membuat Tanda Salib di dahi kita. Oleh karena itu, kapan pun  kita membuat Tanda Salib,  kita sedang menerakan Tanda Salib yang sama yang telah diterakan kepada kita di awal kehidupan kita dalam Kristus. kita membaharui (sumpah) perjanjian yang dimulai dengan pembaptisan kita. Saat kita membuat Tanda Salib, sakramen baptis diperbaharui. Di dalamnya sekali lagi kita menyatakan bahwa  aya mati bersama Kristus dan bangkit bersama Dia  Tanda Salib dalam sakrament baptis adalah semacam  unat Kristiani  yang memungkinkan bangsa-bangsa (kafir) menjadi  srael Baru  Salib menjadi tanda sambung (yang menghubungkan) kita dengan tubuh Kristus. Dan saat kita melakukannya kita teringat bahwa kita bersatu dengan Kristus sebagai Kepala. Dengan kata-kata kita, kita mengakui iman Trinitas di mana di dalamnya kita dibaptis ( alam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus . Dengan berbuat demikian, kita mengingatkan diri kita bahwa kita telah disendirikan oleh Kristus, dan kita membaharui komitmen kita untuk hidup dalam kesatuan dengan Dia. Seperti pada masa Yehezhiel, Tanda Salib berfungsi sebagai simbol yang penuh kuasa yang mengungkapkan perjanjian kita dengan Allah dan perlindungan Allah atas diri kita.

TANDA SALIB : TANDA KEMURIDAN

Dalam Lukas 9:23 Yesus bersabda  arang siapa yang mau mengikuti Aku, dia harus menyangkal dirinya sendiri, memanggul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku  Kata yang digunakan oleh Bapa-bapa Gereja untuk Salib (isthmi – histemi) adalah sebuah kata Yunani yang sama dengan apa yang diletakkan oleh pemilik budak kebahu budaknya, atau sebuah kuk yang ditaruh seorang gembala diatas dombanya, atau sebuah beban yang diletakkan oleh seorang jendral ke atas bahu prajuritnya. Hal tersebut mendeklarasikan bahwa jika kita memanggul salib tersebut, kita menjadi milik Kristus.  Penyangkalan diri bukanlah sekedar menyerah dalam hal-hal remeh; menjadi seorang murid adalah menempatkan diri di bawah bimbingan Kristus dan kamu bukan lagi menjadi milik diri kamu sendiri. Dengan membuat Tanda Salib, kita berkata kepada Tuhan,  Saya ingin mentaati Engkau: Aku adalah milikMu, Saya akan mengikuti hukum-hukumMu! Kita harus ingat bahwa Yesus berkata : arang siapa malu mengakui dia maka dia akan malu mengakui kita  Kita mesti merasa percaya diri dalam membiarkan orang tahu bahwa kita adalah orang Kristen dan bahwa kita adalah milik Kristus (Kristen dari kata Kristanos yang berarti  milik Kristus).

TANDA SALIB : MENGAMBIL BAGIAN  DALAM PENDERITAAN KRISTUS

Saat kesesakan tiba, Tanda Salib menjadi sebuah tanda penerimaan. Tanda Salib mengingatkan bahwa Kristus menjadi manusia dan menderita sengsara untuk kita  dan kita bersedia berpartisipasi dalam penderitaan Kristus itu. Saat kita mengalami penderitaan, saat kita merasa Allah jauh dari kita, Tanda Salib menjadi tanda kehadiranNya yang nyata. Dalam kehadiranNya itu kita menyatukan penderitaan kita. Dengan tangan kita, kita mengakui penebusan kita oleh Salib Kristus. Dosa terbesar dalam sejarah umat manusia  penyaliban Putera Allah  menjadi tindakan agung oleh belas kasih dan kuasa Ilahi. Salib adalah tanda, yang olehnya kita diselamatkan, di mana kita boleh ambil bagian dalam kodrat Ilahi (2 ptr 1: 19)

TANDA SALIB : PERTAHANAN MELAWAN  YANG JAHAT

Salah satu ajaran penting dari Bapa-bapa Gereja awali  adalah bahwa Tanda Salib merupakan sebuah pernyataan bahwa kita menentang kejahatan. Ketika kamu menandai dirimu sendiri dengan Tanda Salib, kita menyatakan kepada si jahat  enyerahlah, Aku milik Kristus Dialah Pertolonganku  Tanda Salib sekaligus sebagai alat pertahanan sekaligus penyerangan. Tanda Salib sebagai Sarana Memenangkan Penyangkalan Diri, karena kerap pula yang jahat muncul dari dalam diri (nafsu, ambisi, dsb)Tanda Salib merupakan cara ampuh untuk memenangkan peperangan dalam penyangkalan diri. Penyangkalan diri sebagaimana diamanatkan oleh Kristus dalam Lukas 9:23 di atas kerap kali menjadi masalah besar dalam hidup kita. Seperti pepatah bilang bahwa musuh terbesar adalah diri sendiri. Bapa-bapa gereja mengajarkan bahwa pada saat kita marah, dicengkeram oleh nafsu-nafsu duniawi, takut, emosional dan bergulat dengan masalah-masalah kedagingan  buatlah sebuah Tanda Salib dengan kesadaran penuh dan khitmat  maka Salib akan menolong kita menghalau kegelapan. TANDA SALIB : AKTUALISASI PERINTAH KASIHKerap kali diajarkan bahwa salib terdiri dari dua palang kayu. Kayu yang melintang dari atas ke bawah (Vertikal) yang menujuk kepada hubungan antara kita dengan Allah  dan kayu yang melintang kesamping (horizontal) yang menggambarkan hubungan kita dengan sesama. Keduanya harus seimbang sebagaimana perintah kasih Yesus :  intailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap kekuatanmu ; dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (lih. Luk 10: 27 ; Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31)

PENUTUP

MADAH SALIB SUCI NAN MULIA

Making the sign of the cross — as we wil do during the blessing — means saying a visible and public “yes” to the One who died and rose for us, to God who in the humility and weakness of His love is the Almightly, stronger than all the power and intelligence of the world.Paus Benedictus XVI Angelus 11 September 2005
HR. TRITUNGGAL MAHA KUDUS, 30 MEI 2010PER SIGNUM CRUCIS DE INIMICIS NOSTRIS LIBERA NOS DEUS NOSTER !!!  (melalui/dengan tanda salib bebaskanlah kami dari musuh-musuh kami ya Tuhan kami!)

FX. SUTJIHARTO

KEPUSTAKAAN

www. advent.com : Chatolic EncyclopediaBert Ghezzi,  ”Sign of the Cross: Recovering the Power of the Ancient Prayer”, Loyola Press, 2000Beresford-Cooke,  he Sign of Cross in the Western Liturgies  London, 1907Gretser,  e Cruce Christi  Ingolstadt, 1598Scott Hahn & Regis J. Flaherty (editor),  atholic for a Reason III : Edward P. Sri : Menyusuri Kitab Suci melalui Ekaristi  Dioma, 2008

]]>
http://parokisalibsuci.org/2011/04/29/tanda-salib/feed/ 9