Gereja Katolik PAROKI SALIB SUCI Tropodo Sidoarjo, Jawa Timur » Devosi http://parokisalibsuci.org Situs Resmi Dewan Pastoral Paroki Gereja Katolik Salib Suci, Keuskupan Surabaya Fri, 06 Dec 2013 07:26:32 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.8 Tipologi Maria http://parokisalibsuci.org/2011/10/22/tipologi-maria/ http://parokisalibsuci.org/2011/10/22/tipologi-maria/#comments Sat, 22 Oct 2011 18:43:02 +0000 http://parokisalibsuci.org/?p=527

I. PENGANTAR

Bagaimana Tradisi Katolik bisa berbicara begitu banyak tentang Maria? PERJANJIAN BARU begitu sedikit berbicara tentang dia? Dari segi jumlah, cerita Alkitab (Perjanjian Baru) secara khusus berkisah tentang Maria memang sangat sedikit. (152 ayat : Paulus 1 ayat, Lukas 89 ayat, Kis 1 ayat dan sisanya Matius, Markus, Yohanes). Dari segi mutu ibarat permata. Kecil  tetapi luar biasa indahnya.

–     Luk 1:26-38 : Maria diberi kabar oleh Malaikat Gabriel

–     Luk 1:39-45 : Maria mengunjungi Elisabeth

–     Luk 1:46-55 : Magnificat Maria

–     Luk 2:1-5 : Maria dan Yoseph ke Bethlehem

–     Luk 2 :6-20 ; Mat 1:18-25 : Kelahiran Yesus

–     Luk 2:21-40 : Yesus dipersembahkan ke Bait Allah

–     Yoh 2:1-11 : Perkawinan di Kana

–     Yoh 19:25-27 (bdk. Mat 27:55-56; mrk 15:40-41) : Maria berdiri di kaki salib

–     Kis 1:14 : Maria di tengah para murid (bdk Kis 2 : Pentakosta)

Perlu disadari bahwa peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru. Ia hadir dalam janji Allah terhadap hawa, ibu dari semua yang hidup dan dengan “fiat”nya ia dilukiskan dalam kitab Wahyu sebagai tabut perjanjian, bejana pilihan yang mengandung Allah sendiri. Maria menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9) untuk menebus anak-anak hawa, dengan membalikkan dosa hawa. Peran Maria : Terbentang sepanjang sejarah keselamatan. Maria merupakan bagian integral dari Wahyu Ilahi dan Maria terkait erat dengan Yesus dalam rencana ilahi, yaitu sebagai Bunda Allah Penyelamat. Dengan demikian : Misteri dan Karya Kristus tidak dapat dimengerti tanpa Maria karena inkarnasi Sabda terjadi melalui Maria !

Meski demikian : harus selalu diingat bahwa pada tempat pertama, gagasan-gagasan PERJANJIAN LAMA maupun PERJANJIAN BARU adalah hendak menjelaskan Yesus sebagai penyelamat, bukan Maria. Karena itu Mariologis harus ditafsirkan dalam konteks Kristologis dan Soteriologis! Ajaran tentang Maria tidak merampas kemuliaanNya melainkan memantulkannya (Maria cermin kekudusan). Sebagaimana Maria telah memberikan darah dan daging kepada Allah Putera, demikian ia memberikan darah dan daging kepada Gereja sepanjang segala masa.

 

II. TENTANG TIPOLOGI

Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru? Ada anggapan bahwa karena Maria tidak banyak dikisahkan dalam PERJANJIAN BARU maka tidak banyak pula yang bisa dikatakan tentang Maria. Tetapi jika kita membaca KS sebagaimana jemaat perdana membacanya, maka kita akan terkesima bahwa gambaran (typos) tentang Maria begitu kaya – bahkan sejak dalam PERJANJIAN LAMA. Bahkan dikatakan hampir selalu dimana Yesus dinubuatkan di situ gambaran Maria juga disampaikan (Pius X).

 

A. APA ITU TIPOLOGI ?

Tipologi adalah suatu cara / metode membaca Kitab Suci secara menyeluruh, bukan sepenggal-sepenggal. Melihat keseluruhan Alkitab dalam satu kesatuan rencana Keselamatan Allah. Secara harafiah Tipologi dari kata typify (tipe) = menggambarkan. Tipologi = gambaran orang, tempat, benda, atau kejadian dalam Perjanjian Lama yang pada masa silam telah melukiskan sesuatu yang lebih besar dalam Perjanjian Baru. (bdk KGK 128-130)

Gambaran itu sendiri bukanlah simbol fiktif melainkan sungguh terjadi (historis). Dan bisa berupa benda, meski impersonal, yang menonjol dalam PERJANJIAN LAMA karena memiliki peran sentral dan tak terlupakan dalam sejarah Israel.

Ada Tipologi  ekplisit dan tipologi implisit : Contoh :

–     Peran St. Yosef  dalam hidup duniawi Yesus secara jelas mengikuti peran Bapa Yusuf dalam hidup bangsa Israel Nama sama, Keduanya dilukiskan sebagai orang benar & tulus, Keduanya menerima pewahyuan lewat mimpi, Keduanya “dibuang” ke Mesir, Keduanya tampil ke panggung sejarah untuk menyiapkan jalan bagi peristiwa yang lebih besar : Yusuf = keluaran yang dipimpin Musa sang pembebas (Paska PERJANJIAN LAMA) ; Yosef : penebusan oleh Yesus, Sang Penebus.

–     Yesus dalam PERJANJIAN LAMA digambarkan dalam sejumlah kejadian : Ishak yang diikat Abraham, ayahnya, di gunung Moria (di tempat ini sekarang ada kenisah Yahudi, dan masih di deretan gunung yang sama Yesus disalibkan), Salomo, putera raja Daud (har. Syalom = damai). Ia adalah pembangun Bait Allah, Yesus menggambarkan putera Daud yang sejati, raja israel sejati, pembawa damai sejati dan pembangun bait Allah yang baru dan abadi.

Tipologi tidak hanya terkait dengan Yesus, melainkan banyak hal : surga (Kenisah Yerusalem), Gereja (Israel baru), para Rasul (12 suku Israel), Ekaristi (Roti Manna), Maria, dll

Yesus juga membaca KS secara Tipologis. Misal, dalam Matius 12 Yesus membandingkan diriNya (Lebih besar) dengan Kenisah (ay 6), Yunus (ay 41), Salomo (ay 42). Yoh 6:31-35 Yesus membandingkan diriNya (lebih besar : roti hidup) dengan Manna; Yoh 3:14 ular tembaga tanda yang menggambarkan diriNya; Luk 24:27 : “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”

Jemaat perdana meneladan cara Yesus membaca KS. 

–     Paulus : Yesus Adam Baru (Rm 5:14 ) terkenal sebagai nubuat figuratif / profetis. 1 Kor 10 kejadian-kejadian disekitar laut merah dan pemberian manna serta air dari wadas (keluaran) sebagai gambaran tanggungjawab orang Kristen setelah pembabtisan dan Ekaristi.

–     Petrus : air bah Nuh – pembabtisan Kristiani (1Ptr 3:20-22)

–     Filipus & Sida-sida : Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya (Kis 8:35)

Dengan cara ini Yesus menyingkap makna baru dalam Perjanjian Lama dan dengan cara yang sama Gereja meneladan Yesus untuk membaca realita imannya

Mengapa Perjanjian Lama bisa dibaca secara tipologi? Karena seluruh sejarah adalah persiapan dunia menyambut kehadiran Sang Sabda dalam dunia. Membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. St. Agustinus : Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama terungkap dalam Perjanjian Baru

Pemahaman iman seperti itu – bahwa rencana keselamatan Allah memiliki kesatuan yang membuat kita mampu melihat nubuat-nubuat profetis tentang realitas iman kristiani masa sekarang dalam tokoh dan atau kejadian PERJANJIAN LAMA – telah membuat Gereja mampu melihat Maria dalam gambaran atau sosok yang ditampilkan dalam PERJANJIAN LAMA (KGK 128-129)

Ratzinger : dogma-dogma Maria yang semula tampaknya tidak termuat dalam ayat-ayat PERJANJIAN BARU menjadi tampak jelas dengan cara pemahaman yang menerima kesatuan (PERJANJIAN LAMA-PERJANJIAN BARU) yaitu dengan cara tipologis. Kalau kesatuan ini diabaikan maka Mariologi juga lenyap.

Maria digambarkan dalam tokoh-tokoh wanita PERJANJIAN LAMA yang menampilkan kemiripan nyata namun terbatas dengan Bunda Mesias yang akan datang. Gambaran atau simbol-simbol yang ada yang digunakan untuk mengungkap misteri ilahi, mengantar kita ke pemahaman yang tepat, tetapi  selalu kurang memadai karena misteri-misteri itu sendiri selalu lebih dari yang bisa diungkapkan.

 

B. TIPOLOGI MARIA

Paus Pius IX dalam Ineffabilis Deus (dogma Maria Dikandung tanpa Noda th 1854) menetapkan pula index singkat gambaran-gambaran tentang Maria dari Perjanjian Lama yang terlukis secara gamblang dalam tulisan para Bapa Gereja dan khasanah purba doa-doa liturgis Gereja. Dalam uraian berikut kami akan memberikan gambaran-gambaran Perjanjian lama yang mengacu kepada Maria. Beberapa kami sebutkan secara singkat – meski menarik untuk didalami secara mendalam. Beberapa gambaran penting kami sajikan cukup mendalam dalam kaitannya dengan Perjanjian Baru maupun ajaran para Bapa Gereja.

 

1. Bahtera Nuh (Kej 7:7) – baca : Bahtera Nuh sebagai gambaran (tipologi) Maria yang menggambarkan kemurnian dan kekebalan Maria terhadap dosa.

2. Tangga Yakub (Kej 28) : menjadi gambaran Maria sebagai pengantara surgawi, yang merentang dari bumi sampai ke hadapan Tuhan, dan berfungsi sebagai jalan di mana para malaikat dan berkat turun dari surga ke bumi.

3. Semak Menyala (Kel 3:2) : Gambaran Maria sebagai ibu yang dibakar cinta ilahi sebagaimana semak yang bernyala namun tidak terbakar api. Demikian Sang Perawan tidak hangus oleh nyala berkobar karena kehadiran Allah dalam rahimnya.

 4. Kanisah Salomo (1Raj 8:10-13) : Menggambarkan misteri kebundaan ilahi Maria: sebagaimana kemuliaan Allah memenuhi bangunan kudus itu – demikian pula Maria menjadi Bait Kudus yang dipenuhi kemuliaan Putera Allah.

 

5. Tabut Perjanjian

TABUT PERJANJIAN diselubungi oleh awan kemuliaan (shekinah), berlapis emas dan berisi tiga barang : 1. Loh batu dimana jari Allah mengguratkan Sepuluh PerintahNya di Gunung Sinai, 2. Satu Bejana berisi Manna yang menjadi makanan bagi bangsa Israel selama 40 th di padang gurun, 3. Tongkat Harun, imam agung pertama. Dalam Bait Suci Salomo TABUT PERJANJIAN disimpan dalam tempat mahakudus. Dan sebenarnya TABUT PERJANJIAN lah yang menguduskan bagian dalam Bait Suci itu.

TABUT PERJANJIAN = kudus karena isi didalamnya sinonim kehadiran Allah di tengah Israel. Di mana TABUT PERJANJIAN berada – di situ YHWH hadir. Diperlakukan sangat hormat.

Gambaran Maria sebagai Tabut Perjanjian sangatlah penting. Dan kita bisa melihatnya dalam beberapa argumen Biblis tentang hal itu :

  1. Yohanes : Kitab Wahyu

Dalam 2 Makabe dikisahkan bahwa Yeremia (587 SM) menyembunyikan Tabut perjanjian untuk melindunginya dari pencemaran saat pasukan Babel menyerbu dan menghancurkan Bait Allah. Dikatakan bahwa:”tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi. Kelak semuanya itu akan ditunjukkan dan kemuliaan Tuhan serta awan akan tampak lagi” (2Mak 2:5-8)

Dan sangat mengejutkan bahwa  di Why 11 dikisahkan bahwa Yohanes melihat Bait Suci yang di surga terbuka dan di dalamnya tampak TABUT PERJANJIAN ; seolah Yohanes ingin menyambung kisah 2 Makabe tersebut. Setelah dinyatakan hilang, Bait Suci yang dibangun kembali tidak ada shekinah, tidak ada TABUT PERJANJIAN dan tahta kerahiman. Dan akhirnya Yohanes yang mengklaim telah melihatnya!

Yohanes sendiri sebelum masuk ke inti misteri Tabut Perjanjian di Why 12 – menyiapkan pembacanya dengan beberapa persiapan. Antara lain dalam Why 11:15 bahwa tabut itu muncul setelah bunyi sangkakala dari malaikat ketujuh yang harus melakukan pembalasan. Hal ini jelas menggemakan Yosua 6:13 yaitu kisah penaklukkan kota Yerikho untuk memasuki tanah terjanji, yang didahului dengan tujuh imam selama enam hari bergantian mengelilingi tembok kota dengan diam sambil membawa TABUT PERJANJIAN dan pada hari ketujuh terompet ditiup maka robohlah tembok kota. Peran TABUT PERJANJIAN selain kehadiran YHWH – juga sebagai senjata ampuh dalam peperangan. “Kapan saja tabut itu berangkat, berkatalah Musa, ‘Bangkitlah, Tuhan, supaya musuh-Mu tercerai-berai dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu” (Bil 10:35). Dan Yerikho (pintu masuk ke tanah terjanji) jatuh ke tangan Israel tanpa perlawanan sedikit pun bukan dengan fisik melainkan secara liturgis dan rohani. (Peran yang sama diemban Maria dalam pertempuran rohani Gereja. Tanah terjanji adalah gambaran surga sebagai mana dilukiskan Yohanes dalam Why 12. Dan tepat di bab 11 diperlihatkan bahwa TABUT PERJANJIAN yang hilang itu ada di Bait Allah surgawi. Perempuan dan TABUT PERJANJIAN itu diungkap sebagai satu dan sama)

Kisah tentang Tabut Perjanjian yang dilihat Yohanes dalam Wahyu 11 (yang dihantar dengan pararelisme Yosua 6:13 – dan dihantar dengan gempa, kilat, guruh dan hujan es seolah  TABUT PERJANJIAN akan disingkapkan) – seolah mencapai anti klimaks tentang apa Tabut Perjanjian itu dan tidak bersambung dengan Wahyu 12 yang berbicara tentang hal lain : perempuan berselubung matahari! Mengapa demikian ? mengapa terpotong? Sesungguhnya Yohanes justru ingin mengungkapkan bahwa TABUT PERJANJIAN itu adalah seorang perempuan. Siapakah perempuan itu??? Mengenai siapa dia silakan lihat dalam uraian Hawa Baru.

Singkat kata Yohanes menunjuk bahwa Maria sebagai Tabut Perjanjian Allah karena dalam dirinya Maria mengandung Yesus Sang Juru Selamat. DIA-lah hukum baru yang tidak hanya ditulis dengan jari allah melainkan lahir dari Bapa (bdk Loh batu yang hanya ditulis dengan jari Allah). IA adalah Roti Surgawi yang menjadi bekal untuk hidup kekal (bdk Yoh 6:27-35; 48-59) dan IA adalah Imam Agung sejati yang mempersembahkan diriNya bagi kita.

Awan kemuliaan (Shekinah) menaungi TABUT PERJANJIAN dan bersemayam di dalamnya (Kel 40:34 dst). Dengan demikian TABUT PERJANJIAN berperan membawa kehadiran Allah hadir di tengah UmatNya ; demikian juga Maria, Roh Kudus yang menaungi dia (Luk 1:35) membuat Maria berperan membawa Kristus kepada dunia.

Dan peran yang sama diberikan kepada kita, saat kita menerima tubuh Kristus. Hendaknya kita dipenuhi dengan sukacita seperti daud  dan Maria :”Jiwaku muliakan Tuhan – hatiku bergembira karena Allah Penyelamatku..” (Luk1:46-48)

Dilukiskan bahwa TABUT PERJANJIAN adalah Tahta Allah, diusung oleh para Lewi. YHWH adalah raja Israel dan TABUT PERJANJIAN adalah tahtaNya (bdk Mzm 68:25). Di atas TABUT PERJANJIAN dibuat “Tahta Kerahiman” (Kel 24:17 dst). Orang israel harus memohon kerahiman Allah yang bertahta di atas TABUT PERJANJIAN ( bdk 1Raj 8:21-53; Kel 25:22)

SebagaimanaTABUT PERJANJIAN berfungsi sebagai tahta kehadiran Allah, demikian juga Maria berfungsi sebagai Tahta Allah karena menatang bayi Yesus. Bagi Israel baru, Maria sebagai TABUT PERJANJIAN baru adalah Bunda Kerahiman dan Tahta Kebijaksanaan.

 

ii. Lukas : Maria mengunjungi Elisabeth (Luk 1:39-45)

Gagasan mengenai Maria sebagai Tabut Perjanjian, juga kita dapatkan dalam Injil Lukas. Lukas adalah sastrawan yang sangat cermat. Para ahli kagum akan keahliannya menyandingkan teks-teks kunci PERJANJIAN LAMA dan PERJANJIAN BARU. Salah satunya adalah Kisah Kunjungan maria kepada Elisabeth (Luk 1:39-45) yang menggemakan kisah pemindahan Tabut Perjanjian ke Jerusalem dalam 2 sam 6 : 1-19

  2 Sam 6 : 1-19     Lukas 1 : 39 – 45
                 
Bersiaplah Daud dan pergi ke Yehuda (ay 2)   Berangkatlah Maria dan bergegas menuju
      sebuah kota di pegunungan Yehuda (ay 39)
                 
Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai   Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang
kepadaku? (ay 9)     mengunjungi aku? (ay 43)  
                 
Rumah Obed-Edom (ay 10)     Rumah Zakaria (ay 40)  
                 
Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal   kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal
di rumah Obed-Edom (ay 11)     bersama dengan Elisabeth (ay 56)
                 
Daud bersukacita (ay 12)     Hati Maria bergembira (ay 47)  
                 
diiringi sorak-sorai (ay 15)     dengan suara nyaring (ay 42)  
                 
meloncat-loncat serta menari-nari (ay 16)   melonjaklah anak yang di dalam rahim
          Elisabeth (ay 41)    

 

Mengapa Lukas menggunakan samaran ini? Mengapa tidak langsung saja mengatakan bahwa Maria adalah penggenapan TABUT PERJANJIAN?

Menurut Kardinal Newman : Kadang orang bertanya mengapa penulis suci tidak membeberkan kebesaran Bunda kita? Menurutku karena , barangkali, Maria masih hidup, saat para rasul dan penginjil menulis. Hanya satu buku Alkitab yang jelas ditulis sesudah Maria wafat, yakni kitab Wahyu, dan buku itu secara jelas mengkanonisasi dan memahkotai Maria.

Alkitab bukanlah sandi untuk dipecahkan, melainkan suatu misteri yang tak pernah tuntas dimengerti sampai akhir hayat manusia. Jadi Yohanes, sebagaimana Lukas, mempunyai pandangan yang sama bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Gereja adalah Israel baru!

Sebagai mana TABUT PERJANJIAN dihormati dalam liturgi Israel – demikian juga  Maria memiliki tempat terhormat dalam liturgi Gereja. Allah telah menempatkan Maria di tengah-tengah kenisah surgawiNya dan dimahkotai dengan dua belas bintang.

 

 

 

 

6. HAWA BARU

i. Maria = Hawa Baru?

Mengikuti metode Paulus yang menjelaskan Yesus sebagai Adam Baru (Rm 5:14; 1Kor 15:22) para Bapa Gereja melihat hubungan antitesis antara Maria – Hawa (Typologi).

Awal cerita : Hawa (ibu semua yang hidup) digoda oleh setan dalam bentuk ular untuk tidak taat dan tidak percaya kepada Allah serta dijanjikan bisa menjadi seperti Allah. Akhirnya Hawa jatuh dan membawa serta keluarga dan keturunannya dalam kubangan dosa. Diakhir kisah Tuhan sendiri yang memberikan janji nubuat pertama keselamatan (Injil Pertama) : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan (itu!), antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej 3:15)

Dalam kegenapan waktu (Gal 4:4), malaikat mendatangi seorang perawan bernama Maria dan menyampaikan kabar suka cita yang memusingkan kepalanya, namun dengan iman dan ketaatannya, ia mengucapkan fiatnya. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38)

Ada kontras yang mencolok antara kedua perempuan tersebut. Dalam diri Maria,  Allah sedang memecahkan masalah dosa yang masuk dalam dunia lewat Hawa. Dengan membandingkan Kej 3  – Why 12 : Maria berdiri sebagai padanan terberkati dari Hawa.

Dalam Wahyu 12 , Yohanes melihat “seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (ay. 1). Selanjutnya “seekor naga merah padam yang sangat besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”(ay 3). selanjutnya dilukiskan pertempuran antara perempuan dan naga itu, antara keturunan perempuan dan antek-antek naga. Apa arti pertempuran itu? Siapa perempuan dan naga itu?

Perempuan itu diketahui dari anak yang dilahirkannya. Seorang bayi laki-laki, yang “menggembalakan semua bangsa dengan gada besi”. (ay 5) Gada besi? Orang Yahudi sangat paham bahwa kata ini mengacu ke sosok yang digambarkan dalam Mzm 2:8-9 “maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu…. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi….”. Nubuat itu mengacu pada Mesias yang dijanjikan. Dan Yesus adalah Mesias – maka perempuan itu tak lain adalah Maria!

Bahasa simbolis profetis Yohanes yang sangat kaya: Tidak langsung menyebut Maria, tapi perempuan – seperti juga tidak langsung menyebut Yesus. Dengan menyebut Maria “perempuan”, Yohanes dengan tepat mengacu pada pemenuhan nubuat pertama (protoevangelium – Injil pertama – pemakluman perdana kabar baik).

Apakah Yoh sengaja membandingkan Kej 3 dan Wahyu 12? Ya! Hal ini makin jelas jika kita lihat kemiripan lainnya :

–     3 tokoh utama : Kej 3 (di luar Allah) : Hawa – Adam dan Ular ; Why 12 : Maria – Yesus (Adam Baru bdk Rm 5:14; 1Kor 15:45 – Ular tua (naga / setan)

–     Pertempuran : Kej 3 : perempuan (Hawa) dan ular ; Why 12 : Perempuan (Maria) dan Ular tua

–     Sakit bersalin yang dialami oleh kedua perempuan.

–     Padang gurun : Why 12:14 perempuan itu menyelamatkan diri di padang gurun ; Keluarga Kudus hijrah ke Mesir melalui padang gurun (Mat 2:13-21)

 

 

 

 

ii. Kesaksian Ajaran Para Bapa Gereja tentang Maria sebagai Hawa Baru

Kesaksian Maria sebagai Hawa baru  ada dalam Gereja sejak abad II.

–     St. Ireneus : ”belenggu ketidaktaatan Hawa diretas oleh ketaatan Maria; apa yang diikat hawa lewat ketidaktaatannya dilepaskan maria dengan  kepercayaannya”. (LG 56)

–     St. Hieronimus: “maut datang lewat Hawa; hidup diperoleh lewat Maria”. (LG 56)

–     Tertulianus : “kontras yang paling mencolok antara Maria dan hawa adalah dalam hal iman; sebagaimana hawa percaya kepada ular – demikian Maria percaya kepada Allah. Pelanggaran yang terjadi karena kepercayaan yang satu, dihapus oleh kepercayaan yang lain”.

–     St. Yustinus : Hawa dan Maria keduanya adalah perawan. Hawa mengandung kata-kata ular, sedangkan Maria mengandung Sabda Allah.

Hawa Muncul pada awal penciptaan dan kejatuhannya bersama Adam adalah jejak tragis PERJANJIAN LAMA; Maria muncul di ufuk era baru (Langit dan bumi Baru – Yes 65:17) dan ketaatannya bersama Adam Baru merupakan jejak kemenangan PERJANJIAN BARU. Hawa adalah ibu biologis kita ; Maria adalah Ibu Rohani kita yang kebundaannya jauh melampaui kebundaan fisik Hawa.

Ada yang mengatakan bahwa interpretasi Maria = Hawa Baru adalah rekayasa penafsiran modern. Dilain pihak kita sudah melihat bahwa ajaran ini telah ada sejak jemaat perdana. Tradisi Gereja mengatakan bahwa sejak diserahkan kepada Murid terkasih ini, Maria tinggal bersama Yohanes di Efesus. St. Ireneus adalah murid St. Polikarpus – yang adalah murid dari St. Yohanes. Jadi  ajaran Patristik ini berasal dari St. Yohanes sendiri yang diajarkan kepada murid-muridnya hingga ke ribuan tokoh lain dan sampai pada kita sekarang ini. Penyair di abad pertengahan dengan amat indah meringkas teologi ini dengan menampilkan salam Gabriel pada Maria : Ave (salam/kaire) sebagai kebalikan Eva (nama Hawa dalam bahasa Latin).

 

iii. Perempuan = Gereja ?

Kebanyakan teolog menafsirkan bahwa “perempuan” dalam Why 12 itu adalah personifikasi gereja – sebagaimana “mempelai” dalam Why 19. Gereja yang sedang berjuang untuk melahirkan anak Allah di sepanjang jaman.

Namun tidak mungkin perempuan itu hanya atau pertama-tama adalah Gereja. Metode personifikasi tampaknya tidak terlalu sesuai dengan gaya Yohanes. Di tempat lain ia menunjuk kepada pribadi-pribadi yang sungguh ada, bukan personifikasi. Misal tentang identitas bayi laki-laki yang jelas mengacu kepada Yesus : gada besi (Mzm 2:8-9) dan “dibawa kepada Allah dan tahtaNya”  mengacu pada kenaikan Yesus ke surga.

Apa yang cocok diterapkan pada bayi laki-laki juga sangat pas diterapkan pada musuhnya, yaitu “ular tua”, yang jelas dinyatakan Yohanes bukan kiasan namun pribadi tertentu :”Ular tua itu, yang disebut iblis atau setan, yang menyesatkan seluruh dunia” (Why 12:9). Kalimat ini sekaligus mengarahkan ingatan kita tentang kisah jatuhnya manusia dalam dosa yang telah lama (tua) sekali terjadi dan masih terus terjadi (Kej 3:13)

Juga sekutu ular adalah suatu pribadi (why 13:1 dst) : “binatang yang keluar dari laut, memiliki tujuh tanduk, tujuh kepala, yang terdapat sepuluh mahkota, dan pada kepala itu terdapat nama-nama hujat”. Tanduk = simbol kekuasaan = kerajaan = dinasti. Dinasti yang berkuasa dan kejam pada jaman Yesus adalah dinasti Herodes, kaum Herodian. Ia membunung istri, 3 anaknya, ibu mertua, ipar dan pamannya. Ia yang memerintahkan dibunuhnya semua bayi Bethlehem. Ia membasmi semua kaum Hasmonean yahudi dan membangun kembali bait Allah untuk menyatakan diri sebagai raja Yerusalem. Ia yang mengangkat imam-imam bait Allah dan memberi mereka kuasa dalam pemerintahan juga. Dinasti Herodes menjadi rekan iblis bagi pemulihan kerajaan Daud. Sejak Antipater, pendiri dinasti ini, ada tujuh raja  yang memerintah dan ada 10 kaisar di kerajaan Roma sejak Yulius – Vespasianus. Inilah pribadi nyata yang digambarkan dalam Wahyu 13.

Jadi jelas bahwa pertama siapa perempuan itu adalah seorang pribadi yaitu Maria, bukan personifikasi Gereja. Namun demikian kedua pendapat ini bisa “didamaikan” – sebagaimana kesaksian para Bapa Gereja.

-          Maria adalah bunda Gereja, karena ia melahirkan DIA yang adalah Kepala Gereja (St. Ambrosius),

-          “sekali lagi Perawan maria adalah gambaran Gereja… Marilah kita menyebut Gereja dengan nama Maria; karena ia pantas menyandang kedua nama itu” (St. Efraim)

-          Perempuan dalam kitab Wahyu itu adalah Maria karena ia tidak bernoda, melahirkan Kepala yang tak bernoda. Ia sendiri memperlihatkan dalam dirinya gambaran gereja yang kudus. Sebagaimana Maria melahirkan Putera dan tetap perawan, demikianlah Gereja secara terus menerus akan melahirkan anggota-anggotanya dan tidak pernah kehilangan keperawanannya (St. Agustinus)

Bayi laki-laki itu adalah Yang Kudus yang membuka rahim kudus untuk melahirkan manusia bagi Allah. Dan anak-anak yang lain dilahirkan dari rahim yang sama (adelphos). Dalam terang ini kita bisa memahami bahwa orang Kristen adalah saudara dari rahim yang sama, yaitu rahim Maria

 

iv. Perempuan VS  Ular

Kej 3:15 : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”

Jelas ular adalah setan sedangkan “keturunan wanita” yang meremukkan kepalanya adalah Mesias. Lalu perempuan yang harus bermusuhan dengan setan tentu bukan Hawa melainkan bunda Mesias. Yesus adalah Mesias dan Maria adalah bunda Yesus. Jadi terjemahan yang tepat Kej 3:15 bukan seperti LAI “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini” karena berkesan perempuan itu Hawa. Sesuai teks Ibraninya, terjemahan yang tepat : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ITU”

Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa sejak semula Allah telah merencanakan maria sebagai Hawa Baru. Sejak semula Allah telah menempatkan maria sebagai musuh setan, musuh dosa – dan ia bersatu erat dengan Puteranya untuk meremukkan kepala setan. Dan pemahaman ini pulaluh yang mendasari dogma Maria terbebas dari segala dosa.

 

7. Ribka (Kej 27) : Ribka menggambarkan Maria dalam kasih bundawinya untuk mengamankan berkat bagi Yakup anaknya dan melindungi dia dari kelicikan Esau (Kej 25-27). Seperti ibu ini, Maria melindungi anak-anaknya dari taktik musuh. Memberi nasehat yang bijaksana dan meminta Bapa memberkati mereka.

8. Ibu para Martir Makabe (2Mak7) : Adalah prototipe yang sangat mencolok untuk Maria dalam keprihatinan bundawinya. Ia membesarkan hati anak-anaknya untuk berserah penuh kepada Allah meski disiksa karena yakin Allah akan membebaskan dan membangkitkan mereka dari kematian.  Gema dari peristiwa ini dapat didengar ketika Maria berdiri di dekat salib, dan dengan pedih hati menyaksikan Putranya disiksa, tetapi penuh keyakinan akan janji ilahi tentang kebangkitan

9. Ratu Ester (Est 1-10) : Pahlawan ulung. Berkat kedudukannya yang tinggi di kerajaan Persia, ia mampu membatalkan pembunuhan besar-besaran yang direncanakan terhadap rekan sebangsanya dalam pembuangan. Dengan cara yang sama, Maria menggunakan wewenang surgawi dan campur tangannya sebagai ratu untuk melindungi umat Allah dari rancangan iblis yang mematikan.

10. Ratu Batsyeba (1Raj 2:13-25) : Batsyeba dikenal sebagai pengantara yang berpengaruh. Ia mengamalkan wibawanya sebagai bunda ratu atas putranya Salomo. Advokasinya sebagai ratu menggambarkan kepengantaraan Maria yang lebih agung dan lebih efektif di hadapan Kristus, pengganti dan putra Daud sejati yang bertahta di surga (bdk Mrk 16:19; Luk 1:32). Menarik untuk membandingkan kisah perjamuan di Kana (Yesus – Maria : Yoh 2:1-11) dengan situasi Batsyeba – Salomo (1 Raj 2:19-20).

11. Putri Sion (Yer 4:31; Mikh 4:10) :

  • Zion adalah bukit di Jerusalem tempat dibangun kenisah – dengan demikian melambangkan aspirasi religius umat Israel PERJANJIAN LAMA
  • Gelar Putri Sion dipakai sebagai personifikasi feminis untuk Israel (Yer 4:31; Mikh 4:10) yang digambarkan melahirkan seorang anak.
  • Sifat keperawanan Israel – Maria dan kedudukannya sebagai mempelai Allah merupakan kontras mencolok dengan adat pelacuran dalam budaya sekitar, yang membuat perkawinan justru menjadi ungkapan kesetiaan teologis. Dan sebaliknya, percabulan atau perzinahan menjadi ungkapan penyembahan berhala.
  • Maria adalah penggenapan Biblis dari banyak perempuan Israel. Putri Zion yang sempurna
  • Percakapan Maria-Gabriel (Luk 1:26-38) menggemakan pesan gembira yang dulu disampaikan kepada Putri Sion : “Salam – kaire – bergembiralah – yang dikaruniai – kekaritomene (ay 28) – jangan takut – me fobou (ay 30).. Engkau akan mengandung… (31-32).
  • Putri Sion menjadi tanda dan simbol universalitas keselamatan. Puncak dari Putri Sion adalah Maria.

FX. Sutjiharto

Dari Berbagai Sumber

]]> http://parokisalibsuci.org/2011/10/22/tipologi-maria/feed/ 0 Devosi Kerahiman Ilahi http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/devosi-kerahiman-ilahi/ http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/devosi-kerahiman-ilahi/#comments Thu, 28 Oct 2010 05:47:32 +0000 http://parokisalibsuci.wordpress.com/?p=107

APA dan BAGAIMANA:DEVOSI KERAHIMAN ILLAHIA.

Pengertian DevosiApa itu Devosi ? Istilah devosi berasal dari kata benda latin “Devotio“ yang berarti: kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti; atau keta kerja Latin: “devovere”  yang artinya: “mencurahkan perhatian sepenuhnya pada ‘atau’ memasrahkan diri kepada“ sesuatu atau pribadi tertentu.

Devosi Kerahiman Illahi ialah suatu kebaktian yang memberikan keyakinan kepada umat manusia bahwa Allah itu Maha-rahim dan Maha-pengampun, untuk percaya penuh kepada Allah serta untuk belajar menerima belas-kasih-Nya dengan ucapan syukur.

Bentuk devosi Kerahiman Illahi ini didasarkan pada catatan-catatan Santa Faustina Kowalska, seorang biarawati Polandia yang tak terpelajar, yang dalam ketaatan kepada pembimbing rohaninya, menuliskan sebuah Buku Catatan Harian (dikenal dengan singkatan: BCH) setebal kurang lebih 600 enamratus) halamanan.

Dalam buku catatan itu ia mencatat tentang penampakan-penampakan yang dianugerahkan kepadanya mengenai Kerahiman  Allah. Berdasarkan pengalaman spiritual St. Faustina itu, mulailah berkembang suatu kegiatan doa / devosi, yang dikenal dengan nama: DEVOSI KEPADA KERAHIMAN ILAHI, yang juga dikenal dengan nama :  DOA KORONKA.

St. Faustina wafat pada tahun 1938, pada saat mana Devosi kepada Kerahiman Illahi telah mulai disebar-luaskan.
Pesan Utama Kerahiman IllahiPesan utama Kerahiman Illahi, mengingatkan kita bahwa Allah mengasihi kita semua, tak peduli betapapun beratnya dosa kita. Tuhan ingin kita tahu bahwa belas-kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala dosa kita; Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan, menerima belas-kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Dengan demikian segenap umat manusia akan ikut ambil bagian dalam sukacita-Nya.

Pesan ini dapat kita ingat dengan mudah melalui ‘ABC’ Kerahiman Illahi :

A: Ask For His Mercy:  Mohon Belas Kasih AllahAllah menghendaki kita bertobat yaitu :  datang  kepada-Nya dalam doa secara terus menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas-kasihNya atas  umat manusia di dunia, sebab Allah, melalui sengsara dan wafat Yesus, telah menyediakan bagi semua orang suatu samudera belas-kasih yang tak terhingga. Kepada St. Faustina, Yesus sekali lagi menyatakan pesan yang sama. Yesus memberikan tiga cara baru untuk mohon belas-kasih-Nya dengan mengandalkan jasa-jasa sengsara-Nya, yaitu: Doa Koronka, Novena dan Jam Kerahiman Illahi. Yesus mengajarkan bagaimana mengubah hidup sehari-hari menjadi suatu doa yang tak kunjung henti memohon belas kasih Allah. Melalui Rasul Kerahiman Illahi-Nya (yaitu St. Faustina), Yesus memanggil kita semua untuk mohon belas-kasih-Nya.“Jiwa-jiwa yang memohon belas-kasih-Ku menyenangkan hati-Ku. Kepada jiwa-jiwa ini aku menganugerahkan rahmat, bahkan seorang pendosa besar sekalipun, jika ia mohon belas-kasih-Ku “(BCH.1146)“Mohonlah belas kasih bagi seluruh dunia“ (BCH. 570)“Tak satu jiwapun yang mohon belas-kasih-Ku akan dikecewakan“ (BCH .1541)

B : Be Merciful: berbelas-kasih kepada sesama. Tuhan menghendaki kita menerima belas-kasihNya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti Ia telah melakukan kepada kita. Belas-kasih adalah kasih yang berusaha meringankan penderitaan sesama. Belas-kasih adalah kasih yang hidup, yang dicurahkan atas sesama guna menyembuhkan, melegakan, menghibur, mengampuni, menghapus rasa sakit. Itulah kasih yang Tuhan tawarkan kepada kita dan itulah yang Ia kehendaki kita tawarkan kepada sesama.

C : Completely Trust : percaya penuh kepada-Nya. Tuhan Allah ingin kita tahu bahwa rahmat-rahmat belas-kasih-Nya tergantung pada besarnya kepercayaan (iman) kita. Semakin kita percaya kepada-Nya semakin melimpah rahmat yang kita terima. Kepercayaan (iman)  kepada Yesus merupakan intisari pesan kerahiman illahi. ’ABC’ Kerahiman Illahi saling berhubungan satu sama lain, dan unsurnya yang utama adalah kepercayaan penuh kepada Yesus. Kita tidak sekedar mohon belas kasih Tuhan atau sekedar berbelas-kasih kepada sesama, melainkan kita mohon belas-kasih Tuhan dengan percaya penuh dan Tuhan memenuhi kita dengan rahmat-Nya agar kita dapat berbelas-kasih, sebab Bapa Surgawi kita penuh belas-kasih. Kata-kata Yesus kepada St. Faustina: “Aku adalah kasih dan Belas-kasih itu sendiri. Apabila jiwa datang kepada-Ku dengan penuh kepercayaan, Aku akan memenuhinya dengan rahmat yang begitu berlimpah hingga jiwa tak mampu menampungnya seorang diri, melainkan menyalurkannya kepada jiwa-jiwa lain juga “

B. Spiritualitas Kerahiman IllahiSpiritualitas Kerahiman Illahi berbasis pada sifat Allah yang berbelas-kasih. Sedangkan belas-kasih bersumber dari kasih Allah sendiri. Berdevosi kepada belas-kasih Allah berarti bahwa devosan demikian tenggelam dalam pesona kasih Allah yang demikian murah hati. Biasanya seorang devosan menjadi ingin hidup dengan didayai oleh kasih Allah yang berbelas-kasih itu, sedemikian sehingga berharap orang lain yang dijumpainya juga dapat diantar masuk dalam kekayaan belas-kasih Allah. Dengan demikian setiap devosan selalu termotivasi dari dalam hatinnya untuk menghidupi nilai / keutamaan seperti: empati dan solidaritas, murah hati dan pemberi-diri tanpa batas, pengorbanan dan silih, pengampunan dan kepercayaan, kesetiaan dan kesabaran, optimisme dan harapan.

C. Bagaimana Mempraktekkan Devosi Kerahiman Illahi ?

Mempraktekkan Devosi Kerahiman Illahi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Menghormati Lukisan Kerahiman Illahi.

2. Mendaraskan Koronka Kerahiman Illahi

3. Merayakan Minggu Kerahiman Illahi

4. Novena Kerahiman Illahi

5. Mendoakan Jam Kerahiman Illahi

D. Apakah Koronka dapat didoakan dalam acara yang bernuansa / intensi / ujub  ’syukur’, misalnya: Midodareni, Ulang tahun, dan bentuk-bentuk syukur lain?

Devosi Kerahiman Illahi seperti yang dinyatakan Tuhan kita melalui St. Faustina, dianugerahkan kepada kita sebagai sarana belas-kasih, sebagai silih atas segala dosa yang dilakukan. Maka doa Koronka memiliki kekhasannya sebagai “silih“. Antara “Silih” dan “Syukur” tentunya ada perbedaan.Untuk menjaga kekhasan tersebut maka Doa Koronka atau Kerahiman Illahi sangat tepat jika tidak didoakan dengan tema-tema syukur.Sebagaimana misalnya Doa Novena Tiga Salam Maria, adalah doa yang bercirikan permohonan yang sangat mendesak kepada Bunda Maria, demikian pula Doa Kerahiman Ilahi, sebagaimana telah diuraikan di atas,  juga mempunyai ciri khas, yaitu “silih”, memohon”kerahiman ilahi”.     Mungkin kita sering melihat (atau mengalami?) Doa Koronka / Doa Kerahiman Ilahi dilakukan dalam kesempatan doa yang bertema / ujub “syukur”. Memang hal ini tidak tepat. Melalui rubrik ini, semoga perlahan-lahan akan ada pembenahan, sehingga kita dapat menempatkan segala sesuatu dengan benar. (Sofie Muji PDKI Salib Suci)

]]>
http://parokisalibsuci.org/2010/10/28/devosi-kerahiman-ilahi/feed/ 1
Devosi kepada Bunda Maria http://parokisalibsuci.org/2010/10/26/devosi-kepada-bunda-maria/ http://parokisalibsuci.org/2010/10/26/devosi-kepada-bunda-maria/#comments Tue, 26 Oct 2010 09:13:33 +0000 http://parokisalibsuci.wordpress.com/?p=51
Istilah Devosi, diambil dari kata Devotion, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi bakti, yang artinya: Penyerahan diri sepenuh hati, dalam sikap doa, yang membuat orang beriman menjadi sangat tanggap kepada kehendak Allah (Kamus Teologi,
Gerald O’Collins, SJ. & Edward G. Farrugia, SJ, Kanisius).
Dan sikap batin kita untuk meng-hormati Bunda Maria adalah Hyperdulia (baca: Mawass Edisi 2).
Sudah sejak Gereja Perdana pengikut Kristus menempatkan Bunda sebagai pribadi yang istimewa, yang layak mendapatkan penghormatan dan perlakuan khusus. Gelar Bunda Allah (Theotokos) dan Tetap Perawan (Parthenos) adalah 2 hal yang paling awal telah diterima oleh Gereja sejak zaman Para Bapa Gereja.
Masalah adanya keberatan dari sementara pihak atas gelar itu, bukanlah urusan kita. Karena itulah yang telah kita terima sebagai iman Gereja secara apostolik.

Seiring dengan perkembangan Gereja, gelar-gelar lain yang ber-tujuan untuk menghormati Bunda Maria terus bertambah.
Hal ini tidak terlepas peranan Bunda Maria yang senantiasa mendampingi dan menolong
anak-anaknya yang sedang ber-ziarah di dunia ini.
Peristiwa-peristiwa di Lourdes, Fatima, Medjugorje, dan lain-lain sudah sangat sering kita dengar (meskipun pihak Otoritas Gereja sangat behati-hati dalam me-nyikapinya).
Dan, kita pasti tahu bahwa tempat berziarah yang paling banyak adalah tempat ziarah untuk meng-hormati Bunda Maria (di Pulau Jawa saja, tidak kurang dari sera-tus tempat ziarah yang didedikasi-kan kepada Bunda Maria).

Dari sekian banyak cara untuk menghormati Bunda Maria, ada beberapa devosi, yang mungkin sudah akrab bagi kita, antara lain:
1. Angelus Domini
2. Medali Ajaib
3. Novena Tiga Salam Maria
4. Doa Rosario
Bentuk / cara devosi-devosi itu akan dibahas di bawah ini secara ringkas.

1. Angelus Domini
Kata ‘Angelus Domini’ diter-jemahkan sebagai Malaikat Tuhan.
Doa ini didoakan 3 X sehari, pk.06.00, pk.12.00 dan pk.18.00.
Doa Malaikat Tuhan, pada awalnya ditujukan untuk terciptanya per-damaian dunia.
Dalam perkembangan lebih lanjut, doa ini mempunyai makna baru, yaitu untuk memperingati misteri-misteri penyelamatan.
Pada doa pk 06.00, bersama Bunda Maria kita mengenang dan mempersatukan hidup dan karya kita dengan misteri Kebangkitan Kristus.
Pada doa pk.12.00, bersama Bunda Maria kita mengenang dan mempersatukan hidup dan karya kita dengan misteri wafat Kristus.
Pada doa pk.18.00, bersama Bunda Maria kita mengenang dan mempersatukan hidup dan karya kita dengan misteri Penjelmaan Kristus.
Dengan 3 X doa ini, berarti kita mempersatukan seluruh hidup dan karya kita ke dalam misteri kehi-dupan Yesus dan Bunda Maria.

2. Medali Ajaib
Medali Ajaib, adalah lambang berupa medali yang biasanya ter-buat dari kayu atau logam. Medali ini bisa dirangkaikan dengan rosario atau pada kalung biasa.
Pada medali ini terdapat gambar Hati Kudus Yesus pada satu sisi, dan gambar Santa Perawan Maria pada sisi yang lain. Banyak orang mempercayai bahwa dengan memakai medali ini, bisa mendapat rahmat Allah dengan perantaraan Bunda Maria. Medali Ajaib diperkenalkan oleh St. Chatarina Laboure (1806-1876), seorang suster dari Tarekat Putri Kasih. St. Chatarina pertamakali mem-peroleh anugerah penampakan Bunda Maria pada tgl. 18 Juli 1830. Pada penampakan kedua, 27 No-pember 1830, St. Chatarina melihat Bunda Maria dengan pakaian putih keperakan, berdiri bertumpu pada bumi, dengan kaki menginjak kepala injak kepala ular.
Pada penampakan itu, St. Chata-rina juga melihat Bunda Maria di-kelilingi oleh tulisan:
O Marie, concue sans peche priez pour nous qui ovons recours avous
yang artinya :
O Maria, yang terkandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung kepadamu.

Setelah itu, St. Chatarina melihat tulisan huruf ‘M’ yang bergantung pada sebuah palang, dan sebuah salib bertumpu pada palang itu. Di kaki huruf ‘M’ itu tampak dua buah hati: Hati Kudus Yesus yang dimakhkotai duri dan Hati Kudus Maria yang ditembus sebilah pedang. Semua gambaran terakhir itu dikelilingi oleh duabelas bintang. Di akhir penampakan kedua itu, Bunda Maria berpesan kepada St. Chatarina:
Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku.
Suruh buatkanlah sebuah medali sesuai dengan yang engkau saksikan, dan siapa saja yang memakainya, akan menerima karunia besar, apalagi jika medali itu dikenakan pada lehernya. Orang yang memakai medali ini dengan keyakinan akan manfaat-nya, menerima karunia berlimpah-limpah.
Yang perlu diwaspadai, Medali Ajaib tidaklah mempunyai kekuatan dari bendanya sendiri. Medali itu bukanlah jimat.
Medali Ajaib hanyalah sebagai sarana untuk doa, yang mengingat-kan kita akan kehadiran Bunda Maria dan Tuhan, yang bisa mem-bangkitkan iman kita.

3. Novena Tiga Salam Maria
Kata ‘Novena’, berasal dari kata Latin, Novem, artinya: Sembilan.
Doa Novena berarti doa yang di-daraskan sembilan kali berturut-turut (setiap hari selama sembilan hari, setiap minggu selama sem-bilan minggu, setiap bulan selama sembilan bulan, atau kelipatannya).
Doa Novena, tidak dimaksudkan untuk menggeser doa harian, melainkan didoakan untuk memper-oleh rahmat khusus, antara lain: pertobatan, perdamaian, keutuhan keluarga, sembuh dari penyakit, dll.
Dalam praktek dikenal beberapa macam Doa Novena yang di-dedikasikan kepada Bunda Maria, antara lain :
Doa Novena Bunda Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa;
Doa Novena kepada Maria dari Lourdes; Doa Novena Bunda Maria Penghibur Yang Baik;  serta Doa Novena Tiga Salam Maria.

Di antara doa-doa novena, yang paling dikenal adalah Novena Tiga Salam Maria.
Doa Novena Tiga Salam Maria pada mulanya berawal dari pe-ngalaman rohani St. Mechtildis (1241-1298), seorang biarawati di Hefta, Jerman.
Dikisahkan, pada saat beliau mencemaskan keselamatan hidupnya, St. Mechtildis berdoa,
memohon kepada Bunda Maria, agar bersedia membantu dia pada saat kematiannya.
Bunda Maria menjawab doa itu, dan meminta kepada St. Mechtildis agar setiap hari berdoa Tiga kali Salam Maria.
Salam Maria yang Pertama di-maksudkan untuk mengenang dan memuliakan kekuatan Ilahi yang dianugerahkan oleh Allah kepada Bunda Maria.
Salam Maria yang Kedua, ber-tujuan untuk mengenang dan meluhurkan kebijaksanaan Ilahi yang dianugerahkan oleh Yesus kepada Bunda Maria.
Salam Maria yang Ketiga, di-maksudkan untuk mengenang dan mengagungkan cinta Ilahi, yang dengan cinta Ilahi itu Roh Kudus memenuhi Bunda Maria.
Doa Tiga Salam Maria ber-kembang luas karena jasa dari St. Antonius dari Padua, St. Leonardus dari Porto Mauritio dan St. Alfonsus de Ligouri.
Dalam perkembangan selanjutnya, Doa Tiga Salam Maria itu menjadi Novena Tiga Salam Maria, dan dikenal luas oleh orang-orang beriman hingga sekarang.
Doa Novena Tiga Salam Maria dapat dikatakan sebagai salah satu doa yang paling banyak didaraskan oleh orang beriman.
Salah satu alasannya, karena rumusan Doa Novena Tiga Salam Maria ini sederhana dan singkat, sehingga tidak memerlukan banyak waktu untuk mendoa-kannya.
Yang diperlukan adalah: kemauan, ketekunan, disiplin diri dan iman.

4. Doa Rosario
Kata Rosario berasal dari kata Latin: Rosarium, yang berarti: Rangkaian Bunga Mawar
Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul (doa) rosario.
Dalam kesempatan ini, tentang asal-usul itu tidak dibahas (karena panjangnya bahasan). Cukup kira-nya kita mengetahui, bahwa berdoa rosario setidak-tidaknya sudah menjadi Tradisi sejak abad XVI.
Dari bermacam-macam doa yang didedikasikan kepada Bunda Maria, tidak dapat disangkal bahwa Doa Rosario merupakan doa yang terpopuler. Beberapa alasannya adalah: Doa Rosario merupakan doa yang praktis, yang mudah didoakan oleh semua kalangan, dapat dilakukan di rumah maupun di perjalanan, baik oleh perorangan maupun kelompok.
Doa Rosario adalah doa yang sangat dianjurkan oleh Gereja, karena merangkum misteri hidup Yesus Kristus serta misteri iman Gereja
Paus Paulus VI mengungkap-kan, bahwa Doa Rosario merupa-kan ‘doa yang berdasarkan Injil’. Sedangkan Paus Pius XII mengata-kan, bahwa: Doa Rosario adalah ringkasan tentang kehidupan Yesus dan Maria, dan seluruh Injil.
Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan, bahwa dengan berdoa Rosario, berarti kita mengikut-serta-kan diri kita ke dalam seluruh misteri hidup Yesus dan Maria; berusaha melihat dan mengalami karya nyata Allah; berusaha mem-persatukan diri dan hidup kita dengan Yesus dan Maria; menghor- mati Bunda Maria, sebagai Bunda Yesus; memohon kepada Bunda Maria, agar mendampingi kita dalam perenungan tentang peris-tiwa kelahiran, penderitaan, wafat dan kemuliaan Putra-nya, agar kita dapat memahaminya dengan iman kita.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa tidak semua umat Kristen senang dengan Doa Rosario ini.
Tetapi bila orang yang tidak senang itu mengatakan bahwa Doa Rosario itu tidak ada artinya dan bukan merupakan doa orang Kristen, itu menunjukkan bahwa ia sendiri tidak mengerti, apakah sebenarnya Doa Rosario itu.
Demikian penting arti dan manfaat dari Doa Rosario ini bagi Gereja, sehingga Paus Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, mengatakan:
Gereja selalu meyakini kemanjuran doa ini. Maka Gereja mempercayakan masalah-masalah yang paling pelik kepada Doa Rosario, kepada pendarasan secara bersama-sama dan tanpa henti.
Bila suatu saat Gereja mengalami penganiayaan, maka pembebasannya dipercayakan kepada kuasa doa ini, dan Maria, Ratu Rosario, dinyatakan sebagai sosok yang doanya mendatangkan keselamatan.
Dalam konteks pelayanan yang lebih luas kepada keluarga, maka penggalakan Doa Rosario dalam keluarga-keluarga Kristiani, akan menjadi sarana yang ampuh untuk melawan dampak-dampak buruk dari krisis yang melanda jaman kita ini.

Gereja Katolik meyakini, bahwa Doa Rosario adalah renungan sekaligus permohonan.
Kalau dalam berdoa Rosario kita memohon dengan segenap hati bersama Maria, maka ia akan ber-doa untuk kita di hadapan Bapa yang akan memenuhi dia dengan rahmat dan di hadapan Putra yang lahir dari rahimnya.
Bunda Maria telah mendapatkan kemuliaan di sorga. Namun karena keinginannya untuk selalu dapat menolong anak-anaknya, maka ia tidak akan pernah berhenti untuk berdoa bagi kita, dan akan selalu mengarahkan kita kepada Yesus.
Per Mariam ad Jesum, melaui Bunda Maria kita sampai kepada Yersus.

Doa Rosario, bila kita perhatikan, adalah suatu Doa yang terdiri dari doa-doa dan pere-nungan atas peristiwa-peristiwa, yang seolah-olah menyatu, terjalin dengan harmonis, dengan mana melalui dan bersama Bunda Maria kita masuk dalam perenungan atas misteri inkarnasi Sang Sabda.

A. Dari doa – ke – doa
Seluruh materi dari Doa Rosario adalah materi yang penting. tersusun dari doa, aklamasi, Salam dan Renungan Peristiwa. Dari doa-doa itu, yang dila-kukan secara berulang-ulang, adalah: Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan.
1. Doa Bapa Kami
Doa ini adalah doa yang diajar-kan oleh Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya (bdk. Mat.6:9-13; Luk.11:2-4). Doa ini juga merupa-kan ringkasan seluruh Injil.
Apabila dicermati, tampak
bahwa Doa Bapa Kami sangat erat berkaitan dengan pokok pewartaan Yesus, yaitu: Kerajaan Allah.
2.Doa Salam Maria
Doa Salam Maria adalah unsur yang paling pokok dalam Doa Ro- sario, sekali-igus menjadi unsur yang membuat doa Rosario ini secara istimewa mempunyai ciri khas Maria.
Doa Salam Maria ini terdiri dari dua bagian, yaitu:

a. Salam yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel, dan Salam yang disampaikan oleh Elisabeth kepada Maria.
“Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu,
Terpujilah engkau di antara
wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu,
Yesus.”

b. Tanggapan dari Gereja mengenai sosok Bunda Maria, yang diakui sebagai Pribadi yang terpilih, ter- berkati, penolong dan pendoa kita di hadapan Allah.
“Santa Maria, Bunda Allah,
. . . .dst. Titik pusat Doa Salam Maria adalah Nama Yesus, yang ibarat sendi menghubungkan kedua bagian Doa Salam Maria.
Kadang-kadang, dalam pendarasan yang terburu-buru dan tanpa penghayatan, titik pusat ini menjadi terabaikan, yang karena-nya, terabaikan juga hubungan dengan misteri Kristus yang di-renungkan
Padahal, justru pemusatan per-hatian pada nama Yesus dan pada misteri-Nya inilah yang menjadi tanda pendarasan Doa Rosario yang penuh arti dan penuh buah.
Maria dikaruniai hubungan yang unik dengan Kristus, yang mem-buat Maria digelari Bunda Allah (Theotokos). Dalam pehamanan yang demikian inilah, kita memper-cayakan hidup dan saat mati kita kepada permohonan Bunda Maria kepada Allah.

3. Doa Kemuliaan
Kemuliaan Tritunggal adalah tujuan dari setiap kontemplasi Kristiani. Dalam Doa Rosario, Doa Kemuliaan ini menjadi puncak dari kontemplasi (sebagaimana diketa-hui, bahwa Doa Rosario adalah doa kontemplatif).
Jadi, Doa Kemuliaan bukan hanya semata-mata menjadi bagian penutup dari 10X doa Salam Maria, namun benar-benar merupakan dan menung kapkan pemuliaan kepada Allah Tritunggal.
B. Perenungan dari peristiwa -
ke – peristiwa
Renungan-renungan dalam Doa Rosario adalah perenungan akan misteri Kristus, yang dimulai sejak Kabar dari Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria.
Renungan itu dikemas dalam bentuk ‘Peristiwa’. Kita mengenal 20 Peristiwa, yang dikelompkkkan dalam 4 Kelompok Peristiwa, yaitu: Peristiwa-Peristiwa Gembira, Terang, Sedih dan Mulia.

1. Peristiwa Gembira
Peristiwa-peristiwa Gembira di-tandai dengan sukacita yang me-mancar dari peris-tiwa inkarnasi, yang dimulai dari peristiwa per-tama: Maria menerima khabar dari malaikat Gabriel.
Kita bisa melihat bahwa seluruh sejarah keselamatan, (dan dalam arti tertentu juga sejarah dunia), berkaitan dengan salam Malaikat Gabriel: “Bersuka-citalah Maria…!”
Sukacita juga merupakan kata kunci Bunda Maria mengunjungi Elisabet, dan suara Bunda Maria dan kehadiran Yesus dalam rahim-nya membuat Yohanes ‘melonjak kegirangan’ (bdk. Luk.1:44).
Selanjutnya, sukacita memenuhi kawasan Betlehem ketika Yesus lahir, yang diberitakan oleh nyanyian para malaikat, dan dimaklumkan kepada seluruh gembala sebagai ‘kesukaan besar’ (Luk.2:10).
Yesus dipersembahkan di Bait Allah, mengungkapkan kegembira-an karena dipersembahkannya Sang Bayi.
Sukacita yang tercampur kece-masan menandai peristiwa ke-lima: Yesus di-ketemukan di Bait Allah.
Pada peristiwa ini, Yesus yang baru berusia 12 tahun, tampil dalam ke-bijaksanaan Ilahi, mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-per-tanyaan kepada para pemuka agama.
Dalam Peristiwa-peristiwa Gembira, Allah sendiri bersama Bunda Maria yang berinisiatif dan memegang peranan.
Dengan demikian, kita bisa lebih memahami, bahwa Bunda Maria berperanan penting dalam kehidup-an Yesus di dunia ini.

2. Peristiwa Terang
Dalam Peristiwa-peristiwa Terang, kita merenungkan sisi-sisi penting dari pribadi Yesus.
Waktu Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Yesus dimaklumkan seba-gai Anak yang dikasihi Bapa. Kemudian, Yesus tampil sebagai sosok yang memberitakan datang-nya Kerajaan Allah, memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah lewat karya-karya-Nya.
Dalam tahun-tahun pertama pelayanan-Nya inilah misteri Kristus tampak paling jelas sebagai misteri Terang: ‘”Selama Aku di dalam dunia, Akulah Terang Dunia’.
Pada peristiwa Terang Pertama: Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Roh Kudus turun atas Yesus, untuk menyerahkan kepada-Nya tugas perutusan yang harus dilaksana-kan-Nya.
Pada Perstiwa Terang Kedua: Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta perkawinan di Kana, Yesus mengubah air menjadi anggur.
Ini adalah tanda yang pertama dari tanda-tanda yang dikerjakan-Nya.
Peristiwa ini membuka hati para murid kepada iman, dan bersyukur atas campur-tangan Bunda Maria.
Peristiwa Terang Ketiga: Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (bdk. Mrk.1:15), merupakan pelayanan belas-kasih yang terus Ia laksana-kan sampai akhir jaman, khususnya melalui sakramen rekonsiliasi yang telah Ia percayakan kepada Gereja (bdk. Yoh. 20:22-23).
Peristiwa Terang Keempat: Yesus menampakkan kemuliaan-Nya.
Menurut tradisi, peristiwa ini terjadi di Gunung Tabor.
Peristiwa Terang Kelima: Yesus menetapkan Ekaristi sebagai ung-kapan sakramental misteri paskah.
Dalam peristiwa ini, Yesus menye-rahkan tubuh dan darah-Nya, dalam tanda roti dan anggur, dan menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia ‘sampai tuntas’
(bdk. Yoh.13:1), demi keselamatan manusia.
Dalam Peristiwa-peristiwa Terang, kecuali pada peristiwa di Kana, Bunda Maria tersamar di latar belakang.
Namun, ucapan Bunda Maria pada peristiwa di Kana:
“Lakukanlah apa yang Ia katakan” menjadi amanat bundawi yang ter-besar yang disampaikan oleh Bunda Maria kepada Gereja di sepanjang jaman.
Dalam Peristiwa-peristiwa Terang, Allah Bapa, Yesus, serta Bunda Maria saling mengisi peran
dalam melaksanakan Karya Allah.

3. Peristiwa Sedih
Perstiwa Sedih diawali dari ke-jadian di Taman Getsemani, waktu Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di sorga dalam sakratul Maut.
Pada peristiwa ini, Yesus harus memilih untuk memenuhi kehendak manusiawi-Nya yang tergoda untuk memberontak, atau untuk meme-nuhi kehendak Bapa.
Dalam ketaatan-Nya, akhirnya Yesus memutuskan:
“ . . . .Bukanlah kehendak-Ku,
melainkan kehendak-Mu lah
yang terjadi” (Luk.22:24). Dan kepatuhan Yesus ini semakin menjadi nyata pada peristiwa-
peristiwa selanjutnya: Yesus didera, Yesus dimahkotai duri, Yesus me-manggul salib ke Gunung Kalvari,
- dan akhirnya, . . . .
Yesus wafat di kayu salib.
Peristiwa-peristiwa sedih membantu kita untuk meng-hayati:
a. kematian Yesus karena
dosa-dosa manusia;
b. bersama Bunda Maria
berdiri di kaki salib.
Dalam Peristiwa sedih pertama sampai keempat, Kristus-lah yang mengambil inisiatif untuk berperan.
Yesus menerima seluruh keseng-saraan-Nya dengan aktif dan dengan penuh kesadaran, yang pada puncaknya, Persitiwa Sedih kelima: Yesus wafat di kayu salib, di mana Allah Bapa sendiri yang bertindak.
Dalam Peristiwa-peristiwa sedih ini, Bunda Maria memang tidak berperan aktif. Namun kita bisa ikut menghayati peran pasif Bunda Maria yang mengikuti kesengsara-an Yesus, terutama pada saat-saat:
a. Bunda Maria melihat Yesus di-
mahkotai duri, dengan tubuh
yang berdarah-darah;
b. Bunda Maria mengikuti Putranya
yang memanggul salib di via de
lorosa;
c. Bunda Maria melihat Yesus di-
paku di kayu salib;
d.Bunda Maria dengan hati hancur
menunggui Yesus wafat di kayu
salib;
e. Bunda Maria memangku Yesus
yang sudah wafat.

4. Peristiwa Mulia
Peristiwa-peristiwa Mulia muncul dari Iman.
Doa Rosario mengundang kita, untuk menghayati sengsara Yesus, guna memandang Kemuliaan, Kebangkitan dan Kenaikan-Nya ke surga.
Yesus telah bangkit. Dengan peristiwa ini kita ikut menikmati suka-cita Bunda Maria.
Dalam peristiwa ‘Kenaikan’, Yesus diangkat ke dalam kemuliaan.
Dan dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Bunda Maria juga diang-kat dalam kemuliaan.
Dalam peristiwa terakhir, Maria dimahkotai di surga, Bunda Maria tampil cemerlang sebagai Ratu para Malaikat dan para Kudus.
Pusat dari peristiwa-peristiwa Mulia adalah peristiwa Roh Kudus turun atas para rasul yang dikenal dengan Peristiwa Pentakosta.
Peristiwa ini hendak menampilkan wajah Gereja, sebagai suatu keluarga bersama Bunda Maria, Gereja yang dihidupi oleh pen-curahan Roh Kudus, yang penuh kuasa dan bersiap melaksanakan tugas pewartaan.
Dalam Peristiwa-peristiwa Mulia, peranan mutlak pada Allah Tri-tunggal.
Dengan segala kekuasaan-Nya, Allah mengangkat Bunda Maria ke surga, – dan – memahkotainya. Apa yang dialami oleh Bunda Maria ini, adalah sebagai buah dari rang-kaian keprihatinan dan kesedihan yang dijalaninya dengan ketaatan dan penuh iman. Renungan atas Peristiwa-peristiwa Mulia menuntun kita untuk semakin menghargai kehidupan kita dalam Kristus.

Demikian uraian tentang Doa Rosario. Semoga kita mau dan mampu berdoa Rosario dengan baik dan dengan penuh peng-hayatan.
Dengan demikian, kita bisa mem-pertanggung-jawabkan, bahwa Doa Rosario bukanlah doa yang bertele-tele.
Terlebih dari itu, dengan berdoa Rosario kita bisa menimba rahmat yang berlimpah, berkat doa kita bersama Bunda Maria, dan Dia Bunda mAria kepada Allah Tritunggal bagi kita.

]]>
http://parokisalibsuci.org/2010/10/26/devosi-kepada-bunda-maria/feed/ 8