Vatikan, 27/02/2013. Cuaca di kota Roma hari ini tidak seperti biasanya. Rabu, 27 Pebruari 2013, sebuah hari musim dingin yang sangat indah. Matahari bersinar cerah sejak pagi. Inilah sebuah hari penting di dalam sejarah Gereja Katolik: Sri Paus Benediktus XVI tampil ke p…ublik dalam upacara audiensi umum untuk terakhir kali setelah pengumuman pengunduran dirinya dua pekan lalu.
Sejak pukul 07.00 pagi waktu Roma, peziarah-peziarah sudah memenuhi Via della Conciliazione, ruas jalan panjang membujur dari Lapangan Santo Petrus hingga sungai Tiber. Di ruas jalan itu pula sudah dipasang beberapa layar lebar. Di situ terdapat beberapa titik kontrol, selain dari arah Porta Santa Anna, tepi barat, dan Porta Sant’Angelo dari tepi arah timur Vatikan. Ribuan polisi dan aparat keamanan pun siaga sekeliling Vatikan.
Para peziarah berjuang masuk ke Lapangan Santo Petrus dan mengambil tempat paling depan supaya bisa melihat Sri Paus dari dekat dan mengucapkan kata-kata pisah yang bisa didengar oleh Bapa Suci sendiri.
Dari saat ke saat Lapangan Santo Petrus seperti digenangi lautan manusia. Mereka melambai-lambaikan berbagai bentuk dan ragam spanduk dengan tulisan bermacam-macam, seperti “Grazie Santo Padre” (Terima kasih Bapa Suci), atau “Arrivederci” (Sampai jumpa lagi), atau “Perga per noi” (doakan kami), dan berbagai tulisan dalam berbagai bahasa. Mereka pula tidak henti-hentinya meneriakkan yel-yel “Benedetto”, nama Sri Paus dalam bahasa Italia. Kadang pula terdengar teriakan “Viva il Papa” dan diikuti oleh paduan suara campur yang menggetarkan suasana pagi ini.
Tepat pukul 10.35 pagi waktu Roma, Papa Mobil meluncur pelan, masuk ke Lapangan Santo Petrus dari samping kanan Basilika. Di belakangnya duduk Sekretaris pribadi, Mons. Georg Gaenswein, yang sudah ditahbiskan beliau sendiri menjadi Uskup Agung tanggal 6 Januari lalu dan merangkap Kepala Rumah Tangga (Prefettura) Sri Paus.
Ketika melihat Papa Mobil, massa semakin kuat dan ramai meneriakkan yel-yel seraya bertepuk tangan meriah. Setelah melewati beberapa blok untuk menyalami massa dan disaluti oleh Musik Militer dari wilayah kelahirannya, Bavaria, Jerman, beliau naik ke Singgahsana, sebuah Kursi putih yang sudah akrab dengannya sejak 8 tahun ini. Seperti biasa, sebelum duduk, beliau merentangkan kedua tangan ke arah para hadirin, seolah-olah ingin merangkul mereka satu persatu. Di saat itu keharuan mulai terasa.
Setelah rangkaian salam dan pembacaan dari Kitab Suci, beliau mulai membacakan wejangannya yang terakhir. Hadirin hening dan mendengar dengan penuh perhatian. Sering juga hadirin menyela Sri Paus dengan tepukan tangan panjang dan yel “Benedetto”, terutama ketika beliau mengungkapkan kata-kata peneguhan dan pujian yang masuk hingga ke lubuk hati pendengar.
Pertama-tama Sri Paus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memilih dan mempercayakan tugas ini kepadanya. Katanya: ”Delapan tahun lalu, ketika sudah jelas bahwa diri saya terpilih menjadi Paus, pertanyaan yang dominan di dalam hati saya adalah: Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku? Mengapa Engkau memilih saya? Saya tahu bahwa sejak itu saya memikul beban berat di bahuku”.
Lanjutnya: Delapan tahun yang lalu adalah tahun-tahun yang indah dan penuh arti. Tetapi juga masa-masa penuh tantangan, sehingga Gereja ibarat bahtera para rasul yang terombang-ambing di danau Genesaret. Badai dan gelombang menerjang menimbulkan rasa takut dan panik, dan Tuhan tidur di buritan. Tetapi syukur, Tuhan tidak meninggalkan bahtera ini, karena bahtera ini bukan milik kita manusia atau milik saya pribadi, tetapi milik Tuhan sendiri. Mendengar itu, massa bertepuk tangan ramai sambil meneriakkan nama Sri Paus. Beliu sadar bahwa selama masa bakti, Tuhan senantiasa dekat dengan umatNya dan menganugerahkan segala yang perlu untuk kemajuan GerejaNya.
Sri Paus juga mengungkapkan terima kasih kepada para pekerjanya di Tahta Suci Vatikan dan seluruh umat yang tersebar di seluruh dunia. Selama masa jabatannya, beliau betul merasakan dukungan dan kedekatan umat Katolik sejagad, sekalipun banyak dari mereka yang belum pernah berjumpa dengannya secara langsung.
Menjelang sambutannya yang berdurasi kurang lebih 20 menit itu, beliau meneguhkan hati dan iman umat Katolik sedunia. Katanya dalam nada getar: “Saya pergi. Itu keputusan yang saya ambil dengan sukarela. Tetapi kamu harus tetap riang gembira di dalam iman. Saya pergi bukan untuk urusan pribadi. Saya pergi untuk membaktikan diri kepada doa untuk Gereja kita yang kita cintai ini. Tuhan yang memanggil kita ke dalam satu komunitas iman, akan tetap bersama kita, memenuhi hati kita dengan harapan dan menyinari kita dengan kasihNya tanpa batas.”
Usai sambutan terakhir ini, hadirin yang saat itu sudah membludak hingga ujung Via della Conciliazione berdiri, memberikan aplaus panjang. Lambaian bendera-bendera dan spanduk-spanduk kelihatan semakin tenang pertanda sedih. Sri Paus pun berdiri, melambaikan tangan kepada hadirin. Sebuah momentum kuat yang sempat menuai deraian air mata.
Upacara dilanjutkan dengan penyampaian ucapan Salam pisah dan terima kasih dari para hadirin yang diwakili melalui kelompok bahasa Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, Polandia dan Arab.
Di akhir audiensi, Sri Paus dan hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Bapa Kami di dalam bahasa Latin. Lalu beliau menutup dengan berkat terakhirnya sebagai Paus.
Beliau turun tahta. Berjalan menuju Papa Mobil, mengambil tempat duduk. Papa Mobil turun perlahan dari pelataran Basilika menuju hadirin. Tahtanya, Kursi putih, tinggal kosong.
Sri Paus bergerak keluar, diiringi aplaus panjang, memanggil-manggil namanya dan seraya air mata tetap berderai. Di atas Papa Mobil beliau terus merentangkan kedua tangannya, seakan-akan ingin membawa pergi sekitar 200.000-an hadirin bersamanya.
Rangkulan lengannya tentu terlalu pendek untuk jumlah sebesar ini, apalagi untuk umat Katolik sedunia. Tetapi di dalam doa dari atas bukti Mons Vaticanus, beliau dan seluruh umat Katolik di lima benua akan tetap bersatu. Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI. ]]>
“SPE SALVI facti sumus”–”kita diselamatkan dalam pengharapan, demikian pengajaran Sto Paulus kepada jemaat di Roma, DAN BEGITU JUGA KEPADA KITA (Rom 8:24).
Menurut iman Kristen, “penebusan”–”keselamatan”–”bukanlah sesuatu yang [otomatis] diberikan.
Penebusan ditawarkan kepada kita dalam artian bahwa kita telah diberi harapan, sebuah harapan yang bisa-dipercayai, yang oleh karena kebajikan [dari harapan tersebut] kita bisa menghadapi saat kini kita:
saat kini, meskipun itu melelahkan, bisa dihidupi dan diterima kalau [saat kini tersebut] mengarah kepada suatu tujuan, kalau kita bisa yakin akan tujuan ini, dan kalau tujuan ini cukup besar untuk menjustifikasi [atau "membenarkan"] upaya untuk suatu perjalanan [dalam mencapai tujuan itu].
Sekarang, pertanyaan dengan segera muncul: harapan macam apa yang dapat menjustifikasi [dan atau "membenarkan"] pernyataan bahwa, —atas dasar harapan itu dan hanya karena [harapan] itu ada—, kita telah ditebus?
Dan kepastian seperti apakah yang terlibat disini?
Iman adalah Harapan
“WHY BAD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE?”
Yah, “mengapa hal-hal yang buruk terjadi kepada orang-orang yang baik.”
—
Tapi rasanya perlu SEDIKIT MODIFIKASI:
“WHY GOD DIDN’T SEEMS TO CARE WHEN BAD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE?”
Ini lebih tepat, “mengapa Allah tampaknya tidak peduli ketika hal-hal yang buruk terjadi kepada orang-orang baik.”
—
“Anak yang aku sayangi sakit dan aku butuh bantuan. Tapi bantuan tidak ada. Kemudian anakku mati. Oh Tuhan, mengapa engkau tidak menolong? Apa dosaku? Apa dosa anakku?”
Kemudian, katakanlah Allah kemudian membantu. Anak itu kemudian disembuhkan. Air mata terseka. Kegembiraan datang.
Lalu pertanyaannya, berapa lama bertahan umur kegembiraan itu?
Akan ada lagi kesesakan-kesesakan yang lain. Dan si anak pun, sebagaimana semua manusia, pada akhirnya akan “tak tersembuhkan” dalam arti bahwa pada suatu saat dia akan mati. Begitu juga tiap manusia yang terjangkiti penyakit yang dinamakan “ke-fana-an” pada akhirnya akan tak tersembuhkan.
Manusia butuh penyelesaian yang tidak temporer.
Penyelesaian yang final dan definitif atas semua keburukan (kejahatan, ketidakadilan, penyakit dll) yang terjadi dalam dunia ini. Penyelesaian ini ada dalam kisah “Kabar Gembira” di mana sang Penyelamat datang justru untuk menyelamatkan manusia dari semua yang buruk itu.
Suatu karya keselamatan yang final dan definitif.
Yang menghapuskan kesesakan-kesesakan once and for all, sekali DAN untuk selamanya.
Di mana tidak akan ada lagi isak tangis (Yes 25:8; Why 7:17).
Allah telah mengirimkan Putra tunggal-Nya sehingga orang yang percaya kepada Dia akan selamat (Yoh 3:16).
Selamat dari apa? Keselamatan macam apa?
Keselamatan dari kutuk dosa yang mengakibatkan dunia ini, yang sebelumnya diciptakan dalam kebaikan (Kej 1:31) dulu, menjadi cacat dan penuh keburukan.
Keselamatan dari segala kekhawatiran yang ada karena cacat dunia yang diakibatkan oleh dosa. Kondisi di mana tidak perlu lagi setiap kita mengkhawatirkan tidak punya uang untuk kelangsungan hidup orang yang kita cintai, tidak perlu lagi khawatir karena penyakit yang tidak bisa diobati, tidak perlu lagi khawatir akan kematian dan lain-lain.
Keselamatan yang definitif ini BARU AKAN DIDAPATKAN setelah kita meninggalkan dunia yang cacat ini menuju ke dunia yabg baru yang sempurna (Yes 43:18-19; Why 21:5).
Perihal inilah yang PALING PENTING dan SERING DIACUHKAN (bukannya tidak dipahami atau tidak diketahui, tapi diacuhkan) oleh umat Kristen [yang sejati, Katolik].
Kebahagiaan definitif kita YANG SEJATI terletak di dunia lain. Setelah kita mati dalam dunia yang cacat [yang nantinya juga mati], maka kita akan dibangkitkan kembali untuk masuk ke dalam dunia yang baru itu. Di sinilah sama sekali tidak ada yang buruk.
Inilah penyelesaian definitif Tuhan.
Jadi, janganlah takut kalau orang yang kita sayangi sekarat. Kalau dia beriman dan hidup mengikuti ajaran Kristus, maka sekalipun dia mati, sebagaimana Kristus dahulu juga mati, toh, seperti sebagaimana Kristus juga, dia akan bangkit dan masuk ke dalam kekebahagian definitif di dunia yang baru itu.
Jadi fratres, janganlah takut kalau kita kehilangan pekerjaan dan hidup dalam kemelaratan dengan segala kesusahannya, bahkan sampai kita mati karena dera kemiskinan tersebut.
Karena, begitu kita mati dalam dunia ini, apa yang menanti kita adalah kebahagian abadi nan kekal bersama Bapa di sorga.
“Kematian” yang datang ke dunia yang cacat ini yang tadinya karena dosa, bagaikan suatu anugerah. Suatu pelepasan dari kesesakan hidup di dunia ini.
Beruntunglah kita karena usia kita di dunia ini terbatas (paling cuma +/- 100 tahun). Beruntunglah kita karena Allah mendesain sedemikian rupa sehingga semakin sengsara orang, semakin cepat dia mati.
Bayangkan seandainya orang yang sengsara dan sakit justru jauh lebih susah matinya daripada orang yang bahagia dan sehat. Bukankah sungguh lama penderitaan bagi mereka yang sengsara itu?
Tentu saja tidak dimaksudkan di sini agar kita semua cari mati. No. Tidak.
Ketika kita cari mati maka itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Kristus. Dan orang yang berlaku tidak sesuai dengan ajaran Kristus tidak akan masuk ke dalam kebahagiaan abadi nan kekal.
Dan yang terpenting, janganlah mengira bahwa orang2 YANG MEMAHAMI SEMUA ITU lalu TIDAK PERNAH TAKUT terhadap kesesakan dunia sama sekali.
Saya sendiri, sebagai contoh, akan kalang kabut dan berdoa mati-matian ketika mengalami sekedar kesulitan keuangan. Apalagi kalau pada saat ada orang yang disayang dan dicintai sepenuh hati akan meninggal.
Saya tau dan memahami semua yang ditulis di atas itu, tapi itu toh tidak membuat aku ongkang-ongkang kaki dan santai-santai saja dihadapan semua kesulitan. Air mataku pasti mengalir jebol, tekanan darah pasti naik ke atas puncak gunung, asam lambung pasti mengiris-ngiris.
TAPI, apa yang membedakan aku [dan umat Kristen sejati (Katolik) lain], yang diberikan Allah karunia HARAPAN karena IMAN, adalah bahwa saya dan kita tidak akan jatuh ke dalam ke-putus-asa-an.
Bagaikan orang yang punya simpanan banyak di bank, suatu kerusuhan yang merusak seluruh kota tidak akan mempengaruhi aku separah kerusuhan itu mempengaruhi tetanggaku yang lainnya yang tidak punya simpanan di bank.
Simpananku tidak akan pernah dapat dicuri atau lapuk dimakan ngengat (Mat 6:20).
Mari kita tutup dengan perkataan rasul Sto Paulus dalam Kitab Suci:
Roma 8:18-25
18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,
21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk kedalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala mahkluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kit sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapai pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
—
Spe salvi facti sumus, kita diselamatkan dalam pengharapan. Pengharapan akan tempat surgawi yang lebih baik (Ibr 11:16)
Harapan utama setiap kita umat beriman Kristen [yang sejati; Katolik] tetap saja adalah Why 21:1-7,22-27.
In Domino,
[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, Imitatio Christi II, 2, 2]
*Credit to DeusVult, Evangelos
Penggunaan bahasa setempat dalam liturgi Gereja Katolik Roma diawali dengan terbitnya dokumen Gereja Dekrit Sacrosanctum Concilium.
Tahukah anda bagaimana perdebatan di dalamnya sehingga akhirnya kita sekarang ini bisa merayakan Ekaristi dalam bahasa kita sendiri? Seorang uskup NTT kelahiran Belanda, Mgr Van Bekum dalam pengantarnya di depan para Bapa Konsili mengusulkan agar perayaan-perayaan li
Nilai dari puasa bkn hanya terletak pd persoalan menghindarri makanan-makanan tertentu, ttpi jg berhenti & melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.
Seseorang yg membatasi puasa dgn hanya berpantang daging sesungguhnya merendahkan nilai dari puasa itu sendiri
Apakah kmu berpuasa? Buktikanlah dgn melakukan perbuatan-perbuatan baik. Jika kmu melihat orang yg membutuhkan, berbelaskasilah kpd mereka. Jika kmu melihat temanmu ditinggikan, janganlah menjadi iri hati. Untuk puasa yang sejati, kmu tidak dapat berpuasa hanya dgn mulutmu. Kmu harus berpuasa dgn matamu, telingamu, kakimu, tanganmu & dgn seluruh anggota tubuhmu.
Berpuasalah dgn tanganmu, dgn menjagannya bersih dari keserakahan & kekotoran. Berpuasalah dgn kakimu, dgn menjaganya tdk pergi ke tempat2 yg membawamu jatuh ke dlm dosa, berpuasalah dgn matamu, dgn tidak membiarkannya melihat hal-hal yg tidak pantas.
Jika kmu menganggap puasa hanya sebagai serangkaian larangan, kmu akan semakin ingin melakukan hal-hal yg justru dapat mengancam keselamatan jiwamu. Tetapi jika kmu dpt menilai puasa sebagai sesuatu yg menyelamatkan, puasamu akan semakin berharga. Karena penilaianmu terhadap puasalah yg akan mempengaruhi perbuatanmu.
Adalah sangat bodoh, bila kmu tidak makan daging atau makan yg lain dgn alasan berpuasa, tetapi anggota tubuhmu yg lain melakukan hal-hal yg tdk benar.
Katamu, kmu tdk makan daging? Tetapi kmu membiaran telingamu mendengarkan hal-hal yg tdk benar. Tahukah kamu, kmu berpuasa dgn telingamu juga! Artinya tdk membiarkannya mendengarkan hal-hal yg cabul, perkataan-perkataan yg jahat & tdk benar tentang sesama.
Selain berpuasa dgn tdk makan makanan tertentu, mulutmu jg harus berpuasa dgn tdk membiarkannya mengeluarkan kata-kata kotor, makian, gosip, juga berbohong. Apa bagusnya bila kmu tdk makan daging sapi atau daging ayam, tetapi kmu mengigit & memangsa sesamamu manusia.
~ Santo Yohanes Krisostomus ~
]]>Berawal dari segala keterbatasan, kami selaku Tim Redaksi sekali lagi mohon maaf atas segala keterlambatan terbit pada dua Edisi terakhir kali ini. Adanya pergeseran sistem & konsep untuk penyajiannya mengharuskan Tim Redaksi memperbaharui bentuk maupun isi majalah tercinta kita ini, sebagai wujud dari sebagian tuntutan kreativitas dan aktualitas.
Dimulai dari Edisi 11 ini kami mencoba menampilkan materi tayangan maupun isi yang cenderung lebih banyak memiliki sentuhan sosial, tanpa meninggalkan bobot alkitabiah.
Dan pada Edisi ini pula kita sekaligus mencoba menggali makna mengenai “Keselamatan” yang seharusnya menjadi hak setiap manusia untuk dimiliki dan dirasakan, namun hal tersebut masih berpihak kepada sebagian orang, termasuk kita. Masih banyak sesama kita yang diliputi kedukaan, namun…… Simak selengkapnya pada “Rubrik Mawas Utama”.
Artikel lain masih membahas seputar kegiatan Paroki Salib Suci,
yaitu tentang Pergantian dan Susunan Pengurus DPP & BGKP periode 2011-2014 yang baru dilantik, Kegiatan Wilayah, Kegiatan BIAK Paroki serta Kreativitas OMK dalam menggali potensi serta mewujudkannya dalam bentuk beberapa kegiatan seperti Festival Paduan Suara & pendakian gunung.
Juga yang tak kalah menariknya di edisi ini yaitu, mengenai keberadaan Malaikat Tuhan pada Rubrik Katekese / Pojok Kitab Suci.
Akhir kata sekali lagi kami berharap agar pembaca dan pemasang iklan maklum atas keadaan ini, dan selanjutnya kami sampaikan terima kasih yang se besar-besarnya. Segenap Tim Redaksi dan Sie Komsos Paroki Salib Suci mengucapkan
SELAMAT NATAL 2011 & TAHUN BARU 2012
]]>Cukup menarik untuk dilihat juga bahwa calon kardinal di atas sebagian besar berasal dari negara-negara maju di barat, hanya 5 calon saja dari negara-negara berkembang yaitu dari Brazil, Rumania, India, Malta dan Hongkong. Tidak ada calon kardinal untuk konsistori tahun ini dari benua Afrika meskipun Uskup-uskup Afrika terkenal sangat konservatif dan tegas dalam hal ajaran iman dan moral Katolik.
Menyoroti Hongkong, saya melihat bahwa “tradisi kardinal” masih berlanjut di Hongkong. Keuskupan Hongkong, sekalipun merupakan keuskupan kecil, akan memiliki dua kardinal nantinya yaitu Joseph Kardinal Zen Ze-Kiun (79) yang baru genap berusia 80 tahun pada tanggal 13 Januari 2012 nanti dan calon kardinal selanjutnya, Uskup John Tong Hon (72). Sebelum keduanya, kardinal pertama dari Keuskupan Hongkong adalah alm. John Baptist Kardinal Wu Cheng-Chung yang diangkat menjadi kardinal oleh Beato Yohanes Paulus II pada tahun 1988. Apa maksud Bapa Suci dengan hal ini, saya tidak berani menduga.
Calon termuda untuk konsistori 18-19 Februari 2012 nanti adalah Uskup Agung Rainer Maria Woelki (55) dari Jerman sedangkan calon tertua adalah Monsinyur Julien Ries (91) dari Belgia.
Secara pribadi, saya sangat senang bahwa Uskup Agung Timothy Michael Dolan (Uskup Agung New York) diangkat menjadi kardinal. Beliau adalah seorang Uskup yang tidak pernah kompromi dalam ajaran iman dan moral Katolik. Ia begitu tegas menentang pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat serta ia sering membela Paus Benediktus XVI dari serangan-serangan media sekuler. Sekalipun demikian, ia termasuk uskup yang ramah.
Uskup Agung Vincent Nichols dari Inggris (Uskup Agung Westminster) sekali lagi tidak terpilih sebagai calon penerima “topi merah” (Mitra Para Kardinal). Tahun lalu Beliau disebut-sebut akan menjadi salah satu dari 24 Kardinal baru Gereja Katolik, tetapi akhirnya tidak terpilih. Meskipun demikian saya berharap pada konsistori berikutnya, Beliau diangkat menjadi kardinal. Calon lain yang saya harapkan untuk konsistori berikutnya adalah Uskup Agung Charles Chaput OFM. Cap. dari Amerika Serikat (Uskup Agung Philadelphia) dan Uskup Agung Jose Gomez dari Amerika Serikat (Uskup Agung Los Angeles), keduanya adalah uskup-uskup yang setipe dengan Uskup Agung Dolan. Calon lain dari Asia yaitu Uskup Agung Luis Antonio Tagle dari Filipina (Uskup Agung Manila) juga diharapkan untuk diangkat menjadi kardinal dalam konsistori berikutnya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Saya belum yakin bahwa akan ada uskup dari Indonesia yang akan diangkat sebagai kardinal pada konsistori berikutnya.
Entah apa tujuan, maksud atau harapan Paus Benediktus XVI dalam memilih nama-nama di atas sebagai kardinal; kita harus yakin bahwa Bapa Suci telah mempertimbangkan banyak hal dan tidak asal pilih. Bapa Suci memiliki visi dan misinya sendiri dan marilah kita berdoa untuk pelayanan Beliau dalam menggembalakan umat Katolik sedunia. Pax et bonum.
]]>PRAWACANA
Sepanjang peradaban manusia yang bisa kita lacak bukti-buktinya, ada banyak peristiwa yang membawa perubahan yang mencolok (signifikan) bagi kehidupan manusia. Peristiwa itu bisa karena peritiwa alam, mulai pra-zaman es, sampai melelehnya es yang menenggelamkan beberapa bagian bumi; ataupun peristiwa meletusnya gunung berapi: Krakatau misalnya, yang dampaknya terasa sampai ke Amerika; atau letusan yang mengubur kota Pompei.Atau juga yang karena “tindakan” manusia, misalnya: ekspansi Kerajaan Romawi ke sekian banyak belahan bumi yang jejak budayanya masih terasa hingga saat ini; atau pembangunan Tembok China” yang spektakuler; atapun peristiwa Holocaust, yang menyebabkan sekian juta orang Yahudi kehilangan nyawa. Ada peristiwa Kemerdekaan Negara Amerika, yang hawa-kekuasaannya terasa ke seluruh penjuru bumi hingga saat ini. Ada pula peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II, yang pada saat itu dianggap bisa menahan dominasi kekuatan militer Jepang di dunia ini.
Di antara sekian banyak peristiwa “karena manusia” itu, ada satu peristiwa unik yang tak-tertandingi, yang melibatkan “seorang manusia” bernama: Yesus bin Yusuf.
PERISTIWA YESUS
Sejarah mencatat (bukan fiktif, bukan imajiner), bahwa di daerah yang kini bernama Palestina, pada sekitar abad I, lahir seorang yang “diberi nama”: YESUS. Dari segi manusiawi, tidak ada yang istimewa dari seorang Yesus, sampai saat menjelang wafat-Nya. Baru sekitar 3 tahun menjelang wafat-Nya itulah orang baru melihat dan memperhatikan: siapakah “orang yang benama Yesus ini”. Dia yang dikenal sebagai seorang “Rabi, Guru”, Dia mulai mengajar.
Ternyata apa yang diajarkan-Nya bisa mendatangkan “hawa / semangat baru” bagi bangsa Yahudi. Dia disanjung-sanjung sebagai: “Sang Pembebas”, yang akan membawa kebebasan dan kemerdekaan bagi mereka yang saat itu terjajah oleh Kekaisaran Romawi. Bahkan, dari segi keagamaan, dengan merujuk pada nubuat para nabi, Yesus dipercaya sebagai Sang Mesias yang dijanjikan oleh Allah.
Keberadaan Yesus itu, pada saat yang sama, justru “contra-productive” bagi para ahli agama, Ahli Taurat dan orang Farisi, yang takut akan kehilangan “status quo”, karena apa yang diajarkan oleh Yesus dikhawatirkan akan menggerogoti posisi (dan kenyamanan) mereka sebagai orang / kelompok yang ”harus dihormati” oleh orang-orang Yahudi.
Kiprah Yesus dan keterusikan para Ahli Taurat serta orang Farisi itupun akhirnya mau tidak mau melibatkan penguasa: Herodes dan Pontius Pilatus. Mereka berkepentingan, agar tidak terjadi pemberontakan di wilayah kerja mereka, yang bisa membahayakan kedudukan / kekuasaan mereka.
Pada menjelang “puncak”, kekuatan spiritual (kaum agamawan) dan kekuatan sekuler-duniawi (Romawi) “bekerjasama” untuk melenyapkan sosok Yesus. Durasi dari proses puncak peristiwa itu dapat dikatakan terjadi hanya 8 hari, suatu masa yang sangat pendek untuk suatu peristiwa dramatis yang dampaknya “menjungkir-balikkan” dunia.
Cukup 8 hari. Dari hari Pertama (kita kenal dengan: “Minggu Palma”), di mana Yesus disambut sebagai Raja, Putra Daud; bergeser ke hari ke 6, Jumat, di mana orang-orang yang sama telah menuntut Kematian-Nya, bahkan kematian yang hina, bak seorang penjahat; sampai pada Kebangkitan-Nya, pada Minggu Paskah, hari kedelapan.
DARAH MARTIR yang MENYUBURKAN BENIH IMAN
Yesus telah wafat, dan Dia sudah bangkit. Namun itu bukan berarti semua orang yang mendengar berita kebangkitan mau menerima dan percaya. Bahkan para pewarta iman tentang “Khabar Gembira, Khabar Keselamatan” itu dikucilkan, dikejar-kejar, bahkan sampai mengikuti jejak Sang Guru: disiksa dan dibunuh.
Nyawa Stefanus-pun telah melayang demi iman dan kesaksiannya. Ia tercatat sebagai martir yang pertama. Kemartiran Stefanus membuat penyebaran yang lebih cepat dari pengikut Yesus ke luar wilayah Yerusalem, bahkan ke luar daerah Palestina.
Saulus, seorang Farisi dari garis keras, memburu pengikut Kristus sampai di manapun tempat yang mampu ia jangkau. Jauhnya jarak Yerusalem ke Damaskus-pun bukan penghalang bagi niatnya untuk menangkap pengikut Yesus.
Titik-balik yang dramatis terjadi pada diri Saulus. Metanoia total membuatnya menjadi “Paulus, Sang Rasul Agung” yang tidak kenal lelah, yang tidak kenal takut, demi imannya akan Kristus Yesus yang telah bangkit. Paulus bahkan menjadi “rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi”. Bersama Petrus, Sang Batu Karang, Paulus dipandang sebagai “Sokoguru Gereja”. Semangatnya ditularkan kepada semua pengikut Yesus, baik dengan kedatangannya secara fisik mengunjungi mereka, maupun dengan surat-suratnya yang tajam manakala ia tidak dapat datang untuk menguatkan dan menghibur saudara-saudaranya dalam iman, pada saat mereka memerlukan. Perjuangannya adalah perjuangan dengan segenap hati, segenap tenaga, segenap pikiran dan segenap hidupnya. Perjuangannya adalah perjuangan yang menantang maut, dan berakhir dengan mulia di Roma. Darahnya telah tertumpah di “ujung dunia”. Kemartiran Paulus tidak membuat surut semangat dan iman pengikut Yesus dari Nazaret, malahan semakin membuatnya berkorbar.Darah para martir telah tertumpah. Tapi itu tidak sia-sia. Darah para martir itu telah menyuburkan benih iman Gereja sepanjang masa.
GEREJA SEBAGAI SUATU ORGANISMA
Dengan dasar iman yang sama, para pengikut Kristus bersatu, dalam ikatan persaudaraan. Mereka menamakan diri sebagai: Kristen (Chritianos = milik Kristus). Ikatan itu terus tumbuh, bukan sekedar sebagai suatu organisasi, melainkan sebagai organisma, yang selalu dan terus tumbuh dan berkembang. Bahkan tumbuh-kembang-nya tidak terhambat oleh penyesat-penyesat (bidaah) sepanjang zaman, kekuasaan politik, maupun perusakan-perusakan, baik dari luar maupun dari dalam. Seolah-olah hambatan itu justru membuat organisma itu semakin menjadi lebih dewasa, lebih tangguh.
Dua peristiwa besar di dalam organisma, memang pernah menjadi peristiwa yang menyakitkan. Skisma Timur yang bermula dari Konsili Kalsedon (541), berpuncak pada “perpisahaan” pada tahun 1054, seolah memunculkan “dua wajah Kekristenan”; Kristen Barat dan Kristen Timur.Yang lainnya: Gerakan Reformasi yang dimotori oleh Martin Luther (1517), dengan “95 Protes”nya, seolah menampar wajah organisma itu. Gerakan Reformasi melahirkan “agama baru”, yang tidak lagi berada di bawah otoritas Gereja Roma. Dan hingga saat ini “Gereja Protestan” berikut seluruh perkembangan kelompok (denominsasi) yang muncul darinya, tetap sebagai “lembaga yang terpisah” dari Gereja yang “Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik”.
ECCLESIA SEMPER REFORMANDA
Perkembangan zaman telah membawa banyak perubahan pada pola pikir serta peradaban manusia. Seiring dengan itu, Gereja Krists tetap eksis. Tentu, dengan segala perjuangannya. Perjuangan-perjuangan Gereja itu terus berlangsung, mulai dari Gereja Perdana, era Bapa Gereja, abad pertengahan, masa polaritas kekuatan politik Timur – Barat, yang telah mulai nampak pada akhir abad XIX, sampai zaman post-modern sekarang ini.
Pola hidup dan cara pandang manusia (life-style; falsafah hidup) pun menjadi anak zamannya. Relativisme, Hedonisme dan sejenisnya, di sisi privat; bersanding dengan: komunisme; chauvinistime serta liberalime di ranah publik.
Bagaimana “agama salib” yang mengarahkan imannya pada “sengsara, wafat dan kebangkitan” bisa mampu bertahan di tengah aneka pola hidup seperti di atas?Tentu itu bukan hal yang mudah.Gereja, sebagai satu organisma juga harus mau, sanggup untuk berubah dan mengubah paradigmanya, senantiasa dan terus-menerus, tanpa mengubah dasar dan nilai hakiki imannya. Ecclesia semper Reformanda.
GEREJA BERHADAPAN DENGAN MULTI-NILAI
Gereja, sebagai persekutuan umat Allah, bukan hanya “mau” berubah”. Lebih dari itu, tidak dapat disangkal, bahwa sampai saat ini Gereja masih dianggap sebagai suatu kekuatan yang mempunyai “nilai tawar” yang sangat tinggi, baik dalam ranah moralitas maupun politik.
Runtuhnya komunisme pada abad XX tidak terlepas dari peranan Gereja. Gereja juga menjadi “garda” yang secara frontal berhadapan dengan para pencinta “kebebasan tanpa batas”. Perkawinan sejenis (homo, lesbian) tidak pernah mendapat restu, bahkan ditentang oleh Gereja, sehingga perkembangan idealisme mereka terhambat.Di pihak lain, hegemoni politik, yang semata-mata berdasarkan kekuatan baik ekonomi maupun persenjataan juga merasa mendapat hambatan dari Gereja.Penelitian-peneltian di bidang ilmu pengetahuanpun seolah diawasi oleh Gereja.
Dihambat, tidak direstui, diawasi. Itulah situasi nilai-nilai dunia modern berhadapan dengan Gereja.Apakah memang demikian?
Mari kita berpikir jernih.Apa yang dilakukan Gereja pasti tidak bergeser dari apa yang diajarkan oleh Yesus. Elastisitas dalam prinsip “Ecclesia semper reformanda”, tidak pernah pernah membuat Gereja meninggalkan harkat, esensi dan berharganya hidup manusia, terutama di bidang moral.Itulah yang disuarakan dan senantiasa diperjuangkan oleh Gereja.
Ide-ide komunisme yang pernah berkembang telah terpatahkan dengan adanya campur-tangan Gereja.Prinsip “ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan” (misalnya: dalam Teori Darwin, Klonning, Keluarga Berencana) harus merevisi pandangannya, karena Gereja tetap memperhadap-kannya dengan moralitas.Pendewaan ilmu pengetahuan dan rasionalitas juga tersandung oleh Gereja.Invasi militer Amerika Serikat ke dunia Timur Tengah pun terganjal oleh Gereja.Nilai-nilai “kemakmuran dan keadilan” yang diagendakan oleh negara-negara maju-pun dijungkir-balikkan oleh Gereja.
CUKUP 8 HARI . . . .
“Peristiwa Yesus” berlangsung sangat singkat, hanya 8 hari. Tapi dampaknya sangat terasa bahkan hingga saat ini. Dari “peristiwa Yesus” itu lahirlah “Gereja” yang sampai sekarang tetap eksis, meskipun melalui pasang-surut yang seringkali tidak terduga.
“Keberadaan” Gereja itu bukanlah untuk dirinya sendiri. Keberadaan Gereja, sejak awal pada masa dominasi kekuasaan Romawi, hingga sekarang, pada zaman post-modern ini, ini tetap diperhitungkan, bahkan sangat mewarnai segi sosial-politik kehidupan bernegara, juga sangat berpengaruh pada kehidupan moral pribadi manusia. Banyak nilai-nilai duniawi-sekularisme yang telah dibangun dan diperjuangkan, akhirnya dipatahkan dan dijungkir-balikkan oleh Gereja.
Ada satu hal penting yang sangat perlu kita perhatikan. Nilai-nilai hedonisme, relativisme, atau isme-isme duniawi yang lain, ternyata juga telah merasuki jiwa dan pola hidup umat, anggota Gereja itu sendiri. Hal itu merupakan “perusakan dari dalam” pada era post-modern ini. Kekuasaan uang, misalnya, seringkali telah menisbikan iman dan ajaran. Ini adalah sa;ah satu wajah perjuangan Gereja.
Perlawanan selalu berasal dari luar dan dari dalam, mulai dari masa Gereja Perdana, sampai ke Gereja post-modern ini. Namun demikian, kita melihat bukti nyata, bahwa Gereja masih (dan pasti akan terus) eksis.Memperhatikan hal ini, mau tidak mau kita harus menyadari, bahwa Gereja tidak berjalan dengan kekuatan duniawi. Ada kekuatan lain yang mendampingi Gereja. Dan bagi kita, tentu itu bukan sesuatu yang sulit dipahami, bukan juga suatu yang aneh. Tentu kita masih ingat apa yang dikatakan oleh Yesus, bahwa Gereja-Nya adalah Gereja yang didirikan di atas batu karang. Dan tentu kita mengimani, bahwa Dia akan menyertai kita, Gereja-Nya, sampai ke akhir zaman, sampai Dia datang kembali.Dengan iman itu, Gereja tetap mewartakan Khabar Gembira, tentang Keselamatan yang datang dari Dia, Sang Pemilik.
AKTUALISASI
Akhirnya, kita perlu menyadari, bahwa kita, masing-masing dan semua, adalah Gereja. Gereja bukan hanya biarawan-biarawati,pastor, uskup ataupun Paus saja. Maka, perjuangan Gereja adalah perjuangan kita semua. Kita masing-masing dan semua. Maka, setiap jiwa Kristen yang lemah berarti melemahkan perjuangan Gereja. Dan juga, setiap jiwa Kristen yang tidak menghayati spiritualitas Kristiani, adalah pengeroposan dan penggerogotan organisma Gereja.
Dalam beberapa waktu terakhir ini, Gereja merayakan Hari Raya Paskah, PUNCAK Iman, dan Puncak Liturgi Gereja.Dimulai dari Masa Prapaskah, masa Paskah hendaknya menjadi semangat baru bagi kita, mengingat kembali perjuangan, penderitaan, dan pengorbanan total Sang Guru, sampai wafat-Nya di kayu Salib.Dan hendaknya Kebangkitan-Nya senantiasa menyuburkan harapan kita dalam mengikuti Dia.
Salib, lambang kehinaan, telah dijungkir-balikkan-Nya menjadi Tanda Mulia.Dan di alam nyata, alam realita ini, dengan kesetiaan dalam mengikuti-Nya, seharusnya “Penyangkalan diri” kita mampu menjungkir-balikkan nilai-nilai “wajar” yang “ditoleransi” oleh masyarakat post-modern ini: egoisme, kesombongan individal, keangkara-murkaan.Dan semangat berkorban serta melayani, seharusnya mampu menjungkir-baikkan tuntutan untuk dilayani dan keangkuhan diri.
REFLEKSI
Masihkah kita menghayati, bahwa penyangkalan diri adalah lebih mulia daripada egoisme?Masihkah kita menyadari bahwa Salib Kayu lebih berharga daripada sebongkah emas-berlian?Masihkah kita mengimani bahwa Kebangkitan adalah bagian dari Sengsara dan Wafat?Masihkah kita berjalan mengikuti Yesus, bukan hanya melihat-Nya dari jauh saja, yang menghindar dan menyimpang di kala menghadapi kesulitan, penderitaan dan kepedulian kepada sesama?
Kita telah diselamatkan, kita telah ditebus, kita telah menjadi milik-Nya. Tiada balas-jasa yang layak yang dapat kita persembahkan bagi Dia.Sedikit yang mau dan mampu kita lakukan bagi orang lain, hanyalah sekedar sebagai ucapan terimakasih kita kepada-Nya, BUKAN SEBAGAI BALAS-JASA, BUKAN JUGA SEBAGAI NILAI BAYAR.
Deo Gratias, Terimakasih Tuhan. Masa Paskah, (Filipus SS.)
]]>BERHALA ITU BERNAMA : EKARISTI ?
Di tengah protes kita membaca judul itu, mari kita introspeksi. Kalau mau jujur, sadar atau tidak sadar, banyak di antara kita yang “terjebak” dalam “keberhalaan ekaristi”. Bukan Ekaristi-nya yang berhala, melainkan sikap batin kita, disposisi batin kitalah yang menjadikan Ekaristi itu sebagai berhala, persis sebagaimana yang dituduhkan kepada kita. Bukan Ekaristi-nya yang salah.
Artikel-artikel dalam buku ini memaparkan dengan baik dan jelas mengenai serba-serbi Ekaristi.
Mulai pendasarannya yang berakar pada Seder.
ke inti tema pokok, yang memperingatkan kita agar tidak menjadikan Ekaristi sebagai suatu BERHALA, berlanjut ke hakikat Tubuh dan Darah Kristus, dan sampai ke refleksi penulis, yang mengajak kita ke ranah spiritual Ekaristi, sebagai puncak dan sumber hidup Kristiani.
Akhirnya, kita, bersama-sama, sampai pada akhir buku ini, dengan bersama merenungkan kata-kata akhir dari Perayaan Ekaristi: “Ite, Missa Est. Mari pergi, kalian diutus”.
Kita diutus. . . . . Diutus untuk apa . . . . ? Siapkah . . . ? Apa bekal kita . . .?
Buku ini dapat dipandang sebagai suatu bentuk “katekese”, yang diterbitkan sebagai salah satu bentuk “ikut ambil-bagian” dalam Tahun Katekese yang dicanangkan oleh Keuskupan Surabaya pada tahun 2011 ini. Harapannya, tentu saja setiap pembaca yang serius dan rendah hati akan dapat memahami arti dan makna Ekaristi dengan baik. Sehingga karenanya, mereka dengan mudah bisa mempertanggung-jawabkan iman terhadap segala tuduhan miring terhadap Ekaristi.
Sekaligus juga sebagai dasar untuk memahami misi perutusan serta mendapatkan bekal untuk itu.
Hidup Kristiani adalah hidup misoner.
Misi ke dalam diri sendiri, dan misi kepada sesama.
Selamat membaca . . .
AMDG
Suplemen Spektakulernya MAWASS, yang bertitel :
“BERHALA ITU BERNAMA EKARISTI ?“.
sangat di butuhkan bagi Kesehatan & Kesegaran Iman kita, di jaman yang serba dipenuhi dengan Radiasi, Kontaminasi & Polusi seperti saat ini
Awas !!!…cetakan terbatas, bagi yang berminat harap segera menghubungi,
Sdr. Set Sandy (031) 7002 0366, atau
Stephanus Yuli S 081 217 88 701
SEKARANG JUGA !!!!!!
]]>
A. WACANA TEMA
Natal telah tiba.Keceriahan dan kegembiraan Natal terasa hampir di seluruh belahan bumi, dari kota sampai pelosok. Dari mal-mal sampai di dusun-dusun.Mulai anak-anak sampai lansia, pria maupun wanita, larut dalam pesta setahun sekali itu.Itulah Natal bila dilihat dari hal yang indrawi.Bagaimana dengan sisi iman?
B. ADVENT SEBAGAI AWAL
Kalender Liturgi Gereja Katolik menentukan, bahwa selama masa dalam 4 hari Minggu sebelum tanggal 25 Desember, adalah masa Advent. Pada tahun 2010 ini, masa Advent dimulai pada tanggal 28 Nopember. Tanggal tersebut sekaligus adalah sebagai permulaan tahun Liturgi. Jadi ada perbedaan dengan penanggalan umum, yang setiap tahun dimulai pada tanggal 1 Januari.Masa Advent adalah masa penantian, menantikan (peringatan) lahirnya Yesus.Dan karena yang dinantikan adalah sosok yang istimewa, maka persiapan yang harus dilakukanpun haruslah persiapan yang istimewa.Karena yang akan datang adalah Yang Mahasuci, maka persiapan itu pada ghalibnya adalah untuk mematut diri, membersihkan diri, membersihkan hati dan jiwa dari noda-noda dosa.Sehingga seringkali orang mengatakan bahwa masa Advent adalah masa pertobatan.Seiring dengan hal itu, maka warna liturgi dari masa Advent adalah ungu.
C. SANG PENYELAMAT ITU TELAH DATANG
Seiring dengan berjalannya waktu, maka masa Advent-pun berakhir.Namun, seringkali berakhirnya masa Advent itu betul-betul karena tanggal 25 Desember telah tiba. Bukan karena telah tuntasnya pertobatan kita. Bukan juga karena kegembiraan dari harapan yang terkabulkan.Lagu masa Advent: “O datanglah Imanuel . . .” dengan begitu saja tergantikan oleh lagu-lagu masa Natal: “Gembala kemari, cepat-cepat, pergilah ke Betlehem…”.Kita larut dalam ‘suasana’ bahagia dan gemerlap lampu ‘Pohon Terang’.Bila masa Advent dilalui begitu saja tanpa penghayatan yang benar, maka sudah pasti juga tidak ada pertobatan yang sejati. Dan dengan demikian, bagaimana mungkin ada ‘Penantian’ dan ‘Harapan’ yang sebagaimana mestinya?Yang ada hanyalah sekedar jargon pemanis bibir penyedap suara: tobat, harapan, Sang Juru Selamat, dan lain-lain.Mari kita bertanya kepada hati nurani kita: Betulkah jiwa kita haus akan pertolongan dan keselamatan yang dari Allah? Betulkah hidup kita memerlukan Sang Juru Selamat?Dan karenanya, kita juga perlu bertanya: Apakah kita sudah melakukan pertobatan yang sejati?Perlu kita menyadari, bahwa pertobatan yang sejati mengandung 3 esensi: Kasih akan Allah (bukan ‘takut masuk neraka’), penyesalan, dan niat untuk tidak mengulangi berbuat dosa lagi. Tanpa pertobatan yang sejati, mustahil kita bisa menghayati makna NATAL dengan benar. Artinya, hari Natal, tanggal 25 Desember 2010 hanya merupakan ‘Kedatangan’ Sang Juru Selamat yang kesekian kalinya. Hanya begitu saja. Setelah itu, tanggal 26 Desember dan hari-hari berikutnya, kitapun sudah melupakan hari Natal itu.
D. JANGAN TERJEBAK PADA ‘SEKEDAR’ RITUAL
Kembali pada tahun Liturgi.Dalam tahun liturgi, ada 2 peristiwa penting yang diperingati. Yaitu Natal, peringatan kelahiran Yesus, dan Paskah yang memperingati kebangkitan Yesus.Bagi umat Katolik, ada beberapa peristiwa penting sekitar Paskah. Ada ritual Jalan Salib, liturgi Minggu Palem, Hari Kamis Putih, Tuguran, serta Jumat Agung.Tanpa mengaburkan berharganya nilai Kebangkitan Yesus, Hari Jumat Agung merupakan hari yang penting bagi kita.Pada hari itu kita memperingati saat-saat sengsara Yesus, saat penyiksaan Yesus, saat Yesus dihina, saat Yesus disalibkan, saat Yesus dibunuh.Mengikuti upacara Hari Jumat Agung, sungguh bisa membuat hati kita trenyuh, bahkan sampai meneteskan air mata.Nah, sebagaimana pertanyaan introspektif untuk masa Natal, kitapun perlu bertanya kepada hati nurani kita: Mengapa Yesus mesti mengalami penderitaan yang demikian berat, mengapa Yesus harus dibunuh….????Tanpa menghayati makna Natal dengan baik dan benar, mustahil kita bisa menghayati makna sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.Dan tanpa penghayatan yang benar, berarti kita hanya ‘ikut’ dalam upacara-upacara itu. Alhasil, kitapun terjebak pada hal-hal yang ‘sekedar’ ritual belaka. Betul-betul hanya ‘sekedar’ ritual, karena iman kita tidak bertumbuh dan berkembang karenanya. Kita hanya tahu bahwa Hari Natal itu adalah saat Yesus: LAHIR, saat Yesus DILAHIRKAN. Dan dengan demikian, kitapun hanya tahu, bahwa Hari Jumat Agung adalah saat Yesus MATI, saat Yesus DIBUNUH. Konsekwensi logisnya, kitapun terjebak dalam konsep LAHIR – MATI, DILAHIRKAN – DIBUNUH.Sekilas, pemikiran yang demikian memang dapat dikatakan sangat ekstrem. Tapi bila kita tidak menghayati makna Natal dan Paskah sebagaimana mestinya, bukankah kita harus mau mengakui, bahwa kita terjebak dalam ritual LAHIR – MATI, DILAHIRKAN – DIBUNUH yang terus diulang setiap tahun?Memang, kita tidak pernah bisa ‘membunuh’ Yesus secara riil. Tapi, ‘membunuh’ bisa dilakukan bukan hanya sekedar menusuk dengan pisau atau menembak dengan pistol.Dalam kaitan dengan iman kristiani, Nabi Yesaya dengan jelas mengatakan, bahwa: dosa-dosa kitalah yang menyebabkan Yesus tersalib (bdk. Yes. 53:4).Ketidak-sadaran dan ketidak-pedulian (atau bahkan kesengajaan) akan dosa telah membunuh Dia setiap kali Dia hadir lagi setiap tahun dalam Perayaan Hari Natal.
E. WACANA SIKAP BATIN
Kelahiran Yesus di dunia ini adalah suatu tonggak terpenting dalam sejarah umat manusia.Demikian pula sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Natal dan Paskah adalah dua hal yang tak-terpisahkan. Tak akan ada Paskah tanpa Natal. Dan Natal tanpa Paskah apalah gunanya?Karenanya perlu ada pemahaman, refleksi yang mendalam dan penghayatan yang benar terhadap kedua peristiwa itu.Perlu kita bertanya kepada diri kita masing-masing:-. Apakah setiap hari Natal menjadi saat peringatan hadirnya Yesus dalam kehidupan kita? Adakah kita dapat merasakan Kasih Allah yang telah memberikan Penyelamat bagi kita?-. Apakah setiap datangnya hari Paskah kita sadar bahwa dosa manusialah (kita manusia juga, kan?) yang telah ditanggungnya dalam penderitaan? Adakah kita dapat merasakan kasih Allah melalui pengorbanan Putra-Nya?-. Apakah kita dapat merasakan Kasih Allah yang setia, yang senantiasa hadir dan menyapa kita dalam sakramen-sakramen-Nya?
Hari Natal telah tiba.Hari yang mengingatkan kita untuk berbenah-diri lagi.Mari kita bersuka-cita, karena kita diingatkan lagi dan lagi, bahwa Allah tetap setia kepada janji-Nya untuk menyelamatkan umat manusia.Berbahagialah kita, karena kita diingatkan, bahwa Yesus tetap menyertai kita hingga akhir zaman.
D e o G r a t i a , (Bernardus FS.)
]]>Bila kita lihat lembar terakhir dari kalender, maka kita sudah sangat hapal, bahwa tanggal 25 Desember pasti berwarnah merah.Artinya: hari libur, dengan keterangan: Hari Natal.Di lain pihak, setiap tahun, ketika bulan Desember telah tiba, hampir di seluruh dunia orang juga mulai sibuk untuk mempersiapkan Perayaan Hari Natal.Beberapa denominasi (sekte?) Kristen bahkan telah memulai kesibukan itu lebih awal lagi, yaitu pada awal bulan Nopember, dan merayakan Hari Natal (jauh) sebelum tanggal 25 Desember, yang bagi kita, umat Katolik, saat itu masih merupakan Masa Advent, yang layaknya adalah sebagai masa penantian dan pertobatan.Hari Natal . . ., hampir selalu identik dengan saat sukacita, kegembiraan, hadiah, pesta, dan lain hal yang bernuansa bahagia.Dan, sembari mempersiapkan serta menyambut Hari Natal, sebagian orang juga sudah berpikir dan mempersiapkan acara yang lain: TAHUN BARU.Sukacita lagi, pesta lagi . . . .Setelah itu, semua orang kembali kepada kehidupan ‘normal’, sibuk lagi dan terjerat lagi dalam rutinitas, dalam beban-beban kehidupan, dalam kesedihan, dalam kesusahan, dalam keputus-asaan, atau dalam rencana-rencana baru yang lain, dan menunggu datangnya Hari (Pesta) Natal yang akan datang.Lalu, bukankah dengan demikian Perayaan Hari Natal adalah suatu hal yang bersifat sia-sia belaka? Rutinitas belaka? Kebahagiaan semu belaka? Kepuasan ragawi yang sesaat saja?Atau ada juga, mereka (keluarga / organisasi) yang mengisi Hari Natal dengan membagi-bagikan hadiah. Tentu, ini bukan hal yang salah, dan tentu baik juga memberikan bantuan kepada orang lain.Tapi, kenapa hal yang baik itu dilakukan ‘hanya’ pada hari Natal saja? Bukankah setiap saat masih ada orang yang memerlukan bantuan, yang siap menerima uluran tangan kasih kita?Dan yang lebih penting lagi: hanya sebatas itukah makna Kelahiran Sang Penebus?
Mari kita meluangkan sedikit waktu untuk membuat refleksi, untuk memberi makna positif dari ‘Kedatangan Sang Mesias’ ini.
SANG MESIAS YANG DINANTIKAN
Setiap memasuki tahun Liturgi yang baru, yang dimulai pada hari Minggu Pertama Masa Advent, kita dihadapkan pada bacaan-bacaan Misa tentang Nubuat-nubuat para Nabi, tentang akan datangnya SANG MESIAS, Sang Pembebas.Latar-belakang penantian Sang Pembebas ini sangat diwarnai dengan jatuh-bangun perjalanan Bangsa Terpilih, Israel, dengan segala pergulatannya, pengkhianatannya atas perjanjian dengan Allah, penderitaannya (ketika menjadi budak di tanah Mesir, dijajah oleh Bangsa Asyur dan pembuangan di Babilon, bahkan dijajah oleh ‘bangsanya sendiri’), pertobatannya, serta munculnya para nabi yang membimbing dan memperingatkan mereka. Namun tidak jarang setelah pertobatan, mereka jatuh lagi dalam dosa. Bahkan tidak jarang pula para Nabi itu malah mereka bunuh. “Kami butuh makanan, bukan hanya omongan dan bukan nasihat . . . .!!”, demikian kira-kira kata mereka ketika menanggapi peringatan nabi-nabi.
Exodus Bani Israel menuju ‘Tanah Terjanji’ sungguh merupakan perjalanan (iman) yang sangat dramatis, dari mana kita sangat perlu untuk belajar, bagaimana Allah tetap setia dengan janji-janji-Nya, menghadapi umatnya yang tidak setia. Ketidak-setiaan umat Israel itu bahkan pernah diibaratkan sebagai seorang istri yang selingkuh. Untuk menggambarkan hal ini, bahkan Nabi Hosea rela mengawini seorang Pelacur, agar umat Israel menjadi terbuka matanya. Padahal dalam hukum dan tradisi Yahudi, upah bagi istri yang serong atau orang yang berzinah, sudah jelas: MATI).Menghadapi umat kesayangan-Nya yang tidak setia ini, Allah tetap menunjukkan kesetiaan-Nya. Kesengsaraan dan penderitaan yang timbul sebagai akibat dari dosa-dosa bangsa Israel-pun hendak dipulihkan-Nya. Ia berjanji untuk mendatangkan Sang Pembebas. Ia berjanji akan MENEBUS bangsa Israel dari kungkungan penderitaan dan kesengsaraan akibat dari dosa-dosa mereka. Ia yang bersedia menanggung beban dosa umat-Nya. Sungguh, pikiran Allah bukanlah pikiran manusia. Sungguh, Allah mengasihi umat-Nya, dan tidak memperhatikan dosa umat-Nya.Namun ketika Allah menggenapi janji-Nya dengan kelahiran Sang Sabda melalui rahim seorang Perawan Yang Mulia, adakah itu bermanfaat bagi mereka . . . . . ?Kita tahu, bahwa akhirnya merekapun memperlakukan Sang Mesias dengan tidak senonoh, memusuhi, menyiksa, bahkan membunuh-Nya. Namun, bagi mereka yang setia dan mengharapkan belas-kasih Allah, kedatangan, penderitaan, wafat dan kebangkitan Sang Mesias itu justru semakin menguatkan mereka, bahwa Allah adalah Allah Yang Setia sampai akhir zaman.
PROBLEMA SEKITAR KELAHIRAN YESUS
1. SAAT KELAHIRAN
Tidak ada keraguan, bahwa di dunia ini pernah lahir seorang yang bernama YESUS. Tidak kurang para ahli sejarah yang mencatat dan menceritakannya. Nama Tacitus dan Flavius Yosephus merupakan nama-nama yang patut diperhitungkan untuk mempercayai fakta mengenai kelahiran seorang yang bernama Yesus itu.Namun, dengan fakta itu, bukan berarti sudah tidak ada permasalahan lagi sekitar kelahiran Yesus itu.Hingga hari ini, saat tepatnya kelahiran Yesus itu masih menjadi perdebatan yang belum selesai.Secara tradisi, tanggal 25 Desember, Hari Natal, yang kita peringati setiap tahun, dianggap sebagai saat kelahiran Yesus.Di belahan bumi yang lain, orang meyakini bahwa kelahiran Yesus sebenarnya adalah tanggal 6 Januari. Ada juga yang mengatakan tanggal 19 Januari, ada juga yang meyakini kelahiran itu terjadi bulan Maret.Itu baru masalah tanggal.Masalah tahun kelahiranpun menjadi masalah yang belum selesai. Kaum awam yang paling sederhana, juga berpikir sederhana. Mereka cukup tahu, bahwa kalender yang kita pakai adalah kalender Masehi, yang merujuk pada Sang Al-Masih. Dengan demikian, seperti pada galibnya cara menghitung usia seseorang berdasarkan ‘ulang-tahunnya’, maka merekapun mengatakan bahwa Yesus lahir pada tahun 0 (nol).Sebagian orang yang lain, berusaha lebih berpikir lebih rumit. Dengan memperhatikan data sejarah, yaitu saat berkuasanya Raja Herodes serta kaisar Agustinus. Mereka berpendapat bahwa Yesus lahir sekitar tahun 4 atau 6 Sebelum Masehi. (masih sekitar, artinya belum ada angka yang pasti).Dari sisi yang lain, para ahli perbintangan (astronom, falak), menghitung saat kelahiran Yesus berdasarkan peredaran-pergerakan bintang, mengikuti kisah saat kelahiran Yesus yang ditandai dengan munculnya bintang yang bercahaya terang. Mereka sampai pada perhitungan, bahwa Yesus lahir pada yahun 6 Sebelum Masehi.Namun beberapa saat akhir ini, muncul perhitungan lain dari ahli perbintangan, yang menyimpulkan bahwa Yesus lahir antara abad pertama dan abad kedua Sebelum Masehi.Jadi, meskipun para ahli sepakat mengenai adanya kelahiran seorang Yesus, tapi belum ada kesepakatan mengenai: Kapan sebenarnya Yesus lahir. . . ?
2. TIGA RAJA ATAU TIGA ORANG MAJUS ?
Masih sekitar Hari Natal. Setelah kelahiran-Nya, Yesus dikunjungi oleh orang-orang majus dari Timur (bdk. Mat.2:1)Di sini timbul pertanyaan: ‘Siapakah orang-orang Majus’ itu?Kitab Suci hanya menuliskan, bahwa mereka adalah ‘orang-orang Majus dari Timur’, datang menyembah Yesus, dengan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur (bdk. Mat.2:11), tanpa ada keterangan lebih lanjut.Di lain pihak, ada rujukan lain, baik dari tradisi Gereja Orthodox maupun Injil Apokrif, yang menerangkan bahwa mereka adalah Tiga Raja dari Timur, yang bernama Gaspar, Melkhior dan Balthazar.Nah, timbul lagi pertanyaan wajar, yaitu: Mana yang benar, Orang-orang Majus atau Tiga Raja?Atau kedua peristiwa (kunjungan orang Majus dan kunjungan Tiga Raja) itu merupakan dua peristiwa yang berbeda?
3. TEMPAT DAN SAKSI KELAHIRAN YESUS
Perayaan Hari Natal hampir-hampir identik dengan ikon kandang. Benarkah Yesus lahir di kandang. . .?Mari kita sejenak memperhatikan Kitab Suci.Injil Lukas mengisahkan bahwa setelah Yesus lahir, bayi Yesus dibungkus dengan kain lampin, dan membaringkan bayi itu di ‘palungan’, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (bdk. Luk.2:7).Sedangkan Injil Mateus mengisahkan bahwa ketiga orang Majus dari Timur mengunjungi dan menyembah Yesus di ‘sebuah rumah’ (bdk. Mat.2:11). Mencermati hal itu, wajar bila kita bertanya: Yang mana yang benar? Yesus lahir di kandang atau Yesus lahir di sebuah rumah . . .?
Dalam memperhatikan perbedaan-perbedaan di atas, bukanlah maksud penulis untuk mencari mana yang benar, dan mengatakan bahwa yang lain adalah salah.Tentu, kita juga tidak akan mengatakan: “Bagian Kitab Suci atau Injil yang ini yang benar, sedang Injil yang itu salah.. . .”Kita harus kembali kepada pemahaman dasar, bahwa Kitab Suci bukanlah suatu buku laporan sejarah atau laporan kejadian. Kitab Suci adalah Buku Iman. Dan penulisan Kitab Suci dituntun atau diinspirasi oleh Roh Kudus, Roh Allah sendiri. Dia-lah yang menghendaki agar diri-Nya dikenal oleh manusia.Adapun perbedaan-perbedaan yang ada, tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kisah (konteks), latar-belakang serta maksud penulis Kitab Suci itu.Tentu, harus ada penjelasan, mengapa ada perbedaan-perbedaan yang demikian. Tapi, biarlah itu digumuli oleh para ahli Kitab Suci dan para teolog.Janganlah kita, yang tidak punya latar-belakang dan pengetahuan yang cukup, memasang gaya sok-mengerti, untuk menafsirkan dan mengajarkan penafsiran kita yang belum tentu benar itu kepada orang lain. Marilah kita menghargai dan mentaati apa yang telah diajarkan oleh Magisterium Gereja kepada kita. Namun, ini bukan berarti menjadikan kita alergi terhadap Kitab Suci. Mari kita memahami Kitab Suci sebagaimana Gereja sepanjang zaman, melalui ajaran Para Rasul serta Tradisi Suci telah memahaminya.
YESUS, SUNGGUH ALLAH DAN SUNGGUH MANUSIAIman Kristiani didasarkan pada keyakinan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Keilahian Yesus sangat jelas digambarkan dalam Injil Yohanes, bahwa Dia adalah Sang Sabda, yang bersama dengan Allah sejak kekal, yang karena kasih Allah ‘dikaruniakan’ kepada manusia, agar manusia bisa memperoleh kehidupan kekal (bdk. Yoh.1:1-3; 3:16; juga Yoh.10:38).Di lain pihak, penginjil Mateus dan Lukas menuliskan bahwa Yesus dilahirkan oleh Perawan Maria (bdk. Mat.1:25; Luk.1:26, dst.). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus benar-benar secara biologis adalah seorang anak manusia, seorang bayi yang dilahirkan oleh seorang manusia bernama Maria.Kelahiran-Nya ke dunia ini adalah karena kasih Allah kepada manusia, agar manusia yang telah binasa dalam kubangan dosa, dan mendapatkan kembali JALAN, KEBENARAN dan HIDUP.Karena dosa, manusia sudah terpisah dari Allah, Sang Hidup.Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm.6:23).Karena Yesus-lah, manusia yang sudah tersesat mendapatkan JALAN untuk kembali kepada Allah. Karena Yesus-lah, manusia yang berada dalam kubangan dosa dapat mendapatkan kembali KEBENARAN. Karena Yesus-lah, maut abadi telah dihapuskan, digantikan dengan HIDUP yang kekal.Anamnese (3) mengatakan: “… dengan wafat, Engkau telah menghancurkan kematian, dengan bangkit, Engkau memulihkan kehidupan ….”.Siapakah yang seharusnya mati karena dosa?Jawabannya pasti: manusia. Karena, memang manusialah, yang dengan menggunakan kehendak-bebasnya secara salah, telah terjerumus dalam dosa.Dan, siapakah yang dapat menghapuskan dosa manusia?Sepanjang sejarah, manusia telah bersalah kepada Allah (bdk. antara lain: 1Sam.7:6; Yer.14:7; Mi.7:9; Luk.15:18,21). Maka pengampunan dan penghapusan dosa itu harus datang dari Allah.Ke-dua posisi itulah (yang harus menanggung kematian dan yang mengampuni dosa) yang tersatukan dalam diri Yesus bin Maria, Sang Sabda yang menjadi manusia.Terentangnya tangan Yesus di kayu Salib, dengan wajah memandang langit, seolah ingin mengatakan: “Dengan inilah surga dan bumi telah Aku satukan kembali . . .”
YESUS YANG LAHIR DI HATI KITAHari Natal berkali-kali tiba, berkali-kali kita alami. Dan masih sekian banyak Hari Natal yang (mungkin) kita alami lagi.Namun kita selalu saja melewatkan nilai-nilai hakiki dari peringatan Kelahiran Yesus itu.Kata “PERINGATAN” seyogyanya perlu kita perhatikan. Kata itu mengandung makna: MENGINGATKAN kita. Hari Natal hendaknya mengingatkan kita, bahwa Kasih Allah senantiasa menyapa kita. Selain itu, kata “PERINGATAN” juga bisa dimaknai: MEMPERINGATKAN kita. Hal ini selaras dengan seruan ketika kita masuk dalam masa Adven, masa yang mendahului Hari Natal: “Bertobatlah…”.Kedua makna kata “PERINGATAN” itu, hendaknya menjadi bahan introspeksi bagi masing-masing kita: apakah kita senantiasa menyadari akan KASIH ALLAH itu, dan apakah kita telah melakukan PERTOBATAN yang sejati?Kedua makna kata “Peringatan” itu sangat realistis. Karena, pada kenyataannya, banyak waktu kita sia-siakan tanpa menyadari bahwa Kasih Allah selalu menyapa kita, dan bahwa berulangkali kita jatuh lagi ke dalam dosa, karena dalam hidup kita tidak ada PERTOBATAN yang SEJATI.
Mengapa bisa terjadi demikian . . .?Ini bisa jadi karena kita hanya memandang dan memaknai Peringatan Kelahiran Tuhan Yesus itu sebagai suatu kegiatan rutin belaka, yang setiap tahun memang sudah begitu dan akan terus begitu.Peringatan Kelahiran Yesus, mestinya mengingatkan kita, APAKAH
YESUS TELAH LAHIR DI HATIKU? APAKAH YESUS TELAH HIDUP DI HATIKU ?
Seperti Bunda Maria telah memelihara, menjaga dan menyayangi Yesus, apakah kita telah memperlakukan Yesus seperti apa yang dilakukan oleh Bunda Maria? Bukankah kita sering (selalu?) mengatakan bahwa Bunda Maria adalah Teladan Iman kita?Dan bila Yesus tidak hidup dalam hati kita, bukankah hidup kita sia-sia, hanyalah sebagai ranting kering yang siap untuk dibakar? (bdk. Yoh.15:6).St. Paulus telah memberikan ‘makanan keras’ kepada kita: “namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal.2:20)
Akhirnya, bila Yesus tidak lahir di hati kita, kita tidak menjaga serta memelihara-Nya, lalu APAKAH ADA GUNANYA YESUS LAHIR DI BETLEHEM . . . ?Bila Yesus tidak lahir dan hidup di hati kita, bagaimana kita dapat menghayati sapaan Kasih Allah?Bila kita tidak dapat menghayati Kasih Allah, bukankah seluruh hidup kita adalah mimpi yang sia-sia? PENUTUPTanggal 25 Desember 2010, kembali, dan seperti biasanya, kita merayakan Hari Natal.Kembali kita memperingati saat Kelahiran Yesus, Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita.Mari kita memanfaatkan kesempatan ini, agar kita tidak larut dalam rutinitas yang sia-sia belaka.Moment ini adalah saat yang baik bagi kita untuk menancapkan satu lagi tonggak dalam kehidupan kita, untuk berbenah-diri, untuk mengarahkan kehidupan kita ke arah yang lebih baik.Biarlah Hari Natal tetap sebagai pengulangan kenangan akan kelahiran Yesus. Namun, jauh lebih penting dari itu, mari kita berikan tempat yang baik di hati kita, agar Yesus juga lahir di hati kita, agar kita juga mempunyai kesempatan yang membahagiakan: memelihara, menjaga dan menyayangi Yesus sepanjang hidup kita.Bila Yesus telah hidup di hati kita, maka, sepeti St. Paulus, biarlah Dia sendiri yang menggarahkan hidup kita.Bila Yesus tumbuh dan berkembang dalsm diri kita, maka tentu di mana Dia berada, kitapun juga ada di sana (bdk. Yoh.12:26; 14:3).
Allah telah menyapa kita dalam Kasih dan Rahmat-Nya.Allah telah memberikan Putra-Nya untuk hidup bersama kita.Segala kemuliaan bagi Dia.Terpujilah Dia di tempat yang maha-tinggi.Gloria in excelsis Deo.
Selamat merayakan Hari Natal.
Selamat menyambut kelahiran Yesus di hati.
]]>Musim hujan, banjir sering bikin nelangsa. Termasuk juga seputaran Gereja. Bahkan juga di seputaran wilayah daerah separoki. Kita mesti rela jinjing sepatu atau celana atau bawahan. Motor dan mobil juga gelagepan. Sampai sekarang urusan itu tiap tahun akrab bersahabat dengan kita. Hanya orang-orang nekat atau orang-orang terpilih yang berani untuk menghadiri misa. Gereja jadi agak melompong. Beda kalau cuaca sedang cerah, Balai Paroki pun sering tidak mampu menampung.
Tidak bisakah kita mengatasi problem itu?
Sepertinya sampai dengan tahun ini kita terpaksa keok. Kenapa? Padahal kita secara individual atau berkelompok telah berusaha mati-matian mencari jalan keluar. Rumah kita tinggikan. Jalan kita tinggikan. Gorong-gorong dikerjabaktikan. Saluran baru dibuat. Habis uang banyak. Air tetap ngecembeng saat hujan agak deras. Apalagi kalau hujan deras dan lama. Rumah ditinggikan jadi aman. Rumah tetangga yang tidak tinggi jadi tidak aman. Terus tetangga naikkan rumah semua. Jalan depan rumah jadi tenggelam. Terus jalan ditinggikan. Jalan RT sebelah ganti tenggelam. Lalu RT sebelah ramai-ramai dinaikkan. Tempat kita ganti tenggelam. Plus RT, atau RW atau kompleks sebelahnya. Gantian mereka yang ramai-ramai naik. Ada yang naiknya sangat ekstrem. Lantai terasnya jadi sejajar dengan jendela tetangga. Secara arsitektural kita bisa melihat terjadi kepanikan estetika konstruksi. Bahkan di pintu kantor Komsos pun terpaksa dibikin bendungan. Bisa memancing korban nyungsep karena tersandung. Lha kalau gak dibikin bendungan, air bisa membanjiri ruangan. Terpaksa. Sekali lagi terpaksa. Lalu apa enaknya terpaksa?
Kita sebenarnya harus dapat mengatasi problem itu. Itu kan bukan bencana alam. Bukan kejadian yang kita tidak dapat perkirakan. Selama ini kita agaknya lupa pada tingkah laku air hujan. Bahwa air hujan perlu menyerap ke dalam tanah. Artinya jangan menutup tanah sembarangan. Berikan ruang dan kesempatan kepada tanah untuk bisa puas menerima air. Bahwa air selalu mengalir ke tempat lebih rendah. Artinya jangan bikin konstruksi sembarangan. Berikan ruang dan kesempatan kepada air untuk secara wajar mengalir sampai ke tempat yang ia dambakan.
Agaknya kita selama ini egois sehingga lupa hal-hal seperti itu. Jadi pantaslah kalau ketika hujan deras dan lama kita jadi nelangsa. Kalau semua orang tidak mau nelangsa bersama-sama, bagaimana caranya? Kita dan seluruh warga kawasan harus mempunyai cara berpikir yang sama dalam memperlakukan air hujan. Alangkah nikmatnya, jika suatu saat nanti pada musim hujan tidak lagi harus jinjing sepatu atau celana atau bawahan kalau pergi ke Gereja.
]]>
Baptis baru merupakan langkah awal, bukan tujuan akhir, kita semua tahu. Masa baptis adalah ibarat masa ‘roman’ atau ‘bulan madu’. Pada saat dibaptis, entah sejak masa kanak-kanak (remaja, pemuda) atau sudah dewasa, kita terbuai dan hati kita berbunga-bunga serta bangga karena kita boleh mengenal Kristus sebagai Putra Allah yang menjelma menjadi manusia dan menebus dosa umat manusia. Oleh karena itu kita yakin dan dengan penuh kerelaan (tanpa paksaan dari pihak manapun) mau mengikuti ajaran-ajaran kasih Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup.
Setelah beberapa saat kemudian menjalani hidup sebagai umat yang beragama (lebih baik lagi kalau ‘beriman’) katolik, ternyata ditemukan liku-liku hidup yang penuh dengan cobaan dan godaan. Hal ini wajar dan manusiawi sekali. Namun justeru di sinilah saat ujian hidup iman katolik yang sejati. Tuhan mendidik melalui berbagai peristiwa hidup manusiawi yang menimpa dan menempa kesetiaan iman, harapan dan kasih umatNya.
Tak terkecuali awam, imam atau suster/bruder sekalipun akan mengalami pasang-surut hidup beriman karena kita semua adalah manusia yang penuh keterbatasan dan mudah terjerumus pada kesalahan dan dosa insani. Hidup manusia memang multidimensional, mulai dari unsur jasmani, kejiwaan hingga rohani. Tak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu mengalami sehat, cedera dan sakit dalam taraf ringan, sedang dan berat silih berganti selama hidupnya. Demikian pula dengan gejolak suasana hati atau kebatinan (=kejiwaan), kadang manusia merasa gembira dan bahagia namun tak jarang pula mengalami kesedihan yang berlarut-larut. Inilah jalan dan kenyataan hidup yang harus dialami, dihadapi dan dilalui oleh setiap manusia.
Ajakan Juruselamat dan Guru Kehidupan
Yesus pun mengalami hidup sebagai manusia biasa sehingga bisa memahami kesulitan hidup manusia dan menawarkan ajakan Juruselamat yang menenteramkan hati: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKU, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.” (Mat 11:28-30).
Bila kita cermati dan simak lebih dalam lagi mengenai ajakan Yesus tersebut, terbersit (tersirat dan tersurat) bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk menanggung beban hidup yang berat hingga letih lesu. Yesus menawarkan diri untuk datang menghadapNya dan berjanji akan memberikan kelegaan setelah mendengarkan curahan seluruh isi hati dan keluh kesah umatNya. Salah-satu caranya adalah melakukan ‘adorasi’ dengan kontemplasi di hadapan tahta Sakramen Mahakudus. Tahapan ini sudah tergolong pada tataran ‘penyembuhan’ spiritual.
Namun demikian Yesus tidak serta merta memberikan kelegaan dan penyembuhan secara langsung dan sesaat. Yesus mengajarkan dan menyarankan untuk bersikap lemah lembut dan rendah hati sehingga jiwa manusia akan mendapatkan ketenangan. Sikap lemah lembut bukan berarti ‘mengalah’ dan ‘kalah’. Lebih jauh daripada itu yaitu sikap tenggang rasa dan tepo seliro (menempatkan diri sebagai pihak lain) baik terhadap diri sendiri dan orang lain untuk mawas diri. Dengan kata lain dianjurkan untuk menghindari sikap menang atau paling benar sendiri. Konsekuensinya, kita seyogyanya saling menghargai pribadi satu sama lain, bukan merendahkan orang lain dan diri sendiri, namun menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya baik kelebihan maupun keterbatasannya. Dengan demikian Yesus mengajarkan dan menganjurkan sikap rendah hati, bukan sikap rendah diri yang pada saatnya akan melukai diri sendiri dan orang lain.
Selanjutnya Yesus menyampaikan pula kiat-kiat untuk menanggung beban hidup yang berat tanpa merasa terbeban, yakni dengan cara menghadapi setiap persoalan hidup bukan sebagai hambatan tapi justeru sebaliknya sebagai tantangan untuk maju. Akibatnya, beban hidup yang ditanggung itu terasa ‘enak’, tidak ‘pahit’ dan ‘menyakitkan’, tentu dalam konteks kematangan hidup rohani, bukan dari sudut pandang hidup jasmaniah dan kejiwaan. Selain itu beban hidup yang dipikul akan terasa ‘ringan’, dengan mengandaikan cara dan kebiasaan hidup ‘baru’ yang tidak menuruti hawa nafsu (jasmaniah dan kejiwaan) dan keinginan duniawi yang fana. Hanya ada satu pilihan hidup, yaitu mengabdi Allah atau ‘mamon’.
Aral Melintang Kehidupan Aktivis Gereja
Umat katolik yang ‘awam’ (bukan imam atau suster/bruder) dihadapkan perimbangan antara aktivitas hidup profan dan gereja setiap harinya. Dalam arti, kaum awam disibukkan secara rutin setiap hari dengan kegiatan rumah-tangga (kebersihan, belanja, memasak, cuci pakaian dan semacamnya), berangkat kerja atau sekolah, kegiatan sosial kemasyarakatan atau ekskul (ekstra kurikulum, termasuk berbagai les privat). Hampir pasti dan dapat dikatakan rerata 80% waktu tersita pada kegiatan profan tersebut. Berarti, tinggal 20% waktu tersisa untuk kegiatan gereja, itupun sudah dalam kondisi lelah fisik dan mental.
Kebiasaan hidup sehari-hari tersebut dapat dimaklumi dan menggejala pada seluruh segi kehidupan, terlebih tuntutan jaman kini yang makin tinggi dan berat. Kenyataan hidup ini tentu menyita waktu dan perhatian seluruh umat manusia, termasuk kaum awam katolik. Lalu, bagaimana bisa diharapkan kehidupan iman terpelihara dan berkembang makin dewasa sementara kesibukan duniawi menghimpitnya? Repotnya, kaum awam katolik dituntut 100% katolik sejati sekaligus 100% hidup berkeluarga, mana mungkin?! Mana yang lebih diprioritaskan (didahulukan) antara kehidupan karir/pribadi, keluarga dan gereja? Idealnya, semua kepentingan seyogyanya dapat dipenuhi secara berimbang dan total. Bagaimana caranya dan apa dampaknya?
Persoalannya sekarang, justeru seiring makin berkembang teknologi transportasi dan komunikasi, manusia cenderung terpicu dan terpacu mengejar prestasi daripada relasi. Akibatnya, setiap keluarga rupanya makin merasakan kebahagiaan yang semu, damai tapi gersang, begitu lirik lagu menuturkannya, hubungan antar anggota keluarga makin renggang dan kurang akrab/hangat. Lalu, apa yang bisa diperbuat di tengah situasi dan kondisi yang penuh pertentangan batin ini?
Panggilan Hidup Menggereja
Jawabannya sebetulnya sudah ada dan sederhana sekali namun jarang disadari dan sulit untuk diterapkan, yakni hukum cinta kasih sebagai hukum yang utama mengatasi semua hukum yang lain. Mari kita simak dan renungkan kembali terus menerus jawaban Yesus terhadap pertanyaan ahli taurat dan orang-orang Saduki berikut ini: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Mrk 12:29-31).
Sudah sangat Jelas pada jawaban Yesus yang telak tentang hukum cinta kasih yang sekaligus merupakan landasan hidup kita sebagai umat katolik. TUHAN harus dinomorsatukan dan didahulukan dalam dan daripada segala hal, bukan hanya 100% tapi bisa 1000% atau tak terhingga. Apakah kita telah memusatkan perhatian hanya kepada TUHAN dalam seluruh hidup kita sehari-hari? Ironisnya, TUHAN yang kita imani bersama sebagai Raja dan Pencipta Kehidupan dikasihi oleh umatNya (mohon maaf) dalam dan hanya dengan sisa-sisa waktu, tenaga, pikiran, hati, jiwa dan kekuatan manusiawi.
Mari kita renungkan bersama, termasuk penulis. Apakah kita telah hadir dalam setiap perayaan ekaristi minimal setiap hari minggu dengan sepenuh hati atau hanya karena kewajiban rutin semata? Apakah kita rajin menghadiri pertemuan doa dan pendalaman iman di tingkat lingkungan/wilayah setempat? Tidak jarang kita dengar bersama beberapa dalih tidak/terlambat hadir dengan alasan pulang kerja larut malam, anak sibuk belajar karena ujian, suasana doa menjemukan dan seterusnya.
Belum lagi alasan-alasan yang berkedok rohani, seperti rajin berdoa atau aktif di gereja tidak menjamin hidup suci, hidup menggereja juga dapat diwujudkan melalui kegiatan kerja atau sekolah – tidak selalu harus aktif di/ke gereja dan semacamnya. Sikap pribadi semacam ini tergolong kesombongan rohani. Memang benar: ora et labora! Berdoa sekaligus bekerja. Berdoa tanpa bekerja itu omong kosong, seperti iman tanpa perbuatan, atau ekstrimnya ‘munafik’. Sebaliknya, bekerja tanpa dijiwai dengan doa itu kering dan gersang, ibarat badan tanpa jiwa dan roh, alias ‘robot’. Lalu, mana yang dipilih: bukan berdoa dan bekerja yang timpang namun yang berimbang dan saling meneguhkan! Bagaimana wujud konkritnya?
Dipanggil Bersatu dan Berpadu
Mencuplik dari tema gerakan komunitas ME (Marriage Encounter) tingkat dunia pada tahun 2009 dan 2010, yakni ‘called to be one’ (dipanggil untuk bersatu) dan ‘called by name’ (dipanggil masing-masing pribadi secara unik), menarik untuk disimak dan diikuti. Dalam konteks hubungan pasutri (pasangan suami-isteri), dituturkan dalam Kitab Kejadian 2:24-25: “Sebab itu seorang laki- laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi tidak merasa malu”. Artinya, laki dan perempuan meninggalkan orangtuanya setelah menginjak dewasa untuk dipersatukan dalam kasih sebagai suami dan isteri. Mereka bukan lagi dua tetapi ‘satu’ karena Tuhan mempertemukan suami-isteri sebagai pendamping hidup yang saling mengasihi satu sama lain selamanya. Diharapkan hubungan suami-isteri dapat saling terbuka (tidak ada tedeng aling-aling dan hal yang dirahasiakan lagi di antara keduanya) sehingga sehati dalam cinta.
Demikian pula halnya dengan kita sebagai kaum awam, dipanggil bersama oleh Tuhan dalam ikatan cinta-kasih untuk dipertemukan dan dipersatukan melalui kegiatan dan kehidupan menggereja sesuai dengan karakter dan talenta masing-masing. Rajin dan aktif ke gereja minimal dalam menghadiri misa setiap hari minggu dan doa/pendalaman iman di lingkungan/wilayah, lebih baik lagi jika bersedia dan rela ikut berperanserta sebagai pamong/pengurus umat, bukan karena sudah suci namun justeru sebaliknya kita mempersembahkan diri untuk selalu di-suci-kan bersama sesama umat.
Sebagaimana Yesus bersabda tentang menasihati sesama saudara: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20). Dalam kidung pujian Misa Kamis Putih (PS 498/499) sering dimadahkan pula lagu ‘Jika ada cinta kasih, hadirlah Tuhan’ (‘Ubi caritas est vera, Deus ibi est’).
Terkadang kita sebagai aktivis gereja masih mudah terpeleset dan terjerumus pada kebiasaan buruk manusiawi. Meski sudah rajin dan aktif di/ke gereja, bahkan sudah berperanserta sebagai pamong/pengurus gereja (putra altar, pembina, katekis, guru agama, ketua DPP/wilayah/lingkungan, ketua seksi, dirigen/anggota koor, organis, pemazmur, lektor, asisten imam, kolektan/persembahan, tata-tertib, koster, pengurus kelompok doa/ormas/gerakan dan seterusnya) tidak mustahil dapat terjerembab dalam skandal hubungan pernikahan, narkoba, keuangan, kekuasaan, premanisme dan segudang skandal lainnya. Tidak mengherankan, justeru makin dekat hubungan kita dengan Tuhan makin kuat cobaan dan godaan. Kiatnya hanya satu, yakni dibutuhkan ketahanan iman yang diperoleh dari persekutuan sesama umat beriman (awam dan imam serta suster/bruder) untuk saling meneguhkan satu sama lain dalam kasih Tuhan melalui kegiatan dan kehidupan menggereja. Rahmat kasih Tuhan melimpah bagi kita semua. Amin.
]]>