Orang muda sudah tidak kanak-kanak lagi namun juga belum beranjak dewasa. Demikian pula dalam hidup panggilan, bagi orang muda masih terbuka jalan lebar dan banyak alternatif. Mana yang akan dipilih? Orang muda mengemban tugas perkembangan untuk ‘memilih’ (choice) jalan hidup mana yang terbaik minimal bagi dirinya dan dalam kacamata iman seyogyanya diharapkan sesuai dengan panggilan dan kehendak Tuhan.
TAHUN IMAN, OMK, KKS 2013
Sepanjang tahun 2013 gereja Keuskupan Surabaya khususnya Paroki Salib Suci punya banyak gawe hajatan, yakni Tahun Iman, Tahun OMK (Orang Muda Katolik) & KKS (Kerasulan Kitab Suci), dan Pesta Perak Paroki Salib Suci dengan mengusung tema Berbangga dan Bersyukur karena Salib Tuhan. Lalu, di mana posisi OMK memerankan diri dalam konteks kehidupan menggereja ini?
Peluang dan kesempatan emas sudah di depan mata namun apakah OMK siap memanfaatkannya di tengah kehidupan yang penuh pilihan dan tantangan? Konflik batin dalam diri OMK, mana yang lebih diutamakan antara kepentingan gereja dan studi atau kerja? Konflik batin semacam ini kemungkinan juga dialami oleh para orangtua dalam kehidupan berkeluarga sehingga sedikit banyak secara tidak disadari mempengaruhi dilema mana yang lebih dipentingkan antara kepentingan gereja dan keluarga.
Pada satu sisi OMK sudah harus mandiri namun kenyataannya masih bergantung dan membutuhkan dukungan orangtua. Inilah titik kritis OMK di persimpangan jalan sebelum melangkah dan mentas menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa dalam segala aspek kehidupan. Seperti semboyan pendidikan dan kepemimpinan yang diamanatkan oleh mendiang Ki Hadjar Dewantara: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani. Nah, di sinilah pandai-pandainya para orang orangtua dan kakak senior dalam bersikap untuk mendampingi OMK: kapan saat yang tepat untuk memberikan teladan, maju bersama, dan melepas OMK dengan penuh kasih?
PANGGILAN HIDUP OMK
Usia perkembangan OMK pada umumnya berkisar antara 18 – 24 tahun. Secara jasmaniah pada usia 17 tahun menandakan masa awal akil balik atau menginjak masa dewasa awal. Tugas perkembangan OMK rata-rata masih terpusat pada tugas belajar/studi namun tidak menutup kemungkinan sudah mulai bekerja atau masa berkarir. Selain itu OMK mulai mempersiapkan diri untuk menapaki panggilan hidup berkeluarga. Namun demikian OMK seyogyanya juga mulai mempertimbangkan kemungkinan lain untuk menanggapi panggilan hidup membiara atau sakramen imamat.
Sebagaimana sabda Tuhan terkait panggilan hidup: “Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16a). Biarlah OMK dengan kehendak bebas mulai berlatih untuk menemukan kehendak Tuhan dalam diri pribadi masing-masing. Dalam perjumpaan antara kehendak bebas dan kehendak Tuhan akan ditemukan talenta dan mutiara yang indah dalam hidup setiap pribadi, teristimewa betapa indah dan mulia bila sudah ditemukan pada diri OMK. Seperti jawaban Maria menanggapi panggilan Tuhan melalui pesan dari MalaiKat Gabriel: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38; Fiat voluntas tua).
Lanjutan dari kutipan ayat Injil Yohanes: “…Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh 15:16b). Panggilan hidup memang berlangsung seumur hidup namun titik awal yang menentukan keputusan dan kebijakan dalam pilihan jalan hidup sesuai panggilan dan kehendak Tuhan bermula dari masa OMK. Buah kehidupan masa dewasa dan lanjut usia terutama ditentukan dari benih yang ditanam sejak masa OMK dalam memilih dan memutuskan jalan hidup. Bila pilihan jalan hidup selaras dengan kehendak Tuhan dapat dipastikan buah kehidupan akan tumbuh subur dan melimpah. Dengan demikian pada masa depan nanti OMK akan menjadi ODK (Orang Dewasa Katolik) yang patut disyukuri dan dibanggakan sebagai saluran rahmat kasih Tuhan bagi diri sendiri dan sesama manusia.
Pendek kata, OMK bukan hanya sebagai generasi penerus dan pilar kehidupan gereja masa depan namun sekaligus ikut menentukan mutu kehidupan umat. Makin OMK menemukan jati diri dan talenta sejak dini dan menentukan pilihan jalan hidup yang sesuai dengan kehendak kasih Tuhan, makin kokoh dan kekal abadi gereja yang dibangun atas batu padas yang keras dan tahan uji. Persoalannya sekarang, siapa yang terutama bertanggungjawab terhadap keberadaan dan perkembangan OMK? Apakah para orangtua atau OMK itu sendiri?
PENGEMBANGAN TALENTA OMK
Pada prinsipnya orangtua tetap harus bertanggungjawab terhadap perkembangan anak (baca: OMK) baik dari segi jasmaniah, kejiwaan dan rohaniah. Kenyataannya OMK masih membutuhkan dukungan dana untuk melanjutkan studi sebelum bekerja/berkarir atau hidup membiara. Selain itu orangtua seyogyanya juga menempa mental OMK untuk menemukan dan mengembangkan talenta (anugerah bakat dari Tuhan) dengan tangguh dan tahan uji. Keluarga dan sekolah atau kampus dapat menjadi ajang OMK untuk menemukan jati diri dan talenta serta menguji pengembangan dan ketangguhan diri. Bakat, sikap dan perilaku pribadi OMK akan tampak menonjol bila diberi ajang untuk mengekspresikan diri seperti apa adanya dalam kegiatan sekolah/kampus atau gereja.
Dalam kehidupan menggereja, OMK bisa diberi ruang dan waktu bebas untuk berekspresi tidak selalu dalam kegiatan rohani namun juga melalui pengembangan bakat intelektual, olah-raga dan seni. Kemampuan intelektual OMK perlu terus diasah dengan meningkatkan kepekaan dan daya kritis dalam menanggapi masalah-masalah aktual kemasyarakatan, misal dengan melakukan diskusi, debat, presentasi, penulisan artikel, memimpin rapat/pertemuan antar kawula muda dengan bahasa gaul sekaligus ilmiah. Selain itu OMK juga bisa diajak untuk olah-raga guna meningkatkan kesehatan jasmani sekaligus bakat olah-raga, misal futsal, sepak bola, renang, badminton, pingpong, basket, senam gangnam style. Lebih jauh daripada itu OMK juga bisa diajak untuk mengembangkan bakat seni, misal di bidang musik pop dan klasik yang bernuansa profan, rohani dan liturgi; band, teater, tari, lukis, komedi, pemandu acara.
Justeru melalui kegiatan yang mungkin terkesan profan dan hura-hura, OMK dapat mengekspresikan diri dengan bebas dan leluasa untuk unjuk gigi sebelum masuk dalam kehidupan iman dan rohani yang lebih mendalam. Kegiatan duniawi sebagai prasarana pengembangan talenta merupakan wujud nyata ungkapan rasa syukur dan bangga akan anugerah dan rahmat kasih Allah. Pengembangan bakat intelektual, olah-raga dan seni (BIOS) dapat menjadi bekal OMK untuk menyongsong dan menapaki karir masa depan untuk dipersembahkan kembali kepada Allah melalui pelayanan dalam hidup menggereja. Dalam kaitan ini para orangtua seyogyanya mendukung sekaligus mendorong OMK untuk aktif melalui kegiatan BIOS tersebut khususnya dalam kegiatan gereja sekaligus menjadi ajang sosialisasi guna mengembangkan hubungan pertemanan dan pergaulan yang sehat, akrab, guyub dan bersahabat.
PENGEMBANGAN KATOLISITAS OMK
OMK sebagai subjek dampingan dalam kegiatan gereja tentu berujung pada pengembangan katolisitas pribadi OMK itu sendiri. Iman katolik merupakan pilihan pribadi yang perlu terus dipupuk dan ditumbuhkembangkan seiring dengan perkembangan usia OMK dan tantangan jaman masa kini. Pengembangan iman OMK seyogyanya juga diselaraskan dengan selera dan konteks kehidupan OMK dewasa ini. OMK seyogyanya diajak aktif juga dalam kegiatan rohani seperti doa rosario lingkungan/wilayah, renungan APP (Aksi Puasa Pembangunan) Prapaska dan Adven, Legio Maria, Putra Altar, Koor-Dirigen-Organis Misa, Petugas Lektor dan Pemazmur, Kolektan Misa, Tatatertib Misa, Parkir Gereja, Aksi Sosial, Retret/ Rekoleksi, Kemah Rohani, Bible Camp. Tentu muatan materi, cara penyampaian dan pemimpin/pembimbing dalam ragam kegiatan rohani tersebut seyogyanya dikemas pula sesuai dengan gaya anak muda yang ‘gaul’, maaf bukan ‘jadul’ (jaman dulu) alias kuno. Namun ini semua dimaksudkan hanya sebagai pintu pembuka, dan yang terutama siraman rohani diharapkan bisa merasuk dan meresap dalam hati sanubari OMK.
Penting juga cara pendekatan dan sikap pendampingan orangtua terhadap OMK seyogyanya juga fleksibel (luwes dan bersahabat) serta simpati menghargai dan penuh tenggangrasa manakala OMK mulai berani melibatkan diri dan melayani dalam tugas gereja meski masih sering membuat kesalahan yang patut dimaklumi. Sikap OMK sendiri seyogyanya selalu ditanamkan dan dipupuk untuk bersikap dan bermental baja dengan berani sukses dan berani gagal sekaligus. Itulah kunci untuk menghasilkan ‘buah’ yang segar, manis dan masak dalam kehidupan kelak. Pada intinya para orangtua diharapkan rela dan bersedia memberikan kepercayaan penuh kepada OMK untuk mengembangkan dan menyempurnakan talentanya masing-masing.
KADERISASI OMK
Pada dasarnya para orangtua bertekad mendidik anak sebaik-baiknya dan berjuang keras untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan demi masa depan anak yang ‘sukses’. Demikian dalam kehidupan iman, para orangtua seyogyanya siap membagikan diri bagi OMK untuk mengembangkan iman hingga memenuhi panggilan dan kehendak kasih Tuhan. Oleh karena itu prasarana kegiatan OMK diharapkan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin terutama bagi pengembangan iman OMK melalui kegiatan BIOS (Bakat Intelektual, Olahraga, Seni) yang cenderung bernuansa duniawi dan ZOE (Zona Oase Ekaristi) yang terutama bernuansa rohani. Hal ini dimaksudkan kegiatan OMK baik dalam lingkup lingkungan, wilayah dan paroki dapat menjadi ‘sumur’ kehidupan yang menjadi ‘sumber’ bagi setiap insan OMK untuk menimba dan meneguk air kehidupan surgawi.
Guna mengasah iman dan hati nurani dalam kehidupan menggereja, OMK membutuhkan kegiatan gladi rohani dengan melakukan latihan kepemimpinan gereja tingkat dasar, madya dan lanjut. Diharapkan melalui kegiatan ini OMK dapat makin dewasa dalam iman dan kelak layak serta pantas untuk meneruskan pelayanan gereja yang sudah dirintis oleh para orangtua dan senior. Pelimpahan tongkat estafet kepemimpinan gereja kepada segenap OMK ini tentu dibutuhkan pendampingan intensif dari para orangtua untuk berkenan membagikan pengalaman dan talenta masing-masing. Semoga melalui kegiatan latihan kepemimpinan gereja ini, OMK makin percaya diri dan siap mental untuk mengemban amanat suci dalam melayani umat sebagai hamba Tuhan demi perutusan dan penggembalaan umat sesuai dengan kehendak kasihNya.
BRAVO OMK
Peziarahan hidup OMK masih panjang dan mungkin akan membosankan serta melelahkan. Ingat, OMK kini ada di persimpangan jalan. Tengoklah kiri-kanan, muka-belakang, atas-bawah, segenap penjuru kehidupan. Manakah jalan hidup yang kupilih? Carilah kehendak Tuhan dalam hidupmu! Temukan talenta dan panggilan hidup bersama orangtua, teman dan pendampingmu! Langkahkan kaki menatap masa depan dengan penuh iman! Siapkan hati menghadapi aral melintang sebagai tantangan dan ujian kehidupan! Ungkapkan pikiran dan perasaan sejujurnya dengan berani Bicara, Bangkitkan semangat, Mantapkan hati (spirit generasi BBM)! Simpang jalan adalah palang kehidupan. Pikullah kuk di bahu dengan penuh setia dan rendah hati! Sempurnakan selalu kelebihan (plus) dan perbaiki kelemahan (minus)! Golgota adalah puncak kehidupan! Rayakan kemenangan iman dengan penuh rasa syukur dan bangga karena salib TUHAN! Amin.
HIDUP OMK PAROKI SALIB SUCI !
SELAMAT BAHAGIA PASKA !
A.J. Tjahjoanggoro
]]>
Lomba- loma menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 67, oleh REKAT Paroki Salib Suci, tanggal 5 Agustus 2012, menggalang sikap Nasionalisme sejak usia remaja.
]]>KAMI JUGA MENCINTAI EKARISTI
Banyak bentuk pelayanan umat terhadap Gereja. Misalnya dengan menjadi Dewan Pastoral Paroki, Pengurus Wilayah, Asisten Imam, Lektor, Pemazmur, Anggota Koor, Petugas Liturgi, dan menjadi Penjaga Parkir. Semua memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Pelayanan bukan merupakan kewajiban, tetapi membutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian. Penulis ingin berfokus pada peranan OMK yang sering ketiban peran menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor, terutama saat Misa Agung.
Menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor ternyata sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Beberapa generasi muda Gereja yang sekarang sudah menjadi anggota DPP pun merasakan pelayanan dalam bentuk itu.
OMK menyadari, bahwa menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan terhadap Gereja selain menjadi Pengurus OMK Paroki maupun Wilayah dan Petugas Ekaristi. Keinginan Gereja agar OMK terlibat dalam setiap kegiatan Gerejawi memang sudah sangat jelas dapat mendorong dan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki. Tapi secara samar, dengan rutin dan seringnya OMK menjadi petugas parkir akan berimbas pada gambaran diri OMK. Tidak sedikit umat yang beranggapan bahwa OMK lebih senang menjadi petugas parkir karena BOSAN dan mulai MALAS dengan yang namanya MISA. Ada juga yang berpendapat bahwa, toh OMK juga mendapatkan uang parkir meskipun dengan nominal seikhlasnya,-. Namun, tidak sedikit pula yang menyadari bahwa OMK adalah bagian dari Gereja yang mendapat salah satu peranan dari sekian peran yang harus dijalani. Dalam suatu kesempatan, Rm. Heribertus Ballhorn, SVD pernah mengatakan bahwa menjadi petugas parkir pun adalah bentuk pelayanan terhadap Gereja, jadi sebisa mungkin harus dilakukan dengan baik.
Lalu, yang menjadi pertanyaan dan kegundahan OMK adalah ketika OMK rindu dengan perayaan Ekaristi khususnya pada misa-misa Agung yang hanya bisa diikuti dari tempat parkir,dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyambut kehadiranNya, bagaimana?
Fakta yang ada memperlihatkan bahwa beberapa OMK sering menjadi “bonek” dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun sebelum menyambut Kristus dalam wujud “sabdaNya”, OMK yang menjadi petugas penjaga parkir sempat hening dan menyiapkan hati seadanya. Pun ada yang sadar diri, merasa tidak pantas untuk menyambut Komuni Kudus maka tetap diam di tempat. Nurani mereka seolah menggugat: “Bukankah tidak pantas menerima Hosti Kudus bila tidak dengan persiapan hati yang layak?”. Kebutuhan OMK akan Ekaristi seolah terbentengi dengan kewajiban yang dilapisi nama “pelayanan”.
Apakah itu artinya, OMK hanya bisa berdiri di belakang tanpa pantas menyambut Tubuh dan DarahNya? Seberapa pentingkah pelayanan non liturgis sehingga dapat menomor-duakan Ekaristi? Apakah itu artinya, OMK harus mengorbankan Ekaristi?
Memang, pelayan Gereja adalah pelayan Tuhan juga. Tetapi Dia tentu akan bersedih, jika putra-putri yang dicintaiNya tidak dalam kondisi yang pantas atau siap hati untuk menerima kehadiranNya. Dia, mungkin, akan lebih terluka apabila putra-putriNya tidak menerima kehadiranNya.
Mengutip perkataan Bapak Victor H.S. selaku penasihat OMK: “Yang jelas, semuanya harus seimbang, jasmani dan rohani harus tetap beriringan. Tidak ada alasan untuk menjadi bosan. Misa tetap Misa. Liturgi juga tetap liturgi yang mempunyai hierarki dan tata perayaan. Masalah yang dihadapi sekarang, bagaimana kita, OMK, bisa mencintai Liturgi dan Ekaristi, kemudian membumikannya dalam kehidupan sosial di dalam dan di luar Gereja. Sebutan OMK bukan hanya mudah diingat dan dikatakan, tetapi sudah menjadi stempel mati buat kita. Yang harus diwujudkan dalam mencintai Ekaristi dan katolisitas dalam masyarakat majemuk. Menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan. Tetapi, Ekaristi tetap adalah yang utama. Tinggal bagaimana kita semua sadar bahwa semua itu masih menjadi bagian hidup dari orang muda yang merasa Katolik, terlebih lagi menjadi bagian dari Gereja Katolik”.
Intinya, Misa tetap Misa. Pelayanan juga tetap pelayanan. Semua tergantung dari cara menempatkan diri pada situasi yang sedang dialami. Jalan keluar yang mungkin bisa diambil adalah dengan mengikuti Misa Agung di paroki lain, karena Misa Agung di Paroki Salib Suci hanya diadakan satu kali.
Tapi, kemudian muncul pertanyaan, apakah dengan mengikuti misa di luar paroki domisili adalah pilihan terbaik?
Sekali lagi, mengulang pernyataan di awal, dibutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian dalam sebuah pelayanan. Terkadang dibutuhkan juga pengorbanan untuk menjalani pelayanan itu. Tidak mudah untuk menjadi ‘Yang Diharapkan’.
OMK memiliki loyalitas khas kaum muda, memiliki kompetensi, memiliki semangat, dan OMK juga memiliki komitmen.
Tapi lebih dari itu, OMK merindukan keutuhan Misa Agung dan Ekaristi.
OMK merindukan menjadi bagian dalam kegiatan liturgis dan upacara sakral. OMK tidak ingin hanya bisa berdiri di belakang.
OMK juga mencintai Ekaristi.
OMK juga ingin menghidupi Ekaristi.
(monica ajeng erwita)
]]>Sebanyak 29 anak anggota baru Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci, Sidoarjo didampingi oleh sekitar 15 orang kakak-kakak panitia dan pengurus Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci, berproses dan belajar bersama dalam kegiatan ‘Camping Rohani’ selama tiga hari dua malam di Wisma Narwastu Pacet.
Acara yang diisi dengan kegiatan outbond dan dinamika kelompok pada hari pertama, diskusi serta jalan-jalan malam pada hari kedua ini memiliki tema besar
“Tanggung Jawab dan Disiplin Putra Altar”.
Para peserta bersama pengurus Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci dalam kegiatan tersebut juga mendapatkan motivasi dari para mantan ketua Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci, di antaranya Mas Bambang, Mas Marianus Rudy, Mas Patric dan Mas Arthur. Tidak ketinggalan teman-teman dari Mudika Paroki juga turut memotivasi dan mendukung acara ini terutama saat outbond, dinamika kelompok dan jalan-jalan malam.
Pada hari kedua, para perseta yang semakin bersemangat ini diajak untuk berdiskusi dan memahami Tugas, Tanggung Jawab serta Disiplin sebagai seorang Putra Altar. Selain itu peserta juga diajak untuk menggali bagaimana sikap seorang Putra Altar baik saat bertugas di atas altar
maupun saat di luar altar.
Masih pada hari yang sama, dengan diliputi hawa dingin dan suasana gelap, para peserta diajak untuk jalan-jalan malam di sekitar lokasi mereka menginap dengan hanya berbekal lilin dan Rosario. Kegiatan Jalan-Jalan Malam ini menurut Adi, sang Ketua Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci, bertujuan untuk melatih mental, rasa percaya diri dan refleksi kepasrahan diri pada kasih terang Yesus dan Bunda Maria saat kita menghadapi tantangan ataupun kesulitan.
Meski rasa takut awalnya meliputi para peserta, namun saat kegiatan jalan-jalan malam ini berakhir justru beberapa di antara peserta mengaku sangat senang dengan kegiatan ini. Seperti yang diutarakan oleh Yohanes Eka, peserta dari Wilayah Yosep yang masih kelas 6 SD ini, saat ditanya apakah mau kalau diadakan acara seperti ini “ Mau lagi asal diijinkan orang tua “ tukasnya. Wow ! Lain lagi yang dikatakan oleh Timi, peserta dari Wilayah Yohanes Asisi, “Aku pernah ikut acara seperti ini tapi lokasinya di pantai. Acaranya misdinar ini lebih keren”
Lalu bagaimana dengan pendapat Bp. Stefanus Lebu Raja (Ketua Sie Liturgi Dewan Paroki) yang selama acara Camping Rohani ini berlangsung terus menemani sejak awal hingga akhir acara bahkan saat jalan-jalan malam juga ikut berjalan bersama para peserta “ Loyalitas dan semangat mereka harus tetap dijaga. “ demikian beliau menjawab saat ditanya mengenai tanggapannya terhadap kegiatan Putra Putri Altar “Santo Tarsisius” Paroki Salib Suci ini.
Akhirnya kegiatan ini ditutup pada hari Minggu dengan Misa yang dipimpin oleh Romo Yoseph dan selanjutnya para peserta kembali ke Gereja Paroki Salib Suci dengan gembira meskipun wajah mereka nampak kelelahan. (ptc)
]]>
Banyak anggota tetapi satu tubuh. Mengutip homili Rm. Yosef Gheru Kaka, SVD pada misa pesta nama Salib Suci yang ke 22, tiap anggota tubuh memiliki fungsi yang berbeda tetapi masih pada satu tubuh. Ada beberapa organisasi katolik dan persekutuan doa yang dimiliki oleh paroki ini, masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Secara khusus, penulis akan memberikan pandangan mengenai organisasi OMK (Orang Muda Katolik).
Saat ini kepengurusan OMK Paroki Salib Suci digawangi oleh 35 orang OMK yang berasal dari berbagai wilayah. Seringkali, bahkan tertanam dipikiran umat maupun OMK Paroki Salib Suci, bahwa OMK Paroki (=Mudika Paroki) adalah hanya pengurus OMK saja. Padahal, OMK Paroki Salib Suci meliputi seluruh OMK di tiap-tiap wilayah. Mungkin, mind set itu ada karena yang muncul dan terlihat aktif hanya yang “itu-itu “ saja. Yang “itu-itu” saja, juga adalah OMK dari kelompok minat yang “itu-itu” saja.
OMK Paroki Salib Suci memiliki berbagai minat. Rentang usia pun cukup jauh berkisara umur 15-32 tahun. Tidak dipungkiri bahwa dengan beragam minat dan pautan usia itu, muncul gap-gap yang menyebabkan OMK Salib Suci kurang bersatu. Minat OMK dalam olahraga, paduan suara, band, dan kerohanian seolah berjalan sendiri, tidak terarah, tidak didalam satu lingkaran besar. Kisaran usia yang terpaut cukup jauh juga mempengaruhi pola pikir individu. Hal tersebut memicu rasa enggan, segan, dan tidak nyaman. Masing-masing kelompok minat tidak mau, atau lebih tepatnya merasa berat jika harus kedatangan penghuni baru dalam ‘rumah mungil’ mereka. Juga sebaliknya, karena merasa ‘rumah mungil’ mereka sangat nyaman, maka enggan dan segan untuk bertandang ke ‘rumah mungil’ yang lain. Hasilnya? Muncul jarak, OMK seakan terpecah oleh situasi seperti itu.
Ooh..ada lagi, penulis menyebutnya kelompok tanpa minat. Kelompok tanpa minat ini adalah OMK yang pasif. Diketahui dari hasil kunjungan pengurus Mudika Paroki periode 2005-2008, penyebab ketidakaktifan sebagian besar OMK Paroki Salib Suci, diantaranya: tidak ada motor penggerak, sibuk dengan urusan lain di luar gereja, tidak berminat pada organisasi, malu/takut tidak ada teman yang bisa diajak untuk bergabung, kurang/tidak ada dukungan dari orang tua, kurang/tidak ada pendamping dari wilayah sehingga potensi yang sebenarnya ada tidak muncul, malas karena tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan mudika. Sebab-sebab diatas sangat klasik dan terkesan diada-adakan. Tapi itulah kondisi yang sebenarnya.
Peranan aktif OMK yang terbagi dalam beberapa kelompok minat itu, seperti : Regina Caeli (Paduan Suara OMK Paroki Salib Suci), Lektor, Pemazmur, Organis, petugas parkir dalam perayaan-perayaan besar, petugas persembahan dan kolektan, dianggap kurang atau belum cukup mewakili keberadaan kurang lebih 200 OMK se-Paroki Salib Suci. Gereja prihatin bahwa kemunculan OMK hanya pada acara tertentu saja. Seakan tidak ada kata cukup bagi OMK, karena masa muda adalah masa untuk berkarya.
Ketika dirasa sudah cukup umur bahkan terlalu tua untuk dibimbing, OMK Paroki Salib Suci tetap memerlukan figur pembina untuk mengarahkan perahu yang sedang didayung dan pemersatu. Saya, kami, OMK Salib Suci dengan ego, belum sepenuhnya terarah dan masih membutuhkan figur serta dukungan. Figur yang mengenal, dan memahami idealism, sekaligus mau mendengarkan pendapat, bisa menegur dengan kekhasan orang muda jika langkah yang diambil kurang tepat, mau bersahabat dengan orang muda.
Masa depan gereja ada di pundak OMK. Beban yang berat harus dipikul, tapi tidak perlu dirasakan dirasakan, melainkan bagaimana OMK harus menjadikan beban sebagai tanggung jawab. Keaktifan dan kesatuan OMK Paroki Salib Suci bukan hanya ditangan para pengurus OMK saja, yang notabene juga masih OMK, yang (harus diakui) termasuk dalam kelompok minat itu sendiri. OMK Paroki Salib Suci membutuhkan dukungan dari banyak pihak, dari Gereja, Romo Paroki, Dewan Pengurus Pastoral, dan Umat. Kalau sekarang OMK Paroki Salib Suci belum bisa menjadi cahaya bagi orang lain, OMK akan menjadi lilin, bahkan sekedar kerlip saja, saat ini sudah cukup.
Be a light, be a candle, be a twinkle in other people heart and mind.
(ajengerwita)
Pengurus OMK Paroki Salib Suci