Beberapa waktu belakangan ini, ada hal berbeda yang ditampilkan oleh wilayah Fransiskus Assisi (FA) sebagai sumbangsihnya pada Gereja kita, yaitu keikutsertaan anak-anak anggota BIAK wilayah FA dalam tugas paduan suara untuk misa mingguan di Gereja Salib Suci. Di bawah asuhan Ibu Bimo, selaku koordinator paduan suara BIAK FA, anak-anak diajak untuk turut serta ambil bagian dalam pelayanan di Gereja. “Tujuan kami mengembangkan paduan suara BIAK di wilayah Fransiskus Assisi didasarkan atas pemikiran bahwa anak-anak usia BIAK harus selalu diberi kesempatan dan dilibatkan dalam pelayanan, agar jiwa pelayanan terhadap Gereja dan sesama bisa tumbuh sejak dini dalam diri anak-anak kita,” ujar Bu Bimo.
Bu Bimo berkisah, pada awalnya ide untuk menampilkan paduan suara BIAK ini mengalami pro dan kontra dikarenakan kekhawatiran para orang tua yang takut jika anak-anak mereka malah akan berbuat ulah dan nakal saat tugas paduan suara berlangsung. Namun, dengan keyakinan yang teguh Bu Bimo dan tim Pembina BIAK wilayah FA lainnya dapat mengatasi hal tersebut. “Awalnya para orang tua memang khawatir anak-anak mereka akan sulit dilatih dan berbuat nakal saat tugas, tetapi saya dan Pembina lainnya tetap meyakinkan para orang tua bahwa kami bisa mengarahkan anak-anak untuk bernyanyi dengan baik dan bersikap tenang saat tugas di Gereja,” kata Bu Bimo.
Ternyata usaha yang dilakukan Bu Bimo beserta timnya itu tidak sia-sia. Hal ini terbukti dari keberhasilan dua kali penampilan paduan suara BIAK FA dalam tugas misa mingguan di Gereja. Dalam dua kali penampilan tersebut, terbukti bahwa anak-anak BIAK wilayah FA dapat melakukan tugas paduan suara dengan baik. Mereka bernyanyi dengan semangat dan bisa bersikap tenang saat Romo sedang memberikan homili. Bahkan di dua penampilan itu, Bu Bimo mencoba memberi warna berbeda dalam aransemen musik yang dimainkan, yaitu dengan menambahkan alat musik flute dan recorder untuk mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan.
“Paduan suara BIAK wilayah kami memang sudah tampil dua kali. Dalam dua kali penampilan tersebut koor BIAK FA bisa menunjukkan pada para orang tua dan umat bahwa anak-anak seusia mereka juga bisa bernyanyi dengan baik dan hasilnya pun sungguh mengagumkan. Dan dari dua kali penampilan itu, kami juga banyak mendapat apresiasi positif dari umat terutama karena kami berani memberi aransemen berbeda pada musik yang mengiringi lagu yang dibawakan anak-anak dengan menambahkan iringan alat musik flute saat penampilan pertama dan menambahkan iringan alat musik recorder saat penampilan kedua, dimana alat-alat musik itu juga dimainkan sendiri oleh anak-anak BIAK kami. Selain itu, saya pun sangat bersyukur karena di wilayah Fransiskus Assisi ada saudari Siska yang berkompeten dalam mengiringi anak-anak dengan menggunakan berbagai macam alat musik,“ cerita ibu dua anak ini dengan semangat.
Adanya apresiasi positif dari umat atas penampilan paduan suara BIAK FA pada akhirnya menjadi motivasi bagi Bu Bimo beserta timnya untuk makin mengembangkan paduan suara BIAK di wilayah mereka. Bahkan untuk makin memperbaiki penampilan anak-anak BIAK FA di kesempatan tugas yang akan datang, Bu Bimo pernah mengundang Mas Sius (wilayah Ignatius) dalam latihan paduan suara BIAK FA untuk memberikan masukan kepada para Pembina mengenai hal-hal apa saja yang masih perlu diperbaiki. “Saya memang sempat mengundang saudara Sius saat latihan paduan suara BIAK di wilayah kami untuk sekedar sharing dan meminta masukan bagi kekurangan-kekurangan kami para Pembina dalam melatih, terutama dalam hal teknis bernyanyi,” ucap Bu Bimo.
Semangat untuk menjadi lebih baik pun ditunjukkan oleh anak-anak anggota BIAK FA sendiri. Hal ini tampak dari jumlah anak-anak yang ikut serta dalam paduan suara tersebut yang bisa mencapai jumlah kurang lebih 40 anak. Lalu, bagaimana cara mengumpulkan anak-anak dalam jumlah yang tidak sedikit itu? Bu Bimo menjelaskan bahwa ia dan timnya mengumpulkan anak-anak saat sekolah minggu, dan diwaktu sekolah minggu itulah anak-anak diajarkan lagu-lagu rohani Katolik yang diambil dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta sebagai persiapan apabila ada jadwal tugas paduan suara yang akan dibawakan oleh paduan suara BIAK FA. “Tim Pembina BIAK wilayah kami berjumlah 8 orang. Kami membina anak-anak secara bergantian, tiap minggunya ada 2 orang Pembina yang mendampingi anak-anak di sekolah minggu, dan saat itulah kami mengajarkan lagu-lagu rohani Katolik khusus anak-anak yang kami ambil dari Pusat Musik Liturgi kepada mereka,” ujar Bu Bimo. “Lalu lagu-lagu itu akan kami latih lebih intensif lagi seminggu menjelang hari H tugas. Biasanya dalam seminggu itu kami berlatih hingga empat kali dan untuk kelancaran latihan kami menyertakan undangan kepada orang tua masing-masing anak agar bersedia mengantarkan anak-anaknya untuk berlatih paduan suara,” tambahnya.
Dalam kesempatan wawancara ini, Bu Bimo juga memberi tips agar latihan paduan suara menjadi menyenangkan bagi anak-anak. Menurut Bu Bimo, menciptakan suasana latihan yang santai dan fun merupakan syarat utama untuk menumbuhkan rasa ketertarikan anak-anak. Untuk itu, tidak jarang Bu Bimo memberikan sedikit lelucon dan humor-humor segar disela-sela latihan agar anak-anak bisa kerasan dalam berlatih. Selain itu, jangan terlalu menargetkan anak-anak harus tampil bagus dahulu. “Bagi saya hasil adalah nomor dua. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa membuat anak-anak senang berada di dalam Gereja, bukannya bermain di luar Gereja saat misa berlangsung. Sehingga dengan demikian tujuan untuk menumbuhkan jiwa pelayanan sejak usia dini juga dapat tercapai,” tegas Bu Bimo.
Di samping paduan suara BIAK, Bu Bimo mengatakan bahwa dirinya dan tim Pembina juga sedang berusaha mengembangkan paduan suara Rekat di wilayah FA. Oleh karena itu, jadwal tugas paduan suara untuk wilayah FA telah diatur sedemikian rupa agar anak-anak BIAK maupun Rekat wilayah FA dapat ikut serta dalam tugas paduan suara di Gereja. “Wilayah kami dalam setahun kurang lebih mendapat jatah 4 kali untuk mengisi tugas paduan suara misa mingguan di Gereja. Untuk itu, kami membagi sendiri tugas paduan suara tersebut agar anak-anak juga bisa ikut terlibat. Pembagian yang biasanya kami lakukan adalah 2 kali jadwal tugas kami berikan pada paduan suara wilayah, 1 kali jadwal tugas untuk paduan suara Rekat dan 1 kali jadwal tugas sisanya kami berikan pada paduan suara BIAK wilayah kami,” jelas Bu Bimo.
Diakhir wawancara, Bu Bimo menyampaikan harapannya kedepan bagi perkembangan BIAK dan Rekat di Gereja kita. “Saya berharap setiap wilayah juga bisa mengembangkan paduan suara BIAK dan Rekat di wilayahnya masing-masing. Dan sekali lagi saya mohon untuk jangan terlalu fokus pada hasil yang harus bagus, tetapi fokuslah lebih dulu pada proses agar anak-anak berani tampil dan berani turut serta melayani sejak dini. Di samping itu, saya juga berharap Gereja kita dapat memberi porsi tugas paduan suara bagi BIAK dan Rekat pada jadwal paduan suara misa mingguan, sebab sangat penting memberi kesempatan pada anak-anak untuk secara langsung ikut melayani dalam kegiatan Gereja, sebab merekalah yang nantinya akan melanjutkan pelayan kita dimasa yang akan datang” ungkap Bu Bimo menutup wawancara.
Semangat untuk selalu menumbuhkembangkan jiwa pelayanan pada Tuhan, Gereja dan sesama sejak usia dini perlu terus dilakukan baik secara teoritis dalam pendalaman iman di sekolah minggu maupun secara praktek dengan melibatkan langsung anak-anak dalam pelayanan. Proficiat bagi wilayah Fransiskus Assisi yang berhasil menghidupkan semangat anak-anak dalam melakukan pelayanan melalui suara-suara indah mereka. Teruslah berjuang untuk mengasah generasi-generasi baru pelayan Tuhan, Gereja dan sesama. Tuhan Memberkati…
]]>