splash
SITUS RESMI DEWAN PASTORAL PAROKI SALIB SUCI
Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
 

Posts Tagged ‘Suci’

Semurni Perak

Posted By Komsos on February 2nd, 2013

Sembah Bakti bagi Ibu Gereja Salib Suci   (oleh :  A. J. Tjahjoanggoro)

Pernahkah kita membayangkan bagaimana proses pembuatan logam mulia perak? Setingkat lebih tinggi dari perunggu dan setingkat lebih rendah daripada emas. Semua logam yang mulia pasti melalui proses pemurnian. Logam tersebut terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran dan dipanggang di atas bara api yang merangah hingga jernih dan mengkilap bak cermin wajah. Seolah memang terkesan keji dan ganas pada awal mulanya namun demikianlah proses pemurnian alami untuk menjadi mulia.

Pada setiap perayaan hari ulang tahun kelahiran pada umumnya selalu didendangkan lagu ceria Panjang Umurnya dan diakhiri dengan untaian kata ‘serta mulia’ yang dinyanyikan berulangkali. Bukan tanpa maksud syair lagu tersebut digubah. Harapan umur panjang tidak hanya secara jasmaniah saja namun hingga kematangan batiniah dan rohaniah. Ujung-ujungnya bukan hanya duit semata namun teristimewa dan terutama keluhuran jiwa menuju keilahian abadi.

Hidup Berliturgi

Lalu, bagaimana dengan perkembangan paroki Salib Suci kita tercinta yang telah menapakkan ruang dan waktu di penghujung 25 tahun peziarahan segenap umat? Datang dan pergi, jatuh dan bangun, haru biru bercampuk aduk jadi satu, demikianlah dinamika perkembangan pastoral hidup menggereja umat. Kebetulan penulis mengikuti jejak sejarah ziarah umat meski tidak dari awal tahun 1988 paroki Salib Suci mulai berdiri tegak. Gerakah Roh Kudus memang sudah tampak membimbing sekaligus menempa mental dan iman umat hingga menjadi kuat seperti baja khususnya dalam hidup berliturgi.

Demikian kesan sepintas dari pandangan umat kita sendiri dan paroki lain. Paroki Salib Suci dikenal ketat dan khatam dalam berliturgi ekaristi. Semua tata perayaan ekaristi diatur sedemikian rupa mengikuti tradisi gereja katolik Roma, bahkan lama berselang sebelum TPE (Tata Perayaan Ekaristi) ditetapkan dan diberlakukan di seluruh gereja katolik di Indonesia sejak tahun 2005. Ini semua tentu tidak luput dari ketaatan dan kegigihan Pater Heribert Ballhorn SVD selaku Pastor Kepala Paroki Salib Suci dalam pastoral umat hingga menjelang akhir tahun 2011 (23 tahun) yang terutama mencintai liturgi ekaristi. Rentang waktu penggembalaan umat yang cukup panjang, tak kenal lelah dan bosan, tetap tekun dan setia. Banyak umat yang terkejut dan sakit hati hingga naik pitam dan mogok ke gereja namun pada akhirnya mengakui tempaan dan gemblengan dalam berliturgi menghasilkan buah iman yang makin mendalam dan matang.

(more…)

BIAK Elisabet

Posted By Komsos on August 7th, 2012

Tiap seminggu sekali di kediaman keluarga Aris Prabowo, anak-anak itu berkumpul, saling melepas rindu, berdoa bersama, mendengar sabda Tuhan bersama, menyanyi, menari, bahkan saling bertukar kemampuan. Canda, tawa, begitu riang…seneng rasanya selalu diberkati Tuhan.

“Lomba17an” Rekat Salib Suci

Posted By Komsos on August 6th, 2012

Lomba- loma menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 67, oleh REKAT Paroki Salib Suci, tanggal 5 Agustus 2012, menggalang sikap Nasionalisme sejak usia remaja.

Lingkaran Adven : Lambang dan Maknanya

Posted By on December 6th, 2011

Ada beberapa hal yang khas di dalam Masa Adven ini. Yang paling kelihatan adalah dengan adanya karangan Adven. Setiap bagian dari karangan Adven ini memiliki arti dan makna yang mendalam.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak memiliki akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun yang senantiasa hijau (evergreen), Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “evergreen” berarti senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu merupakan lambang tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mau mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin ini mau melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal.  Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya, lilin lain juga ikut mulai dinyalakan. Seiring bertambah terangnya Lingkaran Adven untuk setiap minggunya dengan bertambahnya jumlah lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala-nyala akan kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin berwarna ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa saat kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete“. Gaudete adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih,  artinya : sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (dilambangkan dengan warna ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih, yang berarti masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung Kristus, sang Penebus, di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada Hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat menyolok di Gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja.

Jadi jika anda melihat/memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan diriNya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama : “Bapa di Surga … tambahkanlah kerinduan kami kepada Krisyus,m Juruselamat kami, dab berilah kami kekuatan yntuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangNya membuat kami bersukacita atas kehadiranNya dan menyambut terang kebenaranNya.”

Sumber:

  • Buku “Berdoalah dan Berjaga-jagalah – Ibadat Adven Keluarga”, Keuskupan Surabaya, 2011