splash
SITUS RESMI DEWAN PASTORAL PAROKI SALIB SUCI
Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
 

Posts Tagged ‘Katolisitas’

DVD lengkap tentang Konsili Vatikan II

Posted By Komsos on August 6th, 2012

Penggunaan bahasa setempat dalam liturgi Gereja Katolik Roma diawali dengan terbitnya dokumen Gereja Dekrit Sacrosanctum Concilium.
Tahukah anda bagaimana perdebatan di dalamnya sehingga akhirnya kita sekarang ini bisa merayakan Ekaristi dalam bahasa kita sendiri? Seorang uskup NTT kelahiran Belanda, Mgr Van Bekum dalam pengantarnya di depan para Bapa Konsili mengusulkan agar perayaan-perayaan li

tugi Katolik bisa dihayati dalam konteks bahasa setempat….. usulan ini menuai pro dan kontra, bahkan antara lain ketua kongregasi ajaran iman waktu itu, Mgr Octaviani menentang dengan keras………. namun dukungan diperoleh juga dari Paus Yohanes XXIII yang sebelum wafatnya mengatakan bahwa perayaan-perayaan dan perwartaan iman Katolik hendaknya diberikan dalam bahasa-bahasa vulgare….. rakyat jelata…..
Saksikan kisah-kisah menarik serta pemahaman mengenai Konsili Vatikan II dalam DVD Seminar Konsili Vatikan II. Saat ini tersedia dua seri seminar : 1. Konsili Vatikan II (Panorama Sejarah, latar belakang historis, kultural, teologis dan Pokok-pokok pembaharuannya) oleh Rm. Prof DR. Armada Riyanto CM dan Rm. Prof DR A. Eddy Kristiyanto OFM. 2. Konsili Vatikan II (Kitab Suci dan Wahyu) oleh Rm Prof DR H. Pidyarto O Carm).
Masing-masing sesi terdiri dari dua keping DVD, anda bisa mendapatkannya dengan mengganti biaya rekam dan cetak sebesar Rp. 30.000 / sesi. Hub. saya via SMS (FX. Sutjiharto – 08123241600).
Posted in Umum

SERAMBI SALOMO

Posted By Komsos on May 4th, 2012

Serambi bukanlah bangunan utama. Serambi hanyalah sekedar bangunan depan rumah yang bersambung dengan induk rumah. Serambi bukan bangunan utama, namun serambi mengantar seseorang untuk masuk ke dalam rumah. Serambi bukan bangunan utama namun serambi memberikan kesan pertama kepada seseorang sebelum memasuki bangunan utama. Serambi bukan tempat yang terpenting namun kerap serambi menjadi tempat favorit untuk bercengkerama, tempat untuk berdiskusi, tempat untuk saling belajar, tempat saling bersekutu, bahkan tempat untuk beristirahat menghirup udara luar yang segar.
Dibandingkan dengan padanan kata serambi lainnya, yaitu beranda, teras, atrium bahkan emperan, kata serambi kerap dipakai dalam arti simbolik yang sangat terhormat sebagai bagian kecil namun sangat penting. Kita kenal dengan istilah Serambi Mekkah, Serambi Ilmu, Serambi Jantung, dan lain sebagainya. Semuanya menunjuk pada peran serambi sebagai yang bukan utama namun secara sederhana menjadi bagian integral dari bangunan induk.

Demikian pula halnya dengan Serambi Salomo.
Bait Allah di jaman Salomo dikenal juga sebagai “serambi keadilan” dimana Raja Salomo membangun sebuah bangunan besar dengan sebuah serambi yang sangat luas di depannya. Tempat ini merupakan aula keadilan dimana Raja Salomo melakukan pengadilan dan menegakkan kebenaran serta keadilan bagi rakyatnya.
Secara fisik, Serambi Salomo adalah suatu barisan tiang (kolonade), atau mungkin juga berbentuk bangunan terbuka (kloster), yang terdapat di sisi sebelah timur Bait Allah (yang dipugar Herodes) di Yerusalem. Sebelum memasuki Serambi Salomo terdapat suatu gerbang yang disebut Gerbang Indah. Gerbang ini adalah gerbang yang penuh dengan 162 tiang  ukiran dari perunggu sumbangan dari Nikator dari Alexandria (Mesir), penguasa era penjajahan Yunani.  Gerbang ini begitu indah sehingga disebut sebagai gerbang indah. Fungsi dari gerbang ini sebenarnya adalah untuk memisahkan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi dan para perempuan yang dilarang masuk ke Bait Allah. Biasanya di pintu Gerbang Indah ini banyak orang yang duduk untuk mengemis ataupun melepaskan lelah dan ngobrol sekalipun waktu sembahyang telah tiba.

Di masa  Perjanjian Baru, terdapat  banyak catatan penting mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di Serambi Salomo ini. Diperkirakan bahwa serambi yang luas ini menjadi tempat favorit para tua-tua Yahudi, ahli-ahli Taurat untuk berdiskusi dan bertanya jawab tentang Kitab Taurat dan hukum-hukum Tuhan (Lihat Kisah Yesus di Bait Allah di usiaNya yang ke-12 tahun – Luk 2:41-52)
Tak perlu diragukan lagi bahwa Serambi Salomo ini adalah tempat favorit bagi Yesus. Beberapa kali dikisahkan bahwa Yesus berada di sana untuk berbicara dan mengajar, bahkan pula sekedar untuk berjalan-jalan saat pesta cahaya atau Hanukkah, suatu perayaan yang didedikasikan untuk mengenang pentahbisan Bait Allah di Yerusalem. Di sana dan saat itu, orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus, mendesak Dia dan memohon kepastian akan “ke-mesias-an-Nya”. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami”. Dan jawaban Yesus sangat jelas yaitu bahwa kita mesti percaya kepadaNya. Dan untuk sampai kepada iman itu kita mesti mengenal Dia, seperti domba yang mendengar suara   gembalanya dan sang pengembala mengenal domba-dombanya. Dan karena iman dan pengenalan itu, manusia akan memperoleh hidup yang kekal. Dan sayangnya, para Yahudi itu justru bersiap melempari Yesus dengan batu ketika dikatakan demikian.   (Lihat kisah ini di Yohanes 10:22 – dst).
Hal menarik lain yang perlu kita refleksikan secara lebih dalam adalah bahwa di serambi inilah Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. Petrus yang dengan sangat jelas “tertangkap basah” oleh hamba perempuan imam besar bahwa ia adalah murid Yesus – bahkan berani bersumpah bahwa ia tidak mengenal Dia. Dan Petrus pun menangis tersedu-sedu karena penyangkalannya itu. Kisah yang sangat mencerminkan diri kita ini tertuang dalam Markus 14:66-72

Dan setelah peristiwa Kebangkitan Yesus dan Pentakosta, kita lihat bahwa Serambi Salomo juga menjadi tempat favorit para murid untuk berkumpul.
Kisah tentang Petrus dan Yohanes yang menyembuhkan orang lumpuh di Gerbang Indah, rupanya menimbulkan penasaran serta keheranan para pengunjung Bait Allah dan hingga terus mengikuti mereka hingga ke Serambi Salomo. Dan di serambi ini Petrus dengan rendah hati mengingatkan bahwa mereka disembuhkan bukan karena kuasa para murid itu sendiri, melainkan karena kuasa Yesus. Tuhan dan manusia yang telah telah mereka tolak dan mereka salibkan. Dan konsekuensi dari kesaksian itu, Petrus dan Yohanes harus dibawa ke Mahkamah Agama. (Kisah Para Rasul 3 – 4)
Kisah tentang Serambi Salomo belum selesai, bahkan memuncak pada Kisah Para Rasul 5 dimana diserambi itu Para Rasul mengadakan banyak tanda dan mukjijat. Bukan tanda dan mukjijat sebenarnya yang membuat Serambi Salomo menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang percaya, melainkan karena di sana mereka bisa berkumpul dalam persekutuan yang erat. Di Serambi Salomo inilah Gereja Perdana yang ideal membentuk diri hingga di tahun 70 Masehi, Bait Allah beserta serambinya yang indah itu rata dengan tanah oleh tentara Roma………

Bagaimana dengan Kelompok Studi Serambi Salomo?
Kelompok Studi Serambi Salomo terbentuk atas dasar keprihatinan akan kritisnya katekese umat Katolik saat ini. Mungkin memang berlebihan jika dikatakan hampir di semua lini terjadi problema ketidakpahaman umat, awam, bahkan sebagian pewarta akan ajaran Gereja Katolik yang semestinya. Namun kita tidak bisa menutup mata akan hal ini. Dan hal itu pulalah yang membuat kami tergerak untuk berbuat sesuatu. Kami, saya (FX. Sutjiharto) dan Setiawan Sandy, merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Bukan pertama-tama karena kami merasa mampu, atau merasa paling suci, paling beriman, atau pun paling mengerti akan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Sama sekali bukan. Justru karena kami merasa bahwa kami berada sebagai bagian dari mereka yang mengalami krisis tersebut, maka kami bertekad mendirikan suatu kelompok studi ini.

Apa kegiatan yang akan dilakukan? Belajar. Serambi Salomo Bait Allah menjadi tempat untuk saling belajar. Kelompok Studi Serambi Salomo juga menjadi ajang untuk saling belajar. Mengapa perlu belajar? Kami merasa perlu terus belajar agar semakin mengenal Dia. Kami perlu belajar agar tidak tersesat. Agar kami justru tidak seperti orang-orang Yahudi yang hendak melempari Yesus dengan batu di Serambi Salomo.
Kami ingin terus belajar agar semakin menyerupai Dia. Di Kelompok Studi Serambi Salomo kami ingin belajar dari pengalaman Petrus pemimpin kami yang pertama, saat dia menyangkal Tuhan di Serambi Salomo.
Dan akhirnya di Kelompok Studi Serambi Salomo ini  kami mencoba untuk saling bersekutu dengan sesama anggota tubuh Kristus yang lain agar berani mempertahankan iman – bahkan mewartakan iman akan Dia yang telah menjadi manusia, menderita sengsara, wafat disalib dan akhirnya bangkit kembali dengan mulia.

Sudahkah itu terjadi? Sangat belum. Masih jauh panggang dari api. Ada banyak hal yang masih ingin dikerjakan. Bulan April 2012 ini selesai sudah materi yang disajikan untuk para peserta dari Paroki Salib Suci Tropodo, satu tahun setengah kurang lebihnya. Ada rencana untuk melakukan hal yang sama di tempat lain, namun kami berniat untuk retret sejenak, men-charge baterai agar kembali segar. Sementara itu, Kelompok Studi Serambi Salomo akan mencoba media baru, yaitu media Facebook Serambi Salomo. Dan bersinergi dengan media tersebut kami berniat mendirikan satu kelompok pembaca Kitab Suci secara tuntas. Kami namakan KPKP (Kelompok Pembaca Kitab Suci Paripurna). Suatu kelompok pembaca Kitab Suci yang pernah dirintis oleh alm Rm. Anton de Britto CM. Bagaimana teknis pelaksanaannya? Sedang digodok oleh beberapa teman, yang jelas pelaksanaannya memadupadankan pertemuan di dunia maya (facebook) dan temu darat.
Kami akan terus belajar, terus loading hingga akhir sambungan nirkabel nyawa ini kembali pulang ke Rumah Bapa…….. loading complete. Saat itulah kita bertemu di Serambi Salomo Abadi di Yerusalem Surgawi. Amin

Serambi Salomo, Selasa, 10 April 2012 – hari Selasa dalam oktaf Paska
Hari ini Kelompok Studi Serambi salomo Salib Suci Tropodo menyelesaikan materinya.

FX. Sutjiharto
serambisalomo@ymail.com
FB : Serambi Salomo

Telah terbit MAWASS Edisi 11

Posted By Komsos on January 21st, 2012

Berawal dari segala keterbatasan, kami selaku Tim Redaksi sekali lagi mohon maaf atas segala keterlambatan terbit pada dua Edisi terakhir kali ini. Adanya pergeseran sistem & konsep untuk penyajiannya mengharuskan Tim Redaksi memperbaharui bentuk maupun isi majalah tercinta kita ini, sebagai wujud dari sebagian tuntutan kreativitas dan aktualitas.

Dimulai dari Edisi 11 ini kami mencoba menampilkan materi tayangan maupun isi yang cenderung lebih banyak memiliki sentuhan sosial, tanpa meninggalkan bobot alkitabiah.

Dan pada Edisi ini pula kita sekaligus mencoba menggali makna mengenai “Keselamatan” yang seharusnya menjadi hak setiap manusia untuk dimiliki dan dirasakan, namun hal tersebut masih berpihak kepada sebagian orang, termasuk kita. Masih banyak sesama kita yang diliputi kedukaan, namun…… Simak selengkapnya pada “Rubrik Mawas Utama”.

Artikel lain masih membahas seputar kegiatan Paroki Salib Suci,
yaitu tentang Pergantian dan Susunan Pengurus DPP & BGKP periode 2011-2014 yang baru dilantik, Kegiatan Wilayah, Kegiatan BIAK Paroki serta Kreativitas OMK dalam menggali potensi serta mewujudkannya dalam bentuk beberapa kegiatan seperti Festival Paduan Suara & pendakian gunung.
Juga yang tak kalah menariknya di edisi ini yaitu, mengenai keberadaan Malaikat Tuhan pada Rubrik Katekese / Pojok Kitab Suci.

Akhir kata sekali lagi kami berharap agar pembaca dan pemasang iklan maklum atas keadaan ini, dan selanjutnya kami sampaikan terima kasih yang se besar-besarnya. Segenap Tim Redaksi dan Sie Komsos Paroki Salib Suci mengucapkan

SELAMAT NATAL 2011 & TAHUN BARU 2012

Posted in Umum

Renungan 10 Januari 2012

Posted By Komsos on January 10th, 2012

Bacaan:
• 1 Samuel 1:9-20;
• MT 1 Samuel 2:1,4-5,6-7,8abcd
• Markus 1:21b-28.

Hana, isteri Elkana, sedih luar

Banyak perempuan pada masa sekar

Meneladan Hana, kiranya para pe

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama)rempuan bisa membawa pengalaman itu ke hadapan Allah dan menyerahkan secara mendalam pada Allah. Meneladan Elly menjadi pribadi yang penuh empati dan mampu menenangkan hati Hana dan menunjukkan jalan yang tepat. Dan meneladan Yesus mengusir hal-hal jahat dalam hidup kita dan memberikan kesembuhan pada yang sedang terluka dan sakit.ang ini pun mengalami kepedihan seperti yang dialami oleh Hana. Mereka sudah menikah namun tidak segera mendapatkan keturunan. Tidak jarang pertanyaan basa-basi seperti, “Sudah dapat momongan (keturunan) belum?” atau pernyataan akrab, “Ayo dikebut dong biar segera dapat anak!”, menambah kepedihan hatinya. Memang ada banyak yang mampu mengatasi situasi itu karena yang utama adalah persatuan cintanya dengan sang suami atau karena mendapatkan anak dengan cara adopsi. Namun tidak jarang situasi tidak segera mendapatkan keturunan selalu menggores hati perempuan yang menikah.biasa karena perkawinannya belum menghadirkan buah hati. Dalam kepedihannya Hana datang kepada Tuhan dan berdoa agar Tuhan mengingat dan tidak melupakannya namun memberikan kepadanya seorang anak laki-laki. Dia pun berjanji akan memberikan anak itu kepada Tuhan seumur hidupnya. Doa itu dilambungkan dengan begitu khusyuk. Dan Tuhan pun mendengarkan doa Hana sehingga dia dianugerahi anak laki-laki yang diberi nama Samuel sebab menurut Hana, “Aku telah memintanya dari pada TUHAN”.;Renungan Harian 10 Januari 2012.

Pengurus DEWAN PASTORAL PAROKI Periode 2011~2014

Posted By Komsos on January 10th, 2012

Lingkaran Adven : Lambang dan Maknanya

Posted By on December 6th, 2011

Ada beberapa hal yang khas di dalam Masa Adven ini. Yang paling kelihatan adalah dengan adanya karangan Adven. Setiap bagian dari karangan Adven ini memiliki arti dan makna yang mendalam.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak memiliki akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun yang senantiasa hijau (evergreen), Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “evergreen” berarti senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu merupakan lambang tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mau mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin ini mau melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal.  Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya, lilin lain juga ikut mulai dinyalakan. Seiring bertambah terangnya Lingkaran Adven untuk setiap minggunya dengan bertambahnya jumlah lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala-nyala akan kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin berwarna ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa saat kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete“. Gaudete adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih,  artinya : sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (dilambangkan dengan warna ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih, yang berarti masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung Kristus, sang Penebus, di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada Hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat menyolok di Gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja.

Jadi jika anda melihat/memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan diriNya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama : “Bapa di Surga … tambahkanlah kerinduan kami kepada Krisyus,m Juruselamat kami, dab berilah kami kekuatan yntuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangNya membuat kami bersukacita atas kehadiranNya dan menyambut terang kebenaranNya.”

Sumber:

  • Buku “Berdoalah dan Berjaga-jagalah – Ibadat Adven Keluarga”, Keuskupan Surabaya, 2011

Tipologi Maria

Posted By Komsos on October 22nd, 2011

I. PENGANTAR

Bagaimana Tradisi Katolik bisa berbicara begitu banyak tentang Maria? PERJANJIAN BARU begitu sedikit berbicara tentang dia? Dari segi jumlah, cerita Alkitab (Perjanjian Baru) secara khusus berkisah tentang Maria memang sangat sedikit. (152 ayat : Paulus 1 ayat, Lukas 89 ayat, Kis 1 ayat dan sisanya Matius, Markus, Yohanes). Dari segi mutu ibarat permata. Kecil  tetapi luar biasa indahnya.

–     Luk 1:26-38 : Maria diberi kabar oleh Malaikat Gabriel

–     Luk 1:39-45 : Maria mengunjungi Elisabeth

–     Luk 1:46-55 : Magnificat Maria

–     Luk 2:1-5 : Maria dan Yoseph ke Bethlehem

–     Luk 2 :6-20 ; Mat 1:18-25 : Kelahiran Yesus

–     Luk 2:21-40 : Yesus dipersembahkan ke Bait Allah

–     Yoh 2:1-11 : Perkawinan di Kana

–     Yoh 19:25-27 (bdk. Mat 27:55-56; mrk 15:40-41) : Maria berdiri di kaki salib

–     Kis 1:14 : Maria di tengah para murid (bdk Kis 2 : Pentakosta)

Perlu disadari bahwa peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru. Ia hadir dalam janji Allah terhadap hawa, ibu dari semua yang hidup dan dengan “fiat”nya ia dilukiskan dalam kitab Wahyu sebagai tabut perjanjian, bejana pilihan yang mengandung Allah sendiri. Maria menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9) untuk menebus anak-anak hawa, dengan membalikkan dosa hawa. Peran Maria : Terbentang sepanjang sejarah keselamatan. Maria merupakan bagian integral dari Wahyu Ilahi dan Maria terkait erat dengan Yesus dalam rencana ilahi, yaitu sebagai Bunda Allah Penyelamat. Dengan demikian : Misteri dan Karya Kristus tidak dapat dimengerti tanpa Maria karena inkarnasi Sabda terjadi melalui Maria !

Meski demikian : harus selalu diingat bahwa pada tempat pertama, gagasan-gagasan PERJANJIAN LAMA maupun PERJANJIAN BARU adalah hendak menjelaskan Yesus sebagai penyelamat, bukan Maria. Karena itu Mariologis harus ditafsirkan dalam konteks Kristologis dan Soteriologis! Ajaran tentang Maria tidak merampas kemuliaanNya melainkan memantulkannya (Maria cermin kekudusan). Sebagaimana Maria telah memberikan darah dan daging kepada Allah Putera, demikian ia memberikan darah dan daging kepada Gereja sepanjang segala masa.

 

II. TENTANG TIPOLOGI

Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa peran Maria telah dinubuatkan (dan dijejakkan) sejak lembar-lembar pertama Perjanjian Lama – hingga – lembar-lembar terakhir Perjanjian Baru? Ada anggapan bahwa karena Maria tidak banyak dikisahkan dalam PERJANJIAN BARU maka tidak banyak pula yang bisa dikatakan tentang Maria. Tetapi jika kita membaca KS sebagaimana jemaat perdana membacanya, maka kita akan terkesima bahwa gambaran (typos) tentang Maria begitu kaya – bahkan sejak dalam PERJANJIAN LAMA. Bahkan dikatakan hampir selalu dimana Yesus dinubuatkan di situ gambaran Maria juga disampaikan (Pius X).

 

A. APA ITU TIPOLOGI ?

Tipologi adalah suatu cara / metode membaca Kitab Suci secara menyeluruh, bukan sepenggal-sepenggal. Melihat keseluruhan Alkitab dalam satu kesatuan rencana Keselamatan Allah. Secara harafiah Tipologi dari kata typify (tipe) = menggambarkan. Tipologi = gambaran orang, tempat, benda, atau kejadian dalam Perjanjian Lama yang pada masa silam telah melukiskan sesuatu yang lebih besar dalam Perjanjian Baru. (bdk KGK 128-130)

Gambaran itu sendiri bukanlah simbol fiktif melainkan sungguh terjadi (historis). Dan bisa berupa benda, meski impersonal, yang menonjol dalam PERJANJIAN LAMA karena memiliki peran sentral dan tak terlupakan dalam sejarah Israel.

Ada Tipologi  ekplisit dan tipologi implisit : Contoh :

–     Peran St. Yosef  dalam hidup duniawi Yesus secara jelas mengikuti peran Bapa Yusuf dalam hidup bangsa Israel Nama sama, Keduanya dilukiskan sebagai orang benar & tulus, Keduanya menerima pewahyuan lewat mimpi, Keduanya “dibuang” ke Mesir, Keduanya tampil ke panggung sejarah untuk menyiapkan jalan bagi peristiwa yang lebih besar : Yusuf = keluaran yang dipimpin Musa sang pembebas (Paska PERJANJIAN LAMA) ; Yosef : penebusan oleh Yesus, Sang Penebus.

–     Yesus dalam PERJANJIAN LAMA digambarkan dalam sejumlah kejadian : Ishak yang diikat Abraham, ayahnya, di gunung Moria (di tempat ini sekarang ada kenisah Yahudi, dan masih di deretan gunung yang sama Yesus disalibkan), Salomo, putera raja Daud (har. Syalom = damai). Ia adalah pembangun Bait Allah, Yesus menggambarkan putera Daud yang sejati, raja israel sejati, pembawa damai sejati dan pembangun bait Allah yang baru dan abadi.

Tipologi tidak hanya terkait dengan Yesus, melainkan banyak hal : surga (Kenisah Yerusalem), Gereja (Israel baru), para Rasul (12 suku Israel), Ekaristi (Roti Manna), Maria, dll

Yesus juga membaca KS secara Tipologis. Misal, dalam Matius 12 Yesus membandingkan diriNya (Lebih besar) dengan Kenisah (ay 6), Yunus (ay 41), Salomo (ay 42). Yoh 6:31-35 Yesus membandingkan diriNya (lebih besar : roti hidup) dengan Manna; Yoh 3:14 ular tembaga tanda yang menggambarkan diriNya; Luk 24:27 : “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”

Jemaat perdana meneladan cara Yesus membaca KS. 

–     Paulus : Yesus Adam Baru (Rm 5:14 ) terkenal sebagai nubuat figuratif / profetis. 1 Kor 10 kejadian-kejadian disekitar laut merah dan pemberian manna serta air dari wadas (keluaran) sebagai gambaran tanggungjawab orang Kristen setelah pembabtisan dan Ekaristi.

–     Petrus : air bah Nuh – pembabtisan Kristiani (1Ptr 3:20-22)

–     Filipus & Sida-sida : Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya (Kis 8:35)

Dengan cara ini Yesus menyingkap makna baru dalam Perjanjian Lama dan dengan cara yang sama Gereja meneladan Yesus untuk membaca realita imannya

Mengapa Perjanjian Lama bisa dibaca secara tipologi? Karena seluruh sejarah adalah persiapan dunia menyambut kehadiran Sang Sabda dalam dunia. Membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. St. Agustinus : Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama terungkap dalam Perjanjian Baru

Pemahaman iman seperti itu – bahwa rencana keselamatan Allah memiliki kesatuan yang membuat kita mampu melihat nubuat-nubuat profetis tentang realitas iman kristiani masa sekarang dalam tokoh dan atau kejadian PERJANJIAN LAMA – telah membuat Gereja mampu melihat Maria dalam gambaran atau sosok yang ditampilkan dalam PERJANJIAN LAMA (KGK 128-129)

Ratzinger : dogma-dogma Maria yang semula tampaknya tidak termuat dalam ayat-ayat PERJANJIAN BARU menjadi tampak jelas dengan cara pemahaman yang menerima kesatuan (PERJANJIAN LAMA-PERJANJIAN BARU) yaitu dengan cara tipologis. Kalau kesatuan ini diabaikan maka Mariologi juga lenyap.

Maria digambarkan dalam tokoh-tokoh wanita PERJANJIAN LAMA yang menampilkan kemiripan nyata namun terbatas dengan Bunda Mesias yang akan datang. Gambaran atau simbol-simbol yang ada yang digunakan untuk mengungkap misteri ilahi, mengantar kita ke pemahaman yang tepat, tetapi  selalu kurang memadai karena misteri-misteri itu sendiri selalu lebih dari yang bisa diungkapkan.

 

B. TIPOLOGI MARIA

Paus Pius IX dalam Ineffabilis Deus (dogma Maria Dikandung tanpa Noda th 1854) menetapkan pula index singkat gambaran-gambaran tentang Maria dari Perjanjian Lama yang terlukis secara gamblang dalam tulisan para Bapa Gereja dan khasanah purba doa-doa liturgis Gereja. Dalam uraian berikut kami akan memberikan gambaran-gambaran Perjanjian lama yang mengacu kepada Maria. Beberapa kami sebutkan secara singkat – meski menarik untuk didalami secara mendalam. Beberapa gambaran penting kami sajikan cukup mendalam dalam kaitannya dengan Perjanjian Baru maupun ajaran para Bapa Gereja.

 

1. Bahtera Nuh (Kej 7:7) – baca : Bahtera Nuh sebagai gambaran (tipologi) Maria yang menggambarkan kemurnian dan kekebalan Maria terhadap dosa.

2. Tangga Yakub (Kej 28) : menjadi gambaran Maria sebagai pengantara surgawi, yang merentang dari bumi sampai ke hadapan Tuhan, dan berfungsi sebagai jalan di mana para malaikat dan berkat turun dari surga ke bumi.

3. Semak Menyala (Kel 3:2) : Gambaran Maria sebagai ibu yang dibakar cinta ilahi sebagaimana semak yang bernyala namun tidak terbakar api. Demikian Sang Perawan tidak hangus oleh nyala berkobar karena kehadiran Allah dalam rahimnya.

 4. Kanisah Salomo (1Raj 8:10-13) : Menggambarkan misteri kebundaan ilahi Maria: sebagaimana kemuliaan Allah memenuhi bangunan kudus itu – demikian pula Maria menjadi Bait Kudus yang dipenuhi kemuliaan Putera Allah.

 

5. Tabut Perjanjian

TABUT PERJANJIAN diselubungi oleh awan kemuliaan (shekinah), berlapis emas dan berisi tiga barang : 1. Loh batu dimana jari Allah mengguratkan Sepuluh PerintahNya di Gunung Sinai, 2. Satu Bejana berisi Manna yang menjadi makanan bagi bangsa Israel selama 40 th di padang gurun, 3. Tongkat Harun, imam agung pertama. Dalam Bait Suci Salomo TABUT PERJANJIAN disimpan dalam tempat mahakudus. Dan sebenarnya TABUT PERJANJIAN lah yang menguduskan bagian dalam Bait Suci itu.

TABUT PERJANJIAN = kudus karena isi didalamnya sinonim kehadiran Allah di tengah Israel. Di mana TABUT PERJANJIAN berada – di situ YHWH hadir. Diperlakukan sangat hormat.

Gambaran Maria sebagai Tabut Perjanjian sangatlah penting. Dan kita bisa melihatnya dalam beberapa argumen Biblis tentang hal itu :

  1. Yohanes : Kitab Wahyu

Dalam 2 Makabe dikisahkan bahwa Yeremia (587 SM) menyembunyikan Tabut perjanjian untuk melindunginya dari pencemaran saat pasukan Babel menyerbu dan menghancurkan Bait Allah. Dikatakan bahwa:”tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi. Kelak semuanya itu akan ditunjukkan dan kemuliaan Tuhan serta awan akan tampak lagi” (2Mak 2:5-8)

Dan sangat mengejutkan bahwa  di Why 11 dikisahkan bahwa Yohanes melihat Bait Suci yang di surga terbuka dan di dalamnya tampak TABUT PERJANJIAN ; seolah Yohanes ingin menyambung kisah 2 Makabe tersebut. Setelah dinyatakan hilang, Bait Suci yang dibangun kembali tidak ada shekinah, tidak ada TABUT PERJANJIAN dan tahta kerahiman. Dan akhirnya Yohanes yang mengklaim telah melihatnya!

Yohanes sendiri sebelum masuk ke inti misteri Tabut Perjanjian di Why 12 – menyiapkan pembacanya dengan beberapa persiapan. Antara lain dalam Why 11:15 bahwa tabut itu muncul setelah bunyi sangkakala dari malaikat ketujuh yang harus melakukan pembalasan. Hal ini jelas menggemakan Yosua 6:13 yaitu kisah penaklukkan kota Yerikho untuk memasuki tanah terjanji, yang didahului dengan tujuh imam selama enam hari bergantian mengelilingi tembok kota dengan diam sambil membawa TABUT PERJANJIAN dan pada hari ketujuh terompet ditiup maka robohlah tembok kota. Peran TABUT PERJANJIAN selain kehadiran YHWH – juga sebagai senjata ampuh dalam peperangan. “Kapan saja tabut itu berangkat, berkatalah Musa, ‘Bangkitlah, Tuhan, supaya musuh-Mu tercerai-berai dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu” (Bil 10:35). Dan Yerikho (pintu masuk ke tanah terjanji) jatuh ke tangan Israel tanpa perlawanan sedikit pun bukan dengan fisik melainkan secara liturgis dan rohani. (Peran yang sama diemban Maria dalam pertempuran rohani Gereja. Tanah terjanji adalah gambaran surga sebagai mana dilukiskan Yohanes dalam Why 12. Dan tepat di bab 11 diperlihatkan bahwa TABUT PERJANJIAN yang hilang itu ada di Bait Allah surgawi. Perempuan dan TABUT PERJANJIAN itu diungkap sebagai satu dan sama)

Kisah tentang Tabut Perjanjian yang dilihat Yohanes dalam Wahyu 11 (yang dihantar dengan pararelisme Yosua 6:13 – dan dihantar dengan gempa, kilat, guruh dan hujan es seolah  TABUT PERJANJIAN akan disingkapkan) – seolah mencapai anti klimaks tentang apa Tabut Perjanjian itu dan tidak bersambung dengan Wahyu 12 yang berbicara tentang hal lain : perempuan berselubung matahari! Mengapa demikian ? mengapa terpotong? Sesungguhnya Yohanes justru ingin mengungkapkan bahwa TABUT PERJANJIAN itu adalah seorang perempuan. Siapakah perempuan itu??? Mengenai siapa dia silakan lihat dalam uraian Hawa Baru.

Singkat kata Yohanes menunjuk bahwa Maria sebagai Tabut Perjanjian Allah karena dalam dirinya Maria mengandung Yesus Sang Juru Selamat. DIA-lah hukum baru yang tidak hanya ditulis dengan jari allah melainkan lahir dari Bapa (bdk Loh batu yang hanya ditulis dengan jari Allah). IA adalah Roti Surgawi yang menjadi bekal untuk hidup kekal (bdk Yoh 6:27-35; 48-59) dan IA adalah Imam Agung sejati yang mempersembahkan diriNya bagi kita.

Awan kemuliaan (Shekinah) menaungi TABUT PERJANJIAN dan bersemayam di dalamnya (Kel 40:34 dst). Dengan demikian TABUT PERJANJIAN berperan membawa kehadiran Allah hadir di tengah UmatNya ; demikian juga Maria, Roh Kudus yang menaungi dia (Luk 1:35) membuat Maria berperan membawa Kristus kepada dunia.

Dan peran yang sama diberikan kepada kita, saat kita menerima tubuh Kristus. Hendaknya kita dipenuhi dengan sukacita seperti daud  dan Maria :”Jiwaku muliakan Tuhan – hatiku bergembira karena Allah Penyelamatku..” (Luk1:46-48)

Dilukiskan bahwa TABUT PERJANJIAN adalah Tahta Allah, diusung oleh para Lewi. YHWH adalah raja Israel dan TABUT PERJANJIAN adalah tahtaNya (bdk Mzm 68:25). Di atas TABUT PERJANJIAN dibuat “Tahta Kerahiman” (Kel 24:17 dst). Orang israel harus memohon kerahiman Allah yang bertahta di atas TABUT PERJANJIAN ( bdk 1Raj 8:21-53; Kel 25:22)

SebagaimanaTABUT PERJANJIAN berfungsi sebagai tahta kehadiran Allah, demikian juga Maria berfungsi sebagai Tahta Allah karena menatang bayi Yesus. Bagi Israel baru, Maria sebagai TABUT PERJANJIAN baru adalah Bunda Kerahiman dan Tahta Kebijaksanaan.

 

ii. Lukas : Maria mengunjungi Elisabeth (Luk 1:39-45)

Gagasan mengenai Maria sebagai Tabut Perjanjian, juga kita dapatkan dalam Injil Lukas. Lukas adalah sastrawan yang sangat cermat. Para ahli kagum akan keahliannya menyandingkan teks-teks kunci PERJANJIAN LAMA dan PERJANJIAN BARU. Salah satunya adalah Kisah Kunjungan maria kepada Elisabeth (Luk 1:39-45) yang menggemakan kisah pemindahan Tabut Perjanjian ke Jerusalem dalam 2 sam 6 : 1-19

  2 Sam 6 : 1-19     Lukas 1 : 39 – 45
                 
Bersiaplah Daud dan pergi ke Yehuda (ay 2)   Berangkatlah Maria dan bergegas menuju
      sebuah kota di pegunungan Yehuda (ay 39)
                 
Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai   Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang
kepadaku? (ay 9)     mengunjungi aku? (ay 43)  
                 
Rumah Obed-Edom (ay 10)     Rumah Zakaria (ay 40)  
                 
Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal   kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal
di rumah Obed-Edom (ay 11)     bersama dengan Elisabeth (ay 56)
                 
Daud bersukacita (ay 12)     Hati Maria bergembira (ay 47)  
                 
diiringi sorak-sorai (ay 15)     dengan suara nyaring (ay 42)  
                 
meloncat-loncat serta menari-nari (ay 16)   melonjaklah anak yang di dalam rahim
          Elisabeth (ay 41)    

 

Mengapa Lukas menggunakan samaran ini? Mengapa tidak langsung saja mengatakan bahwa Maria adalah penggenapan TABUT PERJANJIAN?

Menurut Kardinal Newman : Kadang orang bertanya mengapa penulis suci tidak membeberkan kebesaran Bunda kita? Menurutku karena , barangkali, Maria masih hidup, saat para rasul dan penginjil menulis. Hanya satu buku Alkitab yang jelas ditulis sesudah Maria wafat, yakni kitab Wahyu, dan buku itu secara jelas mengkanonisasi dan memahkotai Maria.

Alkitab bukanlah sandi untuk dipecahkan, melainkan suatu misteri yang tak pernah tuntas dimengerti sampai akhir hayat manusia. Jadi Yohanes, sebagaimana Lukas, mempunyai pandangan yang sama bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Gereja adalah Israel baru!

Sebagai mana TABUT PERJANJIAN dihormati dalam liturgi Israel – demikian juga  Maria memiliki tempat terhormat dalam liturgi Gereja. Allah telah menempatkan Maria di tengah-tengah kenisah surgawiNya dan dimahkotai dengan dua belas bintang.

 

 

 

 

6. HAWA BARU

i. Maria = Hawa Baru?

Mengikuti metode Paulus yang menjelaskan Yesus sebagai Adam Baru (Rm 5:14; 1Kor 15:22) para Bapa Gereja melihat hubungan antitesis antara Maria – Hawa (Typologi).

Awal cerita : Hawa (ibu semua yang hidup) digoda oleh setan dalam bentuk ular untuk tidak taat dan tidak percaya kepada Allah serta dijanjikan bisa menjadi seperti Allah. Akhirnya Hawa jatuh dan membawa serta keluarga dan keturunannya dalam kubangan dosa. Diakhir kisah Tuhan sendiri yang memberikan janji nubuat pertama keselamatan (Injil Pertama) : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan (itu!), antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej 3:15)

Dalam kegenapan waktu (Gal 4:4), malaikat mendatangi seorang perawan bernama Maria dan menyampaikan kabar suka cita yang memusingkan kepalanya, namun dengan iman dan ketaatannya, ia mengucapkan fiatnya. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38)

Ada kontras yang mencolok antara kedua perempuan tersebut. Dalam diri Maria,  Allah sedang memecahkan masalah dosa yang masuk dalam dunia lewat Hawa. Dengan membandingkan Kej 3  – Why 12 : Maria berdiri sebagai padanan terberkati dari Hawa.

Dalam Wahyu 12 , Yohanes melihat “seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (ay. 1). Selanjutnya “seekor naga merah padam yang sangat besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”(ay 3). selanjutnya dilukiskan pertempuran antara perempuan dan naga itu, antara keturunan perempuan dan antek-antek naga. Apa arti pertempuran itu? Siapa perempuan dan naga itu?

Perempuan itu diketahui dari anak yang dilahirkannya. Seorang bayi laki-laki, yang “menggembalakan semua bangsa dengan gada besi”. (ay 5) Gada besi? Orang Yahudi sangat paham bahwa kata ini mengacu ke sosok yang digambarkan dalam Mzm 2:8-9 “maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu…. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi….”. Nubuat itu mengacu pada Mesias yang dijanjikan. Dan Yesus adalah Mesias – maka perempuan itu tak lain adalah Maria!

Bahasa simbolis profetis Yohanes yang sangat kaya: Tidak langsung menyebut Maria, tapi perempuan – seperti juga tidak langsung menyebut Yesus. Dengan menyebut Maria “perempuan”, Yohanes dengan tepat mengacu pada pemenuhan nubuat pertama (protoevangelium – Injil pertama – pemakluman perdana kabar baik).

Apakah Yoh sengaja membandingkan Kej 3 dan Wahyu 12? Ya! Hal ini makin jelas jika kita lihat kemiripan lainnya :

–     3 tokoh utama : Kej 3 (di luar Allah) : Hawa – Adam dan Ular ; Why 12 : Maria – Yesus (Adam Baru bdk Rm 5:14; 1Kor 15:45 – Ular tua (naga / setan)

–     Pertempuran : Kej 3 : perempuan (Hawa) dan ular ; Why 12 : Perempuan (Maria) dan Ular tua

–     Sakit bersalin yang dialami oleh kedua perempuan.

–     Padang gurun : Why 12:14 perempuan itu menyelamatkan diri di padang gurun ; Keluarga Kudus hijrah ke Mesir melalui padang gurun (Mat 2:13-21)

 

 

 

 

ii. Kesaksian Ajaran Para Bapa Gereja tentang Maria sebagai Hawa Baru

Kesaksian Maria sebagai Hawa baru  ada dalam Gereja sejak abad II.

–     St. Ireneus : ”belenggu ketidaktaatan Hawa diretas oleh ketaatan Maria; apa yang diikat hawa lewat ketidaktaatannya dilepaskan maria dengan  kepercayaannya”. (LG 56)

–     St. Hieronimus: “maut datang lewat Hawa; hidup diperoleh lewat Maria”. (LG 56)

–     Tertulianus : “kontras yang paling mencolok antara Maria dan hawa adalah dalam hal iman; sebagaimana hawa percaya kepada ular – demikian Maria percaya kepada Allah. Pelanggaran yang terjadi karena kepercayaan yang satu, dihapus oleh kepercayaan yang lain”.

–     St. Yustinus : Hawa dan Maria keduanya adalah perawan. Hawa mengandung kata-kata ular, sedangkan Maria mengandung Sabda Allah.

Hawa Muncul pada awal penciptaan dan kejatuhannya bersama Adam adalah jejak tragis PERJANJIAN LAMA; Maria muncul di ufuk era baru (Langit dan bumi Baru – Yes 65:17) dan ketaatannya bersama Adam Baru merupakan jejak kemenangan PERJANJIAN BARU. Hawa adalah ibu biologis kita ; Maria adalah Ibu Rohani kita yang kebundaannya jauh melampaui kebundaan fisik Hawa.

Ada yang mengatakan bahwa interpretasi Maria = Hawa Baru adalah rekayasa penafsiran modern. Dilain pihak kita sudah melihat bahwa ajaran ini telah ada sejak jemaat perdana. Tradisi Gereja mengatakan bahwa sejak diserahkan kepada Murid terkasih ini, Maria tinggal bersama Yohanes di Efesus. St. Ireneus adalah murid St. Polikarpus – yang adalah murid dari St. Yohanes. Jadi  ajaran Patristik ini berasal dari St. Yohanes sendiri yang diajarkan kepada murid-muridnya hingga ke ribuan tokoh lain dan sampai pada kita sekarang ini. Penyair di abad pertengahan dengan amat indah meringkas teologi ini dengan menampilkan salam Gabriel pada Maria : Ave (salam/kaire) sebagai kebalikan Eva (nama Hawa dalam bahasa Latin).

 

iii. Perempuan = Gereja ?

Kebanyakan teolog menafsirkan bahwa “perempuan” dalam Why 12 itu adalah personifikasi gereja – sebagaimana “mempelai” dalam Why 19. Gereja yang sedang berjuang untuk melahirkan anak Allah di sepanjang jaman.

Namun tidak mungkin perempuan itu hanya atau pertama-tama adalah Gereja. Metode personifikasi tampaknya tidak terlalu sesuai dengan gaya Yohanes. Di tempat lain ia menunjuk kepada pribadi-pribadi yang sungguh ada, bukan personifikasi. Misal tentang identitas bayi laki-laki yang jelas mengacu kepada Yesus : gada besi (Mzm 2:8-9) dan “dibawa kepada Allah dan tahtaNya”  mengacu pada kenaikan Yesus ke surga.

Apa yang cocok diterapkan pada bayi laki-laki juga sangat pas diterapkan pada musuhnya, yaitu “ular tua”, yang jelas dinyatakan Yohanes bukan kiasan namun pribadi tertentu :”Ular tua itu, yang disebut iblis atau setan, yang menyesatkan seluruh dunia” (Why 12:9). Kalimat ini sekaligus mengarahkan ingatan kita tentang kisah jatuhnya manusia dalam dosa yang telah lama (tua) sekali terjadi dan masih terus terjadi (Kej 3:13)

Juga sekutu ular adalah suatu pribadi (why 13:1 dst) : “binatang yang keluar dari laut, memiliki tujuh tanduk, tujuh kepala, yang terdapat sepuluh mahkota, dan pada kepala itu terdapat nama-nama hujat”. Tanduk = simbol kekuasaan = kerajaan = dinasti. Dinasti yang berkuasa dan kejam pada jaman Yesus adalah dinasti Herodes, kaum Herodian. Ia membunung istri, 3 anaknya, ibu mertua, ipar dan pamannya. Ia yang memerintahkan dibunuhnya semua bayi Bethlehem. Ia membasmi semua kaum Hasmonean yahudi dan membangun kembali bait Allah untuk menyatakan diri sebagai raja Yerusalem. Ia yang mengangkat imam-imam bait Allah dan memberi mereka kuasa dalam pemerintahan juga. Dinasti Herodes menjadi rekan iblis bagi pemulihan kerajaan Daud. Sejak Antipater, pendiri dinasti ini, ada tujuh raja  yang memerintah dan ada 10 kaisar di kerajaan Roma sejak Yulius – Vespasianus. Inilah pribadi nyata yang digambarkan dalam Wahyu 13.

Jadi jelas bahwa pertama siapa perempuan itu adalah seorang pribadi yaitu Maria, bukan personifikasi Gereja. Namun demikian kedua pendapat ini bisa “didamaikan” – sebagaimana kesaksian para Bapa Gereja.

-          Maria adalah bunda Gereja, karena ia melahirkan DIA yang adalah Kepala Gereja (St. Ambrosius),

-          “sekali lagi Perawan maria adalah gambaran Gereja… Marilah kita menyebut Gereja dengan nama Maria; karena ia pantas menyandang kedua nama itu” (St. Efraim)

-          Perempuan dalam kitab Wahyu itu adalah Maria karena ia tidak bernoda, melahirkan Kepala yang tak bernoda. Ia sendiri memperlihatkan dalam dirinya gambaran gereja yang kudus. Sebagaimana Maria melahirkan Putera dan tetap perawan, demikianlah Gereja secara terus menerus akan melahirkan anggota-anggotanya dan tidak pernah kehilangan keperawanannya (St. Agustinus)

Bayi laki-laki itu adalah Yang Kudus yang membuka rahim kudus untuk melahirkan manusia bagi Allah. Dan anak-anak yang lain dilahirkan dari rahim yang sama (adelphos). Dalam terang ini kita bisa memahami bahwa orang Kristen adalah saudara dari rahim yang sama, yaitu rahim Maria

 

iv. Perempuan VS  Ular

Kej 3:15 : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”

Jelas ular adalah setan sedangkan “keturunan wanita” yang meremukkan kepalanya adalah Mesias. Lalu perempuan yang harus bermusuhan dengan setan tentu bukan Hawa melainkan bunda Mesias. Yesus adalah Mesias dan Maria adalah bunda Yesus. Jadi terjemahan yang tepat Kej 3:15 bukan seperti LAI “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini” karena berkesan perempuan itu Hawa. Sesuai teks Ibraninya, terjemahan yang tepat : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ITU”

Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa sejak semula Allah telah merencanakan maria sebagai Hawa Baru. Sejak semula Allah telah menempatkan maria sebagai musuh setan, musuh dosa – dan ia bersatu erat dengan Puteranya untuk meremukkan kepala setan. Dan pemahaman ini pulaluh yang mendasari dogma Maria terbebas dari segala dosa.

 

7. Ribka (Kej 27) : Ribka menggambarkan Maria dalam kasih bundawinya untuk mengamankan berkat bagi Yakup anaknya dan melindungi dia dari kelicikan Esau (Kej 25-27). Seperti ibu ini, Maria melindungi anak-anaknya dari taktik musuh. Memberi nasehat yang bijaksana dan meminta Bapa memberkati mereka.

8. Ibu para Martir Makabe (2Mak7) : Adalah prototipe yang sangat mencolok untuk Maria dalam keprihatinan bundawinya. Ia membesarkan hati anak-anaknya untuk berserah penuh kepada Allah meski disiksa karena yakin Allah akan membebaskan dan membangkitkan mereka dari kematian.  Gema dari peristiwa ini dapat didengar ketika Maria berdiri di dekat salib, dan dengan pedih hati menyaksikan Putranya disiksa, tetapi penuh keyakinan akan janji ilahi tentang kebangkitan

9. Ratu Ester (Est 1-10) : Pahlawan ulung. Berkat kedudukannya yang tinggi di kerajaan Persia, ia mampu membatalkan pembunuhan besar-besaran yang direncanakan terhadap rekan sebangsanya dalam pembuangan. Dengan cara yang sama, Maria menggunakan wewenang surgawi dan campur tangannya sebagai ratu untuk melindungi umat Allah dari rancangan iblis yang mematikan.

10. Ratu Batsyeba (1Raj 2:13-25) : Batsyeba dikenal sebagai pengantara yang berpengaruh. Ia mengamalkan wibawanya sebagai bunda ratu atas putranya Salomo. Advokasinya sebagai ratu menggambarkan kepengantaraan Maria yang lebih agung dan lebih efektif di hadapan Kristus, pengganti dan putra Daud sejati yang bertahta di surga (bdk Mrk 16:19; Luk 1:32). Menarik untuk membandingkan kisah perjamuan di Kana (Yesus – Maria : Yoh 2:1-11) dengan situasi Batsyeba – Salomo (1 Raj 2:19-20).

11. Putri Sion (Yer 4:31; Mikh 4:10) :

  • Zion adalah bukit di Jerusalem tempat dibangun kenisah – dengan demikian melambangkan aspirasi religius umat Israel PERJANJIAN LAMA
  • Gelar Putri Sion dipakai sebagai personifikasi feminis untuk Israel (Yer 4:31; Mikh 4:10) yang digambarkan melahirkan seorang anak.
  • Sifat keperawanan Israel – Maria dan kedudukannya sebagai mempelai Allah merupakan kontras mencolok dengan adat pelacuran dalam budaya sekitar, yang membuat perkawinan justru menjadi ungkapan kesetiaan teologis. Dan sebaliknya, percabulan atau perzinahan menjadi ungkapan penyembahan berhala.
  • Maria adalah penggenapan Biblis dari banyak perempuan Israel. Putri Zion yang sempurna
  • Percakapan Maria-Gabriel (Luk 1:26-38) menggemakan pesan gembira yang dulu disampaikan kepada Putri Sion : “Salam – kaire – bergembiralah – yang dikaruniai – kekaritomene (ay 28) – jangan takut – me fobou (ay 30).. Engkau akan mengandung… (31-32).
  • Putri Sion menjadi tanda dan simbol universalitas keselamatan. Puncak dari Putri Sion adalah Maria.

FX. Sutjiharto

Dari Berbagai Sumber

Usulan Lagu Misa & Jadwal Organis Juni 2011

Posted By Komsos on May 26th, 2011

USULAN LAGU MISA – di Bulan Juni 2011

 

02 Juni 2011 : Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus
PS : 531, 825-962, 530, TPE : 54-5, PS : 404, 534, 434, 432, 532, 672

05 Juni 2011 : Hari Minggu Paskah VII
PS : 567, 840-960, 526, TPE : 55-6, PS : 405, 570, 576 (1-3), 617 (1-3), 528, 529

12 Juni 2011 : Hari Raya Pentakosta
PS : 565, 828-964, 572, TPE : 52-1b, PS : 402, 574, 571, 567, 577, 573

19 Juni 2011 : Hari Raya Tri Tunggal Mahakudus
PS : 580, 835-964, 581, TPE : 53-2, PS : 403, 579, 433, 430, 582, 578

26 Juni 2011 : Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
PS : 335, 863-957, 380, TPE : 53-3, PS : 404, 429, 555, 428, 427, 432

 

Jadwal Petugas Organis di Bulan Juni 2011

 

02 Juni 2011 : Yofita, Sisca+Cecil (F. Assisi), Anggel+Erika (Yosef)
05 Juni 2011 : Dinda, Jesslyn (Yohanes), Monica (Petrus)
12 Juni 2011 : Dono, Sisca (Regina Caeli), Jesica (WKRI)
19 Juni 2011 : Leo+Mayang, Lidya (Beata Teresa), Anggel (Arnoldus)
26 Juni 2011 : Cecil BL, Jesslyn (BIAK), Yofita (Elisabet)