Tag Archives: Katolisitas

“Obituary” Pater Gabriel Dasi SVD

RIP-Rm-Dasi

ROMO:

G   ema suara Romo yang lantang masih mengiang di sanubari: Berapi-api, tegas, tak pandang bulu bagi tegaknya prinsip hidup dan iman akan Kristus.

A   danya Romo menjadi warna di tengah keberagaman umat:  mencintai cara hidup sederhana… yang luput di mata kami, namun di mata Allah amat tinggi nilainya, luhur dan kudus.

B   erkat kepedulian tangan trampil Romo: lingkungan gereja  tampak hijau-asri nan rapi; menghadirkan Kerajaan Allah bagi banyak mata yang memandang terus dan lurus.

R   ektorkomunitas SVD distrik Surabaya, Romo ampu beberapa kali: membentuk terang-kepercayaan sesama saudara Societas Verbi Divini, bersama Santo Arnoldus Janssen sang pencetus.

I     mamat suci-kokohnya iman telah Romo genggam penuh cinta:  kesetiaan panggilan hidup yang melampaui segala pengertian, tak lekang oleh badai kehidupan yang nampak seolah mulus.

E    ndapan keluh kesah, derita-kesakitan akibat deraan penyakit: dianggapnya angin lalu, disatukannya dengan luka-derita jalan salib Yesus Sang Penebus.

L    elah fisik peziarahan hidup tak dirasakannya hingga:  berserah pada Tuhan atas rongrongan penyakit ganas; tubuh yang kurus mengiringi panggilan hidup kekal pada Rabu di pekan kudus.

D   alam hati, bergolak pertanyaan:  inikah jawaban laksana petir yang mesti didapat atas harapan kesembuhan di saat belum purna tugas?

A   neka ratap dan tangis: takkan mampu mengembalikan keberadaan sang imam-biarawan nan bersahaja, sederhana dan lugas.

S    elamat jalan Romo:  gembala umat, sahabat, teman, mitra perdebatan, sang-sosok pewarna di antara berbagai umat lintas keyakinan tanpa batas.

I     nilahwujudkesetiaan hamba ilahi:  teladan perjuangan bersama Kristus hingga tuntas. 

S    emangat dan perjuangan hidupnya:  menggugah  irama yang menyuarakan  aneka pesan penting kehidupan bagi umat yang masih butuh pandu-guru.

V   iat voluntas Tua, terjadilah yang Tuhan kehendaki:  membuktikan kepasrahannya atas keterbatasan fisik dan akhirnya gugur di medan laga bak serdadu.

D   i benak kini tinggal kenangan:  kami hanya bisa termenung-termangu, menyeka butiran air di sudut mata tanpa sadar bahwa itu wujud haru…

 

Beristirahatlah dalam damai, Romo…

DVD lengkap tentang Konsili Vatikan II

Penggunaan bahasa setempat dalam liturgi Gereja Katolik Roma diawali dengan terbitnya dokumen Gereja Dekrit Sacrosanctum Concilium.
Tahukah anda bagaimana perdebatan di dalamnya sehingga akhirnya kita sekarang ini bisa merayakan Ekaristi dalam bahasa kita sendiri? Seorang uskup NTT kelahiran Belanda, Mgr Van Bekum dalam pengantarnya di depan para Bapa Konsili mengusulkan agar perayaan-perayaan li

tugi Katolik bisa dihayati dalam konteks bahasa setempat….. usulan ini menuai pro dan kontra, bahkan antara lain ketua kongregasi ajaran iman waktu itu, Mgr Octaviani menentang dengan keras………. namun dukungan diperoleh juga dari Paus Yohanes XXIII yang sebelum wafatnya mengatakan bahwa perayaan-perayaan dan perwartaan iman Katolik hendaknya diberikan dalam bahasa-bahasa vulgare….. rakyat jelata…..
Saksikan kisah-kisah menarik serta pemahaman mengenai Konsili Vatikan II dalam DVD Seminar Konsili Vatikan II. Saat ini tersedia dua seri seminar : 1. Konsili Vatikan II (Panorama Sejarah, latar belakang historis, kultural, teologis dan Pokok-pokok pembaharuannya) oleh Rm. Prof DR. Armada Riyanto CM dan Rm. Prof DR A. Eddy Kristiyanto OFM. 2. Konsili Vatikan II (Kitab Suci dan Wahyu) oleh Rm Prof DR H. Pidyarto O Carm).
Masing-masing sesi terdiri dari dua keping DVD, anda bisa mendapatkannya dengan mengganti biaya rekam dan cetak sebesar Rp. 30.000 / sesi. Hub. saya via SMS (FX. Sutjiharto – 08123241600).

SERAMBI SALOMO

Serambi bukanlah bangunan utama. Serambi hanyalah sekedar bangunan depan rumah yang bersambung dengan induk rumah. Serambi bukan bangunan utama, namun serambi mengantar seseorang untuk masuk ke dalam rumah. Serambi bukan bangunan utama namun serambi memberikan kesan pertama kepada seseorang sebelum memasuki bangunan utama. Serambi bukan tempat yang terpenting namun kerap serambi menjadi tempat favorit untuk bercengkerama, tempat untuk berdiskusi, tempat untuk saling belajar, tempat saling bersekutu, bahkan tempat untuk beristirahat menghirup udara luar yang segar.
Dibandingkan dengan padanan kata serambi lainnya, yaitu beranda, teras, atrium bahkan emperan, kata serambi kerap dipakai dalam arti simbolik yang sangat terhormat sebagai bagian kecil namun sangat penting. Kita kenal dengan istilah Serambi Mekkah, Serambi Ilmu, Serambi Jantung, dan lain sebagainya. Semuanya menunjuk pada peran serambi sebagai yang bukan utama namun secara sederhana menjadi bagian integral dari bangunan induk.

Demikian pula halnya dengan Serambi Salomo.
Bait Allah di jaman Salomo dikenal juga sebagai “serambi keadilan” dimana Raja Salomo membangun sebuah bangunan besar dengan sebuah serambi yang sangat luas di depannya. Tempat ini merupakan aula keadilan dimana Raja Salomo melakukan pengadilan dan menegakkan kebenaran serta keadilan bagi rakyatnya.
Secara fisik, Serambi Salomo adalah suatu barisan tiang (kolonade), atau mungkin juga berbentuk bangunan terbuka (kloster), yang terdapat di sisi sebelah timur Bait Allah (yang dipugar Herodes) di Yerusalem. Sebelum memasuki Serambi Salomo terdapat suatu gerbang yang disebut Gerbang Indah. Gerbang ini adalah gerbang yang penuh dengan 162 tiang  ukiran dari perunggu sumbangan dari Nikator dari Alexandria (Mesir), penguasa era penjajahan Yunani.  Gerbang ini begitu indah sehingga disebut sebagai gerbang indah. Fungsi dari gerbang ini sebenarnya adalah untuk memisahkan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi dan para perempuan yang dilarang masuk ke Bait Allah. Biasanya di pintu Gerbang Indah ini banyak orang yang duduk untuk mengemis ataupun melepaskan lelah dan ngobrol sekalipun waktu sembahyang telah tiba.

Di masa  Perjanjian Baru, terdapat  banyak catatan penting mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di Serambi Salomo ini. Diperkirakan bahwa serambi yang luas ini menjadi tempat favorit para tua-tua Yahudi, ahli-ahli Taurat untuk berdiskusi dan bertanya jawab tentang Kitab Taurat dan hukum-hukum Tuhan (Lihat Kisah Yesus di Bait Allah di usiaNya yang ke-12 tahun – Luk 2:41-52)
Tak perlu diragukan lagi bahwa Serambi Salomo ini adalah tempat favorit bagi Yesus. Beberapa kali dikisahkan bahwa Yesus berada di sana untuk berbicara dan mengajar, bahkan pula sekedar untuk berjalan-jalan saat pesta cahaya atau Hanukkah, suatu perayaan yang didedikasikan untuk mengenang pentahbisan Bait Allah di Yerusalem. Di sana dan saat itu, orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus, mendesak Dia dan memohon kepastian akan “ke-mesias-an-Nya”. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami”. Dan jawaban Yesus sangat jelas yaitu bahwa kita mesti percaya kepadaNya. Dan untuk sampai kepada iman itu kita mesti mengenal Dia, seperti domba yang mendengar suara   gembalanya dan sang pengembala mengenal domba-dombanya. Dan karena iman dan pengenalan itu, manusia akan memperoleh hidup yang kekal. Dan sayangnya, para Yahudi itu justru bersiap melempari Yesus dengan batu ketika dikatakan demikian.   (Lihat kisah ini di Yohanes 10:22 – dst).
Hal menarik lain yang perlu kita refleksikan secara lebih dalam adalah bahwa di serambi inilah Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. Petrus yang dengan sangat jelas “tertangkap basah” oleh hamba perempuan imam besar bahwa ia adalah murid Yesus – bahkan berani bersumpah bahwa ia tidak mengenal Dia. Dan Petrus pun menangis tersedu-sedu karena penyangkalannya itu. Kisah yang sangat mencerminkan diri kita ini tertuang dalam Markus 14:66-72

Dan setelah peristiwa Kebangkitan Yesus dan Pentakosta, kita lihat bahwa Serambi Salomo juga menjadi tempat favorit para murid untuk berkumpul.
Kisah tentang Petrus dan Yohanes yang menyembuhkan orang lumpuh di Gerbang Indah, rupanya menimbulkan penasaran serta keheranan para pengunjung Bait Allah dan hingga terus mengikuti mereka hingga ke Serambi Salomo. Dan di serambi ini Petrus dengan rendah hati mengingatkan bahwa mereka disembuhkan bukan karena kuasa para murid itu sendiri, melainkan karena kuasa Yesus. Tuhan dan manusia yang telah telah mereka tolak dan mereka salibkan. Dan konsekuensi dari kesaksian itu, Petrus dan Yohanes harus dibawa ke Mahkamah Agama. (Kisah Para Rasul 3 – 4)
Kisah tentang Serambi Salomo belum selesai, bahkan memuncak pada Kisah Para Rasul 5 dimana diserambi itu Para Rasul mengadakan banyak tanda dan mukjijat. Bukan tanda dan mukjijat sebenarnya yang membuat Serambi Salomo menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang percaya, melainkan karena di sana mereka bisa berkumpul dalam persekutuan yang erat. Di Serambi Salomo inilah Gereja Perdana yang ideal membentuk diri hingga di tahun 70 Masehi, Bait Allah beserta serambinya yang indah itu rata dengan tanah oleh tentara Roma………

Bagaimana dengan Kelompok Studi Serambi Salomo?
Kelompok Studi Serambi Salomo terbentuk atas dasar keprihatinan akan kritisnya katekese umat Katolik saat ini. Mungkin memang berlebihan jika dikatakan hampir di semua lini terjadi problema ketidakpahaman umat, awam, bahkan sebagian pewarta akan ajaran Gereja Katolik yang semestinya. Namun kita tidak bisa menutup mata akan hal ini. Dan hal itu pulalah yang membuat kami tergerak untuk berbuat sesuatu. Kami, saya (FX. Sutjiharto) dan Setiawan Sandy, merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Bukan pertama-tama karena kami merasa mampu, atau merasa paling suci, paling beriman, atau pun paling mengerti akan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Sama sekali bukan. Justru karena kami merasa bahwa kami berada sebagai bagian dari mereka yang mengalami krisis tersebut, maka kami bertekad mendirikan suatu kelompok studi ini.

Apa kegiatan yang akan dilakukan? Belajar. Serambi Salomo Bait Allah menjadi tempat untuk saling belajar. Kelompok Studi Serambi Salomo juga menjadi ajang untuk saling belajar. Mengapa perlu belajar? Kami merasa perlu terus belajar agar semakin mengenal Dia. Kami perlu belajar agar tidak tersesat. Agar kami justru tidak seperti orang-orang Yahudi yang hendak melempari Yesus dengan batu di Serambi Salomo.
Kami ingin terus belajar agar semakin menyerupai Dia. Di Kelompok Studi Serambi Salomo kami ingin belajar dari pengalaman Petrus pemimpin kami yang pertama, saat dia menyangkal Tuhan di Serambi Salomo.
Dan akhirnya di Kelompok Studi Serambi Salomo ini  kami mencoba untuk saling bersekutu dengan sesama anggota tubuh Kristus yang lain agar berani mempertahankan iman – bahkan mewartakan iman akan Dia yang telah menjadi manusia, menderita sengsara, wafat disalib dan akhirnya bangkit kembali dengan mulia.

Sudahkah itu terjadi? Sangat belum. Masih jauh panggang dari api. Ada banyak hal yang masih ingin dikerjakan. Bulan April 2012 ini selesai sudah materi yang disajikan untuk para peserta dari Paroki Salib Suci Tropodo, satu tahun setengah kurang lebihnya. Ada rencana untuk melakukan hal yang sama di tempat lain, namun kami berniat untuk retret sejenak, men-charge baterai agar kembali segar. Sementara itu, Kelompok Studi Serambi Salomo akan mencoba media baru, yaitu media Facebook Serambi Salomo. Dan bersinergi dengan media tersebut kami berniat mendirikan satu kelompok pembaca Kitab Suci secara tuntas. Kami namakan KPKP (Kelompok Pembaca Kitab Suci Paripurna). Suatu kelompok pembaca Kitab Suci yang pernah dirintis oleh alm Rm. Anton de Britto CM. Bagaimana teknis pelaksanaannya? Sedang digodok oleh beberapa teman, yang jelas pelaksanaannya memadupadankan pertemuan di dunia maya (facebook) dan temu darat.
Kami akan terus belajar, terus loading hingga akhir sambungan nirkabel nyawa ini kembali pulang ke Rumah Bapa…….. loading complete. Saat itulah kita bertemu di Serambi Salomo Abadi di Yerusalem Surgawi. Amin

Serambi Salomo, Selasa, 10 April 2012 – hari Selasa dalam oktaf Paska
Hari ini Kelompok Studi Serambi salomo Salib Suci Tropodo menyelesaikan materinya.

FX. Sutjiharto
serambisalomo@ymail.com
FB : Serambi Salomo