splash
SITUS RESMI DEWAN PASTORAL PAROKI SALIB SUCI
Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
 

Posts Tagged ‘Ekaristi’

Pelayanan Orang Muda Katolik (OMK) Terhadap Gereja

Posted By Komsos on August 23rd, 2011

KAMI  JUGA MENCINTAI EKARISTI

Banyak bentuk pelayanan umat terhadap Gereja. Misalnya dengan menjadi Dewan Pastoral Paroki, Pengurus Wilayah, Asisten Imam, Lektor, Pemazmur, Anggota Koor, Petugas Liturgi, dan menjadi Penjaga Parkir. Semua memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Pelayanan bukan merupakan kewajiban, tetapi membutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian. Penulis ingin berfokus pada peranan OMK yang sering ketiban peran  menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor, terutama saat Misa Agung.

Menjadi petugas penjaga kendaraan bermotor ternyata sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Beberapa generasi muda Gereja yang sekarang sudah menjadi anggota DPP pun merasakan pelayanan dalam bentuk itu.
OMK menyadari, bahwa menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan terhadap Gereja selain menjadi Pengurus OMK Paroki maupun Wilayah dan  Petugas Ekaristi. Keinginan Gereja agar OMK terlibat dalam setiap kegiatan Gerejawi memang sudah sangat jelas dapat mendorong dan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki. Tapi secara samar, dengan rutin dan seringnya OMK menjadi petugas parkir akan berimbas pada gambaran diri OMK. Tidak sedikit umat yang beranggapan bahwa OMK lebih senang menjadi petugas parkir karena BOSAN dan mulai MALAS dengan yang namanya MISA. Ada juga yang berpendapat bahwa, toh OMK juga mendapatkan uang parkir  meskipun dengan nominal seikhlasnya,-. Namun, tidak sedikit pula yang menyadari bahwa OMK adalah bagian dari Gereja yang mendapat salah satu peranan dari sekian peran yang harus dijalani. Dalam suatu kesempatan, Rm. Heribertus Ballhorn, SVD pernah mengatakan bahwa menjadi petugas parkir pun adalah bentuk pelayanan terhadap Gereja, jadi sebisa mungkin harus dilakukan dengan baik.

Lalu, yang menjadi pertanyaan dan kegundahan OMK adalah ketika OMK rindu dengan perayaan Ekaristi khususnya pada misa-misa Agung yang hanya bisa diikuti dari tempat parkir,dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyambut kehadiranNya, bagaimana?
Fakta yang ada memperlihatkan bahwa beberapa OMK sering menjadi “bonek” dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun sebelum menyambut Kristus dalam wujud  “sabdaNya”, OMK yang menjadi petugas penjaga parkir sempat hening dan menyiapkan hati seadanya. Pun ada yang sadar diri, merasa tidak pantas untuk menyambut Komuni Kudus maka tetap diam di tempat. Nurani mereka seolah menggugat: “Bukankah tidak pantas menerima Hosti Kudus bila tidak dengan persiapan hati yang layak?”. Kebutuhan OMK akan Ekaristi seolah terbentengi dengan kewajiban yang dilapisi nama “pelayanan”.
Apakah itu artinya, OMK hanya bisa berdiri di belakang tanpa pantas menyambut Tubuh dan DarahNya? Seberapa pentingkah pelayanan non liturgis sehingga dapat menomor-duakan Ekaristi? Apakah itu artinya, OMK harus mengorbankan Ekaristi?

Memang, pelayan Gereja adalah pelayan Tuhan juga. Tetapi Dia tentu akan bersedih, jika putra-putri yang dicintaiNya tidak dalam kondisi yang pantas atau siap hati untuk menerima kehadiranNya. Dia, mungkin, akan lebih terluka apabila putra-putriNya tidak menerima kehadiranNya.
Mengutip perkataan Bapak Victor H.S. selaku penasihat OMK: “Yang jelas, semuanya harus seimbang, jasmani dan rohani harus tetap beriringan. Tidak ada alasan untuk menjadi bosan. Misa tetap Misa. Liturgi juga tetap liturgi yang mempunyai hierarki dan tata perayaan. Masalah yang dihadapi sekarang, bagaimana kita, OMK, bisa mencintai Liturgi dan Ekaristi, kemudian membumikannya dalam kehidupan sosial di dalam dan di luar Gereja. Sebutan OMK bukan hanya mudah diingat dan dikatakan, tetapi sudah menjadi stempel mati buat kita. Yang  harus diwujudkan dalam mencintai Ekaristi dan katolisitas dalam masyarakat majemuk. Menjadi petugas parkir adalah salah satu bentuk pelayanan. Tetapi, Ekaristi tetap adalah yang utama. Tinggal bagaimana kita semua sadar bahwa semua itu masih menjadi bagian hidup dari orang muda yang merasa Katolik, terlebih lagi menjadi bagian dari Gereja Katolik”.

Intinya, Misa tetap Misa. Pelayanan juga tetap pelayanan. Semua tergantung dari cara menempatkan diri pada situasi yang sedang dialami. Jalan keluar yang mungkin bisa diambil adalah dengan mengikuti Misa Agung di paroki lain, karena Misa Agung di Paroki Salib Suci hanya diadakan satu kali.
Tapi, kemudian muncul pertanyaan, apakah dengan mengikuti misa di luar paroki domisili adalah pilihan terbaik?
Sekali lagi, mengulang pernyataan di awal, dibutuhkan kesadaran dan kerendah-hatian dalam sebuah pelayanan. Terkadang dibutuhkan juga pengorbanan untuk menjalani pelayanan itu. Tidak mudah untuk menjadi ‘Yang Diharapkan’.
OMK memiliki loyalitas khas kaum muda, memiliki kompetensi, memiliki semangat, dan OMK juga memiliki komitmen.
Tapi lebih dari itu, OMK merindukan keutuhan Misa Agung dan Ekaristi.

OMK merindukan menjadi bagian dalam kegiatan liturgis dan upacara sakral. OMK tidak ingin hanya bisa berdiri di belakang.
OMK juga mencintai Ekaristi.
OMK juga ingin menghidupi Ekaristi.

(monica ajeng erwita)

Komuni di tangan,….. memangnya kenapa?

Posted By Komsos on August 5th, 2011

MAKLUMAT DARI KONGREGASI UNTUK IBADAT ILAHI DAN TATA TERTIB SAKRAMEN MENGENAI KOMUNI DI TANGAN

Tahta Suci, sejak 1969, seraya mempertahankan cara tradisional dalam membagikan komuni, juga memberikan kepada Konferensi-konferensi Waligereja yang memintanya, fasilitas untuk membagikan komuni dengan menempatkan hosti di tangan umat beriman.

Fasilitas ini ditetapkan dengan Instruksi Memoriale Domini dan Instruksi Immensae caritatis (29 Mei 1969: AAS 61, 1969, 541-546; 29 Januari 1973; AAS 65, 1973, 264-271) dan dengan Ritual De sacra Communione yang diterbitkan 21 Juni 1973, n. 21. Namun demikian, tampaknya tepat untuk memberikan perhatian pada point-point berikut:

1. Komuni di tangan hendaknya menunjukkan, sama seperti komuni di lidah, penghormatan yang pantas terhadap kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Oleh karena alasan ini hendaknya diberikan penekanan, seperti yang dilakukan oleh para Bapa Gereja, pada wibawa gerakan orang yang menyambut komuni. Demikianlah, pada akhir abad keempat kepada mereka yang baru dibaptis diajarkan untuk mengulurkan kedua tangan, “tangan kiri sebagai tahta bagi tangan kanan, yang menyambut sang Raja” (Katekese mistagogis Yerusalem yang kelima, n. 21: PG 33, kol. 1125, atau Sources chret., 126, h. 171; St Yohanes Krisostomus, Homili 47: PG 63, kol. 898, dll.) (Dalam praktek, petunjuk yang sebaliknya yang harus diberikan kepada umat beriman: tangan kiri ditempatkan di atas tangan kanan, agar hosti kudus dapat dimasukkan ke dalam mulut dengan tangan kanan.)

2. Lagi, seturut ajaran para Bapa Gereja, penekanan perlu diberikan atas pentingnya kata “Amin” sebagai tanggapan atas rumusan pelayan komuni, “Tubuh Kristus”; Amin ini adalah suatu penegasan iman: “Cum ergo petieris, dicit tibi sacerdos `Corpus Christi’ et tu dicis `Amen’, hoc est `verum’; quod confitetur lingua, teneat affectus” (St Ambrosius De Sacramentis, 4, 25: SC 25 bis, h. 116).

3. Orang yang menyambut komuni, yang telah menerima Ekaristi di tangan, wajib menyantap hosti sebelum kembali ke tempatnya, mengambil satu langkah ke samping dengan tetap menatap altar, demi memungkinkan orang berikutnya datang kepada pelayan.

4. Dari Gereja-lah umat beriman menyambut Ekaristi kudus, yang adalah communio dalam Tubuh Tuhan dan dalam Gereja; oleh sebab itu orang yang menyambut komuni tidak diperkenankan mengambil dari patena atau siborium, seperti yang akan dilakukan orang terhadap roti biasa, melainkan kedua tangan wajib diulurkan untuk menyambut komuni dari pelayan komuni.

5. Demi hormat terhadap Ekaristi, tangan wajib bersih, anak-anak perlu diingatkan akan hal ini.

6. Penting bahwa umat beriman menerima katekese yang efektif mengenai masalah ini, dan bahwa penekanan perlu diberikan atas perasaan sembah sujud dan hormat yang pantas terhadap Sakramen Mahakudus ini (bdk. Dominicae cenae, n. 11). Wajib diberikan perhatian agar serpihan hosti yang telah dikonsekrasikan tidak hilang (bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, 2 Mei 1972: Prot. N. 89/71, in Notitiae 1972, h. 227).

7. Umat beriman tidak diwajibkan menerapkan praktek komuni di tangan; setiap umat beriman bebas untuk menyambut komuni di lidah atau di tangan.

Ketentuan-ketentuan ini dan juga ketentuan-ketentuan seperti dinyatakan dalam dokumen-dokumen yang disebutkan di atas bertujuan untuk mengingatkan kembali kewajiban untuk menghormati Ekaristi dan menerapkan secara independen cara dengan mana komuni disambut.

Mereka yang berkewajiban untuk memelihara jiwa-jiwa wajib menekankan tidak hanya pentingnya disposisi batin bagi penerimaan komuni yang bermanfaat, yang dalam perkara-perkara khusus membutuhkan pertolongan Sakramen Rekonsiliasi, melainkan juga sikap lahiriah yang mengungkapkan rasa hormat pada umumnya dan mengekspresikan secara istimewa keyakinan umat beriman terhadap Ekaristi.

Dari Kongregasi untuk Ibadat Ilahi, 3 April 1985.

+Augustin Mayer, O.S.B.
Uskup Agung Titular Satriano
Pro-Prefect

+Virgilio Noe
Uskup Agung Titular Voncaria
Sekretaris

Eksistensi dan Tugas Asisten Imam

Posted By Komsos on November 1st, 2010

Asisten imam adalah Awam yang dipanggil gereja untuk membantu pelayanan umat dalam bidang liturgi dan rohani. Dengan dilantik menjadi Asisten Imam, ia tetap seorang awam, dan bukan anggota hierarki/religius. Jabatan Asisten Imam bukan Ex Potestate Ordinis/Yurisdictionis. Tetapi Anugerah Istimewa Gereja melalui Propaganda Fide. Seorang bebas menerima atau menolak panggilan pelayanan sebagai Asisten Imam. Pelayanan sebagai Asisten Imam merupakan sumber rahmat bagi yang mau menerimanya. Dalam Kanon 330, par.3 dikatakan bahwa: Dimana kebutuhan Gereja memintanya, dan tidak ada pelayan-pelayan rohani, juga kaum awam meskipun  bukan lektor atau akolit, dapat menjalankan beberapa tugas, yakni melakukan pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, memberikan baptis dan membagikan Komuni Kudus, menurut ketentuan-ketentuan hukum. Pelayanan Asisten Imam bersifat sukarela tanpa menerima gaji atau honor atau apa saja yang bersifat material dari Gereja atau Paroki sebagai gaji atau upah. Masa bakti seorang Asisten Iman adalah tiga tahun. Masa bakti bisa diperpanjang, dan bisa diperpendek. Diperpanjang bila setelah habis masa baktinya, ia dapat dilantik kembali, asal memenuhi syarat. Bisa juga diperpendek, apabila dalam perjalanan waktu, seorang Asisten Imam mendapat kesulitan dalam rumah tangganya sehingga menjadi batu sandungan umat, maka sebaiknya ia nonaktif atau berhenti (mengundurkan diri), atas saran pastor paroki atau pemuka umat.

(more…)

Devosi Kerahiman Ilahi

Posted By Komsos on October 28th, 2010

APA dan BAGAIMANA:DEVOSI KERAHIMAN ILLAHIA.

Pengertian DevosiApa itu Devosi ? Istilah devosi berasal dari kata benda latin “Devotio“ yang berarti: kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti; atau keta kerja Latin: “devovere”  yang artinya: “mencurahkan perhatian sepenuhnya pada ‘atau’ memasrahkan diri kepada“ sesuatu atau pribadi tertentu.

Devosi Kerahiman Illahi ialah suatu kebaktian yang memberikan keyakinan kepada umat manusia bahwa Allah itu Maha-rahim dan Maha-pengampun, untuk percaya penuh kepada Allah serta untuk belajar menerima belas-kasih-Nya dengan ucapan syukur.

(more…)

Pelatihan Dirigen, Organis dan Pembina Koor Elisabet

Posted By Komsos on October 27th, 2010

Memuji Tuhan dengan baik merupakan salah satu keinginan umat beriman, maka tak heran bila wilayah St. Elisabeth selalu berlatih koor secara rutin. Bapak Fidelis adalah salah satu dirigen sekaligus untuk wilayah St. Elisabeth yang baik dan sabar dalam melatih koor, dengan bantuan Ibu Galuh sebagai koordinator koor. Namun karena kesibukannya, maka kami sering kali mengalami kendala dalam latihan, kekosongan/ ketidakhadiran dirigen dalam latihan menjadikan jadwal latihan koor sedikit terganggu, disamping itu anggota koor tidak ada yang berani menggantikannya untuk memimpin latihan koor, sehingga sering kali koor batal latihan.

(more…)

Devosi kepada Bunda Maria

Posted By Komsos on October 26th, 2010


Istilah Devosi, diambil dari kata Devotion, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi bakti, yang artinya: Penyerahan diri sepenuh hati, dalam sikap doa, yang membuat orang beriman menjadi sangat tanggap kepada kehendak Allah (Kamus Teologi,
Gerald O’Collins, SJ. & Edward G. Farrugia, SJ, Kanisius).
Dan sikap batin kita untuk meng-hormati Bunda Maria adalah Hyperdulia (baca: Mawass Edisi 2).
Sudah sejak Gereja Perdana pengikut Kristus menempatkan Bunda sebagai pribadi yang istimewa, yang layak mendapatkan penghormatan dan perlakuan khusus. Gelar Bunda Allah (Theotokos) dan Tetap Perawan (Parthenos) adalah 2 hal yang paling awal telah diterima oleh Gereja sejak zaman Para Bapa Gereja.
Masalah adanya keberatan dari sementara pihak atas gelar itu, bukanlah urusan kita. Karena itulah yang telah kita terima sebagai iman Gereja secara apostolik.

Seiring dengan perkembangan Gereja, gelar-gelar lain yang ber-tujuan untuk menghormati Bunda Maria terus bertambah.
Hal ini tidak terlepas peranan Bunda Maria yang senantiasa mendampingi dan menolong
anak-anaknya yang sedang ber-ziarah di dunia ini.
Peristiwa-peristiwa di Lourdes, Fatima, Medjugorje, dan lain-lain sudah sangat sering kita dengar (meskipun pihak Otoritas Gereja sangat behati-hati dalam me-nyikapinya).
Dan, kita pasti tahu bahwa tempat berziarah yang paling banyak adalah tempat ziarah untuk meng-hormati Bunda Maria (di Pulau Jawa saja, tidak kurang dari sera-tus tempat ziarah yang didedikasi-kan kepada Bunda Maria).

(more…)

HUT ke V Wilayah Beata Teresa

Posted By Komsos on October 26th, 2010

PROFICIAT!!! Redaksi MAWASS dan pengurus sie Komsos turut mengucapkan selamat Pesta Nama yang ke-5 untuk wilayah Beata Teresa. Tampaknya kali ini merupakan pesta nama yang lebih berkesan dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di Paroki Salib Suci, pesta nama wilayah Beata Teresa diadakan setiap tanggal 7 Oktober, bersamaan dengan Pesta Nama wilayah Ratu Rosari. Namun setelah dikonfirmasikan lebih lanjut, ternyata pesta nama wilayah Beata Teresa jatuh pada tanggal 5 September, di mana pada tanggal itu, Ibu Teresa wafat di Kalkuta, India.
Untuk merayakan Pesta Nama wilayah Beata Teresa yang ke-5 ini, seperti biasa diadakan misa syukur pada hari Minggu tanggal 5 September 2010 pukul 07.30 WIB. Misa yang dipimpin oleh Rm. Yosef Gheru Kaka tersebut berlangsung cukup meriah dengan iringan koor dari wilayah Beata Teresa sendiri. Tak disangka pula, tugas koor kali ini bagi wilayah Beata Teresa adalah koor dengan peserta  terbanyak selama ini, yaitu 35 orang. Tidak hanya tugas koor, semua tugas liturgi pada misa pagi itu dilaksanakan oleh umat Beata Teresa sendiri. “Pesta nama kali ini sungguh sangat berkesan bagi saya karena banyak umat wilayah turut berpartisipasi aktif dalam misa syukur kali ini. Saya sangat senang dengan antusiasme umat Beata Teresa yang bersedia membantu dengan sukarela” , demikian tutur Bapak Nicholas Rudolf selaku Ketua Wilayah Beata Teresa.

(more…)