<>

PENGANTAR

“Pernahkah kita berpikir tentang keringat yang dikeluarkan, tentang tenaga yang dikerahkan, tentang kantuk yang harus ditahan, tentang kelelahan yang tak boleh dibiarkan mematahkan semangat…”

Suatu kali pada Minggu malam setelah misa, masih ada umat wilayah tertentu yang berlatih koor untuk persiapan tugas wilayahnya; selain itu ada kegiatan penjemputan pasutri yang baru saja menyelesaikan weekend ME; Senin malam ada latihan koor yang melibatkan dua kelompok yang harus berbagi tempat; Selasa setelah Misa harian sore ada rapat seksi tertentu Dewan Pastoral Paroki selain kegiatan rutin doa kelompok kategorial tertentu. Demikian halnya pada hari Rabu, Kamis, dan seterusnya. Hampir tiap sore hingga menjelang tengah malam Balai Paroki maupun Gereja, bahkan ruang tamu pastoran dan sakristi dihidupkan oleh aneka kegiatan berupa doa, pertemuan – rapat persiapan / latihan, yang kesemuanya itu ditujukan untuk menyambut peringatan akan kebangkitanNya.  Ada kesan, jantung kehidupan di Paroki Salib Suci tak pernah berhenti.

 

LELAH YANG TAK MEMATAHKAN SEMANGAT

Masa Prapaskah, selain sebagai sarana penantian,  merupakan puncak dari persiapan aktivitas liturgis menjelang Paskah (baca: Kebangkitan Yesus).

Adanya Kebangkitan hendak menyampaikan kepada dunia (kita) bahwa telah ada masa dimana kita  merasa terlena oleh status quo yang nota bene adalah suasana “lengah-tidur-santai-tidak produktif”. Sadar akan kelemahan ini,  kita, sesuai dengan kemampuan, hendaknya melaksanakan tugas perutusan sebagai umat Allah dalam Gereja di dunia.

Fenomena menarik dalam aktivitas gerejani di Paroki Salib Suci – Tropodo, Waru, Sidoarjo adalah “inovasi tiada henti”; Inovasi dalam konteks ini berupa “suasana” yang mampu menggerakkan dan menghidupkan. Meski nampak sederhana dan manusiawi, inilah roh yang menjiwai dan menyemangati segenap umat paroki. Mereka berlomba untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Paroki, terlebih bagi yang hendak dirayakan, yakni Yang Bangkit sekaligus Sang Pem-bangkit sejati.

Kelelahan fisik hanyalah bentuk efek samping dari aktivitas manusia-wi yang bisa dikendalikan dengan aktivitas rohani yang menghidupkan berkat semangat kebangkitan. Entah disadari atau tidak, inilah makna mendalam yang menjadi acuan dan Roh yang menghidupkan itu.

 

KANTUK YANG HARUS DITAHAN

Kelelahan fisik setelah seharian bekerja tentu berdampak menurun-nya daya tahan tubuh kita. Saat se-seorang dihadapkan pada suasana ini dan dia harus melaksanakan tugas “sampingan” beraktivitas di lingkungan gereja, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus bangkit untuk mengalahkan rasa kantuk. Semangat menjadi berkobar saat kita dibangkitkan- diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas perutusan dalam aktivitas liturgis di paroki. Di sini nampak bahwa sebesar apa pun kesulitan manusia, dan sekecil apa pun harapan yang masih tersisa, kepercayaan Tuhan tidak pernah berkurang. Dalam kelelahan dan kantuk tetap ada keyakinan: “Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya…”, dan tidak terasa rasa lelah dan kantuk justru menjadi berkat bagi kita dan bagi sesama yang kita layani.

 

TENAGA YANG DIKERAHKAN

Alasan klasik bahwa banyak pekerjaaan (kantor maupun rumah) yang harus diprioritaskan dan dise-lesaikan sungguh menjadi kendala saat seseorang diberi kepercayaan untuk menindaklanjuti tugas per-utusan Tuhan. Satu hal yang dilupa-kan adalah bahwa seluruh tenaga yang dikerahkan sebenarnya bersumber dari kebesaran hati dan kepercayaan Tuhan sendiri. Anugerah (tenaga yang dikerahkan) ini mestinya menjadi inspirasi dan motivasi untuk memperluas kera-jaan Allah dalam aktivitas gerejani, meski dimulai dari yang sangat sederhana, seperti: terlibat dalam kegiatan koor wilayah (meski suara dan pemahaman notasi masih di bawah standar sebab bukan kualitas – kemampuan seseorang terkait aktivitas tersebut yang men-jadi ukuran melainkan kehendak untuk terlibat dan menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahkan tenaga yang luar biasa), sementara aktivitas sebagai anggota koor hanyalah sepersekian persen dari keseluruhan anugerah Tuhan itu.

Disadari atau tidak, dewasa ini kita dihadapkan pada situasi jaman yang serba cepat: siapa cepat – dapat, siapa lambat  – “melarat”.

Di satu pihak perkembangan ini menumbuhkan tantangan untuk memikirkan bagaimana karya kebangkitan yang ditunjang oleh tenaga kita mampu menjawab kebutuhan umat pada umumnya dan, di lain pihak, suasana serba cepat ini dapat menumbuhkan rasa tidak berdaya karena takut atau merasa tidak mampu mengejar situasi tersebut.

 

KERINGAT YANG DIKELUARKAN

Pertanyaan menggelitik yang bisa kita jadikan acuan adalah: “…seberapa tetes keringat yang kita keluarkan saat kita (diminta dan atau atas inisiatif sendiri) menindak-lanjuti tugas perutusanNya, diban-dingkan dengan tetesan keringat saat kita bekerja banting tulang memenuhi kebutuhan dan atau keinginan  pribadi…” Bisa jadi kita akan menertawakan diri kita. Kesadaran akan pelayanan liturgis dan peribadatan yang dilakukan oleh umat Katolik sangat membantu kaum beriman untuk mengungkap-kan misteri Kristus dan hakekat asli Gereja. Ungkapan dan hakekat ini mestinya dapat dihayati dan diung-kapkan: betapa indah dan agung-nya karya pelayanan, seluruh umat beriman Katolik boleh mengung-kapkan yang bersifat manusiawi dan sekaligus ilahi, yang kelihatan dan tak kelihatan. Kalau kita berani jujur, sebetulnya tidak ada keringat yang dikeluarkan untuk menindak-lanjuti hal ini. Tanpa kita sadari, rahmat itu mengalir, mengalir dan terus mengalir dari sebagian kecil tetesan keringat kita; bukan dari separuh, apalagi  sejumlah besar keringat kita.

 

KOMITMEN KEBANGKITAN

Inisiatif  untuk menindaklanjuti karya keselamatan melalui kebang-kitan ini dapat menyangkut banyak  aspek kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok, sehingga sasaran yang dituju dalam aktivitas liturgis inipun dapat bermacam-macam, sesuai dengan rahmat dan talenta yang dimiliki oleh para pemrakarsa. Akhirnya, dengan rendah hati seharusnya kita akui  bahwa kehidupan menggereja menjadi berdaya guna saat kita, umatNya, menyadari sepenuhnya: DENGAN KEBANGKITAN, HIDUP SERASA DIHIDUPI SEHINGGA MENJADI LEBIH HIDUP GUNA MENGHIDUPI SESAMA; HIDUP TANPA KEBANGKITAN LEBIH BAIK TAK DIPERTARUHKAN. Inilah komitmen kita saat berhadapan dengan realitas kebangkitan di era cyber yang serba sangat cepat ini. Sekali lagi, siapa cepat dapat, siapa lambat “melarat”. Mari kita bangkit bersama Dia yang juga bangkit.

fxmoniyanto@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Situs Resmi Paroki Salib Suci

Jadwal Misa

Senin, Rabu, Kamis, Sabtu :
pk. 05.30

Selasa, Jumat :
pk. 18.00

Minggu :
pk. 05.30, 07.30 & 17.30

Lokasi Paroki Salib Suci

Desain & Kreasi oleh

Desain & Kreasi dikembangkan bersama DG5 DESIGN

Pusat Layanan DESAIN & FOTO PRODUK MURAH !! untuk keperluan Website Brosur, Seleberan dsb