Quo vadis ?…Ibadat Penutup (Completorium) di Salib Suci

  1. I. PENGANTAR

Ada satu kegiatan doa di paroki kita yang telah berlangsung namun tersendat, yaitu doa Ibadat Penutup, atau yang biasa disebut Completorium. Dilakukan setiap Jumat malam pukul 21.00 dengan kisaran peserta 11 (= 1+1; kadang 1 + 2). Mengapa demikian? Ada banyak jawaban : umat tidak tahu jika ada kegiatan doa completorium, umat tidak mengerti apa itu doa completorium, umat tahu ada doa completorium namun merasa doa itu hanya untuk kalangan tertentu (ekslusif, members only) dan sebagainya – dan sebagainya.

Untuk merubah situasi ini tentu tidak mudah. Karena pada dasarnya suatu kegiatan rohani tidaklah pantas jika dilakukan berdasarkan paksaan. Untuk itu, kami mencoba memberikan suatu wawasan kecil tentang apa itu Ibadat Harian yang salah satunya adalah Ibadat Penutup / Completorium. Namun sebelum melangkah ke sana, kami ingin menyajikan suatu kilas sejarah timbulnya kegiatan ini di Paroki Salib Suci – Tropodo dan setelahnya, bagaimana kelanjutan Ibadat penutup di paroki kita tercinta.

II. IBADAT PENUTUP / COMPLETORIUM DI PAROKI SALIB SUCI TROPODO

Dalam kerangka  menyambut hari jadi Paroki Salib Suci Tropodo yang ke-60, panitia perayaan mendesain rangkaian acara yang bukan melulu perayaan lahiriah melainkan juga suatu retret umat yang berpuncak pada perayaan Triduum di gereja paroki. Dalam kerangka Triduum itulah Ibadat Penutup / completorium diperkenalkan kepada umat paroki Gereja Salib Suci Tropodo.

Intensi pertama diperkenalkannya Ibadat Penutup adalah sebagai suatu upaya memperkenalkan kepada umat suatu kekayaan liturgis Gereja,  di tengah maraknya gelora devosi-devosi baru saat itu. Umat diajak untuk “back to basic”. Inilah doa resmi Gereja yang telah dihidupi Gereja sejak awal – yang jejaknya bisa dikenal sejak Perjanjian Lama dan dilakukan oleh Yesus dan Para rasul, diteruskan oleh Gereja perdana hingga sekarang dengan pelbagai perkembangannya.

Di tahun yang sama, doa ini juga dikembangkan di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Dilakukan pada hari Minggu malam dalam bahasa latin. Dan berkiblat ke Katedral sebagai pusat Gereja keuskupan, maka kami pun menjadi pengantar dan pendorong bagi umat untuk turut serta dalam ibadat tersebut, dengan mengadakannya di gereja paroki pada hari yang berbeda.

Penulis, yang kebetulan membidani munculnya kegiatan ini membuat proposal bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada perayaan ulang tahun paroki, melainkan akan diteruskan di hari-hari selanjutnya. Dalam proposal tersebut tertuang pula  kesepakatan bahwa pada dasarnya kegiatan ini diarahkan untuk menjadi kegiatan seluruh umat, bukan eksklusif kelompok tertentu sehingga dalam tempo tertentu akan dikelola oleh umat secara wilayah. Atau sekiranya memang tidak  dikehendaki maka sebaiknya kita akhiri. Proposal tersebut diserahkan kepada Ketua Dewan, Ketua Seksi Liturgi, Ketua Panitia Perayaan Ulang Tahun Paroki saat itu dan Romo Dionisius sebagai Pembina. Tentunya berkas itu masih ada dalam file mereka.

III. TENTANG IBADAT HARIAN

Completorium atau Ibadat Penutup merupakan bagian dari Ibadat Harian. Ibadat Harian merupakan terjemahan dari kata  (Liturgia Horarum – har : Liturgi Waktu) yang dikenal pula dengan nama-nama lain seperti : Ofisi Ilahi (Officium Divinum), dan doa Brevir. Ibadat Harian mempunyai akar yang sangat panjang dan dalam dalam tradisi Judaisme maupun setelah “dikristenkan” oleh praktek Jemaat Gereja Perdana.

Apa itu Ibadat Harian? Dalam Puji Syukur, pada bagian KEBIASAAN ORANG KRISTEN salah satunya dikatakan adalah Melaksanakan Ibadah Harian. Dalam hal ini Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan II mengatakan: Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian (SC 83). Sebelum menjawab apa itu Ibadat harian – ada baiknya kita mengenal sekilas sejarah Ibadat Harian

 

A.   SELINTAS SEJARAH IBADAT HARIAN

1.    Asal Mula : Dari Judaisme hingga Gereja Perdana: Penyucian Waktu

Dalam tradisi bangsa Yahudi, sepanjang kurun waktu pagi, siang dan malam disucikan bagi Allah.

Awal mulanya, atas perintah Allah kepada para imam, penyucian hari dilakukan melalui kurban sembelihan pada pagi dan petang hari (Kel. 29:38-39 – bdk, Bil. 28:3-8, 1Raja 18:36). Praktek ini terus berlangsung hingga ke Bait Allah di Jerusalem. Dan selanjutnya di masa pembuangan Babilon, dimana Bait Allah dihancurkan, praktek ini digantikan dengan pembacaan Torah, mazmur dan madah pujian di sinagoga-sinagoga. Kurban Pujian menggantikan kurban sembelihan.

Jejak-jejak tradisi penyucian waktu ini dengan gampang kita temukan dalam ungkapan-ungkapan perjanjian lama terutama dalam “kitab doa” mereka, yaitu kitab Mazmur, misal :

–       Mzm 5:4 TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu

–       Mzm 88:14 Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu (Mazmur ini dipakai dalam Ibadat Penutup hari Jumat)

–       Mzm 119:164 Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil

–       Mzm 141:2 Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.

Umat Israel pada masa pembuangan juga memiliki kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu (lih. Dan 6:10;6:13)

Setelah masa pembuangan dan sisa Israel kembali ke Yudea, kurban pujian ini tetap dilakukan di Bait Allah yang dibangun kembali.

Dan pada saat penjajahan Romawi, kaum Yahudi mulai mengikuti sistem pembagian waktu romawi dalam melaksanakan roda bisnis dan juga kehidupan sehari-hari, termasuk dalam waktu berdoa. Di kota-kota jajahan Romawi, terdapat bel di pasar/tengah kota sebagai penanda jam kerja. Bel mulai berbunyi  kira-kira jam enam pagi, sembilan dan jam ketiga di tengah hari untuk menandai saat makan siang, dan selanjutnya untuk memanggil orang-orang untuk kembali bekerja di jam satu siang jam tiga siang hingga akhirnya bel berbunyi terakhir kalinya pukul enam sore untuk menutup waktu kerja.

 

Jemaat Kristen perdana meneruskan tradisi Yahudi dalam melambungkan doa-doa pada waktu-waktu tertentu di sepanjang hari – dan dengan pengaruh pengaturan waktu versi Romawi di atas.  Yesus dan Para Rasul menjalankan kebiasaan Yahudi ini. Injil suci kerap kali mengisahkan Yesus sedang berdoa :  bdk. Luk 3:21-22, Luk 6:12, Mat 4:19 ; 15:36, Luk 9:28-29; Yoh 11:41,dst; Luk 9:18 ; Luk 11:1; Mat 11:25; Mat 19:13; Luk 22:32. Hidup Yesus sehari-hari selalu berhubungan erat dengan doa – bahkan mengalir daripadanya: bdk. Mrk 1:35, Luk 5:16 lih Mat 4:1, Mat 14:23; Mrk 1:35; Mat 14:23.25 ; Mrk 6:46,dst.

Mereka berdoa pada waktu-waktu tertentu : pada jam tiga, jam enam dan jam sembilan serta di tengah malam hari (bdk. Kis 10:3, 9; 16:25, dll). Mukjijat pertama yang dilakukan para rasul, menyembuhkan orang lumpuh di tangga Bait Allah terjadi saat Petrus dan Yohanes bergegas menuju Bait Allah untuk berdoa (bdk. Kis 3:1). Juga satu moment sangat penting yang diputuskan oleh jemaat perdana, yaitu menerima “bangsa-bangsa kafir” sebagai bagian dari umat Allah terjadi setelah visiun yang dialami Petrus saat dia berdoa di siang hari (bdk. Kis 10:9-49)

Selanjutnya, ketika Kristianitas mulai terpisah dari Judaisme (ditandai dengan hancurnya Bait Allah Yerusalem tahun 70), praktek berdoa di saat-saat tertentu (baca: penyucian waktu) ini terus berlanjut.  Doa-doa jemaat Kristen Perdana  tetap berisikan elemen yang hampir sama  dengan apa yang dilakukan bangsa Yahudi : mengulang-ulang atau menyanyikan (mendaraskan) mazmur, membaca kitab suci, (Kis 4:23-30) dan pada kemudian hari ditambahkan dengan madah kemuliaan serta beberapa elemen yang lainnya.

 

Para Bapa Gereja – Abad Pertengahan – Konsili Trente hingga Revisi Paus Pius V

Penetapan waktu doa selain dituliskan dalam Alkitab juga terdapat dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan kitab-kitab Apokrif. Kitab Didache (95M) menyebut “orismenois kairois kai horeis” (“waktu-waktu dan jam-jam tertentu untuk sembahyang”). Rujukan tentang hal ini juga termuat dalam Dokumen Konstitusi Rasuli (380) dan Bapa Gereja. Basilius Agung (330 – 379) dalam “Regulae Fusius Tractate”, yang bahkan menyebutkan bahwa penetapan waktu-waktu sembahyang itu telah dilakukan di Yerusalem oleh Para Rasul sendiri.

Hampir semua Bapa Gereja menulis tentang tradisi penyucian waktu ini, baik dari Gereja Timur seperti Bapa Gereja Yohanes Krisostomos (354 – 407), maupun di Gereja Barat seperti St. Hieronimus (340 – 420). St.Agustinus dari Hippo dalam Regula-nya (aturan hidup membiara) yang pertama di dunia Barat (ditulis sekitar tahun 397), menganjurkan pada para rahib dan rabib/ rubiah : “Untuk bertekun dengan setia dalam doa pada jam-jam dan waktu-waktu yang telah ditentukan”. Pada abad ketiga, para Bapa Padang Gurun (rahib awali) memulai hidup pertapa untuk memenuhi anjuran St. Paulus agar “berdoa tanpa henti” (I Tes 5:17). Dan mereka melakukan praktek doa ini secara berkelompok.

Di Gereja Timur, perkembangan Ibadat Harian ini beralih dari sekitar Jerusalem menuju Konstantinopel. St. Theodorus (758-826) mengkombinasikan doa ini dengan beberapa pengaruh dari Byzantium dan menambahkan beberapa madah gubahannya sendiri.

Di Gereja Barat, St. Benediktus Nursia dalam regulanya yang terkenal memberikan panduan tentang praktek doa ibadat harian ini. St. Benediktus pula yang dengan tajam menandaskan bahwa konsep doa Kristen tidaklah terpisah antara hidup rohani dan hidup jasmani. Ungkapan Beliau yang sangat terkenal adalah “Orare est laborare, laborare est orare” (“To pray is to work, to work is to pray”). Pada masa Beliau juga doa ibadat harian disebut sebagai doa Ofisi Ilahi (Officium Divinum). Officium berarti karya (Opus) – Divinum berarti Ilahi (Dei). Para pengikut  Benediktine menyebut doa ini sebagai Opus Dei atau  “Work of God.” (Karya Allah).

Pada perkembangannya format doa Ibadat Harian berkembang pesat dalam praktek hidup monastik Kristiani baik di barat dan di timur.  Di abad keempat praktek doa ibadat harian ini telah mendapatkan bentuknya yang lebih pasti, baik untuk kaum monastik, imam sekuler, maupun umat awam.  Dan karena perkembangan ini pula dibutuhkan buku panduan doa yang kurang lebih lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan gereja saat itu. Awalnya buku panduan doa itu masih dalam keadaan terpisah-pisah. Satu buku berisikan kumpulan mazmur, lain lagi buku berikan kumpulan madah, buku Injil untuk bacaan Kitab Suci, dan sebagainya. Cukup ribet. Belum lagi ditambah dengan perkembangan umat sistem parokial yang secara geografis semakin jauh dari Katedral atau Basilika. Hingga akhirnya disusunlah versi sederhana dari doa-doa ibadat harian itu dalam satu buku yang disebut Brevir (latin har. berarti pendek).  Brevir ini akhirnya dikenal luas hingga di masa  Konsili Trente yang menghendaki adanya perubahan agar lebih efektif dan terlepas dari unsur-unsur mitos di dalam madah-madahnya.

Konsili Trente (13 Desember 1545 – 4 Desember 1563), dalam pertemuan finalnya 4 Desember 1563 mempercayakan reformasi brevir ini kepada Paus Pius IV. Dan pada tanggal 9 Juli 1568 – Paus Pius V (pengganti Pius IV) mengumumkan sebuah edisi revisi yang kemudian dikenal dengan sebutan Brevir Romawi. Dalam keputusan apostoliknya, Quod a nobis, dengan tegas ditandaskan larangan untuk menambahkan atau pun menghilangkan satu titik pun di dalam brevir tersebut (hal yang sama dilakukannya untuk buku Roman Missal dalam bulla Quo primum) agar tidak terkena murka Allah. “No one whosoever is permitted to alter this letter or heedlessly to venture to go contrary to this notice of Our permission, statute, ordinance, command, precept, grant, indult declaration, will decree and prohibition. Should anyone, however, presume to commit such an act, he should know that he will incur the wrath of Almighty God and of the Blessed Apostles Peter and Paul.” (In Defense of the Pauline Mass)

  1. 3. Konsili Vatikan II

34 tahun setelah revisi Paus Puis V, Paus Clement VIII melakukan perubahan  atas brevir tersebut. Setelahnya, Paus Urban VIII dan Pius X juga melakukan perubahan yang cukup significant. Hal yang sama juga dilakukan oleh Paus Pius XII dan Paus Yohanes XXIII di tahun 1960.

Pada perkembangannya sejak akhir abad kelima hingga sebelum konsili vatican II, doa ibadat harian terdiri atas:

–          Matutinum : Ibadat tengah malam (Vigile)

–          Laudes (ps 148, 149, 150) dilakukan saat fajar menyingsing

–          Primus – doa diawal pagi (jam 6)

–          Tertia – Doa di awal tengah hari (jam 9)

–          Sexta – doa tengah hari (jam 12 siang tepat)

–          Nona – Doa setelah tengah hari (pk. 15.00)

–          Vesper – doa sore (saat matahari tenggelam dan lampu-lampu mulai dinyalakan)

–          Completorium – doa penutup hari.

Konsili Vatikan II melakukan penyederhanaan pada jam-jam kanonik Ibadat harian dan menjadikannya lebih mudah dilakukan pula oleh para awam dengan harapan untuk menggembalikan kembali karakter Ibadat Harian sebagai doa seluruh Gereja (bukan monoplogi biarawan/wati saja).

Konsili menghapuskan doa primus (digabungkan dengan Laudes) dan mengubah karakter Matutinum menjadi  Ibadat Bacaan sehingga dapat dilakukan di setiap waktu. Lebih jauh lagi, konsili melakukan penataan ulang sehingga mazmur-mazmur secara keseluruhan bisa didoakan selama empat minggu (sebelumnya hanya satu minggu!)

Sejak Konsili Vatikan II pula, nama Roman Breviary diganti dengan sebutan Liturgy of the Hours / Ibadat Harian (Liturgia Horarum) yang terbagi dalam empat volume sesuai dengan Kalender Liturgi gereja:

  • Volume I: Adven & Natal
  • Volume II: Prapaskah dan Trihari Suci serta Masa Paska
  • Volume III: Minggu Biasa 1 sampai 17
  • Volume IV: Minggu Biasa 18 sampai 34

Saat ini, praktek Ibadat Harian dalam Gereja katolik Roma meliputi :

–          Ibadat Pembukaan (merupakan ibadat pertama pada hari tersebut, bisa dalam Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi)

–          Ibadat Bacaan (Matutinum)

–          Ibadat Pagi (Laudes)

–          Ibadat Siang, terdiri atas :

  • Tertia (Ibadat sebelum tengah hari)
  • Sextia (Ibadat tepat tengah hari)
  • Nona (Ibadat setelah tengah hari)

–          Ibadat Sore (Vesper)

–          Ibadat Malam (Completorium)

  1. KARAKTER DAN NILAI TEOLOGIS SETIAP IBADAT DALAM IBADAT HARIAN

 

  1. Ibadat Pagi dan Ibadat Sore

Menurut tradisi seluruh Gereja, Ibadat Pagi dan Ibadat Sore merupakan dua sendi Ibadat Harian, yang harus dipandang dan dirayakan sebagai dua ibadat yang utama. (SC 89a)

 

Ibadat pagi dimaksudkan dan diatur untuk menyucikan pagi hari. “Maksud ibadat pagi adalah supaya gerakan pertama hati dan budi kita disucikan bagi Allah; janganlah kita menerima tugas sesuatu pun sebelum kita disegarkan oleh pemikiran akan Allah, seperti tertulis: ‘apabila aku ingat akan Allah, aku disegarkan” (Mzm 76/77:4) ; jangan sampai badan kita digerakkan untuk bekerja, sebelum kita melakukan yang dikatakan dalam mazmur: ‘kepadaMu aku berdoa ya Tuhan, waktu pagi Engkau mendengar seruanku, sejak pagi aku mengharapkan belas kasihMu’ (Mzm 5:4-7)” St. Basilius Agung, regulae fusius tractate, resp 37:3 ; PG 31

 

Karakter utama dari  ibadat pagi adalah pujian. Dan Ibadat pagi dilakukan saat fajar menyingsing mengingatkan kita pada kebangkitan Kristus, Sang Cahaya yang menyinari semua orang (Yoh 1:4), Sang Matahari Keadilan (Mal 4:2), yang terbit laksana fajar cemerlang (Luk 1:78).  “Kita harus berdoa pagi, supaya kebangkitan Tuhan kita rayakan dengan doa pagi” St. Cyprianus De Oratione Dominica 35

 

Ibadat Sore dirayakan waktu matahari terbenam dan hari sudah senja, untuk “bersyukur atas anugerah yang telah kita terima pada hari itu dan atas kebaikan yang boleh kita perbuat” (St. Basilius, Regulae fasius tractate, Resp 37). Dalam Ibadat sore, kita juga mengenang kembali penebusan kita dengan doa, yang kita panjatkan “bagaikan dupa ke hadirat Tuhan, dengan tangan yang kita tadahkan bagaikan kurban petang” (Mzm 140/141 : 2).  Kurban petang sejati, yang diwariskan oleh Tuhan Penyelamat waktu sore ketika sedang mengadakan perjamuan dengan para rasul untuk memulai misteri suci gereja. “Kita berdoa dan memohon, agar cahaya terbit lagi bagi kita. Kita berdoa untuk kedatanagn Kristus, yang akan menganugerahkan rahmat cahaya kekal”. St. Cyprianus De Oratione Dominica 35

 

  1. Ibadat Bacaan

Maksud Ibadat Bacaan ialah memberi kesempatan lebih melimpah kepada umat Allah untuk merenungkan Kitab Suci dan karangan para penulis rohani. Doa harus didampingi dengan pembacaan Kitab Suci supaya terjadi dialog antara Allah dan manusia. Sebab, “kita berbicara dengan Allah apabila kita berdoa, kita mendengarkan Dia, apabila kita membaca sabdaNya”. St. Ambrosius, De Officiis Ministrorum, 1:20

Menurut konstitusi liturgi, ibadat bacaan memang tetap bersifat pujian malam, tetapi disesuaikan sedemikian rupa hingga dapat didaraskan pada setiap waktu. (SC 89)

 

  1. Ibadat Siang

Menurut tradisi yang sangat tua, orang-orang kristen mempunyai kebiasaan berdoa beberapa kali sehari sebagai devosi pribadi, juga di tengah-tengah pekerjaan, sesuai dengan teladan Gereja Para Rasul. Lambat laun, tradisi ini diperkaya dengan pelbagai perayaan liturgi. Baik di Gereja Timur maupun Barat diselenggarakan ibadat sebelum tengah hari, tengah hari dan sesudah tengah hari. Ibadat-ibadat itu juga dihubungkan dengan kenangan akan sengsara Tuhan dan akan masa permulaan penyebaran Injil. Selain itu, karakter ibadat siang adalah pemeriksaan batin /permohonan peneguhan untuk bertahan dalam iman.

 

  1. Ibadat Penutup / Completorium

Ibadat penutup adalah doa terakhir, yang didoakan sebelum istirahat malam sebelum semua aktivitas diakhiri dan dipasrahkan dalam kerahiman ilahi. Hal ini merupakan perlambang pula bagi akhir perjalanan hidup kita. Kidung Simeon merupakan puncak seluruh ibadat ini. Karakter utama dalam ibadat penutup adalah penyerahan diri dan kepasrahan kepada penyelenggaraan ilahi atas kehidupan kekal. Ibadat Penutup diakhiri dengan antiphone pujian kepada Maria Bunda Allah.

 

  1. IV. SPIRITUALITAS IBADAT HARIAN

Kita telah melihat sejarah Ibadat Harian yang mirip dengan sholat para saudara muslim, berdoa dalam irama waktu tertentu. Dan kini kita mencoba merangkum nilai spiritualitas Ibadat Harian tersebut :

 

  1. Doa Ibadat Harian adalah Doa Penyucian Waktu.

Secara harfiah Ibadat harian berarti ibadat Waktu, ibadat menurut irama waktu. Maksudnya ialah agar pada saat-saat tertentu – pagi, siang, sore, sebelum tidur – si pendoa mempersatukan diri dengan Kristus, Sang Pendoa, dalam ibadat pujian dan permohonan. Berdasarkan tradisi kristiani yang telah beradab-abad umurnya, Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh waktu dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah (SC 84). Waktu adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Di dalam waktu manusia ada, dan berkarya. Dalam waktu kita bergumul, bergulat antara kebaikan dan kejahatan. Waktu yang dianugerahkan Allah kerap tercemari oleh dosa-dosa kita, silih dan pemulihan perlu dilakukan sembari memohon kekuatan Tuhan untuk menhidupi waktu.

Sebagaimana telah kita lihat, jejak doa penyucian waktu ini sangat menonjol baik dalam Perjanjian Lama (bdk mzm 5, 88, 119, Kel 29:38-39, dll) – maupun dalam Perjanjian Baru (bdk Kis10:3, 9; 16:25, etc;  Kis 10:9-49 ; Kis 4:23-30) sebagai penerusan tradisi Judaime yang “dikristenkan” oleh Jemaat Perdana. (Bdk 1 Tes 1:2; Kol 3:16-17; Ef 5:18-20; Flp 2:6-11). Jadi bukan “rekayasa” Gereja Katolik.

 

Nasehat Kristus agar kita selalu berdoa tanpa kendur (Luk 18:1) ditanggapi Gereja dengan setia melalui perayaan Ekaristi sebagai puncak doanya dan dalam ibadat-ibadat bersama serta devosi-devosi yang dipanjatkan oleh seluruh umat beriman. Dan terlebih dalam Doa Ibadat Harian – yang di antara upacara-upacara liturgi lainnya, menurut tradisi Kristen – mempunyai kekhususan untuk menyucikan seluruh lingkaran hari dan malam (SC 83-84).

 

Dengan demikian seluruh karya umat beriman disucikan oleh dan bagi Allah melalui Ibadat Harian :

“Pendarasan Ibadat Harian, sedapat mungkin hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan hidup dan doa pribadi sehingga seperti yang diberikan dalam Instruksi Umum, ritme dan melodi hendaknya digunakan, dan bentuk-bentuk perayaan supaya dipilih yang lebih sesuai dengan kebutuhan rohani dari mereka yang mendoakannya. Jika doa Ofisi ilahi menjadi doa yang sungguh-sungguh bersifat pribadi maka hubungan antara liturgi dan seluruh hidup kristiani menjadi lebih jelas. Seluruh hidup orang beriman, dari saat ke saat, siang maupun malam, menjadi semacam leitourgia atau kebaktian umum, dalam mana kaum beriman menyerahkan diri untuk pelayanan kasih kepada Allah dan sesama, dengan menyatukan diri mereka pada tindakan Kristus, yang melalui hidup-Nya dan pengorbanan diri-Nya menguduskan hidup seluruh umat manusia” (Bina Liturgia 2F :Konstitusi Apostolik "Madah Pujian" dan Pedoman Ibadat Harian)
  1. Ibadat Harian Sebagai Doa Kristus : Kristus Berdoa Kepada Bapa

Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma mengambil kodrat manusia, datang ke dunia sebagai imam perjanjian baru dan kekal. Dalam hati Kristus, pujian kepada Allah menggema dan terungkap dalam bahasa manusia sebagai sembah sujud, pemulihan dan doa permohonan atas nama dan demi kepentingan semua orang.

 

Injil suci kerap kali mengisahkan Yesus sedang berdoa : tatkala perutusanNya diumumkan oleh Bapa (Luk 3:21-22), sebelum Dia memanggil para rasul (Luk 6:12), tatkala membagi-bagikan roti (Mat 4: 19, 15:36, dll), saat penampakkan diriNya di atas gunung (Luk 9:28-29), ketika menyembuhkan orang bisu tuli (Mrk 7:34), saat menghidupkan kembali Lazarus (Yoh 11:41,dst), sebelum menerima pengakuan Petrus (Luk 9:18), ia mengajar para murid berdoa (Luk 11:1), ketika para murid kembali dari tugas mereka (Mat 11:25), ketika memberkati anak-anak (Mat 19:13), Ia berdoa untuk Petrus (Luk 22:32).

 

Hidup Yesus sehari-hari selalu berhubungan erat dengan doa – bahkan mengalir daripadanya: Ia pergi ke padang gurun atau menyendiri di atas gunung untuk berdoa (Mrk 1:35, Luk 5:16 lih Mat 4:1, Mat 14:23), ketika Ia bangun pagi-pagi benar (Mrk 1:35) atau berjaga sampai larut malam (Mat 14:23.25 ; Mrk 6:46,dst). Yesus pun menghargai “kebiasaan” (baca: tradisi) doa bersama di rumah ibadat pada hari Sabat (Luk 4:16) dan juga di kenisah yang disebutNya sebagai rumah doa (Mat 21:13). Dan tentunya, Ia juga melakukan doa-doa pribadi setiap hari menurut kebiasaan orang Israel : pada perjamuan makan (Mat 14:19 ; 15:36), pada perjamuan terakhir (Mat 26:26) pada perjamuan di Emaus (Luk 24:30) – begitu pun dia mengucapkan madah bersama para murid (Mat 26:30). Bahkan hingga akhir hidupNya, ketika sengsara mendekat (Yoh 12:27,dst), saat sakratul maut (mat 26:36-44), ketika meregang nyawa di kayu salib (Luk 23:34-36 ; Mat 27:46; Mrk 15:34) – Ia tetap berdoa.

 

Yesus menunjukkan bahwa doa menjiwai seluruh tugas pelayananNya sebagai Almasih sampai wafat dan kebangkitanNya. Dan kemudian setelah bangkit dari alam maut, Ia hidup dan berdoa untuk kita selamanya (Ibr 7:25).

 

  1. Ibadat Harian Sebagai Doa Gereja : Gereja Melanjutkan Doa Kristus dalam Roh Kudus

Doa yang dipanjatkan Yesus tersebut dilanjutkan oleh Gereja dalam Roh Kudus, Roh Kristus sendiri. Dalam Ibadat harian, Gereja melaksanakan tugas imamat Kristus dan tak henti-hentinya menyampaikan kepada Allah kurban pujian, yaitu ucapan mulut untuk kemuliaan nama Allah (Ibr 13:15). Doa Ibadat Harian merupakan “suara mempelai, yang berbicara dengan pengantinnya”, bahkan merupakan doa Kristus bersama tubuhNya kepada Bapa (SC 84). Jadi semua orang yang merayakan Ibadat Harian, melaksanakan tugas Gereja dan sekaligus mengambil bagian dalam kehormatan mempelai Kristus, sebab dalam memuji Allah, mereka berdiri di depan tahta Allah atas nama ibu Gereja. (SC 71).

 

Dengan menyampaikan pujian kepada Allah dalam Ibadat Harian, Gereja menggabungkan diri pada pujian yang dinyanyikan di surga sepanjang masa (SC 83). Dan sekaligus Gereja sudah menikmati pujian surgawi yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu, yang dengan tak henti-hentinya menggema di depan tahta Allah dan Anak Domba. Dengan berdoa, hubungan kita dengan Gereja Surgawi menjadi nyata, yaitu apabila “kita bersama-sama melagukan pujian Allah yang mahaagung dengan gembira, dan apabila kita semua dari segala suku, bahasa dan bangsa, yang telah ditebus dalam darah Kristus (Lih. WHY 5:9) dan dihimpunkan dalam satu Gereja, Memuliakan Allah Tritunggal dengan satu lagu pujian” (LG 50; bdk. SC 8 dan 104).

 

Gereja mengantar manusia kepada Kristus,  bukan hanya dengan cinta kasih, teladan dan karya tobat, melainkan juga dengan doanya (lih. PO 6). Dengan demikian cara hidup Gereja mengungkapkan dan memaklumkan kepada orang-orang lain “misteri Kristus dan hakikat Gereja yang sebenarnya, yaitu sebagai Gereja yang tampak namun penuh dengan anugerah yang tak tampak, yang sangat aktif namun juga kontemplatif, yang berada di tengah-tengah dunia namun juga dalam perjalanan”. (SC 2). Dan semua doa serta permohonan yang haturkan ini bukan hanya seruan Gereja, melainkan juga suara Kristus, sebab doa-doa itu diucapkan atas Nama Kristus, yaitu “demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kita”.

 

Ibadah harian disusun sedemikian rupa sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah, kegiatan ini dilaksanakan oleh para Imam, orang lain yang atas ketetapan gereja maupun umat beriman (bdk SC 84). Maka dari itu, semua yang mendoakan Ibadah Harian menunaikan tugas gereja, dan ikut serta dalam kehormatan tertinggi mempelai Kristus. Sebab seraya melambungkan pujian kepada Allah mereka berdiri di hadapan tahta Allah atas nama Bunda Gereja (SC 85).

 

Kecuali itu sebagai doa resmi Gereja, Ibadah Harian menjadi sumber kesalehan dan membekali doa pribadi. Oleh karena itu para imam dan semua orang lain yang ikut mendaras Ibadat Harian diminta dalam Tuhan, supaya dalam melaksanakannya hati mereka berpadu dengan apa yang mereka ucapkan. Supaya itu tercapai dengan lebih baik, hendaknya mereka mengusahakan pembinaan yang lebih mendalam tentang Liturgi dan Kitab Suci, terutama mazmur-mazmur (SC 90).

 

Dengan memanjatkan ibadah harian kita menunjukkan wajah Gereja yang berdoa. Doa-doa dalam ibadah harian adalah doa-doa yang diinspirasikan dari Roh Kudus, karena berasal dari teks kitab suci, khususnya Mazmur Daud.
Ibadah Harian merupakan suatu tugas kehormatan, dimana kita [saya dan anda] bersama-sama dengan seluruh Gereja memanjatkan doa di hadapan Tahta Allah

(bdk SC 85).

  1. Ibadat Harian adalah Doa Alkitabiah : Berdoa dengan Kitab Suci.

Doa Ibadat Harian merupakan doa yang bersumber dari Kitab Suci (Biblis – alkitabiah) – bahkan bisa dikatakan doa Ibadat Harian adalah berdoa dengan Kitab Suci. “Orang-orang yang melaksanakan Ibadat Harian memperoleh kesucian yang berlimpah dari liturgi itu berkat daya Sabda Allah yang menduduki tempat utama di dalamnya. Sebab bacaan-bacaan dikutip dari Kitab Suci, Sabda Allah yang tertera dalam mazmur-mazmur dinyanyikan di hadapan Allah, dan berkat ilham dan dorongan allah, doa-doa lainnya serta madah-madah diluapkan” (SC 24).

 

 

  1. V. BAGAIMANA MENDOAKAN IBADAT HARIAN ? ATURAN  UPACARA DALAM PERAYAAN BERSAMA

(Disarikan dari : Institutio Generalis de Liturgia Horarum – Konggregasi Ibadat, Roma 2 Pebruari 1971 – diindonesiakan oleh PWI – Liturgi “Pedoman Ibadat Harian” – Bab V)

 

  1. Selintas Susunan Doa Ibadat Harian

Semua Ibadat Harian, diawali dengan seruan mazmur 69/70: 2 : “Ya Allah bersegeralah menolong Aku…..” – Kecuali dalam Ibadat Pembukaan (bisa Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi) yang diawali dengan seruan : ”Ya Tuhan sudilah membuka hatiku – supaya mulutku mewartakan pujianMu.” (Mzm 50/51: 17) – dilanjutkan dengan antiphone dan mazmur pembukaan (biasanya mazmur 94/95).

 

Selanjutnya dilagukan madah dan pendarasan mazmur. Kemudian diikuti dengan pembacaan Kitab Suci dan disambut dengan sebuah seruan lagu singkat. Komponen-komponen lainnya tergantung kepada masing-masing Ibadat yang dirayakan. Dan dalam tiap ibadat, mazmur diawali dan diakhir dengan sebuah antiphone dan ditutup dengan doxology (kemuliaan)

  1. 2. Petugas & Sikap Liturgi dalam Ibadat Harian

–          Setiap perayaan umat, sebaiknya dipimpin oleh imam atau diakon dan didampingi para petugas lainnya.

–          Imam atau diakon yang memimpin bertugas membuka ofisi dengan ayat pembukaan, memulai Bapa Kami, mengucapkan doa penutup, memberi salam kepada umat, memberi berkat dan membubarkan umat. Semua ini dilakukan di tempat duduknya

–          Doa-doa permohonan dapat dilakukan oleh imam atau petugas lain

–          Apabila tidak ada imam atau diakon yang memimpin, pemimpin ofisi menduduki tempat pertama, tetapi sejajar dengan hadirin lainnya. Ia tidak memasuki ruang imam, tidak memberi salam dan juga tidak memberkati umat.

–          Petugas bacaan membawakan dengan berdiri di tempat yang sesuai

–          Semua peserta berdiri saat :

  • Pembukaan Ofisi
  • Madah
  • Kidung dari Injil
  • Doa permohonan, Bapa Kami dan doa penutup.

–          Semua peserta duduk waktu bacaan-bacaan, kecuali bacaan dari Injil

–          Waktu mazmur, kidung dan antifon semua duduk atau berdiri tergantung kebiasaan.

 

  1. 3. Tanda Salib

Dalam Ibadat Harian, tanda Salib tidak dilakukan secara harafiah – dalam arti dengan kata-kata “dalam nama Bapa, dst…”. Tanda salib dilakukan bersamaan dengan seruan pembukaan :

–          Ibadat Pembuka : “Ya Tuhan sudilah membuka hatiku…..” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib kecil di dahi, mulut dan di dada.

–          Pembukaan Ibadat Harian yang lain : “Ya Allah bersegeralah menolong aku….dst” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib besar seperti biasanya.

Selain itu tanda salib besar juga dilakukan saat Kidung Zakharia, Kidung Maria dan Kidung Simeon – serta pada saat berkat penutup.

 

  1. Pendarasan Mazmur & Bahasa

–          Cara pendarasan mazmur tergantung pada pelbagai pertimbangan, misal dari jenis sastra dan panjangnya mazmur, bahasa yang dipakai, jumlah peserta, dan sebagainya.

–          Beberapa pendarasan mazmur :

  • Didaraskan bersama-sama seluruh hadirin
  • Bergantian antara koor dan umat
  • Bersahut-sahutan (responsorial) antara umat atau umat dan petugas

–          Pada awal mazmur selalu diucapkan antiphon dan pada akhir mazmur ditambahkan “Kemuliaan…. Seperti…” sebagaimana dianjurkan oleh tradisi. Dengan demikian doa Perjanjian Lama diberi nada pujian dan dihubungkan dengan misteri Kristus dan Tritunggal Maha Kudus. Setelah pendarasan mazmur sebaiknya antiphon diulangi

–          Saat hening diantara bagian-bagian mazmur juga sangat dianjurkan sebagai nada sela menghayati apa yang baru didaraskan.

–          Dalam perayaan Ibadat Harian, nyanyian tidak boleh dianggap sebagai hiasan atau tambahan belaka. Nyanyian merupakan luapan hati orang yang berdoa dan memuji Allah serta mewujudkan kebersamaan ibadat Kristen dengan sempurna.

–          Dalam upacara liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Latin, nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas liturgi Roma, harus diutamakan, kecuali jika ada pertimbangan lain (SC 116)

–          Tidak ada jenis musik suci yang ditolak Gereja untuk upacara liturgi, asal selaras dengan semangat upacara liturgi tersebut dan hakikat masing-masing bagiannya dan tidak menghalangi umat untuk ikut berperan serta secara aktif. (MS9 – lih SC 116)

–          Ibadat Harian dapat dirayakan dengan bahasa lokal/setempat, “maka hendaknya diciptakan lagu-lagu untuk nyanyian ofisi dalam bahasa lokal” (MS 41 – lih juga 54-61)

–          Tidak ada keberatan bahwa bagian yang satu dinyanyikan dalam bahasa yang berbeda dengan bagian lain (MS 51)

 

  1. Tradisi-tradisi Lain

Dalam beberapa biara atau komunitas religius terdapat tradisi yang patut pula kita pelihara dan ikuti, misalkan tradisi membungkukkan badan dengan khitmat saat pengucapan Kemuliaan kepada Tritunggal Maha Kudus – dalam mendoakan bait terakhir Madah yang bernada Trinitarian,  serta di saat mengucapkan kata “Yesus” (misal dalam antiphone Ratu Surga dalam kompletorium)

 

VI.          KEWAJIBAN  MENDOAKAN IBADAT HARIAN

 

Dalam Gereja Katolik, praktek ibadat harian dilakukan oleh para imam, diakon dan komunitas-komunitas religius di dalam Gereja. Meski demikian, Konsili Vatikan II (dan anjuran-anjuran setelahnya) juga sangat mendorong bagi para awam secara pribadi maupun bersama-sama menjalankan doa Gereja ini :

–          “…. Dianjurkan agar para awam pun mendaras Ibadat Harian, entah bersama imam, entah antar mereka sendiri, atau bahkan secara perorangan.” (SC100)

–          “Menurut asal-usul dan hakikatnya, ibadat harian bukanlah milik khusus para rohaniwan dan rahib saja, melainkan milik umum seluruh umat Kristen” dan atas dasar konstitusi dan peraturan diangkat menjadi “doa resmi Gereja” (Pedoman Ibadat Harian, No.270).

 

Ibadat Harian bukanlah peninggalan indah masa lalu yang harus dipelihara untuk dikagumi, melainkan gejala hidup umat setempat, penuh daya pembaharuan, pertumbuhan dan kesegaran. Tradisi suci ini perlu kita kembangkan di kalangan hidup rohani umat yang, dewasa ini dibingungkan dengan munculnya aneka devosi atau kegiatan latihan rohani yang relatif baru.

 

Dalam pelaksanaan ibadat Harian dikalangan umat, yang terpenting ialah jangan sampai perayaan itu menjadi kaku dan dibuat-buat, atau merupakan rutinitas dan formalisme belaka. Jadi harus diusahakan supaya perayaan itu sungguh berarti. Sebab maksud ibadat harian ialah pertama-tama membentuk hati dengan semangat doa Gereja yang asli dan menimba kekuatan serta kenikmatan dari pujian Allah (Mzm 146/147).

VII.         IBADAT HARIAN DAN GEREJA PROTESTAN

Dalam Gereja-gereja Reformasi/ Protestan, ibadat harian justru telah hilang sama sekali. Bukan hanya memelihara waktu-waktu doa yang ditiadakan, bahkan ada kecenderungan kuat pada kekristenan kontemporer untuk menolak doa-doa yang dirumuskan, meskipun terbukti bahwa kata-kata doa itu telah dikuduskan oleh pola ibadah segala abad.

 

EH van Olts, seorang Calvinis dan guru besar pada Free University di Amsterdam, mengakui bahwa “pelecehan terhadap doa yang dirumuskan, sebagaimana kadang-kadang terjdi dalam lingkungan Kristen, tidak memiliki dasar dalam Alkitab dan tradisi, tetapi lebih merupakansuatu produk dari subjektivisme dan individualisme modern”. Menurut van Olts, hal itu disebabkan para reformator sendiri tidak menguasai tradisi Gereja Purba dan sejarah liturgi dengan baik.
Khususnya Zwingli, ia melangkah lebih jauh lagi, seluruh simbol-simbol sebagai ekspresi ibadah otentik dibuangnya, akhirnya postur-postur badaniah dalam ibadah (bersujud, berlutut) yang terbukti memiliki kesinambungan tradisi tanpa putus sejak zaman Rasuli dihilangkan dan simbol-simbol lain ditekan sampai taraf yang amat minim. Akibatnya, doa Ibadat Harian tidak dikenal lagi, bahkan menjadi sangat asing dimata banyak orang Kristen. Tampaknya, banyak umat Protestan sulit terlepas dari trauma sejarah yang sangat panjang dari kekatolikan. Segala unsur yang dianggapnya berbau Katolik ditolak, seperti tanda salib dalam ibadah, meskipun Luther sendiri menganjurkan pengikutnya membuat tanda salib itu didahi dan dada setiap berdoa.

 

Demikianlah akhirnya ibadat harian ini secara utuh, tanpa mengalami perubahan secara hakiki, meskipun mengalami perkembangan yang bersifat memperluas makna yang sudah terkandung secara hakiki dalam bentuk awalnya, hanya dikenal dalam Gereja Katolik Roma & Gereja Timur atau Gereja Orthodox yang adalah Gereja Purba yaitu Gereja Perjanjian Baru itu sendiri yang masih hadir di dunia ini tanpa berubah baik dalam ajaran, ibadah, maupun ethos dan cara pemerintahan Gerejanya sejak zaman para Rasul itu sendiri.

 

  1. VIII. QUO VADIS IBADAT PENUTUP DI GEREJA SALIB SUCI TROPODO ?

 

Perayaan Triduum tahun 2008 telah berjalan lancar. Antusiasme umat cukup baik. Dan sesuai dengan proposal yang telah dikirimkan, Ibadat Penutup dilanjutkan setiap hari Jumat – pk. 21.00 BBWI.

Telah berjalan 1 tahun ; Romo berganti ; tidak ada tanda-tanda akan diambil alih oleh umat (bahkan keberadaannya pun tidak diumumkan di Gereja). Umat tidak tahu dan kegiatan ini menjadi semakin eklusif. Kehadiran 21 (=2:1) – mengandalkan limpahan mereka yang sehabis latihan koor berkenan mengikutinya.

Geliat mulai timbul dari kalangan pengurus / dewan paroki. Dalam pertemuan dengan ketua wilayah diusulkan untuk dikembangkan oleh wilayah, namun masih menjadi pro-kontra.

 

Bagaimana kegiatan ini selanjutnya? Marilah kita kembali ke semangat awal diadakannya kegiatan ini. Tentunya tidak ada kegiatan doa yang bersifat ekslusif – sebagaimana hakekatnya kegiatan ini adalah kegiatan Gereja secara keseluruhan. Jika dirasa umat perlu pengertian dan pendalaman lebih dalam, kami bersedia untuk memberikan sedikit pengertian dan pelatihan di wilayah-wilayah yang menghendakinya. Buku Ibadat Penutup telah kami sediakan. Alangkah indahnya jika tradisi luhur (dan DOA RESMI GEREJA)  ini kita terapkan dalam kegiatan-kegiatan di wilayah atau lingkungan. Misalkan mengakhiri rapat-rapat, latihan koor atau pertemuan-pertemuan lain di malam hari, doa ini bisa menjadi penutup yang sempurna. Bahkan hal yang sama bisa kita lakukan dalam keluarga. Mungkin berawal dari bawah (keluarga, lingkungan, wilayah) barulah kegiatan ini bisa dilakukan di Gereja Paroki.

 

Atau mungkin sebaliknya,  jika dirasa sudah terlampau banyak kegiatan doa, terlampau banyak kegiatan lainnya – tidak ada salahnya jika kegiatan ini kita hentikan. Dan mungkin hanya untuk acara tahunan saat triduum saja – daripada menjadi kegiatan eksklusif segelintir orang.

 

 

 

Sanctitas Veritas, Menjelang Pesta Kelahiran St. Perawan Maria, 2010

 

“dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu ya Tuhan………….” (Mzm 130)

FX. Sutjiharto

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

 

-          Bina Liturgia 2F (Konstitusi Apostolik "Madah Pujian" dan Pedoman Ibadat Harian)
-          Pedoman Ibadat Harian "Institutio Generalis De Liturgia Horarum", Konggregasi Ibadat, Roma 2 Februari 1971, diindonesiakan oleh: komisi liturgi KWI
-          Liturgy of the Hours, From Wikipedia, the free encyclopedia
-          CONGREGATION FOR DIVINE WORSHIP AND THE DISCIPLINE OF THE SACRAMENTS, DIRECTORY ON POPULAR PIETY AND THE LITURGY: PRINCIPLES AND GUIDELINES, Vatican City, December 2001
-          SEKILAS SHOLAT (IBADAT HARIAN) DALAM GEREJA BARAT ROMA KATOLIK DAN PROTESTAN, dikutip dari www.akupercaya.com, Oleh : Rm. Kyrillos JSL
-          Ad Completorium : Ibadat Penutup, Seksi Liturgi Paroki Katedral HKY Surabaya, Agustus 2008

 

9 thoughts on “Quo vadis ?…Ibadat Penutup (Completorium) di Salib Suci”

  1. I’m realistically not too familiar with this topic but I do wish to stop by blogs for layout suggestions and exciting subjects. You certainly described a subject matter that I generally really don’t care a good deal about and crafted it quite fascinating. This can be a good blog that I’ll be aware of. I already bookmarked it for long term reference. Lung Cancer Symptoms

  2. Hmm it looks like your site ate my first comment (it was super long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I as well am an aspiring blog blogger but I’m still new to everything. Do you have any tips for rookie blog writers? I’d genuinely appreciate it.

  3. Lingkungan kami akan mengadakan pada selama malam 9 juli 2013 untuk pertama kali apakah saya bisa minta bahan lain atau cukup dari puji syukur saja.

    Karena kami (awam) memimpin sendiri ibadat penutup, apa saja yang harus menjadi perhatian. terimakasih

  4. Syalom, sy sgt kagum dan terima kasih ada artikel Ibadat harian yg cukup rinci,kamipun(awam) mulai melakukannya sekalipun masih sebatas ibadat pagi pada jam 5:30 setelah itu dilanjutkan Misa pagi, hanya saja kami masih bingun melantungkannya (menyanyikan) krn kami bukan ahli baca NOT lagu, hehehe , apakah ada cd ato vcdnya spy kami hanya belajar melalui mendengar nada2nya, klo ada tolong dikirimkan ( alamat akan nyusul ) dan berapa harganya, tq, salam dan selamat melantungkan Ibadat Harian, Tuhan memeberkati, Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>